Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bakso Jontor Dan Dower Part 2


__ADS_3

Sebuah mobil terlihat muncul memasuki gerbang dan terus melaju menuju halaman.Mobil tampak semakin mendekat ke arah Brian yang masih berdiri di samping mobilnya.Perhatian nya tertuju pada mobil yang ia kenali itu.Brian menarik tubuh nya mundur dan bersandar pada mobil itu dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.


Pintu penumpang di belakang terlihat terbuka bersamaan di susul dengan dua orang wanita yang terlihat menurunkan kakinya lalu keluar.Senyum manis penuh kasih sayang nampak menghiasi wajah wanita yang tak pernah lelah menghujani cinta pada orang terkasih nya.


Langkah anggun dan penuh wibawa itu kini tangah menapakkan langkah kaki nya untuk menyongsong keberadaan putra nya yang terlihat tengah menanti kedatangan nya.


Tapi setelah mereka bertatap muka lebih dekat,ekspresi di wajah Ratih nampak masam karena melihat putranya seperti sedang dalam keadaan tidak senang.


"Brian kamu kenapa kok cemberut gitu?Masuk yuk.Mayang di dalam kan?"


"Di dalam apanya?Dia kabur!"


"Apa!"Ratih dan Bella terkejut bersamaan.Saling lempar pandang lalu mendesak Brian dengan kata-kata."Kabur gimana!Tidak biasanya dia begini!Lalu apa yang dilakukan penjaga yang begitu banyak ini sampai Mayang bisa kabur!"Ratih tak biasanya sepanik ini."Kau juga kenapa diam di sini!Bukan nya mencari dia!"Menatap tajam ke arah putra nya.


"Dia kabur bersama Rendy."Brian menjawab sambil menatap ibunya kesal.


Mayang terlihat menghela nafas lega mendengar kalimat yang di ucapkan Brian barusan.Namun berbeda dengan Bella yang ekspresi wajahnya berubah bingung dan kesal.Untuk apa Mayang kabur bawa-bawa pacar nya.Rendy juga tidak bilang kalau mau keluar bersama Mayang.Tapi tentu saja Bella tak menyuarakan isi hatinya.


"Kamu kalau bicara yang jelas dong Brian,,, jangan bikin orang jantungan ah."Ratih terkekeh."Biarkan saja,mereka hanya keluar sebentar untuk makan bakso."


"Ibu kenapa kasih izin mereka si?!"Brian mengubah posisi tangan nya.berkacak pinggang dengan pandangan kesal terhadap ibunya sebagai bentuk protes dan menunjukkan ketidak sukaan nya."Aku mau susul mereka!"Ucap Brian seraya melangkahkan kaki nya berjalan ke arah rumah.


"Lho katanya mau nyusul?Kok jalan nya kesitu?"Ratih bingung."Mobil kamu kan di sini!"Ratih meninggikan suaranya agar yang sedang berjalan menjauh itu mendengar.


"Kunci nya di dalam!"Brian menyahut tanpa menoleh.Tak berapa lama pun Brian kembali dengan setengah berlari.Dengan kunci mobil berada di tangan nya."Ayo ikut."Brian melirik pada Bella lalu membuka pintu mobinya kemudian masuk.


"Enggak ah ,aku mau pulang."Bella yang sudah terlanjur kesal dengan ulah kekasih nya itu menolak.Tiba-tiba ia merasa malas bertemu dengan nya. Baru juga baikan sudah bertingkah!


"Cepetan masuk!"Yang di mobil sudah berteriak tidak sabar.Kalau tidak di turuti takut dia sendiri yang menyesal.Kalau nanti terjadi pertumpahan darah di antara dua saudara sepupu ini bagaimana? Bella akhirnya masuk meski wajah nya terlihat di tekuk.


Mobil akhirnya melaju meninggalkan Ratih yang terlihat geleng kepala.Heran melihat tingkah putra nya. Anak muda jaman sekarang!


Ia pun melangkah kan kaki nya menuju pintu utama rumah nya.Karena berdiri lama-lama hanya akan membuat kaki nya pehal saja.Ia tak perlu ikut campur urusan anak-anak muda itu,mereka pasti bisa menyelesaikan nya sendiri.


***********


Di dalam mobil Brian.


"Lo dimana?"Brian bicara pada seseorang di seberang telepon.Bella tampak memperhatikan nya karena ia tahu Brian sedang bicara dengan siapa."Gue sedang menuju ke tempat lo sekarang.Jangan pergi dari situ sebelum gue sampai!"Ucap Brian tegas dengan nada memperingatkan.


