
Brian dan Mayang berjalan dengan posisi sejajar sembari bergandengan tangan. Keduanya terlihat sangat serasi hingga membuat decak kagum orang yang melihatnya.
Mungkin bagi orang awam, mereka terlihat seperti pasangan bahagia yang saling mencinta, walaupun kenyataannya Mayang hanya tawanan saja.
Brian mengeratkan genggamannya saat dirasanya jemari gadis itu terasa dingin, bahkan basah oleh keringat. Aneh. Padahal cuaca saat itu terasa normal seperti biasanya.
Grogikah dia?
Brian memandang gadis di sampingnya itu untuk mengamati. Mayang memang terlihat tegang hingga wajahnya tampak pucat. Ia bisa memaklumi bagaimana gadis itu bisa sedemikian cemas. Wajar, sebab ia memang tak memberi tahukan tujuannya membawa Mayang kemari.
Tidak ada maksud tertentu. Hanya membiarkan semua berjalan apa adanya bagai air mengalir. Brian tak ingin memaksakan atau pun memanipulasi agar Mayang terlihat baik di mata orang tuanya. Brian ingin orang tuanya bisa menilai Mayang dengan melihat dari diri Mayang sendiri apa adanya.
Sementara Mayang yang merasakan genggaman tangan Brian agak berbeda hanya bisa mengerjap saat matanya bersirobok dengan netra tegas itu. Ia akui, genggaman tangan Brian itu memang sedikit membuatnya merasa tenang. Terlebih lagi senyum tulus yang Brian sunggingkan seolah-olah tengah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.
Gaun berbahan sutra warna gold yang Mayang kenakan betul-betul menyatu dengan tubuhnya yang tinggi namun berisi dengan porsi yang pas. Tidak kerempeng. Penampilan Mayang terlihat sopan namun elegan. Bersanding dengan Brian yang bertubuh tinggi atletis dan dengan penampilan barunya. Mereka bak pasangan selebritis yang sedang berjalan di red karpet.
Mereka menghentikan langkah saat berdiri tepat berhadapan dengan kedua orang tua Brian. Andai keduanya tahu dua sosok di depannya itu bukanlah pasangan kekasih yang sesungguhnya, mungkin mereka tak akan seantusias ini menyambut keduanya.
Brian memeluk ayah dan ibunya bergantian, yang dibalas dengan tepukan di bahu oleh keduanya dengan penuh kasih sayang.
Mayang bisa melihat perjumpaan orang tua dan anak ini diliputi kerinduan yang mendalam. Agak lama sang ibu melepaskan pelukan pada putranya. Bahkan pipi Brian dibelainya dengan lembut sesaat setelah melepas pelukan.
"Kau berani melupakan ibumu sekarang? Kau bahkan tak pernah mengunjungi ibu!"
Wanita itu bahkan memarahi putranya dengan kasih sayang seperti Brian masih anak-anak saja. Ya ... Orang tua memang selalu menganggap putra-putrinya masih bocah meskipun mereka sudah beranjak dewasa.
"Kau bahkan tidak datang jika tidak ibu undang."
"Ibu, Maafkan aku. Akhir-akhir ini pekerjaanku di kantor memang sedang banyak sekali. Besok-besok aku akan sering-sering kemari ya. Aku janji," ucap Brian sambil mencium punggung tangan ibunya dengan lembut. Brian memang sangat menyayangi ibunya melebihi apapun.
Lalu pandangan wanita itu beralih pada Mayang yang terlihat tegang. Mayang mengulurkan tangan lebih dulu untuk bersalaman sambil mengangguk sopan dan langsung disambut oleh ibu Brian dengan begitu antusias.
"Siapa namamu?"
"Saya Mayang, Nyonya Besar," jawab Mayang lirih setengah gugup, tetapi masih terdengar jelas.
"Apa kau sakit? Kenapa tanganmu dingin sekali?" tanya wanita bernama Ratih itu khawatir.
"Oh, tidak Nyonya. Mungkin hanya suhu AC di mobil tadi yang terlalu dingin. Maklum, mobil mahal, hehe." Mayang memberi alasan.
