
"Makan ini." Billy menyodorkan mangkuk berisi makanan yang dipesannya.
Milly mengernyit hingga alisnya yang lentik itu berpaut. "Ini apa Pak?" tanyanya bingung sembari mendongak menatap Billy.
"Itu seblak spesial yang paling enak di rumah makan ini. Aku memesannya khusus untuk kamu." Tutur Billy sembari menyunggingkan senyum penuh arti.
"Bapak yakin ini seblak?" Milly mengaduk-aduk makanan itu dengan sendok. "Mana seblaknya Pak, lah wong isinya cabe semua. Ini keliru sambal kali Pak ...." Tuturnya penuh keyakinan.
"Bukankah kau mengatakan omonganku sepedas seblak level seratus? Nah ini dia seblak level seratus itu. Makan dan bandingkan lebih pedas mana mulutku dengan seblak itu." Terang Billy dengan nada menantang.
"Astaga." Membelalak kaget, Milly benar-benar tak menyangka jika Billy akan membalasnya dengan cara seperti ini. Sebuah lelucon yang ia ucapkan waktu itu rupanya menjadi bumerang baginya hari ini.
"Kenapa malah bengong? Cepat makan." Desak Billy sembari mendorong mangkuk itu lebih mendekat pada Milly. Sambil bertopang dagu pada meja, pria bertubuh kekar itu begitu menikmati tatkala berhasil membuat istri sirinya itu tak bisa berkutik didepannya.
Meneguk slavinanya berat, Milly menatap nanar mangkuk dihadapannya. Ina sialan! Ngapa musti keceplosan segala sih. Apes gua, pulang dari sini mulas-mulas dah tuh.
"Ngapain dipantengin terus tuh mangkok? Ada drama koreanya?" Sindir Billy ketika tatapan Milly tak beralih dari mangkok. Gadis bersurai lurus itu seketika mendongak menatapnya. "Buruan makan. Dan bandingkan lebih pedas mana, omonganku atau seblak itu." desis Billy seraya menunjukkan seringainya.
Bukannya segera menyantap hidangan di hadapannya, Milly justru fokus pada senyuman suaminya. Lelaki yang selalu membuat jantungnya berdentum keras dengan sejuta pesona yang dimilikinya. Yang diam-diam mencuri perhatiannya. Hingga mengalihkan dunianya.
Gadis itu membeku seketika. Dengan mulut ternganga, ditatapnya sang suami itu penuh puja. Hingga tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya.
"Manis ...." Gumamnya tanpa sadar saat menatap bibir Billy yang kemerahan.
"Manis kau bilang?!" Billy membelalak tak percaya. Pria bertubuh tegap itu lantas tersenyum penuh gejolak dimatanya. Ia begitu bersemangat ingin melihat bagaimana gadis itu melahap dan menghabiskan seblak setan pesanannya. Sudah terbayang di kepalanya betapa lucunya ekspresi gadis imut itu saat sedang kepedasan. "Kalau begitu makan dan habiskan?!"
"A-apa?!" Milly tergagap. Gadis bermata bulat itu membeliak. Memang apa yang kukatakan barusan? Batinnya.
__ADS_1
"Makan seblak ini!" Billy kembali mendesak.
"Apa?! Anda ingin saya mati?!" teriak Milly tak percaya. "Tusuk saja saya pakai pisau Pak!"
"Kapan kau pernah dengar orang mati karena kepedasan?!"
"Em-nanti, kalau Bapak tetap memaksa saya memakan seblak ini." rajuk Milly seraya menggembungkan pipi. "Tapi maaf ya Pak, saya masih sayang dengan nyawa saya." imbuhnya angkuh sembari meyandarkan tubuh dan melipat tangannya di dada.
Keras kepala juga dia, sepertinya butuh sedikit ancaman. Batin Billy.
"Kalau kau tidak memakannya, maka kau harus ikut pulang bersama saya." desis Billy penuh ancaman.
"Hah?!" Milly terkesiap. Gadis dengan kaus oblong warna kuning itu membelalakan mata saking terkejutnya. Tiba-tiba pikiran liar dirinya dijadikan pembantu terlintas di kepalanya. Astaga mulutku. Kenapalah aku mengaku menjadi pembantunya tadi? Apes. Batinnya.
