
Milly mengulurkan tangan kirinya ke arah Billy. "Gandeng ,,,," ucapnya dengan suara manja. Astaga apa yang kulakukan?! Apa aku sudah gila! Ya-aku memang gila. Gila demi mendapatkan perhatiannya.
Billy terlihat menggemertakkan gigi sebelum akhirnya menyunggingkan senyum termanisnya. Entah demi apa, namun pada akhirnya ia menyambut uluran tangan Milly dengan lembut. Bola matanya mendadak melebar dengan alis yang menukik, menatap jemari dan si pemiliknya bergantian. Astaga, kenapa tangannya dingin sekali? gumam Billy keheranan.
Seketika ekspresi wajahnya pun melembut saat melihat wajah si gadis yang tampak tegang. Terlihat sekali dia begitu memaksakan dan merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
Mendesah pelan, Billy lantas mengulas senyum tulus di bibirnya. "Kau tidak perlu cemas. Semua akan baik-baik saja." Ucapnya kemudian dengan nada menenangkan. Namun hal itu justru membuat tangan Milly gemetar hebat. Sebab ini adalah pengalaman pertamanya di perlakukan lembut oleh orang yang dicintainya. Tubuhnya seperti melayang saat Billy mengeratkan cengkeraman tangan mereka dan membawanya melangkah memasuki rumah.
Ini mimpi apa bukan sih? Dia benar-benar gandeng tanganku! Ya Allah terimakasih .... Ini sunggu anugerah tiada terkira. Nikmati aja dulu lah, kapan lagi coba dia mau gandeng-gandeng tangan gini kalau nggak lagi terpaksa. Bodo amat, yang penting aku bahagia. batin Milly terpingkal.
"Hai!" Ratih langsung datang menyambut saat Billy muncul dengan menggandeng tangan sang istri. Milly pun mau tak mau melebarkan senyumannya saat menerima sambutan sehangat itu.
Wanita paruh baya itu tersenyum begitu manis terhadap Milly sebelum akhirnya memeluknya penuh kehangatan. "Apa kabarmu, Nak?" tanyanya selagi mengurai pelukan mereka.
"Sehat Nyonya." Jawab Milly dengan nada mengambang.
Ratih masih tersenyum sembari mengawasi gadis di depannya, sementara jemari mereka masih saling bertautan. "Kau cantik sekali." pujinya tulus dengan senyuman yang begitu menenangkan.
Seketika ekspresi wajah Milly pun berubah sendu. Mata bening gadis mungil itu tampak berkaca-kaca saat beradu tatap dengan wanita yang baru pertama kali ini berjumpa dengannya.
Sementara Ratih yang menangkap perubahan mimik wahah Milly pun mengerutkan keningnya bingung. "Lho, kok malah sedih?" Tanyanya keheranan sambil menatap Milly dan Billy bergantian. Lantas melempar pandangan penuh tanda tanya pada sang suami yang berdiri di sisinya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu tersinggung dengan omongan Ibu? Atau Billy nakal sama kamu?" Tanya Ratih sambil melempar pandangan penuh peringatan terhadap Billy, sementara yang dipandang hanya menggeleng tak mengerti. "Ngomong dong Sayang, bicara pada Ibu ...." desak Ratih sambil meremas lembut jemari gadis itu dan menatapnya lekat berusah meyakinkan.
Mengulas senyum manis di bibirnya, Milly lantas buka suara. "Maaf Nyonya, telah membuat anda panik karena ulah saya." Milly tertunduk malu-malu. "Saya hanya merasa terharu, sebab Nyonya adalah orang ke dua yang mengatakan saya cantik, setelah Ibu saya sendiri." tuturnya sambil mengulum senyum.
"Apa?" Ratih membulatkan bola matanya seolah tak percaya. "Apa Billy tidak pernah memujimu cantik?!" tanya Ratih dengan nada setengah geram.