Tidak mungkin juga kan, bilang-bilang kalau sedang merasa nyeri perut.
Selanjutnya bergantian Mayang menyalami ayah Brian.
"Selamat malam tuan besar." Mayang sedikit membungkuk saat menyalami ayah Brian. Ia masih ingat kejadian beberapa waktu lalu. Tatapan tak suka ayah Brian betul-betul terlihat jelas kepadanya.
Namun, hal itu sama sekali tak mempengaruhi pandangannya terhadap pria itu karena baginya wajar jika seorang ayah mencurigai orang asing yang tiba-tiba tinggal di rumah anak prianya. Sikap waspada itu perlu sebagai jaga-jaga, bisa saja pria bernama Malik itu khawatir putranya akan dimanfaatkan. Tapi anehnya, hari ini pandangannya terlihat hangat.
"Billy apa kabar?" sapa Ratih pada Billy yang berada di belakang Brian.
"Kabar baik, Nyonya," jawab Billy sambil mengangguk sopan.
"Ayo masuk. Ibu sudah menyiapkan makanan yang enak-enak untuk kalian."
Mayang terkejut saat tiba-tiba Ratih menarik tangannya masuk terlebih. Ia bingung harus bersikap bagaimana, hingga membuatnya terpaksa menatap Brian seperti meminta persetujuan.
Nyatanya saat itu Brian justru tersenyum sambil mengangguk tipis, menandakan jika ia mengizinkan Mayang untuk mengikutinya keinginan ibunya. Jadilah Mayang sebagai gadis penurut Ratih, terlebih wanita paruh yang masih terlihat cantik itu sama sekali tak mau menerima sikap penolakan.
Melewati ruangan demi ruangan, akhirnya mereka sampai pada sebuah ruangan dengan meja berukuran besar yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam hidangan.
__ADS_1
Ratih menarik kursi dan mempersilahkan Mayang duduk di sana. Tak ada pilihan lain selain Mayang menuruti dan duduk di sana dengan hati-hati.
Ketika Brian masuk di ruang yang sama, ia langsung dihujani tatapan menghakimi dari Mayang. Namun, ia hanya menanggapi itu dengan senyuman tipis sembari duduk di kursi sebelahnya.
Lihatlah Brian, sudah membuat anak gadis orang jadi jantungan ia malah bersikap tenang. Tanpa merasa bersalah pula.
Tuan, apa Anda sengaja ingin menjebak saya di tengah-tengah keluarga Anda? Saya saja tidak pernah makan bersama Anda, tapi Anda malah membawa saya makan bersama keluarga Anda! Saya benar-benar tidak siap, Tuan. Saya sangat gugup sekarang.
Sayangnya Mayang hanya bisa bicara demikian dalam hati saja, sedangkan laki-laki itu masih juga tak menggubrisnya, malahan dengan santainya melahap bakwan udang dengan nikmatnya. Aneh memang, rasa gugup yang Mayang rasakan bisa mengalahkan rasa nyeri di perutnya.
"Makanan apa yang Mayang sukai?" Lagi-lagi nyonya besar yang bertanya pada Mayang.
"Saya bisa makan apa saja, Nyonya. Saya pemakan segalanya. Apa saja saya suka, hehe."
"Benar kah?" Mata Ratih berbinar senang. "Bagus itu. Berarti kamu orang yang tidak pilih-pilih makanan."
Jawaban Ratih justru membuat Mayang tersenyum kecut. Diam-diam ia merutuki kebodohannya.
Apa aku salah bicara ya? Jangan-jangan nyonya besar malah berpikir aku ini rakus. Mati aku.
Nyonya besar mulai melayani suami dan putranya. Mengambilkan nasi sayur dan lauk kesukaan mereka masing-masing.
Walau pun ada pelayan yang berdiri siaga untuk melayani mereka, tapi Ratih memilih melayani para lelaki terkasihnya itu dengan tangannya sendiri. Mayang yang sejak tadi memperhatikan hanya diam dengan kekaguman.