Brian lalu melepaskan handsfree yang terpasang di telinganya.Ia tetap fokus mengemudi tanpa peduli dengan gadis duduk di sampingnya yang senasip dengan nya.Ya.. dua manusia itu sedang sama-sama di landa cemburu.Yang berbeda hanya lah status hubungan mereka.Kalau Bella dan Rendy memang sudah resmi berpacaran.Sedangkan Brian dan Mayang?


Bella mengambil ponsel nya dari tas yang berada di pangkuan nya untuk mengusir gelisah.Membuka pengamanan ponselnya lalu wajahnya terkejut menemukan jejak panggilan tak terjawab dari Mayang.Serta pesan yang gadis itu kirimkan melalui chat whatsapp yang belum ia baca.


"Bell,Sorry ya aku pinjam Rendy sebentar.Tadi nya aku mau ajak kamu,tapi kamu nya belum datang.Plis... jangan marah ya..."


Bella tersenyum membaca pesan itu.Ia merasa lega.Merasa bersalah juga sempat berfikir buruk pada sahabatnya itu.


Mobil memasuki area Parkir sebuah restoran yang tak terlalu besar yang bertempat tak terlalu jauh dari rumah orang tua Brian.Bella bergegas turun saat mesin mobil Brian sudah mati.Melihat ke sekeliling area parkir dan pandangannya menemukan mobil yang familiar baginya tampak terparkir di sana.Bella lalu berjalan cepat mengimbangi langkah Brian yang terlebih dulu melangkah meninggalkan area parkir.


***********


"Siapa?"Mayang menatap lekat ke arah Rendy yang terlihat sudah memutus sambungan telepon nya,menunggu jawaban dari lelaki itu.

__ADS_1


"Brian,dia mau nyusul kesini."Ucap Rendy seraya menaruh ponsel nya di meja yang tampak telah terhidang dua mangkuk besar bakso berukuran jumbo pesanan mereka.


"Apa!!"Seketika raut wajah Mayang berubah jadi panik dan cemas.Ia menaruh sendok serta garpu yang sempat ia pegang tadi kembali ke sisi mangkuk.


"Ayo makan."Rendy yang tak amnil pusing kemudian mengambil sendok dan garpu bersiap untuk menyantap makanan berbentuk bulat besar namun sudah terbelah hingga bentuk nya merekah dan menunjukkan isi di dalam nya yang begitu menggiurkan itu."Hemm enak."Rendy mulai mengunyah dan menikmati nya.Sedetik kemudian ia melempar pandangan nya ke arah Mayang yang masih diam terpaku tanpa mau menyentuh hidangan itu.


"Kok di anggurin,ayo di makan.Butuh perjuangan berat untuk sampai kesini kan?Setidaknya hargai lah jerih payah mu sendiri..."Rendy tersenyum mengingat kejadian jejar-kejaran antara Mayang dan Brian tadi.Mayang terlihat sangat puas dan bahagia bisa lolos dari lelaki itu demi sebuah traktiran makan bakso.


Tapi pemandangan yang ia lihat ini kontras dengan beberapa detik sebelum ia menerima telepon dari Brian.Gadis ini terlihat ketakutan.Terlihat dari wajah nya yang berubah pucat.


"Kalau nanti tiba-tiba Tuan Brian menyeret ku bagaimana?"Mayang bergumam lirih.Jemarinya yang mengepal menyangga pelipis nya dengan siku yang bertumpu pada meja.


"Takut betul sama Brian."Rendy bicara enteng setelah meneguk es jeruk karena merasa sedikit pedas.


"Tentu saja takut.Dia selalu bersikap semaunya sendiri."Mayang menjawab tapi pandangan nya retap fokus pada sesuatu di dalam mangkok itu.Daging tetelan dan anakan bakso serta cabai merah yang melotot seperti melambai-lambai ingin segera di nikmati.


Tapi Mayang hanya bisa menelan ludah yang sepertinya berproduksi lebih banyak karena melihat dan mencium aroma sedap nya.Tapi apalah daya,kini nasipnya berada di ujung tanduk.Harap-harap cemas menanti kedatangan Brian serta memikirkan hukuman apa kira-kira yang nanti akan ia dapat.


