Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Ketoprak


__ADS_3

Kesehatan Mayang semakin hari kini semakin membaik.Makanan yang Bu Kuswara siapkan untuknya selalu ia santap hingga habis tanpa tersisa.Hingga bobot tubuhnya yang sempat turun saat dia sakit kini kembali pada berat idealnya kembali.


Pagi ini, setelah melakukan kewajibannya terhadap sang pencipta Mayang pun keluar dari kamarnya meninggalkan sang suami yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.


Ia ingin sekali menghirup udara segar di pagi hari setelah beberapa hari ini hanya duduk dan terbaring terkurung di dalam kamar saja.


Mayang memutuskan untuk berjalan - jalan di taman belakang sembari menikmati indah dan harum nya bunga - bunga yang sedang bermekaran.Bu Kuswara pun ikut menemani nya dengan beberapa pengawal yang tampak siaga menjaga di area taman.


Mayang menarik selang air dan kemudian perlahan - lahan menyiram tanaman bunga itu secara bergantian.


"Nyonya biarkan saya saja yang melakukannya," Ucap Bu Kuswara merasa tidak enak sembari menggerakkan tangan nya ingin meraih selang air itu.


"Tidak Bu Kus, biarkan saya melakukan nya." Tolak Mayang sembari menepis tangan Kuswara yang hampir meraih selang air itu dengan halus.


"Tapi nyonya, anda belum sehat betul."


Mayang tersenyum sembari menatap Kuswara yang tampak cemas. "Bu Kus, aku merasa sangat sehat sekarang." Mayang melanjutkan lagi kegiatan nya yang sempat terhenti saat mengobrol dengan Kuswara.


"Dasar keras kepala!" Suara Brian yang tiba - tiba muncul dari pintu kaca mengejutkan Mayang dan Kuswara hingga kedua wanita itu menoleh secara bersamaan ke arah Brian yang tampak melangkah mendekati mereka.


Mayang menyerahkan selang air itu pada Kuswara, dan kepala pelayan itu pun melanjutkan menyiram.


"Sayang kau mau kemana?" Tanya Mayang penuh rasa ingin tahu karena melihat suaminya sudah berpenampilan rapi dan tampan sepeti biasa dengan stelan jas berwarna navy yang tampak sempurna melekat di tubuhnya.


Mayang melihat sebuah jaket di tangan Brian.


Apa dia membawakan jaket itu untukku?


"Sudah ku bilang untuk memakai jaket saat keluar rumah sayang, tapi kau tak pernah mendengarkan." Ucap nya kemudian seakan mengerti apa tang istrinya pikirkan.Brian lalu memakaikan jaket itu ke tubuh Mayang.


"Sayang aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar kok." Ucap Mayang memberi alasan sembari pasrah membiarkan suaminya memakaikan jaket itu padanya.


Brian menyentuh pipi Mayang lalu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap pipi sang istri. "Kau kedinginan sayang," meraih tubuh sang istri kedalam pelukannya. "Kau harus berhati - hati karena di luar banyak nyamuk."


"Iya sayang, aku akan berhati - hati." Mayang menjawab pelan sembari tersenyum agar sang suami tak merasa khawatir lagi. "Sayang kau mau kemana?" Bertanta setelah membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Aku mau ke kantor sebentar sayang, tak apa kan? Ada meeting yang tak bisa diwakilkan."


"Iya sayang, aku tak apa. Sudah sarapan belum?"


"Belum." Ucap Brian lalu mencium rambut sang istri.


"Sayang jangan cium - cium, aku belum mandi...!" Mayang mendongakkan kepalanya agar sang suami menghentikan kegiatan nya. Tapi laki - laki itu malah mencium pipi Mayang. "Sayang,,," Rengek Mayang sembari menghindar dengan membenamkan kembali wajahnya di dada Brian agar lelaki itu tak melakukan nya lagi.


"Kenapa menghindar?" Protes Brian sembari berusaha mendongakkan kepala Mayang.


"Aku malu, kau sudah mandi sedang aku belum," semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau malu kenapa peluk - peluk?"


Mayang mengendurkan pelukannya seketika. Lalu benar - benar melepaskan pelukan itu dan menarik langkahnya mundur untuk menjaga jarak dengan suaminya.


"Maaf," lirih Mayang sembari menundukkan kepalanya. Tak sanggup menatap wajah sang suami yang tiba - tiba terlihat kesal.


