
Brian hanya bisa pasrah saat Mayang menggenggam tangannya dan memaksanya mengikuti langkah gadis itu.Tanpa sepatah kata pun,tanpa bertanya apalagi menolak.
Jemari lentik itu dengan erat nya menggenggam tangan Brian seolah tak ingin lelaki itu melepaskan diri.Tarikan paksa gadis itu seolah membawa tubuh Brian seperti berjalan di atas putihnya gumpalan awan tebal yang membuat ia merasakan ringannya tubuh saat berjalan bagai sedang terbang melayang.
Rambut Mayang yang panjang hitam nan indah yang menjuntai seperti menari-nari karena terpaan sejuknya angin yang lembut menyapa.
Lesung di kedua pipinya menambah keindahan senyuman yang terpancar dari wajah cantiknya. Senyum yang tak dibuat-buat.
Gadis itu terlihat sangat bahagia,seolah tak pernah ada beban pikiran yang membuatnya merasa bila diri nya dalam bahaya.Hal itu yang membuat Brian selalu dihantui rasa takut kehilangan dirinya.
Brian begitu mengagumi ciptaan tuhan yang terindah yang berwujud manusia dihadapan nya ini.
Bahkan kata-kata pujian yang mengagungkan keindahan dunia ini tak dapat mewakili kekaguman nya pada kecantikan gadis ini di mata Brian.Karena di mata orang yang sedang jatuh cinta semuanya akan terlihat indah karena cinta itu buta.
Langkah Mayang terhenti di kolam ikan mini di taman belakang rumah Brian.Membuat Brian yang ikut berhenti jadi bertanya-bertanya-tanya untuk apa gadis itu membawanya kemari.
"Kita akan memancing tuan,,,"Mayang berbicara dengan tawa lebarnya.
"Ide konyol apa lagi ini Mayang!Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? "Brian merasa tak percaya Mayang mengajaknya memancing. Tersenyum kecut, ia kembali mengulangi pertanyaannya. "Untuk apa kita memancing" Brian melipat kedua tangan nya dan menatap lekat wajah Mayang. Ia menunggu Mayang bicara.
"Memangnya kenapa tuan? Apa Anda tidak pernah memancing?" tanya Mayang heran.
"Mayang ... kita tidak perlu memancing hanya untuk makan ikan," jawab Brian setengah kesal.
"Iya Tuan, tapi kali ini bukan ikannya yang saya mau." Nada bicara Mayang sedikit manja.
"Lalu?" tanya Brian penasaran.
"Ini untuk terapi sabar Anda, Tuan. Tadi Anda sudah bersedia, bukan?" Mayang memainkan alisnya dan berucap dengan nada mengingatkan.
Brian menghela napas. Terngiang lagi kata-kata ibu agar tak membuatnya bersedih.
"Baik lah."
Jawaban Brian membuat Mayang berbinar senang.
"Dengan begini kau akan tau seberapa sabar nya aku." Brian tersenyum meremehkan.
"Janji sabar, ya." Mayang menunjukkan jari kelingkingnya kepada Brian.
"Kenapa dengan jarimu?" Alih-alih menyatukan kelingkingnya, Brian malah memeriksa kelingking Mayang.
"Apa si, siniin jari kelingking Tuan!" Mayang menarik jemari Brian dan menyatukan kelingking mereka.
"Begini simbol janji, Tuan," ucap Mayang saat kelingking mereka sudah menyatu. "Jangan ingkar, ya."
Brian tersenyum kecut, lantas menggeleng lemah melihat tingkah Mayang yang seperti bocah. Namun, walau dia bertingkah kekanak-kanakan, entah mengapa gadis itu kian memancarkan pesonanya yang begitu alamiah. Bukan dengan kata, Brian hanya tersenyum tanpa mengiyakan ucapan Mayang.
Mereka akhirnya mulai memancing.
Di lima menit pertama Brian masih terlihat tersenyum walau belum ada ikan yang menyambar umpannya. Setidaknya dia tidak kalah karena Mayang juga belum mendapat ikan.
Di menit kesepuluh, Brian berhasil strike dan menaikkan satu anakan ikan nila ke embernya. Brian merasa bangga dan tertawa puas bisa mengalahkan Mayang yang masih belum mendapatkan ikan.
Namun, setelah satu jam ....
"Aku mau bertukar tempat!" Brian tiba-tiba berdiri dari tempatnya duduk dan menginginkan tempat duduk yang Mayang tempati.
"Tuan ... apa Anda tidak lelah?" tanya Mayang dengan nada lemah. "Kita bahkan sudah bertukar tempat sebanyak sepuluh kali, Tuan, apa Anda tidak capek?"
"Tidak, sepertinya sebelah sini yang banyak ikannya." Brian mengincar tempat duduk Mayang.
__ADS_1
Mayang terpaksa berdiri dan berpindah ke tempat Brian sebelumnya, lalu melemparkan kail yang sudah ia pasang umpan ke dalam air lagi. Baru beberapa saat kailnya berada di dalam air, tiba-tiba ....