Melirik setengah mendongak pada Billy yang berdiri di sisinya, senyuman Milly terkembang penuh kepuasan. Lantas mengalihkan pandangan pada Ratih dan menggeleng pelan sembari berucap, "Tidak ,,,."
"Ya Allah Billy, apa mata kamu mulai rabun? Punya istri cantik begini tidak pernah dipuji. Besok periksakan mata kamu ke dokter, ya. Ibu khawatir rabunmu semakin parah karena terlalu lama mantengin laptop." Tutur Ratih penuh penekanan, namun kemudian ia tampak menyunggingkan senyuman seolah itu hanyalah gurauan.
Mengalihkan pandangannya pada Malik, Ratih lantas meraih lengan kokoh itu lantas merangkulnya dengan hangat. "Ini Ayah kalian," ucapnya memperkenalkan pada Milly.
Tersenyum ramah, Milly setengah membungkuk saa
t meraih jemari Malik lantas mengecup punggung tangan lelaki paruh baya itu. "Semoga Allah selalu melindungimu, Nak." tutur Malik sambil mengusap puncak kepala Milly.
Tak bisa berkata-kata, Milly hanya tersenyum penuh haru biru merasakan kehangatan keluarga ini. Sebuah rasa yang twlah lama ia rindukan, sebab begitu lama ia tak lagi merasakan kasih sayang orang tua sejak kepergiannya. Miris memang. Namun kebekuan hati ini sedikit terobati dengan pertemuan mereka malam ini.
__ADS_1
"Masuk yuk," ajak Ratih sembari menarik pergelangan tangan Milly setengah memaksanya.
Menatap Billy seolah meminta persetujuan, Milly lantas mengulas senyum saat Billy menganggukan kepala memberi persetujuan. Lantas berjalan di belakang kaum wanita bersisian dengan Malik sambil mengobrol membicarakan hal-hal kecil.
Ratih mengajak Milly menuju ruang makan untuk membantu mempersiapkan makan malam, sementara Billy dan Malik memilih mengobrol di ruang keluarga.
Sambil melangkah menuju dapur yang letaknya agak jauh dari ruang tengah di mana para lelaki sedang mengobrol, pandangan Milly melanglang buana pada apapun yang di temuinya di rumah itu. Rumah dan segala isinya itu benar-benar penuh dengan keindahan.
Rumah sebesar itu pasti membutuhkan segala yang ekstra, dari segi kebersihan, perawatannya, bahka keamanannya. Terlihat dari begitu banyaknya pelayanan yang tampak bersiaga di meskipun sedang tidak dibutuhkan. Juga ditempatkannya seorang penjaga di setiap sudut rumah dan gebang.
Berdiri memperhatikan Ratih yang sedang menyiapkan kopi hitam untuk Malik dan Billy, Milly yang tak tau harus melakukan apa hanya berdiri di sisi wanita paruh baya itu sembari memperhatikan ke sekeliling dapur yang berukuran sangat luas.
Merasa tak enak hati ia pun memberanikan diri untuk bertanya. "Nyonya, apa yang bisa saya bantu?" Lebih mendekatkan diri pada Ratih, ia bertanya penuh kesungguhan.
Ratih tersenyum menanggapi pertanyaan yang menjurus pada menawarkan bantuan. Menoleh pada gadis di sampingnya, ia pun berucap, "Tidak perlu Milly, semua sudah selesai kok. Kau adalah tamu spesial hari ini. Mana mungkin aku tega menyuruhmu mengiris bawang." ucap Ratih dengan nada gurauan sambil tertawa riang, membuat Milly mau tak mau ikut tertawa juga.
Mengangkat nampan berisi cangkir kopi dengan kedua tangannya, Ratih lantas berucap pada Milly. "Sudah selesai, bawakan camilannya ya." titahnya dengan nada ramah dengan senyuman yang merekah. Benar-benar membuat Milly terkesima.
