
"Mayang kau sudah bangun?" Ratih yang terkejut dengan keberadaan Mayang pun segera bertanya sembari melangkahkan kakinya mendekati menantunya. "Sejak kapan kau disitu?"
Mayang tak menjawab pertanyaan yang Ratih ajukan. Tubuhnya seperti terpaku saat pandangannya beradu dengan sang suami. Meski bibir keduanya hanya diam tanpa kata, namun pandangan mereka berbicara satu sama lain. Saling mengungkapkan kerinduan yang mereka rasakan di relung hati yang terdalam.
Bahkan tautan pandangan keduanya tak lepas begitu saja saat orang tua Brian kembali memisahkan mereka dari pertemuan yang menyisakan rindu yang semakin dalam.
Namun mata mereka seolah mengucapkan janji untuk bertemu kembali dalam nuansa yang syahdu di ruang rindu saat cinta mereka kembali berpadu. Hingga pada akhirnya mereka tak dapat lagi saling memandang saat jarak di antara mereka kembali terbentang.
* * *
Berhari - hari sejak pertemuan terakhirnya dengan sang istri, Brian telah mencoba berbagai untuk menemui sang istri namun kegagalan lah yang selalu ia temui. Hingga dirinya merasakan frustasi atas ketidak mampuannya sebagai seorang suami.
Kedua tangan Brian mencengkeram kuat pagar pembatas balkon kamarnya. Tubuh kekar nan kokoh yang tengah bertelanjang dada itu seolah seperti sedang menantang rembulan yang memantulkan cahaya indahnya menyinari seluruh alam.
Seolah dengan sengaja membiarkan sejuk nya angin malam menerpa dengan lembut tubuhnya yang tervisual indah, dan membiarkan rembulan cemburu karena begitu sempurnanya tuhan menciptakan dirinya.
Brian mengangkat pandangannya menatap langit yang berhiaskan rembulan di atas sana dengan wajah keputus asaan nya. Mata yang berkaca - kaca menunjukkan betapa rapuhnya dirinya di balik sosok tubuh nan kuat dan kokoh.
"Aaaaaaarrrrrgggttt!!!" Teriakan Brian melengking begitu keras nya untuk melampiaskan segala beban dihatinya. Melepas segala beban yang menimbulkan rasa sesak di dadanya.
Rasa frustasi yang kian mencekik semakin membuatnya berada diambang batas semangat yang ia miliki. Membuatnya merasa lelah, terpuruk hingga nyaris saja dirinya menyerah.
Rasa sakit akibat penghianatan orang yang begitu ia sayangi serta banggakan. Menggunakan topeng wajah ramah nan hangat untuk mengelabui dirinya. Orang yang seharusnya bahagia dengan kebahagiaannya justru berniat menghancurkannya sehancur - hancurnya.
Brian membanting tubuhnya pada ranjang yang berukuran king di dalam kamarnya. Matanya menatap langit - langit kamar dengan tatapan kosong dan hampa. Lalu ia memutar kepalanya dan menggeser pandangannya tepat pada foto pernikahannya.
Bibirnya menipis tatkala matanya menangkap gambar sang istri yang tengah tersenyum sangat cantik. Ia tiba - tiba bangkit dan berjalan menuju ruang ganti pakaian, berharap menemukan sesuatu milik sang istri yang bisa ia peluk sebagai teman tidurnya.
Tangan Brian bergerak perlahan untuk membuka lemari pakaian sang istri untuk mencari - cari sesuatu disana. Sekilas pandangannya melirik pada berda berwarna hitam yang letaknya agak tersembunyi.
Hal itu menggelitik hatinya untuk mencari tahu karena didorong oleh rasa penasaran yang mengganggu pikiran nya. Brian menggerakkan tangannya untuk menarik keluar kain hitam yang terlipat rapi yang ditempatkan di ujung lemari pakaian istrinya.
Seketika mata Brian membelalak terkejut saat dia mengenali jaket berwarna hitam yang bertahun - tahun lalu pernah ia berikan pada seorang gadis kecil berseragam SMP itu.
Entah ini hanya kebetulan ataukah rencana tuhan yang memang telah digariskan untuknya, ia menemukan kembali cinta pertamanya yang sesungguhnya yang ternyata adalah istrinya sendiri.