"Ah strike!" Mayang berseru girang karena umpannya disambar ikan. Ia buru-buru menarik pancingan nya yang menancap pada mulut ikan nila besar.
Terang saja hal ini membuat Brian tambah gusar. Dan lagi-lagi Brian menginginkan joran pancing yang Mayang gunakan.
"Tuan, untuk apa bertukar joran lagi, kita sudah melakukannya sebanyak tujuh kali!" Mayang semakin sebal dengan tingkah Brian.
Karena berapa kali pun mereka bertukar tempat itu tak mengubah keadaan. Meskipun bertukar joran sekalipun, ikan-ikan ini masih enggan untuk menyambar umpan milik Brian.
Brian semakin kesal. Ia sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya. Mulutnya beberapa kali mengeluarkan kata-kata kasar dan mengumpat.
"Tuan jangan begitu. Anda sudah janji untuk sabar, bukan?" Mayang kembali mengingatkan karena melihat kemarahan Brian. Entah mengapa pria itu mudah sekali tersulut emosi.
"Apa kau tidak lihat ikan-ikan itu bahkan sudah berani mengerjaiku! Mereka curang! Mereka hanya mengincar kailmu saja! Sedangkan kailku? Kau lihat sendiri, kan!" Brian marah-marah tidak jelas. Terlebih marahnya kali ini ia tujukan kepada ikan.
"Tuan, sabar ya ... memancing itu memang tidak mudah. Butuh kesabaran ekstra. Maka dari itu, saya mengatakan ini adalah terapi sabar. Sebab kita memang harus sabar dan telaten," jelasnya.
"Aku kurang sabar bagaimana Mayang, aku bahkan sudah diam dan menahan supaya tanganku tidak goyang, tapi tetap saja kailku tidak di senggolnya. Kau tahu, tanganku pegal ...!" gerutunya sambil marah-marah, lalu diam lagi dan fokus pada pancingnya.
Ikan tampak berenang-renang dengan santai nya tapi tak tertarik menyantap umpan Brian.
"Kau lihat itu mayang!Mereka bahkan meledek ku!Aku benar-benar sudah tidak tahan."Brian menggeram.Di hempaskan nya pancingan yang ia pegang tadi ke lantai.Lalu pergi begitu saja meninggalkan Mayang.
"Tuan mau kemana??"Mayang melongo menatap kepergian Brian."Apa hanya sampai disini kesabaran anda?"Masih mengekori langkah Brian dengan pandangan nya.Cemberut.Sepertinya usahanya agar tuan muda bisa menahan emosi nya dan bersikap sabar telah gagal.
Mayang melanjutkan memancing nya.
"Ternyata berkencan sambil memancing benar-benar tidak asik.Tapi kenapa weni bilang seru... Ternyata devinisi seru dan asik itu tergantung dari orang nya.Bukan caranya.Percuma aku memaksa tuan kalau memang dia tidak suka memancing.
Tiba-tiba suara derap langkah kaki yang terdengar penuh dengan kekuatan semakin mendekat ke arah Mayang.Mayang meboleh ke sumber suara dan berjingkat seketika.
Mayang saja sampai gemetar karena berfikir Brian akan menembak nya.
"Awas kau ikan!Akan ku tembak kalian satu persatu!"Eh marah sama ikan rupanya.Sampai mau di tembak pula.
Brian sudah siap membidik dan akan menarik pelatuk nya.
"Tuan kenapa anda marah pada ikan?"Anda benar-benar gila tuan.Turunkan senjata mu.Kau membuat ku takut.
"Apa kau tidak dengar ikan-ikan itu bahkan mengatai ku lelaki payah!Bahkan untuk melindungi mu saja aku tidak mampu."
Gubrak!Kenapa Mayang terkejut mendengar kata-kata tuan muda.Apa dia merasa frustasi.Mayang merasa perlu melakukan sesuatu untuk mencegah tuan nya bersikap bodoh.
"Tuan,, anda sudah melindungi saya dengan benar kok."Mayang bicara pelan sambil mendekati Brian."Anda lihat kan saya Baik-baik saja."Entah kenapa Mayang ingin sekali memeluk Brian.Akhirnya ia memberanikan diri membenamkan wajah nya di dada Brian dan melingkarkan tangan nya di pinggang lelaki itu.
Tiba-tiba Mayang merasa menyesal.Hanya karena ia ingin merasakan seperti yang dilakukan adiknya malah membuat tuan muda nya jadi seperti orang tidak waras.
Tuan muda bahkan rela dirinya dirinya dalam bahaya demi menyelamatkan nya,tapi dia malah memanfaatkan nya.
"Tuan... terimakasih telah menyelamatkan saya."Entah mengapa bulir-bulir air mata menetes di pelupuk mata Mayang tanpa diminta.
Brian yang tadi masih emosi tiba-tiba melunak.Meski bingung dengan pelukan Mayang yang tiba-tiba tapi dia juga membalas pelukan itu.
"Maafkan saya telah membuat anda susah tuan..."Ucap Mayang lagi.Ia belum ingin melepaskan pelukan itu.