"Sayang kau ini maunya apa si?!"


Mayang mendongakkan kepalanya,dan menatap suami nya bingung.


"Kau selalu menghindar dariku."


"Bukan menghindar sayang, aku hanya tak percaya diri karena belum mandi!" Bantah Mayang memberi alasan.


"Memangnya kenapa kalau kau belum mandi?! Aku tidak pernah bilang kau bau! Justru aku suka aroma tubuh mu. Jangan karena itu kau melupakan tanggung jawab mu ya!"


"Tanggung hawab apa sayang," Tanya Mayang bingung.


"Apa kau lupa kalau kau belum memberikan hak ku sebagai suami mu?!"


Mayang terkejut mendengar ucapan Brian lantas memperhatikan sekitar dan melihat Kuswara serta beberapa pengawal yang masih berjaga. Mayang bisa memperkirakan kalau orang - orang ini telah mendengar yang Brian ucapkan. Tapi mereka tampak acuh tak mau tahu.


"Sayang kenapa dibahas disini," bisik Mayang malu - malu sembari mendekat pada suaminya.


"Memangnya kenapa kalau disini?!"


"Ada Bu Kus dan para penjaga sayang, mereka pasti mendengar yang kau katakan...!"


"Aku tak peduli." Ucap Brian acuh. "Anggap saja mereka itu hanya rumput yang bergoyang."


" Astaga sayang...! Kau bisa menyakiti hati mereka," Mayang kemudian menarik lengan Brian menuju pintu kaca dan membawa sang suami untuk masuk kedalam.


Mayang masih menarik lengan sang suami menuju ruang makan. Menarik kursi yang biasa di pakai Brian saat makan lalu mempersilahkan sang suami untuk duduk.

__ADS_1


"Kita sarapan dulu ya," Mayang lalu menyiapkan piring makan untuk Brian dan mengoleskan selai pada roti yang akan ia suguhkan untuk sang suami. "Nah sekarang makan ya," ucapnya setelah menyajikan roti itu di piring sang suami.


"Kau menyuruhku untuk cepat sarapan dan pergi ke kantor agar kau lepas dari tanggung jawab mu kan?"


"Tidak sayang, itu tidak benar." Bantah Mayang lalu duduk di kursi di samping Brian. "Aku hanya tidak ingin kau terlambat ke kantor," Mayang membela diri. "Sekarang sarapan ya,,,"


"Untuk mu mana?" Tanya Brian sembari melirik piring kosong dihadapan Mayang.


"Aku sarapan nanti saja ya,"


" Kenapa." Brian mulai menyuapkan roti itu kedalam mulutnya. "Apa kau tidak suka roti?"


"Suka, tapi aku ingin sarapan nasi goreng yang pedas hari ini." Mayang spontan memalingkan wajahnya sembari menggigit bibir saat Brian menatapnya tajam.


"Jangan makan terlalu pedas!" Bentakan Brian seketika membuat Mayang tertunduk takut. "Sayangi perutmu sendiri."


"Maaf," Ucap Mayang kemudian dengan nada penuh penyesalan. Namun ia 9masih tetap menunduk dan tak berani menatap wajah suaminya.


Brian menghela nafas dalam.Mencoba menetralkan perasaan untuk menahan amarahnya. Lalu memandang istrinya dengan rasa bersalah.


"Sayang,,," panggil Brian dengan lembut.


Mayang spontan mendongakkan kepalanyauntuk menatap wajah sang suami. "Ya," jawabnya dengan lembut pula.


"Kemari," Brian menepuk paha nya. Bermaksud agar sang istri duduk disana.


Mayang hanya menatap ragu. Masih tak yakin dengan apa yang suaminya maksud. Mayang mengangkat alis nya untuk menegas yang suaminya maksudkan.


"Kemari sayang, duduk di pangkuan ku." Brian mengulurkan tangan nya berharap sang istri meraihnya. Brian sedikit menggeser kursinya kebelakang agar sedikit longgar.


Dengan tersenyum malu Mayang pun meraih uluran tangan Brian.Namun Brian malah menarik tangan Mayang dengan kuat sehingga membuat gadis itu kini berada di pangkuan nya.


"Sayang kau mengagetkan ku." Dada Mayang terasa berdesir seketika.


