
Sepeninggalnya Alex dari tempat itu, seolah tak ingin membuang waktu lagi, Bianca, Kim Joy serta dua pria dempal itu segera membawa Mayang menuju tempat yang diduga itu adalah kamar tidur pribadi yang selalu Alex tempati.
Mereka membawa istri Brian itu secara paksa, sebab Mayang yang sudah dihinggapi ketakutan bersikap membangkang dan melakukan penolakan. Alhasil, lima orang itu pun terpaksa memperlakukannya dengan kasar.
Tak berhenti sampai di situ, sudah sampai di dalam kamar pun mereka masih memberikan tekanan serta paksaan terhadap Mayang agar mau mengganti pakaian yang dikenakannya dengan gaun tidur yang telah disediakan.
Tak ada pilihan lagi bagi Mayang selain mengikuti keinginan mereka, terlebih suara dari anting-anting yang dikenakan terus menerus mengintruksikan agar dirinya bersikap kooperatif demi keselamatan ia beserta sang janin.
"Berani sekali kau membuat Tuan Alex kami murka!" Bianca yang sudah sangat geram itu tak bisa menahan diri lagi, hingga ia nekat melampiaskan kekesalannya dengan menjambak rambut panjang Mayang.
Mayang yang saat itu telah selesai menukar gaunnya dengan pakaian tidur dengan posisi berdiri sontak saja terhuyung ke belakang dengan kepala yang mendongak akibat dari tarikan Bianca itu.
Bukannya mengekspresikan rasa sakit di kepalanya itu dengan rintihan, Mayang justru menunjukkan seringai mengolok kepada Bianca. Kali ini ia bahkan tidak mengelak ataupun melakukan perlawanan terhadap gadis itu. "Memangnya apa yang kulakukan? Tuan mu saja yang terlalu bawa perasaan. Sampai-sampai berani mengklaim istri orang sebagai miliknya. Memangnya dia anggap aku ini apa!" teriaknya kemudian sebagai bentuk protes atas tidak terimanya.
"Kurang ajar!" geram Bianca seraya mengangkat tinggi-tinggi tangannya hendak melayangkan satu tamparan. Namun seolah sadar jika hal itu bisa membuat dirinya mendapatkan hukuman berat, ia pun mengurungkan niat dan menggantungkan tangannya di udara.
Hal itu rupanya tak luput dari perhatian Mayang. Wanita yang saat ini mengenakan pakaian tipis dengan model terbuka itu menyeringai puas penuh kemenangan. "Kenapa berhenti? Bukannya kamu mau nampar aku? Tampar saja aku. Tampar! Takut ya bos kamu yang terhormat itu akan marah? Aku benar-benar kasihan melihatmu. Kau mencintai Alex, bukan? Dan cintamu itu bertepuk sebelah tangan. Ck ,,, ck ,,, ck .... Kasihan ...."
Perkataan Mayang yang bernada ejekan itu seperti pemantik yang menghasilkan percikan api dan berhasil menyulut amarah Bianca yang sudah membara itu kian berkobar. Ia memang sengaja melakukannya. Baginya lebih baik membuat onar dan memancing keributan. Biarlah andai saja ia harus terluka akibat perkelahian dari pada dipertemukan dengan Alex hanya berdua dalam satu kamar. Sebab dari pakaian yang saat ini ia kenakan, bukan tidak mungkin lelaki itu akan menjamah tubuhnya dengan paksa.
Dan usaha Mayang itu pun berhasil. Entah sadar atau tidak Bianca benar-benar melayangkan tamparannya, lantas mendorong tubuh ramping itu hingga membentur tembok di belakangnya.
Tangan mavia wanita itu menyentuh wajah Mayang dengan pukulan keras, hingga membuat wajah putih dan mulus itu menyemburat merah sedikit kebiruan akibat memar. Bahkan nampak keluar noda merah pekat di sudut bibir mungil itu.
Bukannya meringis kesakitan, Mayang yang bersandar pada dinding itu justru tersenyum senang sambil mengusap sudut bibirnya. "Ya Tuhan, Bianca ,,,. Semarah itu kah kau kepadaku?" ucapnya dengan diiringi tawa geli yang lagi-lagi Membuang Bianca semakin emosi.
"Kau!" Bianca geram. Ia bergerak cepat mendekati Mayang lantas mencengkeram pakaian wanita itu. "Berhenti menertawakanku seperti orang gila begitu!" hardiknya sambil menarik tubuh Mayang sebelum kemudian membenturkannya kembali pada dinding.