Eh kenapa dengan dada tuan,,, apa dia juga berdebar-debar seperti aku?
Mayang menempelkan telinga nya di dada Brian untuk memastikan.Tapi sepertinya Brian sadar hingga ia melepaskan pelukan Mayang dengan paksa.
"Sudah cukup.Kenapa kau suka sekali memelukku?!"Brian tampak gusar.Salah tingkah.
__ADS_1
"Maaf tuan,, saya terbawa suasana karena mengingat kebaikan anda."
Kedua nya lalu duduk di tepi kolam dengan kaki mereka yang bermain air.Mereka saling bicara walau sedikit canggung.
"Tuan apa itu senjata sungguhan..?"Tanya Mayang sambil melirik benda berwarna hitam yang tergeletak di samping Brian.
"Bukan,ini cuma mainan." Jawab Brian cepat.
Bohong!
"Untuk apa anda memiliki senjata itu?" Masih nekat bertanya.
"Sudah ku bilang kan ini cuma senjata mainan."Salah tingkah.Karena Mayang menatapnya tajam.
"Apa kemana-mana anda membawa nya?"Masih berani bertanya lagi.Dasar nekat ya,
"Aku harus kembali ke ruang kerjaku,,, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan."Brian cari-cari alasan untuk kabur.Lalu dia Benar-benar pergi meninggalkan Mayang sendirian disana.
Mayang hanya bisa menatap kepergian Brian.Entah kenapa sejak pertemuan nya dengan Brian pertama kali Mayang seperti merasa tak asing lagi dengan lelaki itu.Tapi jelas-jelas mereka belum pernah bertemu.
Mayang menatap ember yang berisi ikan hasil pancingan nya tadi.Ada beberapa ekor ikan yang lumayan besar.Dan Mayang tertawa saat melihat isi ember milik Brian yang hanya terisi satu ekor anakan ikan nila.
"Ampuni saya tuan,anda terlihat kesal sekali tadi.Saya janji tidak akan mengerjai anda lagi."
Mayang kembali ke dalam rumah Brian dan membawa serta ikan itu pula.Ia tahu harus melakukan apa dengan ikan-ikan itu.
Saat jam makan malam Mayang meminta Brian mengikutinya.Meski awalnya Brian menolak tak mau,Tapi Mayang berhasil meyakinkan tak akan ada kejadian buruk lagi,akhirnya Brian mau mengikuti nya.
Mayang berjalan ke area taman belakang menuju ke gazebo.Brian mengikutinya di belakang.Lelaki itu terkejut karena gazebo sudah di sulap menjadi seperti tempat makan lesehan yang nyaman.Dengan hidangan yang sudah tersaji disana.
Mayang menggandeng Brian agar mau duduk dan makan bersama.
"Tuan,, apa anda suka?"Tanya Mayang merasa bangga karena rencananya sukses.
"Siapa yang punya ide seperti ini?"Tanya Brian penasaran sambil tersenyum.
"Tentu saja saya tuan..."Jawab Mayang dengan mantap.
"Kau juga yang memasaknya?"Bertanya lagi dengan nada meremehkan.
"Tentu saja para koki anda tuan,, kalau saya yang masak saya takut semua makanan ini akan pindah ke wajah saya karena anda lempar.."Jawab Mayang malu-malu yang membuat Brian tergelak.
"Baiklah ayo kita cicipi ikan hasil tangkapan mu."Ucap Brian sambil mengambil sendok dan garpu.Setelah melihat aneka hidangan khusus ikan hasil pancingan tadi terlihat menggugah selera.
"Tuan,, apakah anda pernah makan menggunakan tangan? Tanpa sendok dan garpu?begini..."Mayang menjimpit daging ikan dengan tangan nya."Sepertinya anda perlu coba,, rasa makanan nya akan terasa lebih nikmat tuan..."
Brian merasa cara makan begini terlihat aneh dan jorok.Tapi karena Mayang yang minta sepertinya perlu di coba.Saat dia akan mencoba menjumput daging ikan,Brian terkejut karena Mayang menyodorkan jemari nya yang berisi daging ikan di mulut Brian.
Apa dia mau menyuapi ku?
"Tuan cobalah... aa."Mayang meminta Brian membuka mulut nya.Meski awalnya ragu,Brian akhirnya membuka mulutnya dan makan dari tangan Mayang secara langsung.
"Nah begitu tuan..."Mayang tersenyum.
Mungkin gadis itu tak merasa kalau sikap nya yang seperti itu selalu membuat jantung Brian berdebar-debar.Membuat nya selalu ingin melihat senyum di wajah cantik itu.
Brian juga tak mengerti apa maksud dari Mayang melakukan ini,tapi hal ini membuat nya merasa sedang melakukan kencan dengan seorang kekasih.Sugguh kencan ini sangat berkesan Mayang...
Mayang terkejut saat Brian juga menyodorkan jemarinya yang berisi ikan.Ia juga ingin menyuapi Mayang seperti yang Mayang lakukan terhadapnya.Senyumnya terlihat sangat menawan.
Tuan... anda membuat jantung saya berdebar-debar...
__ADS_1