Brian meraih kedua tangan Mayang dan mengalung kan di lehernya.Keduanya beradu tatap dalam jarak yang sangat dekat. "Apa kau marah padaku?" Tanya Brian merujuk pada kemarahannya tadi.


"Tidak sayang," Mayang menggeleng pelan. "Aku yang salah."


"Apa kau tau saat kau sakit betapa khawatirnya diriku?" Brian menatap wajah Mayang dengan lekat.


Mayang hanya diam menyadari kesalahan.Teringat kembali olehnya bagaimana khawatirnya Brian saat dirinya dalam keadaan sakit.


"Kau tahu kan kenapa aku marah?"


"Karena kau sayang padaku?" Tebak Mayang setengah bertanya.


"Maaf kalau aku kasar padamu."


"Tidak sayang, sudah kubilang aku yang salah. Aku benar - benar minta maaf."


"Aku butuh booster agar aku semangat bekerja."


"Apa sayang?" Mayang mengangkat alisnya tak mengerti. Namun ekspresi wajahnya berubah malu - malu saat Brian mengetuk - ngetuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Cium aku."


Mayang sudah menduga Brian akan meminta itu. Memang hanya sebuah ciuman, tapi jika Mayang melakukan nya tanpa Brian minta itu akan sangat membuatnya bahagia. Mayang sungguh merasa bersalah karena hingga kini Brian belum mendapatkan malam pertamanya.


"Sebentar saja ya, Kau ingin segera ke kantor kan?"


Brian hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang tiba - tiba kikuk. Brian juga menyadari bahwa dirinya memiliki istri yang pemalu, Maka dari itu dialah yang seharusnya bersikap lebih agresif.


Mayang mendorong kepalanya agar lebih dekat dengan Brian, lalu membenamkan bibirnya pada bibir Brian hanya sekilas.


"Sudah kan?" Mayang Bertanya setengah menuntut.


Brian hanya tersenyum sembari mengangguk.


"Turunlah, sudah waktunya aku berangkat ke kantor." Mendengar ucapan Brian,Mayang segera beranjak dari pangkuan Brian lalu berdiri di samping suaminya.


"Apa sekretaris Billy sudah datang?"


"Dia sudah ke kantor lebih dulu." Brian lalu melangkah meninggalkan ruang makan sembari menggandeng tangan sang istri.


Sampai di depan pintu Brian menghentikan langkahnya yang otomatis membuat langkah Mayang juga terhenti. "Sampai sini saja, kau jangan keluar ya," ucap Brian setengah memerintah.


"Baik sayang," jawab Mayang patuh.


Mayang memejamkan mata saat Brian mengecup keningnya.


"Kau ingin ku bawakan apa sebagai oleh - oleh?" Tanya nya sembari menarik Mayang kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Benarkah kau menawari ku?"


"Hemmm." Brian mengangguk.


"Emmm apa ya?" Mayang tampak dian sejenak untuk berpikir. "Aku mau ketoprak." Ucapnya dengan wajah penuh keceriaan.


"Hah?!" Brian terbelalak. "Kau yakin dengan permintaan mu?" Tanya Brian tak percaya.


"Iya, sepertinya enak." Ucap Mayang sembari tersenyum. Matanya tampak menerawang membayangkan sesuatu yang enak di benaknya.


"Baiklah, Billy akan mencarikan nya untukmu."


"Kenapa harus merepotkan sekretaris Billy?" Ucap Mayang dengan nada manja. "Sepertinya kau bisa mencarinya sendiri untuk ku sembari lewat, di pinggir jalan banyak orang yang menjualnya kok," Mayang mengeratkan pelukan nya, ber manja pada sang suami.


"Baiklah, aku akan mencari nya sendiri untukmu." Brian tersenyum.


Mobil Brian telah menghilang di balik gerbang besar begitu mobil itu keluar. Dan kemudian gerbang itu tertutup rapat kembali.


****


Setelah selesai dengan urusannya, Brian pun memutuskan untuk segera pulang. Namun sebelum itu,ia berniat untu mencari ketoprak seperti yang diinginkan istrinya.


Dimana aku harus mencari ketoprak nya ya? Istri ku bilang di pinggir jalan banyak. Apa ku tanyakan pada orang - orang itu saja ya?


Brian menggumam sendiri dalam hati.


