
"Apa kita pernah bertemu?!" Brian kembali mengulangi pertanyaannya setengah mendesak saat gadis dihadapannya itu hanya tertegun bingung.
"Tidak." Lena menjawab singkat. Dengan acuh gadis itu kembali menunduk dan menyeruput minumannya.
"Hey, aku bertanya sungguh-sungguh padamu!"
"Kau pikir aku main-main?!" mengabaikan Brian yang kesal karena merasa di acuhkan, Lena pun menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dengan perlahan, ia tampak menikmati hidangan yang sudah sejak tadi hanya ia aduk-aduk.
Namun wajah menggemaskan gadis itu membuat hati Brian luluh dan kekesalannya pun mereda dengan sendirinya. Brian lantas duduk di kursi, mengambil posisi yang terdekat dari Lena agar ia bisa semakin jelas saat mengamati gadis itu.
"Apa yang kau lihat?!" dengan mulit penuh makanan, Lena pun bertanya dengan nada ketus.
"Melihatmu makan lah! Apa lagi?" Brian menjawab dengan enteng sambil menyandarkan punggungnya dengan santai pada sandaran kursi.
"Kau sudah gila? Mana ada orang waras yang memperhatikan orang lain sedang makan." maki Lena tanpa melirik pada Brian.
"Aku memang gila. Gila karenamu."
Sesaat Lena menghentikan mengunyah makanannya saat mendengar ucapan nakal Brian yang kelewat percaya diri itu. Dengan menatap jengah, tangannya bergerak meraih gelas yang tak jauh dari piringnya.
Brian mengernyitkan dahinya dan bersikap waspada saat ia pikir gadis itu akan mengguyurnya dengan jus jeruk yang ia pegang. Namun seketika ia pun terkekeh saat Lena meneguknya hingga tandas seperti orang yang sedang kehausan. Dan menaruh gelas itu kembali dengan kasar.
"Apa kau baru saja mencangkul?" Brian pun bertanya di sela tawanya.
"Apa?!" Lena bertanya kesal.
"Kau kelihatannya sangat kehausan."
"Iya! Karena melihatmu yang gila membuatku dehidrasi!" menatap kesal, Lena membalas tatapan penuh kekaguman Brian.
"Apa kau pernah mengalami amnesia?" sambil bertopang dagu, Brian tampak antusias saat bertanya.
"Hah?!"
"Iya amnesia. Yang lupa dengan ingatannya sendiri itu lho. Kau telah melupakan ku."
"Benar-benar tidak waras. Asal kau tahu ya, kita tidak pernah bertemu sebelumnya dan aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak amnesia!" menggeram kesal Lena pun segera bangkit dari tempatnya. Namun belum sempat gadis itu beranjak, empat orang paruh baya yang tak lain adalah orang tuanya dan orang tua Brian pun datang menghampiri.
"Udah akrab aja, memangnya kalian sudah saling mengenal?" Ratih yang tampak sangat antusias bertanya sembari merangkul puteranya.
"Sudah Bu," jawab Brian dengan senyuman semanis gula.
"Apa sih? Belum!" Keukeh Lena dengan nada tak terima.
"Sudah!" Teriak Brian pula.
"Lho kalian ini apa-apaan si. Malah berebut." Hans yang merasa lucu melihat tingkah keduanya pun terkekeh. Begitu pula dengan para orang tua lainnya.
Sedang Brian tetap menatap Lena dengan penuh puja meski Lena tetap menunjukkan gelagat tidak suka.
* * *
Malik dan Ratih hanya saling berbicara melalui pandangan saat merasakan sikap aneh sang putera. Sepanjang jalan mereka pulang dari pesta, Brian begitu terlihat ceria dengan bersiul dan tersenyum meskipun di awal ia bersedia untuk ikut orang tuanya datang ke pesta dengan terpaksa.
"Kau di mana?" Brian yang sedang melangkah memasuki rumah terlihat berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. "Cepat datang ke rumah. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu." Tanpa berpamitan seperti biasanya, Brian berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Malik dan Ratih tampak tertegun bingung menatap putera mereka. Perubahan sikap Brian dirasa begitu mendadak. Karena semenjak Brian mulai bekerja membantu sang ayah di perusahaan, ia hanya serius bekerja dan tak punya waktu untuk bersenang-senang. Sehingga Brian hanya menampakkan wajah lelahnya saja swlama ini.
"Apa yang terjadi dengan puteramu?" Ratih bertanya heran saat ia dan suami saling memandang.
"Entah. Kau kan Ibunya, apa kau tidak tau dengan sesuatu yang terjadi pada anak kita?"
