Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Tidur seperti mati


__ADS_3

Mentari pagi telah muncul, menunjukkan sinar jingga keemasannya di ujung cakrawala. Mengintip malu-malu di antara gumpalan awan putih yang menggantung di sana.


Cahayanya yang hangat menyemburat masuk, menembus tirai tipis berwarna putih hingga menerpa tubuh mungil yang masih meringkuk di bawah selimut.


Gadis bersurai panjang itu menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutup kepala untuk melindungi mata yang mulai merasa silau oleh cahaya yang menerpa.


Terdiam beberapa saat, tubuh itu lantas bergolek ke kanan dan ke kiri. Menggeliat untuk meregangkan otot-otot. Lalu menguap karena rasa kantuk yang masih menyergap.


Milly menyingkap selimut hingga terbuka sebatas pinggang. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap, berusaha terbuka meski masih terasa berat.


Gadis cantik itu menyunggingkan senyum mendapati sesosok tubuh menjulang tengah berdiri sambil bersedekap dada di depan pintu toilet di kamarnya. Bahkan pria itu tersenyum sangat manis kepadanya.


"Astaga. Apa karena aku begitu bahagia, sampai-sampai bayangannya muncul di mana-mana," gumam Milly sambil geleng kepala tanpa mengedipkan mata. "Ya Tuhan," imbuhnya dengan nada riang. Lalu kembali menarik selimut hingga menutup seluruh tubuh dan kemudian berguling-guling sambil tertawa. Entah mengapa ia sebegitu bahagianya.


Milly kembali membuka selimut. Punggung kecil itu lantas melenting bangun dan kemudian terduduk dengan pandangan mata memindai ke seluruh ruangan. Tak ada siapapun di sana. Berarti benar, sosok Billy tadi hanya halusinasinya saja, dan bukan penampakan yang sesungguhnya di depan mata.


Tak apa. Milly tak terlihat sedih. Bibir gadis itu justru menyunggingkan senyum. Hanya bermimpi tidur dalam pelukan Billy saja sudah cukup membuatnya bahagia. Jadi ia tak ingin terlalu berharap banyak dengan kehadiran nyata sosok suaminya di depan mata. Setidaknya ia sudah merasa dicintai meski hanya dalam mimpi.


Ia sangat senang, sebab semalaman ia merasakan hangatnya dekapan sang pria idaman. Bahkan berkali-kali bibir pria itu mendaratkan ciumannya. Di kening, puncak kepala. Pipi kiri dan kanannya. Bahkan di--


"Aaaaa," Milly terseyum. Memejamkan mata, lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup wajahnya yang merona dengan tangan. Entah mengapa ia merasa malu saat mengingat semuanya. Meski hanya mimpi, tapi ia merasa semuanya terasa seperti nyata. Ia bahkan seperti bisa menghirup aroma khas suaminya itu.


Tak ingin berlarut-larut dalam khayalan, Milly lantas bergegas bangkit dan menjalani ritual pagi seperti biasa. Lalu keluar dari kamar dengan kondisi rambut panjangnya yang setengah basah. Ia terlihat begitu segar dan ceria dengan mengenakan dress cantik panjang selutut berwarna merah jambu.


"Pagi, Bi," sapanya pada Odah yang saat itu tengah berlalu di depan kamarnya.


Wanita paruh baya asisten rumah tangga itu langsung menghentikan langkah saat sang nona menyapanya. Ia menatap Milly dan langsung membulatkan mata melihat rambut nonanya dalam keadaan basah.

__ADS_1


"Non Milly keramas?" tanyanya setengah histeris sambil menyentuh ujung rambut Milly yang tergerai indah. "Wah ...," godanya sambil menyimpul senyum di bibirnya. Ia tertunduk malu-malu sambil meremas lap tangan yang tersampir di bahu kirinya.


Tentu saja Milly merasa aneh dengan sikap tak biasa wanita itu. Ia pun refleks ikut menyentuh rambut yang menurutnya biasa saja. "Iya, aku keramas. Memangnya kenapa sih, Bi?" tanyanya dengan kening berkerut bingung.


"Bibi ikut seneng, Non," ucap Odah masih dengan senyum yang tersimpul.


Meski masih bingung dan tak tahu kemana arah pembicaraan wanita yang sebagian rambutnya mulai memutih itu, Milly tetap menyunggingkan senyum untuk menghargai. "Makasih, Bi. Milly juga seneng," balasnya dengan senyum yang masih terpatri.


"Akhirnya ...." Odah menadahkan tangan dengan ekspresi penuh syukur.


Seketika alis Milly bertaut semakin bingung. Memang apa hubungannya mandi keramas dengan bahagia? Bukankah mencuci rambut setiap pagi itu merupakan hal yang lumrah?


"Maksud Bibi apa sih?"