Brian menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia keluar lalu melangkah menghampiri sekelompok lelaki tang tampak sedang berbincang.


Mereka tampak terkejut melihat sosok lelaki muda dan tampan yang berpakaian rapi tampak mendekati mereka.


"Maaf pak mau tanya," Ucap Brian sopan merendahkan harga dirinya.


"Iya tuan, ada yang bisa kami bantu?" Jawab mereka dengan wajah antusias.


"Bapak tau dimana tempat rombongan pemain ketoprak?" Tanya Brian kemudian.


Ternyata yang Brian pikirkan adalah ketoprak sejenis seni pentas drama tradisional yang berasal dari daerah jawa. Brian berpikir Mayang merasa suntuk karena mereka terkurung di dalam rumah sepanjang hari, dan memilih ketoprak sebagai hiburan nya.


"Maaf tuan,kami tidak tau," ucap orang - orang itu dengan nada menyerah. "Biasanya ketoprak itu bukanya berasal dari daerah jawa ya tuan?"


Brian kembali ke mobil dengan wajah putus asa. Sudah begitu banyak orang yang ia tanyai namun tak ada seorang pun yang tahu dengan pasti. Padahal istrinya bilang di pinggir jalan banyak. "Tapi mana buktinya!" Gerutu Brian dengan wajah yang terlihat kesal.


"Sayang, kenapa memilih ketoprak sebagai hiburan mu si? Kenapa tidak lawakan saja? Komika atau pelawak yang sedang terkenal sekarang ini. Aku bisa kok membayarnya mahal untuk setiap hari menghibur mu! Kenapa harus ketoprak yang sekarang sudah sangat susah di cari, kau ini hidup di zaman apa si?!" Brian menghela nafas kasar.


"Apa aku terlalu kejam karena mengurung mu dan membuat pikiran mu jadi stres ya? Maaf kan aku sayang." Lirih Brian kemudian.


Ini kali pertama Mayang meminta sesuatu terhadap Brian,maka dari itu ia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan yang istrinya mau.


Brian kembali melanjutkan perjalanannya.Ia pun menghentikan mobil dan menepikan nya saat melihat gerombolan ibu - ibu yang terlihat sedang berbincang.


"Biasanya emak - emak lebih tau dari pada bapak - bapak." Gumam Brian sembari melangkah mendekati mereka. "Permisi bu saya mau tanya," sapa Brian setelah dekat.


Dan para ibu - ibu itu pun tampak tercengang saat melihat sosok lelaki muda menyapa mereka. Mereka tampak menatap Brian sembari berdecak kagum membuat Brian merasa tak nyaman.


"Iya tuan, ada yang bisa kami bantu," ibu yang menyahuti tampak senyum - senyum sendiri.


"Ibu tau dimana tempat rombongan ketoprak yang bisa di sewa?" Tanya Brian dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


"Wah disini tidak ada tuan?" Jawab ibu itu kemudian.


"Nyari kok yang tidak ada si tuan, kenapa tidak nyari kita saja yang ada di hadapan anda? Ya nggak ibu - ibu?" Goda ibu yang lain membuat Brian merasa risih.


"Tuan saya boleh cubit pipi tuan tidak?" Tanya seorang wanita yang perutnya tampak buncit. "Saya ingin punya anak tampan seperti tuan," si ibu menatap Brian penuh nafsu ingin mencubit.


"Saya juga," sahut wanita hamil lain.


"Saya juga tuan,"


"Saya juga."


"Astaga, kenapa banyak sekali wanita hamil?!" Wajah Brian terlihat panik. "Apa ini memang tempat..." Brian menggantung ucapan nya setelah melihat papan yang bertuliskan "PUSAT KESEHATAN IBU HAMIL".


"Astaga." Brian menepuk dahinya sendiri.


Brian mengambil ancang - ancang untuk mengeluarkan jurus kaki langkah seribu sebelum kerumunan ibu - ibu hamil ini berhasil melahap nya.


Dan benar saja, saat Brian melangkah lebar untuk kabur, para ibu hamil itu tampak mengejarnya membuat Brian terpaksa berlari. Namun seorang wanita ternyata sudah berada di hadapan nya untuk menahan langkahnya. Dan jadilah pipi Brian sebagai sasaran empuk cubitan para ibu - ibu hamil itu.


" Billy help Me!!!" Teriak Brian frustrasi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2