"Lantas kau, kau juga Ayahnya yang setiap waktu selalu bersama. Apa kau juga tidak tau dengan yang terjadi pada puteramu?!" Ratih balik bertanya dengan mendengus kesal. Lantas berlalu begitu saja meninggalkan suaminya yang menatapnya heran.
Sadar kalau ia salah bertanya membuat lelaki itu melangkah cepat menyusul istrinya. "Sayang, kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" Malik mengikuti di belakang sang istri yang tengah meniti anak tangga.
__ADS_1
"Menurut mu ini arah kemana? Ke mall?!"
Dasar tidak peka! Sudah tau ini arah ke kamar masih bertanya juga! Ratih menggumam kesal dalam hati.
"Oh iya Sayang, ini arah ke kamar kita. Ku pikir kau mau kemana."
"Kalau kamarmu saja kau sampai terlupa, bagaimana kau akan memperhatikan puteramu yang hanya satu?!" Ratih terlihat semakin kesal hingga mempercepat langkahnya.
Namun karena begitu tingginya hak sepatu yang ia kenakan, membuat Ratih tak sengaja dalah menginjak tangga dan membuat tubuhnya oleng hingga hampir-hampir saja terperosok. Beruntung Malik yang masih bugar dan berada di sampingnya dengan cekatan meraih tubuh sang istri.
Seketika tubuh Ratih pun gemetar dan jantungnya berdetak kencang. Menoleh ke bawah, ia menatap ngeri. Entah apa yang akan terjadi jika saja sang suami tak berhasil menolong dirinya.
"Kau baik-baik saja Sayang?" dengan wajah yang terlihat sangat khawatir Malik bertanya untuk memastikan keadaan istrinya.
"Aku tak apa-apa." Ratih menjawab dengan ekspresi datar. Kemudian berniat melanjutkan langkahnya lagi. Namun seketika ia meringis dan memekik saat terasa nyeri di pergelangan kakinya.
"Ada apa?!" Malik yang terlihat panik kembali bertanya.
"Sepertinya kaki ku terkilir."
"Biar ku gendong sampai ke kamar." Seolah tanpa beban, dengan begitu mudah Malik menggendong dan membawa sang istri sampai ke kamar.
Dengan hati-hati, Malik melepaskan hells dari kaki sang istri lantas memeriksanya dengan cermat.
"Di mana yang sakit Sayang?" dengan penuh perhatian Malik memijat kaki sang istri meskipun hanya asal. "Lain kali lebih berhati-hatilah. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu Sayang. Kau tahu surga ada di telapak kaki ibu kan? Aku tak ingin surga untuk Brian rusak karena kau tak berhati-hati."
"Apa?!" Geram Ratih sembari mencubit sang suami sekenanya. "Kau menggodaku ya?!"
* * *
"Ada apa memanggil ku?" Tanya Billy yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Brian.
Brian yang sedang berada di ranjang pun menoleh ke arah pintu. "Kemari lah." Lelaki yang tengah dalam posisi telungkup dengan memeluk bantal di dada itu tengah berkutat dengan laptop nya.
Melangkah mendekat Billy pun bertanya. "Apa ini masalah pekerjaan?"
Billy mengacuhkan Brian yang begitu antisias, perhatiannya tertuju pada laptop yang baru saja Brian gunakan. "Menemukan apa?" Tanya Billy enteng sembari duduk di tepi ranjang. Meraih laptop Brian dan membukanya.
"Hey bukan di situ!" Brian meraih dagu Billy dan memaksa lelaki itu untuk memperhatikannya. "Setelah sekian lama Bill, akhirnya aku menemukan gadis itu. Lihat aku Bill, aku sangat bahagia sekarang. Aku bahagia!" tertawa senang, Brian menjatuhkan tubuhnya terlentang di ranjang.
Dan sesaat kemudian, lelaki yang mengenakan celana pendek serta kaus oblong itu kembali bangkit dan duduk di posisi sebelumnya.
"Kau tahu Bill, aku sudah bertemu dengan gadis berseragam SMP yang aku tolong waktu itu. Aku bahkan sudah mendapatkan nomor ponselnya. Aku hebat kan?!" sambil meninju lengan Billy, Brian tersenyum bangga. Ia lantas meraih ponselnya yang tergeletak di ranjang.
Sementara Billy yang tengah mengusap lengannya tampak mengernyit dan menatap heran pada Brian. "Apa kau memanggil ku jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mendengar celoteh mu ini?!"
"Hey ini bukan celoteh sembarangan!" Teriak Brian tak terima sambil mendaratkan satu lagi bogem mentah pada lengan Billy. "Ini menyangkut masa depan ku kawan." tuturnya sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Tapi kalau lama-lama disini tulangku akan remuk redam menjadi pelampiasanmu."