"Alah, nggak usah pura-pura amnesia," goda Odah sambil menepuk gemas bahu Milly. "Non Milly pasti sudah--" Odah menggantung ucapan, namun mengganti dengan gerakan tangan. Wanita itu menempelkan kedua ujung jemari yang menyatu seperti orang sedang berciuman. Sementara kedua matanya berkedip-kedip nakal.


Melihat ekspresi Milly yang datar, wanita itu lantas membungkam mulutnya yang seperti ingin tertawa, lalu berlari dengan wajah malu-malu menuju ke dapur dengan tergesa, meninggalkan Milly yang masih berdiri tertegun bingung di tempatnya.


Gadis itu masih terbengong, berusaha menelaah maksud perkataan Odah. Tapi tetap saja ia masih belum bisa mencernanya. Memilih tak menanggapi, Milly pun kembali melanjutkan langkah menuju pintu tempat Odah berlalu.


***


Kokok ayam jantan yang bersahutan secara spontan mengejutkan Billy yang sebelumnya masih terlelap. Pria itu sedikit berjingkat karena mendengar kegaduhan tak biasa yang baru saja menggema di indera pendengarannya.


Entah itu ayam jago milik tetangga atau milik mertuanya. Yang jelas, pria itu masih belum terbiasa akan hal ini.


Billy mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Pencahayaan kamar ini hanya remang-remang, jadi tidak terlalu menyilaukan. Menoleh ke arah nakas, ia melihat jam weker menunjukkan belum genap angka lima.

__ADS_1


Pria itu menoleh ke kiri, dan langsung terseyum lembut mendapati sosok wanitanya masih terpejam rapat dengan berbantalkan lengan kirinya. Tubuh mereka menyatu dalam pelukan di bawah gulungan selimut yang hangat.


Billy mendaratkan satu kecupan lembut di kening gadis itu. Entah itu untuk yang ke berapa kalinya. Di pipi, puncak kepala. Bahkan ia tak menghitung berapa kali jumlahnya dari semalam hingga pagi ini.


Dan jengkelnya, si wanita bahkan tak bergeming sedikitpun. Apa lagi bangun. Jadi benar kata sang mertua, Milly bahkan bisa tertidur seperti mati saat ia sedang bahagia. Pantas saja, mau diperlakukan bagaimana juga, gadis itu tetap terpejam rapat menyelami dunia mimpinya.


"Benar-benar menyebalkan," gerutu Billy pada gadis itu. Tapi bukannya jengkel, tapi ia justru tersenyum gemas. Billy menyibak anakan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya hingga menghalangi pandangan, lantas buk ke belakang telinga. Satu lagi kecupan lembut mendarat di lengkung tipis merah jambu sang gadis, sebelum kemudian ia bangkit dan meninggalkan ranjang untuk membersihkan diri.


***


Matahari masih belum muncul di ufuk timur saat Jamil membuka pintu rumahnya. Pria dengan switer warna gelap itu melangkah keluar sambil merentangkan kedua tangan, berusaha meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Sesekali membungkukkan badan dan kemudian berdiri tegak lagi seolah sedang melakukan senam.


Ia tampak cerah dan tenang usai menjalankan kewajiban pada Tuhan. Pria itu tetap terlihat bugar meskipun usianya hampir mencapai kepala lima.


Gerakan pria itu terhenti saat menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ia menoleh, lantas tersenyum melihat sosok sang menantu tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah tersungging di bibir.


Menelusupkan jemari tangan pada saku celana santainya, Billy melangkah perlahan mendekati Jamil. Lantas berdiri tegap mengambil posisi tepat di sampingnya.


Meski masih kaku, namun keduanya tetap saling melempar senyum saat pasang mata saling bertemu. Billy lantas menggeser pandangan ke arah depan lalu mengembuskan napasnya perlahan.


"Udara di sini sangat sejuk dan bersih, ya. Berbeda dengan udara kota yang sudah terkontaminas dengan polisi." Billy berucap santai untuk membuka percakapan.


Jamil terseyum kecil, lalu mengangguk. "Benar. Di sini masih asri dan nyaman. Walau letaknya di pinggiran kota, tapi kami merasa nyaman."


Billy menoleh, lantas menatap Jamil dengan penuh keramahan. "Saya belum mengenal lingkungan ini. Bisakah kita joging bersama agar saya bisa mengenal lingkungan istri saya dan sekitarnya, Ayah?"


Jamil langsung terseyum dengan sorot mata berbinar senang. "Tentu saja." Pria paruh baya itu menjawab cepat dan mengangguk mantap. "Dengan senang hati."

__ADS_1


Sepakat, keduanya pun berlari kecil mengelilingi perumahan itu dengan berlari-lari kecil. Obrolan hangat pun mewarnai lari pagi mereka, hingga tak terasa matahari mulai memancarkan sinarnya yang hangat.


Bersambung


__ADS_2