Kini ia baru menyadari kesalahan nya.Secara terang-terangan ia telah menantang Brian dengan berani lari darinya.Tak mengindahkan larangan nya.Laki-laki itu memang cute dan tampan saat dia bersikap manis.Tapi saat dia marah entah kenapa wajah nya jadi berubah sangat menakutkan hanya karena pandangan matanya yang tajam.


"Rendy..."Mayang menatap lekat lelaki itu.


"Apa?"


"Jangan lupa bungkus satu untuk ku kalau tiba-tiba tuan menyeret ku pulang ya?"Bicara penuh harap seperti sedang menyampaikan permintaan terakhir saja.


"kenapa minta di bungkus?Di makan sekarang saja.Bukankah kau butuh energi untuk menghadapi kemarahan Brian?"


Mayang menatap wajah Rendy yang melongo dengan pandangan ke arah pintu masuk membuat nya spontan menatap kearah yang sama.Terlihat seorang lelaki tampan dengan tubuh tegap nya tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang langsung tertuju ke arah nya.Dan gadis di samping nya yang langsung tersenyum sembari berlari kecil menuju ke arahnya.


Gadis itu melayangkan pukulan ke bahu Rendy."Makan enak nggak ajak pacar!"Bicara ketus dengan mata yang sengaja di bulatkan agar kekasih nya tau kalau di sedang marah.


"Maaf sayangaku traktir Mayang sebagai rasa terima kasih ku sudah bikin kita baikan.."Rendy meraih tangan itu lalu mengecup punggung nya.Dan membimbing gadis itu agar duduk di sampingnya.


"Maaf ya..."Kata-kata Mayang terputus karena Bella memotong nya.


"Enggak apa-apa.."Bella menyunggingkan senyum manisnya agar sahabat nya tidak merasa bersalah.


"Aaoww!"Mayang spontan berdiri seiring dengan tarikan di telinganya yang akan terasa lebih sakit jika ia tetap duduk."Tuan kenapa menarik telinga saya?!"Bicara sambil mengusap telinganya dengan wajah yang ia pasang sesedih mungkin.


"Masih bertanya!"Bentak Brian karena merasa gadis dihadapan nya ini sudah sangat terlalu."Itu hukuman untuk pembangkang seperti mu!Ayo pulang sekarang!"Brian sudah meraih lengan Mayang dan akan menariknya keluar.Namun Rendy dengan cepat mencegahnya.


"Tunggu dong Brai,, biarin lah dia makan dulu.Sayang kan enggak di makan,sudah di pesan lho."Rendy menunjuk mangkuk Mayang yang isinya masih utuh dengan ekor matanya."Lo enggak Kasihan,Mayang rela seharian nggak makan demi ini.."


Mayang dengan cepat melotot ke Rendy.Lelaki itu terlihat bingung dengan ekspresi wajah Mayang yang tiba-tiba tampak aneh.


Apa aku salah bicara?Kenapa melihatku seperti itu?


"Oh ya?!"Brian terpingkal."Jadi seharian nggak makan ni?Terus yang aku suapi di kantor tadi siapa ha??"Brian mencubit pipi Mayang gemas dengan gigi nya yang menggemerutuk.


"Bukan begitu tuan,,,"Mayang meraih tangan Brian yang masih menempel di pipinya lalu menggenggam nya erat."Rendy kalau ngomong suka ngawur deh..!Aku kan nggak bilang gitu."Mayang melirik Rendy kesal.


Rendy kalau mau bohong kira-kira dong!Masa pakai alasan seharian nggak makan!Jadi malu kan aku nya...

__ADS_1


"Tuan Brian,,, ini benar Tuan Brian?"Pemilik resto tampak seperti tak percaya."Suatu kebanggaan untuk kami karena tuan bersedia mampir di restoran kecil milik kami."Antara takjub dan bangga tergambar dari wajah nya yang tampak sumringah.


Mungkin dia tak pernah menyangka kalau resto milik nya akan di kunjungi seorang Presdir yang memiliki usaha dimana-mana dan sebagai pewaris tunggal perusahaan besar di negeri ini.Kalau seorang Presdir saja sampai datang ke tempatnya,pasti akan berpengaruh besar terhadap perkembangan restoran nya.


Pemilik resto pun akhirnya memberi pelayanan terbaik mereka.Menghidangkan menu andalan mereka di ruangan yang lebih nyaman yang terpisah pula dari pelanggan lain nya.


Brian melirik tajam pada gadis yang duduk di samping nya.Gadis itu masih menunjukkan rasa takut nya dengan menunduk seketika.