Brian merengkuh jaket itu kedalam pelukannya dan menciumnya berulang - ulang sebagai rasa syukur. Ia seperti mendapatkan kembali semangat nya yang hampir luruh.
__ADS_1
Brian membawa jaket itu bersamanya dalam tidur malamnya yang singkat, untuk mengembalikan lagi energinya yang sempat menyurut untuk melanjutkan kembali perjuangan hari esok.
* * *
"Silahkan pak, AC di ruang tengah yang rusak." Ucap seorang pelayan setelah mempersilahkan masuk tiga orang teknisi servis AC profesional di kediaman Malik.
Mereka berpakaian seragam khusus teknisi lengkap dengan topi dan masker tang menutupi setengah wajahnya. Dua orang di antaranya berpostur sedang dengan dan seorangnya lagi berpostur tinggi dengan kulitnya yang putih dan bersih.
Seorang yang berpostur tinggi itu tampak mengawasi seluruh kondisi rumah dengan diam - diam. Dan tatapan tajamnya terpaku pada sosok Mayang yang tengah melangkah menuruni anak tangga dengan perlahan dan malas.
Wajahnya yang muram dan nampak begitu jauh dari senyuman. Ia bahkan mengabaikan keberadaan manusia disekelilingnya karena ia terlalu hanyut dengan pikirannya sendiri.
Meski begitu, hal itu tak lantas melunturkan pesona cantik dan menawan yang terpancar alami dari diri gadis itu. Wajahnya yang polos tanpa sapuan make - up justru. semakin memancarkan aura cantik dari dalam dirinya.
Lelaki tinggi itu tampak mengawasi keadaan sekitarnya sebelum akhirnya membungkam dengan tangannya mulut gadis yang tengah melamun itu, memaksanya membawa masuk kedalam sebuah ruangan dan kemudian menutupnya rapat. Lelaki itu Menarik Mayang dan menyudutkan gadis itu pada tembok di belakang tubuhnya.
Mayang yang sudah akan berteriak pun spontan membulatkan bola matanya dengan sempurna saat lelaki itu melepas topi dan masker yang ia kenakan. Lelaki itu merengkuh Mayang kedalam pelukannya tanpa izin dengan sangat erat.
Mayang hanya bisa pasrah saat lelaki itu tetap memeluknya dalam diam hingga begitu lama. Meski dadanya sendiri terasa sesak dan hampir - hampir tak bisa bernafas oleh tekanan kuat dari pelukan lelaki yang ternyata adalah suaminya itu.
Keduanya tak bisa berkata - kata saat mendapatkan kesempatan yang rasanya begitu sulit untuk terjadi lagi. Sehingga keduanya memilih untuk memanfaatkan waktu yang sangat singkat itu untuk kembali menyatukan cinta mereka.
Brian melepaskan pelukan itu karena ia harus bicara sebelum ada orang yang datang dan memergoki mereka sedang berdua. Brian meremas lembut kedua sisi bahu Mayang saat akan bicara. Pandangan matanya yang basah menatap sang istri dengan gurat senyum kebahagiaan.
"Sayang aku ingin kau keluar di taman belakang malam ini pukul delapan tepat. Usahakan jangan sampai ada yang tahu karena aku akan menjemputmu. Ada yang ingin ku tunjukkan padamu." Brian berucap dengan sungguh - sungguh.
Mata mayang yang berkaca - kaca pun tampak mengawasi mata sang suami seperti menyelidik, namun tak menemukan kebohongan disana.
Airmata Mayang pun jatuh tatkala dirinya menyadari begitu gigih nya sang suami yang berusaha sekuat tenaga untuk bisa menemuinya hingga harus melakukan penyamaran semacam ini.
Di bawah ketatnya pengawasan mata - mata sang ayah mertua yang begitu membenci puteranya hingga mengatakan bahwa puteranya terlarang untuk menginjakkan kakinya du rumah ini lagi.
"Ku mohon jangan menangis." Brian buru - buru menyeka air mata yang mulai membasahi pipi sang istri. "Aku tak ingin melihat mu menangis." Brian kembali merengkuh istrinya kedalam pelukannya.
Namun sesaat kemudian mereka di kejutkan dengan suara Ratih yang sedang memanggil Mayang.