__ADS_1
"Aku tidak gila! Aku hanya menyampaikan fakta. Nasipmu benar-benar miris Bianca, kau mencintai seseorang yang sama sekali tak menaruh hati kepadamu. Andai aku berada di posisimu, aku pasti akan melepaskan wanita yang sebentar lagi akan menjadi kencan pria yang dicintaimu. Kau benar-benar wanita bodoh jika masih saja mempertahankan diriku di sini, Bianca. Lepaskan aku sekarang sebelum Alex datang! Cepat lepaskan aku." Mayang mendesak Bianca dengan ekspresi yang menggebu-gebu. Bahkan kini mereka berganti posisi dan Mayang lah yang saat ini lebih mendominasi. Sementara Bianca tampak terdiam seolah sedang berpikir.
Mayang tersenyum samar saat mendekati keberhasilan. Ia memperhatikan Bianca tampak bimbang, seolah tengah menimbang-nimbang sesuatu. Namun sesaat kemudian wanita cantik dengan dandanan menor itu mengarahkan tatapannya ke arah Mayang dengan sorot tajam. lantas menyunggingkan seringai licik yang membuat Mayang menelan ludah kekalahan.
"Kau pikir aku wanita bodoh yang mudah termakan hasutanmu?" Bianca berdecih. "Cepat persiapkan dirimu karena sebentar lagi Tuan Alex akan segera datang. Kau pasti sudah tidak sabar untuk melewatkan malam ini bersamanya, bukan?" tanyanya kemudian dengan nada suara yang menggoda. Sementara tangannya mencengkram dagu Mayang dengan kuat, sebelum kemudian melepaskannya dengan hentakkan.
***
Seorang gadis bersurai panjang tengah duduk di salah satu kursi yang berada di sebuah kafe ternama. Ia yang tengah sendirian tampak termenung sambil bertopang dagu dengan siku bertumpu pada meja. Sesekali ia menatap ke arah kaca yang memperlihatkan pemandangan luar yang menyajikan rintik-rintik kecil air hujan.
Mendesah pelan, ia lantas mengaduk coklat panas yang telah menghangat di depannya. Lantas menyeruput minuman itu perlahan dari cangkirnya. Coklat panas memang cocok dinikmati saat cuaca dingin seperti ini. Terlebih coklat juga mengandung zat yang memberikan efek menenangkan, jadi cocok untuknya yang saat ini sedang didera kekalutan.
Lagi-lagi ia mendesah lelah. Sudah setengah jam berada di sana, namun teman yang ditunggunya sejak tadi tak juga menunjukkan kemunculan batang hidungnya. Entah temannya lupa atau memang dirinya yang begitu cepat tiba.
"Milly?"
"Selamat datang, Sayang. Akhirnya kamu datang juga." Sambil menyunggingkan seringai menggoda, pria dengan balutan jas rapi warna navy itu berbicara dengan nada kurang ajar yang seketika membuat Milly memasang wajah tidak suka saat menatapnya.
Tanpa tahu malu, lelaki berkulit kuning langsat itu lantas duduk mengambil posisi di samping Milly tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu. "Apa kabarmu, Sayang?" tanyanya kemudian dengan nada ramah meskipun seringai nakal masih terpatri di bibirnya. "Ini benar-benar kejutan yang membahagiakan. Tapi kenapa kau datang tanpa memberiku kabar?
Tak berniat menjawab pertanyaan itu, Milly memalingkan muka. Rasa pusing yang tiba-tiba mendera membuat jemari lentik itu bergerak ke arah dahi dan memijat pelan pelipisnya.
Lelaki itu menggeser posisi hingga membuatnya menghadap tepat ke arah Milly. Tatapannya berbinar begitu senang saat mengamati gadis di depannya itu dengan begitu bersemangat. "Oh, ya. Kudengar orang tuamu mengalami kebangkrutan karena usahanya koleps. Aku turut prihatin atas semua itu Milly."
Kata-kata lelaki itu barusan berhasil membuat Milly menoleh ke arahnya dan menatap dengan ekspresi penuh kemarahan. "Diam kau lintah darat." Milly berucap penuh penekanan.
"Wow, amazing. Kau bisa marah juga sekarang, ya. Oke nggak masalah. Justru itu semakin membuatku penasaran terhadapmu."