"Enak kan kalau pergi nya bersama ku!Dapat pelayanan terbaik dan menu yang terbaik."Ucap Brian dengan nada menyindir.


Tentu saja,Karena uang yang berbicara.


"Sekarang makan dan habis kan."Menatap ngeri pada bakso berukuran raksasa dengan berat hampir sepuluh kilogram menurut pemilik Resto tadi.


Bella yang sudah menahan hasratnya untuk makan sejak datang tadi seolah sudah tak bisa menahan nya lagi.Ia mulai membelah bakso itu sehingga isi di dalam nya terburai keluar.Mata Mayang dan Bella membelalak takjup.Hidangan ini benar-benar memanjakan lidah para penikmat kuliner penggila pedas.


"Ayo kita sikat May!"Bella tertawa puas tanpa menghiraukan dua lelaki yang tampak menatap bakso itu dengan bergidik.Rendy juga tak menginginkan nya lagi karena dia sudah merasa kenyang setelah makan satu porsi tadi.


"Jangan dimakan!"Cegah Brian saat Mayang akan menyuap irisan bakso ke mulutnya."Itu isinya cabai semua,kau bisa sakit perut nanti!"


"Tidak akan tuan,saya sudah terbiasa makan pedas!"Mayang tetap melahap nya tanpa peduli Yang Brian katakan."Tuan terimakasih ya... ini benar-benar enak..."Ucap Mayang sambil tersipu malu menyesali perbuatan bodoh nya tadi.


"Apa kau tidak merasa pedas?"Tanya Brian dengan ekspresi wajah masam.


"Tidak,,, iya kan Bell."Melirik pada Bella mencari dukungan.Dan gadis itu hanya mengangguk karena mulut nya terisi penuh.


"Tuan mau?"Mayang menyodorkan irisan bakso di garpu nya agar Brian mencicipi.


Karena penasaran ia pun membuka mulut nya dan mulai memakan nya.Tapi seketika ia berhenti mengunyah karena merasa aneh dengan mulut nya."Hahhh pedas!"Bian meraih tisu dan memuntah kan makanan dari mulutnya ketika itu juga.


Mayang yang panik lalu meraih gelas berisi air putih dan meminumkan nya pada Brian.Setelah habis segelas penuh tapi ia masih merasa mulut nya seperti terbakar.Wajahnya yang memerah dengan mata nya yang berkaca-kaca.


"Kau menipuku ya!Kau bilang tidak pedas tadi!"Berteriak dengan ekspresi wajah yang tak karuan seperti jenggot nya yang terbakar.


Wajah nya mulai berkeringat dan ia merasa seperti keluar asap dari lubang telinganya.


"Tapi memang ini tak terlalu pedas tuan,,, saya dan Bella bahkan memakan cabai nya."Mayang memang tak terlihat sedang kepedasan.Padahal ia sudah melahap berapa banyak cabai.


"Kau tidak boleh memakan nya lagi!Ayo kita pulang.Bukankah kau sudah kenyang sekarang."Mayang mengangguk pasarah saat Brian menggandengnya keluar dari resto itu setelah menyelesaikan pembayaran.


"Makanan menyiksa begitu di sukai."Gumam Brian saat mereka sudah berada di luar resto.


"Tuan anda masih kepedasan ya.."Mayang menatap lekat ke arah Brian dengan posisi mereka yang berhadapan sangat dekat.Mayang sampai mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah lelaki itu.Pipi Brian yang putih itu masih terlihat memerah membuat Mayang tak sengaja membelainya.


Jantung Brian tiba-tiba berdesir karena belaian tangan Mayang yang lembut menyentuh pipi nya tanpa ia sangka.Tiba-tiba hasrat untuk menyesap bibir Mayang kini muncul lagi hingga tanpa pikir panjang Brian merengkuh kedua bahu Mayang agar semakin mendekat untuk memudahkan nya mencium bibir gadis itu.


Namun sekelebat bayangan tentang cabai yang telah Mayang makan tadi membuat nya merasa bergidik dan spontan melepaskan tangan nya dari tubuh gadis itu.


Ia sudah merasa tersiksa dengan rasa pedas tadi.Dan tak ingin menambah nya lagi dengan mencium bibir Mayang.Entah sepedas apa bibir Mayang saat ini pikir Brian.Kini ia tampak gusar karena hasratnya tak tersalurkan.


Sementara Mayang masih terpaku bingung dengan tingkah laku Brian yang tampak aneh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2