"Pergilah." Lirih Mayang dengan suara hampir tenggelam tertahan oleh dada bidang sang suami. "Akan berbahaya untukmu kalau sampai ibu tahu." ucap Mayang sembari mendongak menatap wajah sang suami.
__ADS_1
Brian menyambar bibir Mayang dan menghadiahi nya kecupan singkat nan lembut sebelum dirinya kembali mengenakan topi beserta masker untuk menutupi wajahnya. Lantas membuka pintu dan mendahului Mayang keluar dari sana. Setelahnya Brian bersikap biasa seperti layaknya teknisi AC profesional yang sesungguhnya.
Mayang melangkah menaiki satu per satu anak tangga sembari melirik pada Brian yang tetap mengawasinya dengan pandangan. Gadis itu lantas menghilang tertutup balkon lantai atas untuk menemui Ratih disana.
Tak lama kemudian perbaikan AC pun selesai dan memaksa Brian untuk keluar dari rumah itu. Namun ia tidak benar - benar pergi dari sana, melainkan bersembunyi di dalam mobil yang tak di kenali oleh keluarganya untuk mengawasi sang istri dari kejauhan.
Tak berapa lama, sebuah mobil tampak keluar dari gerbang utama rumah besar itu. Brian cukup hafal dengan mobil beserta penumpang di dalam nya. Bibirnya menipis saat dilihatnya sang istri yang tengah tersenyum saat berbincang dengan ibunya di dalam mobil yang sedang melaju menjauh dari rumah itu.
* * *
Mayang duduk di sebuah kursi di taman belakang seperti yang Brian inginkan. Namun letak kursi itu sedikit tersembunyi dari terangnya cahaya lampu taman, sehingga tak memungkinkan ada seseorang yang menyadari keberadaan Mayang disana.
Mayang terlihat gelisah dalam penantiannya. Jantungnya yang mulai berdetak kencang dengan ditambah lagi perasaan was - was dan yang memenuhi pikirannya. Waktu hampir menunjukkan tepat pukul delapan malam, namun suaminya itu belum memberi tanda - tanda kemunculannya.
Mayang mendesah pelan sembari bangkit dari duduknya. Melangkah perlahan melipat kedua tangan nya didada untuk menangkal rasa dingin yang tiba - tiba menyeruak do tubuhnya. Membuat rasa tak nyaman dengan bulu kuduk yang tiba - tiba berdiri.
Tapi ia harus kembali berontak dan meronta saat sesosok kekar dan kuat tiba - tiba mendekap tubuh nya dari belakang. Dengan tangan lainnya yang ia gunakan untuk membungkam mulut Mayang lelaki itu menarik tubuh ramping Mayang kearah kegelapan yang melindungi penampakan mereka dari pandangan kasat mata.
Mayang memukul dada Brian kesal karena lagi - lagi pria itu datang dengan cara mengejutkan. Tanpa bicara, lelaki itu pun kembali merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Aroma wangi maskulin tubuh sang suami terasa hangat dan menenangkan Mayang saat ia menyeruak masuk memenuhi rongga penciuman nya, membuatnya hanyut dan pasrah hingga betah berlama - lama dalam pelukan suaminya.
"Ikutlah bersama ku," ajak Brian sesaat setelah mekepas kan pelukannya.
"Kemana?" Mayang Bertanya ragu.
"Ikut saja." Brian lantas meraih pergelangan tangan dan menariknya untuk berlari mengikutinya melewati semacam pintu rahasia yang membuat mereka bisa menembus tembok nan kokoh itu ke area luar pagar. Disitu sudah terparkir motor gede Brian yang pernah Brian cuci bersama Mayang.
Tanpa Mayang sangka, suaminya menyodorkan padanya sebuah jaket yang begitu familiar bagi dirinya.
"D-di mana kau menemukan ini?" Mayang tergagap tak bisa menutupi keterkejutannya.
"Di lemari pakaian mu anak SMP," jawab Brian sembari memakaikan jaket itu di tubuh istrinya dengan tersenyum.
Setelah keduanya siap dengan perlindungan helm di kepala mereka, Brian pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu seperti sedang menculik istri sendiri.
Namun tanpa mereka sadari dua orang laki - laki yang tengah berdiri di balkon lantai teratas rumah besar itu tampak mengawasi mereka dengan seksama.
__ADS_1
Bersambung