
“Masuk!”
Tubuh Weni terhuyung ke depan setelah Mayang mendorongnya masuk rumah dengan sekuat tenaga. Gadis itu menatap kakaknya yang tengah menutup pintu dengan wajah tidak suka.
“Kakak kenapa, sih? Ada masalah? Kenapa Kakak tega bikin malu aku di depan teman-teman!” Tak bisa lagi menahan, ia akhirnya melayangkan protes keras.
“Malu? Kamu malu Kakak jemput seperti tadi? Lantas kemana urat malu kamu saat dicium cowok di depan umum!” balas Mayang dengan suara menggelegar. Gadis itu benar-benar tampak berang.
“Kenapa harus malu! Dia itu pacar aku! Kenapa? Kakak cemburu? Kakak iri karena sampai sedewasa ini belum juga punya kekasih hati! Iri? Bilang Bos!"
Plak! Suara tamparan disusul pekikan tertahan dari bibir Weni membahana di udara. Gadis itu menyentuh pipinya yang terasa nyeri, lantas menatap kakaknya dengan ekspresi tidak suka.
Mayang sendiri tampak syok dengan tindakannya yang spontan tadi. Ia memandangi telapak tangannya yang gemetaran. Menyesal, kenapa ia bisa hilang kendali hingga menampar adiknya sendiri.
“Wen, maaf ... Kakak nggak sengaja,” lirihnya penuh sesal. Selama ini hubungannya dengan sang adik berjalan normal dan baik-baik saja. Saling sayang dan mengasihi satu sama lainnya. Jelas, kejadian ini benar-benar membuatnya sangat sedih.
“Terus, Kak! Terus! Jangan Cuma tampar, kalau perlu bunuh aku sekalian!” teriak Weni dengan nada menantang.
Suara gaduh di ruang tamu itu rupanya mengundang perhatian penghuni rumah lainnya. Ayah, Ibu dan dua orang asisten rumah tangga tampak tergopoh-gopoh datang menghampiri keduanya.
__ADS_1
“Ini ada apa kok ribut-ribut?” Anwar bertanya untuk menengahi keduanya. Namun, kedua putrinya yang sedang bersitegang tak juga mengalihkan pandangan. Mereka masih saling tatap dalam diam.
“Ayah tanyakan sendiri pada putri Ayah.” Malas berdebat, Mayang memutuskan enyah dari sana dan pergi menuju kamarnya. Menutup pintu dengan membanting, tak lupa ia menguncinya sebelum kemudian berhambur di kasur dan membenamkan wajahnya tepat di atas bantal. Gadis itu menangis dalam diam.
***
Pukul lima pagi Mayang bangun seperti biasa. Usai menjalankan kewajiban sebagai umat beragama, ia mulai mempersiapkan diri. Masih terlalu pagi, tetapi ia harus melakukan ini. Jujur, ia masih malas bertemu dan kembali bersitegang dengan adiknya. Maka dari itu, ia berencana berangkat pagi sekali sebelum Weni turun dari kamarnya dan bertemu di meja makan.
Mematut diri di cermin, Mayang menatap matanya yang bengkak oleh sisa tangis semalam. Selain menyesali diri karena menampar adiknya, ia juga menyesalkan kata-kata Weni yang terkesan memojokkannya. Memang apa salahnya jika sampai sekarang ia belum juga memiliki tambatan hati? Apakah hal itu membuat orang lain rugi? Ah, Mayang bahkan tak habis pikir kenapa pikiran Weni sedangkal itu. Padahal niatnya baik. Ia ingin sang adik bisa jaga dirinya dengan baik. Menjaga kehormatan. Bukan hanya kehormatannya, tetapi juga kehormatan keluarga. Jika terjadi apa-apa dengan Weni, bukankah keluarga ikut pula menanggung malunya?
Gegas Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya demi menghalau sisi sentimental yang mendadak datang.
“Non Mayang pagi-pagi udah siap aja. Mau ke mana?” tanya sang asisten yang bernama Yayuk itu dengan ekspresi heran.
“Mau ke kebun lah, Bi. Seperti biasa. Cuma hari ini bakalan sibuk banget, jadi berangkatnya kudu pagi-pagi,” jawab Mayang beralasan.
“Owh, gitu,” balas Yayuk sambil mengangguk paham. Wanita paruh baya itu memperhatikan anak bosnya yang tengah mencari-cari sesuatu di dalam kulkas. “Non Mayang cari apa, sih?” tanyanya penasaran.
“Apelnya habis ya, Bi?” tanya Mayang masih dengan posisi membungkuk, sedang tangannya masih sibuk membuka-buka kantong plastik di rak paling bawah.
__ADS_1
“Ih, itu mah tempatnya sayur, Non. Tempatnya buah mah di tengah. Kalau nggak ada berarti habis. Ibu memang belum belanja, Non.”
“Yah, habis dech,” sesal Mayang sambil mengerutkan bibir. Matanya tak sengaja tertuju pada sebungkus roti tawar yang ada di meja, kemudian senyumnya merekah sempurna.
Gadis itu langsung berhambur ke arah meja makan dan meraih roti tawar itu.
“Ya udah, deh. Aku sarapan ini aja,” tuturnya dengan semringah. Tangannya dengan cekatan membubuhkan selai coklat pada salah satu sisi roti sebelum kemudian menangkubkan kedua roti. Tersenyum pada Yayuk yang sejak tadi masih memperhatikan, ia pun pamit dan beranjak pergi.
***
Di perkebunan, Mayang menjalani aktivitas seperti biasa. Melakukan apa yang perlu dilakukan dengan perasaan suka cita. Ia bahkan sedikit bisa melupakan kejadian buruk pertengkarannya dengan sang adik.
Siang itu ketika sedang berbincang dengan sang ayah, obrolan mereka harus terjeda saat tiba-tiba ponsel Anwar berdering. Pria paruh baya itu buru-buru merogoh ponsel dari saku. Nama sang istri yang tertera di sana, hingga tanpa pikir panjang ia kemudian mengangkatnya.
Penasaran, Mayang memperhatikan ayahnya dengan seksama. Awalnya ia masih menampakkan senyum saat menyangka sang ibu menghubungi karena berpesan sesuatu. Namun, ekspresinya berubah heran saat sang ayah menunjukkan ekspresi kepanikan. Bahkan tanpa mengatakan apa-apa, pria paruh baya itu berjalan cepat menuju mobilnya, dan hanya mengisyaratkan pada Mayang untuk tetap tinggal di sana.
Tak ingin tersiksa oleh rasa penasaran, Mayang bergegas menghampiri motornya demi menyusul sang ayah yang telah lebih dulu pergi dari sana. Meski berkendara, tetapi pikiran Mayang berkelana entah ke mana. Hingga tiba di pelataran rumah, ia dikejutkan oleh kedatangan orang asing dengan deretan mobil mewah yang berjajar.
__ADS_1
“Ya Allah, ini ada apa?”