"E-baik Nyonya." Milly menjawab begitu antusias. Sementara tangannya langsung bergerak mengangkat nampan berisi cake yang kelihatan dari tampilannya begitu menggiurkan.
"Sambil nunggu Brian dengan Mayang kita ngopi-ngopi dulu sambil ngobrol, ya." tutur Ratih saat keduanya berjalan bersisian meninggalkan dapur.
"Panggil saja aku Ibu, jangan ikuti Billy yang tetap memanggilku Nyonya, ya."
Meskipun Milly masih bingung dengan status sebenarnya yang mereka sandang, Milly hanya menganggukkan kepala mengiyakan.
Sambil melangkah menuju ruang tengah di mana Billy dan Malik sedang berada di sana, diam-diam Milly memperhatikan wanita paruh baya di sampingnya. Meskipun telah berumur dan memiliki putra yang sudah dewasa, namun dia masih terlihat cantik dan awet muda.
Ditatapnya wanita itu dengan penuh kekaguman. Meskipun memiliki begitu banyak pelayan yang siap melayani kapanpun juga, namun Ratih begitu mandiri dan tidak bergantung pada pelayan dalam urusan melayani keluarganya. Salut.
***
Sementara itu di ruang tengah, duduk dengan satu kaki memangku kaki lainnya, Billy dan Malik tampak bersantai sembari membicarakan perusahaan. Tak ada topic pembicaraan lain yang lebih menarik bagi kaum pria di luar keluarga selain pekerjaan.
Billy yang semula tengah tersenyum pada Malik tampak menggeser pandangannya saat Ratih dan Milly muncul dengan masing-masing membawa nampan di tangannya.
Senyuman lebar Billy masih terpatri di wajahnya saat menatap sang istri yang hendak meletakkan nampan dan isinya di atas meja, tak ayal hal itu tentu saja membuat kikuk gadis yang sebenarnya memiliki sifat pemalu itu. Jika biasanya ia tak bisa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari sosok yang begitu dipujanya itu, namun kali ini ia tertunduk malu-malu.
Jantung Milly berdenyut kencang ketika menyadari Billy tengah menatapnya dengan senyumnya yang begitu menawan. Tangannya bahkan gemetar saat memegangi nampan.
__ADS_1
Karena pikiran yang tak fokus pada saat meletakkannya piring cake itu di atas meja, piring di tangan Milly terlepas bahkan sebelum mencapai meja, hingga terdengar suara dentingan nyaring saat piring itu beradu dengan meja kaca, hingga membuat semua yang ada di sana terkejut dan dengan cepat melempar pandangan ke arahnya.
Malu? Itu jangan di tanya lagi. Bahkan jika bisa Milly ingin menenggelamkan diri ke dasar samudra hanya untuk bersembunyi. Tubuh gadis itu menegang dengan wajah merah merona akibat menahan rasa malu yang tak terkira.
Memberanikan diri menatap Billy, Milly telah mempersiapkan diri menerima hinaan jika saja lelaki itu akan bersikap semena-mena seperti saat mereka hanya berdua. Namun ternyata praduga Milly salah besar. Billy justru tampak bersikap tenang seolah tak terusik dengan ulahnya baru saja.
"Kenapa Sayang?" Ratih membelai punggung Milly untuk menenangkan, seolah-olah memahami kegelisahan yang gadis itu tengah rasakan. "Kau terkejut ya?"
Tersenyum rikuh, Milly lantas menggeleng samar. "Maafkan saya Nyonya." Ucapnya sambil mengangguk menyesal.
"Tak apa, Sayang." balas Ratih sambil menepuk pelan bahu Milly. "Duduklah dan nikmati kopi kita." ucapnya mempersilahkan dengan senyuman ramah.
Masih terpaku berdiri di tempatnya, Milly tampak kebingungan dengan pandangan mengedar memilih sofa untuk ia duduki. Ada begitu banyak sofa, namun ia bingung untuk menentukan yang mana. Melirik pada tempat kosong di samping Billy, ia tak ingin bermimpi untuk dapat menempatinya dengan keinginan sendiri. Lantas ia memutuskan memilih sofa yang berada di seberang suaminya.