Milly menunduk menatap ngeri seblak itu. Jika sesendok saja sanggup membuatku ke kamar kecil, lalu berapa kali bolak-balik jika kuhabiskan semuanya? Astaga, bisa jadi kutu toilet aku ini.
Milly lantas mengangkat pandangan menatap suaminya. Astaga seringainya, menakutkan sekali. Lebih baik aku kepedasan oleh seblak ini daripada kepedasan karena omongannya.
"Huahhh!" Milly mendesah kala rasa pedas memenuhi rongga mulutnya. Wajah yang sebelumnya pucat pasi seketika merah padam. Namun bayangan menjadi pembantu membuatnya bertekad menghabiskan seblak itu.
Dengan keringat bercucuran, Milly tetap melahapnya sesendok demi sesendok, hingga tanpa terasa ia telah menghabiskan
tiga botol air mineral dingin untuk menghilangkan rasa pedasnya.
"Huh ... huh ...." Desahnya dengan napas terengah sambil memukul-mukul meja. Ditatapnya nanar seblak di mangkuk yang masih menyisakan satu sendok. Bibirnya yang sudah menebal tak sanggup lagi melahapnya. Akhinya gadis manis yang kacau balau itu tumbang dan terkulai lemas dengan sisi pipi menyandar di atas meja.
Tergelak, Billy yang sejak tadi hanya bersandar mengamati istrinya makan sambil bersedekap dada lantas bangkit dan melangkah menuju dapur rumah makan. Tak lama kemudian ia kembali dengan satu gelas susu putih di tangannya.
__ADS_1
Menjentik lembut pipi Milly dengan jarinya, Billy pun berucap. "Minum susu ini."
Seketika Milly melebarkan matanya yang semula meredup. Antara percaya dan tidak percaya, ia menatap seraut wajah tampan itu tersenyum sangat manis padanya. Astaga aku ketiduran. Sampai-sampai sku bermimpi dia tersenyum padaku. Kalau begitu aku ingin tidur lagi saja. Batinnya sembari memejamkan mata. Eh tapi kok malah gelap. Bapak tampan tadi mana ya? Milly kembali membuka mata. Dan ia terperanjat tatkala wajah Billy berada sangat dekat di depan wajahnya. Lelaki itu menautkan alisnya bingung.
"Hey kau tidak pingsan kan?!" teriakan Billy membuat Milly terkesiap seketika. Buyar semua mimpi indahnya. Saking terkejutnya, Milly sampai-sampai berjingkat dan duduk dengan tegap.
Gelagapan gadis itu menatap Billy yang tengah berdecak heran padanya. Salah tingkah ia memilih menunduk dan menghindari beradu tatap. Merasa malu juga, entah seperti apa tampilan wajahnya saat ini.
"Minum susu itu." Titah Billy yang sudah kembali duduk di kursinya.
Mengangguk samar, Milly lantas menggerakkan tangannya perlahan guna mengambil gelas susu dihadapannya. Jemari lentik dengan cincin manis di jemari telunjuk itu lantas mengarahkan gelas pasa mulutnya dan meneguknya tanpa sisa.
Perlahan, kegelisahannya pun memudar usai meminum susu hangat itu. Perasaannya mulai tenang. Namun justru dentuman jantungnya semakin tak terkendali saja saat menyadari sorot tajam dari netra lelaki yang duduk di seberangnya itu sama sekali tak beralih darinya.
"Lagi?" Milly menggeleng cepet saat Billy kembali menawarinya. Billy bahkan tergelak menatap ekspresi jera yang Milly tunjukkan. "Enak kan? Aku bisa traktir sebanyak yang kamu mau." tutur Billy pelan namun dengan nada menggoda.
"Enggak Pak, ampun. Saya kapok." Jawab Milly dengan ekspresi wajah sangat menyedihkan. Ia bahkan bertingkah seolah sedang menangis.
"Lebih pedas mana? Omongan saya atau seblak ini?"
"Bapak."
"Apa?!" Teriak Billy tak percaya.
"Eh bukan, maksud saya seblak!" ralat Milly seketika.
"Kalau begitu kamu mengakui kalah, kan?" Sindir Billy merujuk pada seblak yang masih tersisa satu sendok di mangkuk.
__ADS_1
"Huaaa!" Sambil sesenggukan, Milly menghabiskan sesendok seblak terakhirnya.
Bersambung.