
Mayang pamit pulang pada Silvi setelah mengakhiri pembicaraan. Ia tersenyum manis pada wanita hamil yang tengah melambaikan tangannya, lantas mengendarai motornya keluar dari halaman rumah berukuran sedang itu.
Mayang mengendarai motornya dengan kecepatan pelan. Ia pun hanyut dalam kelana angan. Di saat ia begitu santai dalam hal hal berumah tangga, mengapa justru orang lain yang sibuk memikirkan masa depannya? Come on, Baby. Dua puluh empat tahun itu belum terlalu tua, kan? Kata-kata ini lah yang selalu ada di benaknya.
Saat melewati sebuah gedung tua yang berada di kampungnya, mendadak Mayang menghentikan laju motor tepat di depannya. Matanya memicing, menatap begitu penasaran. Setelah sekian lama gedung tak terawat itu tak pernah disinggahi seseorang, kini tiba-tiba ada beberapa mobil warna hitam terparkir di sana dengan posisi cenderung tersembunyi.
Curiga, ia pun mendorong motornya untuk mendekat agar bunyinya tak menarik perhatian. Melihat hal aneh di depan mata, seketika jiwa penasarannya meronta-ronta. Mayang sengaja menempatkan motornya di sisi jalan setapak, bertujuan untuk memudahkannya saat melesat nanti. Tentunya dengan pengamanan menutupi nomor seri motornya terlebih dulu agar tak bisa dilacak. Berjaga-jaga itu lebih baik, bukan?
Setelahnya, Mayang memasuki gedung itu dengan langkah mengendap-endap. Ia berusaha berhati-hati agar bisa mendapatkan informasi. Entah mengapa lobus frontalnya mengatakan ada hal tidak beres yang terjadi di dalam sana.
***
__ADS_1
Lima belas menit berada di dalam, akhirnya Mayang keluar dari gedung tua itu dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak tak baik-baik saja, itu terlihat dari tubuhnya yang gemetaran menahan ketakutan.
Secepat mungkin ia membawa dirinya menjauhi tempat itu menggunakan motornya. Gadis itu beruntung, sebab, beberapa orang pria yang mengejarnya hanya bisa kembali ke gedung tua dengan tangan kosong.
Sampai di halaman rumah, Mayang langsung memasukkan motornya ke dalam garasi. Tak lupa menutup pintunya rapat-rapat, begitu pula dengan gerbang besi rumah orang tuanya. Gadis itu celingukan menatap keluar untuk memastikan tak ada yang melihatnya sebelum kemudian memasuki rumah.
Perilaku Mayang ini jelas tak biasa. Sebelum-sebelumnya Mayang akan selalu memarkirkan motornya di pelataran jika memang cuaca tidak sedang hujan. Begitu juga dengan pintu gerbang yang baru akan ditutup dan dikunci bila hari sudah malam. Hal ini tentu saja mengundang tanya sang ibu kandung yang melihat sendiri dengan mata kepalanya tingkah aneh putrinya. Terlebih wajah Mayang kini terlihat pucat tak berseri.
Rasa penasaran Asmia hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala dari putrinya. Tak patah arang, wanita paruh baya yang baru menyiram bunga di taman itu mengikuti putrinya yang hendak menaiki tangga.
“Mayang,” panggilnya penuh penekanan. Usahanya berhasil menghentikan langkah si gadis hingga mau berbalik badan dan menunjukkan senyuman. Ya, walaupun terlihat dipaksakan.
__ADS_1
“Mayang baik-baik saja, Ibu. Mayang nggak sakit,” jelas Mayang meyakinkan.
“Terus, kenapa jam segini sudah nutup pintu pagar? Kamu dikejar-kejar orang?” tebak Asmia, dan tanpa ia sadari sang putri membelalak karena tebakannya itu ternyata benar adanya.
“Mayang ... emm ... Mayang dikejar anjing, Bu. Mayang takut, makanya pintu gerbang Mayang tutup,” dustanya. Terpaksa ia membohongi ibunya agar wanita dengan khimar panjang itu tak ketakutan dan mengkhawatirkannya.
Benar saja, seketika Asmia menghela napas lega mendengarkan jawaban putrinya.
“Owalah, anjing to? Ibu mikirnya apa. Tapi kamu nggak papa, to?” tanyanya memastikan.
“Nggak papa, Bu. Ibu lihat sendiri, kan. Tubuh Mayang masih utuh, hehe.” Seketika Mayang memutar tubuhnya di depan sang ibu dan bersikap baik-baik saja.
__ADS_1