Namun tanpa milly duga, Billy yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Milly pun seolah mengerti kebimbangan yang sang istri rasakan. Ia pun segera menggerakkan tangannya, dan menepuk sofa kosong di sisinya. Dengan mengulas senyum termanis di bibirnya, pandangannya pun mengisyaratkan agar Milly segera menempati.
Mengulas senyum di wajah merona malunya, Milly lantas melangkah pelan mengikuti intruksi suaminya. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Milly lantas membenamkan bokongnya di sana. Untuk beberapa saat mereka saling pandang saat posisi duduk mereka sudah bersisian, sebelum akhirnya keduanya sama-sama mengalihkan dan melempar pandangan ke arah lain.
Walaupun Milly tahu Billy melakukannya karena terpaksa, namun ia tetap merasa bahagia. Setidaknya dia pernah merasakan perlakuan dan tatapan penuh kelembutan dari suaminya.
Tak seperti Milly yang terlihat tegang dan canggung, ekspresi berbeda justru di tunjukkan oleh Billy. Di balik kesempurnaan fisik yang dimilikinya, sikap tenang pun tampak apik membungkus dirinya hingga Milly tak bisa menebak bagaimana suasana hati pria yang telah menjadi suaminya saat ini.
"Milly, apa kegiatanmu sehari-hari, Nak?" pertanyaan Ratih membuat Milly yang saat itu tengah menunduk pun tersentak dan seketika mengangkat pandangannya. Tak langsung menjawab, ia justru mengarahkan pandangannya ke arah Billy seolah meminta petunjuk jawaban apa yang harus ia berikan. Namun Billy bukannya memberikan pencerahan seperti yang Milly harapkan, ia justru terlihat santai membalas tatapan Milly dengan senyuman, seolah menyerahkan semuanya terhadap Milly.
Ya ampun aku harus jawab apa, masa iya aku jawab jual rujak. Mau ditaruh di mana muka suamiku? Pasti dia bakal malu. Tapi berbohong juga lama-lama mereka akan tahu. Ayo dong kasih tau, jangan cuma senyum-senyum gitu, aku kan jadi bingung.
Beringsut dan sudah hampir membuka mulut untuk menjawab, namun suara salam yang terdengar dari arah luar mengalihkan perhatian semuanya hingga melupakan topik pembahasan.
"Pasti Brian dan Mayang yang datang." tebak Ratih sambil tersenyum riang, lalu bangkit dan berhambur keluar.
Dan benar saja, tak lama kemudian, Ratih pun masuk bersama Brian yang berjalan dengan membimbing Mayang begitu hati-hati.
Tak berkedip, Milly memperhatikan dengan seksama gerak-gerik pasangan suami istri yang terlihat sangat romantis itu. Mereka terlihat sangat serasi.
Si lelaki yang memiliki wajah dan tubuh yang sangat sempurna, sementara si wanita, sangat cantik dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai begitu saja dengan indah. Dengan dress vikami berlengan panjang yang membalut tubuh indah proporsionalnya, membuatnya terlihat sangat cantik dan begitu mempesona. Senyumannya yang selalu terkembang dengan dua lesung yang menghias di pipinya meskipun hanya dengan sapuan make-up minimalis, namun justru kian memancarkan kecantikannya.
Milly hanya meneguk susah payah slavinanya saat membandingkan penampilan dirinya dengan wanita sempurna yang baru datang itu. Dan satu lagi yang membuatnya memggigit bibir merasa iri. Perlakuan si lelaki yang begitu lembut terhadap si wanita, bahkan dia yang menenteng tas tangan si wanita sementara tangan satunya sibuk merangkul tubuh istrinya.
Ya Allah, mereka membuatku gigit jari. batin Milly dengan nada iri.
__ADS_1