__ADS_1
"Sialan." Milly menyahut cepat dengan emosi yang hampir meledak. "Asal kau tahu Ibra, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menjadi istrimu!"
"Dasar keras keras kepala," Ibra menggelengkan kepalanya seolah tak habis pikir pada gadis depannya itu. "Terus saja kau bersikap angkuh dengan menolak diriku menjadi suamimu. Tapi kelak kau akan menyesal karena sifat egoismu itu akan membawamu pada jurang kehancuran. Apa kau tega membiarkan kedua orang tuamu menjadi gelandangan?"
Ibra melontarkan pertanyaan bernada peringatan yang telak dan berhasil membuat Milly terpaku dengan ekspresi bimbang. Tanpa menggeser pandangannya dari Milly, ia menjentikkan jari. Seorang pria yang sejak tadi berdiri siaga tak jauh darinya langsung menyerahkan koper hitam tipis yang di pegang kepadanya.
Ibra tersenyum kala koper berwarna hitam itu sudah ada di tangannya. Menaruhnya dengan perlahan di atas meja, kemudian ia mengetuk-ngetukan jarinya pada bagian atas benda itu.
Hal itu mau tak mau membuat pandangan Milly ikut tertuju ke arah koper itu. Walaupun sebenarnya tak mau tahu apapun mengenai lelaki itu, namun sorot mata Ibra yang tersirat penuh arti itu benar-benar berhasil membuat Milly penasaran.
"Apa kau tahu isi dari koper ini apa?" tanya Ibra dengan seringai nakal yang membuat Milly jengkel bukan kepalang. Sepertinya ia sengaja membuat Milly semakin penasaran.
"Aku tidak peduli." Entah bagaimana bisa kata-kata itu meluncur bebas dari bibir Milly. Padahal jelas-jelas pandangan matanya penuh rasa ingin tahu, namun dengan sikap angkuh ia seolah-olah tak mau tahu. "Aku sana sekali tidak perlu tahu karena itu bukan urusanku," terangnya sambil memalingkan muka.
Bukanlah tanpa alasan Milly melakukan itu. Bagaimanapun lelaki ini adalah orang yang paling ia benci, jadi ia tak ingin terkesan mudah untuk ditekan. Terlebih lagi Milly tahu pria dengan paras lumayan ini memiliki sikap yang arogan.
"Baiklah, sepertinya kau benar-benar tidak tertarik untuk mendengarnya," ucap Ibra dengan nada santai. "Tapi karena aku ini terlalu baik hati, jadi kupikir lebih baik kuceritakan saja. Meskipun, kau tidak sudi mendengarnya." Ibra menekan kata meskipun saat berucap, seolah menegaskan jika ia harus mengatakannya.
Ibra diam sejenak, dengan pandangan mengawasi Milly yang masih tak bergeming di tempatnya. Pria berperawakan tinggi itu lantas menyunggingkan senyum penuh ironi.
"Kau benar-benar tidak berubah, ya. Kukira setelah menghilangkan seperti ditelan bumi kau akan kembali dengan kesadaran penuh dan mau menerimaku apa adanya. Tapi ternyata salah. Kau sama saja seperti Milly yang dulu. Angkuh, dan sombong." Ibra sengaja menekan ucapan terakhirnya demi memancing emosi Milly. Namun sepertinya usahanya sia-sia sebab Milly seolah tak terprovokasi oleh perkataannya.
"Tadinya aku berpikir untuk mempertahankan pabrik serta rumah orang tuamu karena kupikir kau akan datang menyerahkan diri secara suka rela kepadaku. Kupikir kau masih menyayangi orang tuamu. Tapi sepertinya aku salah." Ibra mencebikkan bibirnya. Seolah-olah ia merasa kecewa.
Apa maksud perkataannya? Kenapa bawa-bawa nama orang tuaku juga? batin Milly bertanya-tanya. Entah mengapa jika menyangkut orang tua ia benar-benar tidak bisa berpura-pura. Menggerakkan lehernya, Milly menoleh ke arah Ibra, dan kemudian memberanikan diri untuk bertanya. "Maksudmu apa bawa-bawa orang tuaku?"
"Karena koper ini berisi berkas-berkas serta sertifikat pabrik dan rumah orang tuamu. Kau masih memiliki harapan jika aku masih menjadi pemilik sah pabrik itu. Tapi, kalau sudah berpindah tangan kira-kira nasip keluargamu bagaimana, ya?"
__ADS_1