"Hey sejak kapan kau jadi lemah seperti ini hah?!" fokus Brian kembali lagi pada layar ponsel saat benda pipih itu berbunyi. "Kau lihat ini, dia bahkan membalas pesanku!" saking gembiranya Brian sampai-sampai tak sadar kalau tangannya mencengkeram kerah jas yang Billy kenakan.
"Lepas tidak?!"
Brian tertawa terbahak-bahak saat menyadari tangannya menggenggam jas Billy. "Maaf kawan, jangan sensi begitu dong." ucapnya sambil mengusap lembut tepat di tempat cengkeramannya tadi. Lantas menyodorkan ponselnya pada Billy. "Kau baca ini."
Dengan penuh rasa ingin tahu, Billy pun menerima ponsel itu lalu membaca pesan-pesannya.
"Hai Lena Sayang, lagi ngapain?"
"Tidur."
"Kok tidur bisa balas pesan si?"
"Aku kebangun gara-gara kamu berisik bangunin aku!"
__ADS_1
"Aku rindu padamu."
"What!!"
"Iya, aku rindu. Kangen. Sayang. Dan cinta sama kamu."
"Gila!"
"Apa kau mau jadi kekasihku?"
"Iya."
"Benarkah?"
"Tapi bohong! Ha ha ha ha!"
"Kau pasti akan menjadi milikku."
"Dalam mimpi mu!"
"Oke. Dan saat aku terbangun, ku pastikan kau berada di sisi ku."
"Bodo amat!"
"Good night honey."
"Buahahaha!" Billy tertawa terpingkal hingga berguling-guling usai membaca isi pesan Brian dengan Lena. "Yang kaya gitu lo banggain! Bangun bro, dia benci sama lo! Hahaha!" Billy kembali melanjutkan tawanya. "Aduh sampai sakit perut gue tertawa."
"Lo mau gue bikin lebih sakit lagi?" tanya Brian dengan bola mata yang membulat sambil menunjukkan bogem mentahnya yang siap meluncur ke perut Billy.
"Ah ampuni aku tuan, aku tidak akan mengulanginya lagi!" menutupi dirinya dengan bantal, Billy berusaha melindungi diri. Namun Brian tetap menatapnya penuh ancaman.
"Sialan kau Bill! Kau meremehkan ku hah!" Brian menindih tubuh Billy dan tangannya memukul ringan tubuh Sekretarisnya itu. Kedianya tampak bergumul di atas kasur saling membalas. Bukannya kesakitan, keduanya justru tertawa terbahak-bahak karena pukulan mereka hanya gurauan saja.
Setelah lelah dengan pergulatan, mereka pun terbarik dengan angan yang terbang melayang. Kedua pemuda itu salung berbicara dari hati ke hati.
"Aku sangat mencintai Bill, dan aku ingin mendapatkannya." Brian menatap lekat lelaki di sampingnya itu, dan berubap dengan keseriusannya.
"Kau yakin kalau gadis itu tak ada yang memiliki? Aku tak ingin cinta gila mu justru akan menjadi boomerang untukmu."
"Aku jamin dia akan jatuh cinta padaku."
"Kau terlalu percaya diri."
"Kau meremehkan ku. Bukankah kau sendiri tau, aku tak perlu memasang jala hanya untuk menangkap ikan." berucap dengan percaya diri penuh, Brian tersenyum dengan penuh keyakinan.
"Terserah! Aku mengantuk." Billy melepas jas nya kemudian menarik selimut dan bersiap untuk tidur.
Brian mengangkat kepalanya kemudian mengamati dengan seksama Billy yang tampak sudah terpejam. "Hey, kau benar-benar tidur!" tangan Brian memukul pundak Billy dengan keras.
"Apa si?!" Billy membuka mata dan menatap Brian kesal.
"Aku belum selesai bercerita! Jangan tidur dulu!"
"Apa lagi si?! Aku lelah!" keluh Billy sembari bangun dan duduk. "Kau tahu, aku baeu saja pulang, dan tiba-tiba kau memanggil ku hanya untuk mendengar celotehan mu yang itu-itu saja sejak SMA dulu. Aku bukan robot! Aku lelah! Aku mengantuk. Aku mau tidur oke!" ucap Billy mengakhiri pembicaraan lalu kembali berbaring dan tidur dengan nyaman. Mengabaikan Brian yang masih mendengus kesal, terdengar dengkuran halus dari bibir lelaki itu.
"Kurang ajar! Kau benar-benar tidur Bill! Hey bangun!!!"
Bersambung
_______________________________
Hai readers tercinta, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara ya,
Dan berian juga dukungan kalian untuk author
__ADS_1
Terima kasih🙏🙏