"Mayang mau apa? Biar kuambilkan?"
Mayang tergagap saat kedapatan memperhatikan Ratih. Ia buru-buru menjawabnya dengan kikuk.
"Ah tidak, Nyonya. Saya bisa mengambilnya sendiri."
"Tidak perlu sungkan. Kau kan tamu di sini." Nyonya besar terus memaksa. Tak ada pilihan lain, Mayang tak bisa menolak.
Apa nyonya benar-benar mempersiapkan ini untuk di makan empat orang? Ini sih berlebihan namanya.
Dan pilihannya tertuju pada sebuah piring yang terletak di ujung meja. Pepes ikan patin, yang ia tahu adalah makanan kesukaan ayahnya. Tiba-tiba Mayang merasa rindu dengan ayahnya itu. Ia berharap dengan menyantap makanan itu dapat mengobati kerinduan dengan orang-orang tercintanya.
"Saya mau pepes patin saja Nyonya," Kata Mayang sambil menatap kearah ujung meja.
Seketika ia menjadi pusat perhatian sebab semua pandangan tertuju padanya.
Kenapa semua melihat ku dengan pandangan seperti itu? Memang nya kenapa dengan pepes patin itu? Mayang merasa tidak nyaman dengan hal ini.
"Jadi kamu suka makan masakan rumahan ya?" tanya Ratih dengan diiringi senyuman.
"Pepes patin kesukaan ayah saya, Nyonya. Saya merindukan beliau. Jadi saya ingin makan ini."
"Kau sangat sayang pada ayahmu rupanya."
Mayang mengangguk. Ia lantas menerima piring berisi pepes patin itu dari Ratih.
"Oh ya, di mana Billy?" Nyonya baru sadar rupanya bodyguard anaknya itu tak bergabung dengan mereka.
"Dia tidak mau makan dan memilih berjaga di luar." Brian yang menjawab sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Anak itu selalu saja begitu."
Keluarga kaya itu melewati makan malam dengan nikmat dan bahagia. Tapi tidak demikian dengan Mayang. Ia bahkan tak bisa menikmati hidangan lezat itu. Perutnya seperti tak bisa menerima makanan yang masuk.
Berkali-kali nyonya besar menawarkan menu yang lain agar Mayang mencicipi. Tetapi Mayang bukannya sedang jaim, melainkan memang dia sedang merasa tidak nyaman sekarang. Dia benar-benar tidak enak hati.
__ADS_1
Acara makan malam selesai,keluarga ini melanjutkan mengobrol di ruang keluarga.Obrolan mereka terasa hangat.
Mayang merasakan rumah besar nan mewah ini betul-betul sangat nyaman. Rumah ini lebih besar dari rumah Brian. Entah ada berapa kamar tidur di dalamnya.
Usai makan malam Mayang dan Brian duduk di satu sofa panjang di ruang keluarga. Rupanya diam-diam Brian memperhatikan Mayang yang sejak tadi tak banyak bicara. Wajahnya terlihat pucat. Brian bisa merasakan kalau Mayang merasa kurang nyaman. Dan ternyata apa yang dirasakan Brian dirasakan juga oleh ibunya.
"Apa kamu sakit, Mayang?" tanya nyonya di sela-sela obrolan mereka. Ia terlihat cemas dan memperhatikan wajah Mayang dengan seksama. "Wajah mu terlihat pucat," imbuhnya pula.
"Tidak Nyonya, saya baik-baik saja," jawab Mayang cari aman. Jujur, ia kaget. Bagaimana mungkin wanita itu bisa membaca keadaannya?
"Tapi kelihatannya tak begitu?" Nyonya menyangkal karena yang terlihat tak seperti itu.
"Dia sedang datang bulan, Bu."
Kalimat Brian itu benar-benar membuat Mayang terbelalak. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal tabu seperti ini di depan orang tuanya, sementara hubungan mereka bukanlah apa-apa. Seketika itu juga ia mengarahkan tatapan penuh peringatan kepada pria itu, berharap Brian sadar dan kemudian segera bungkam.
Namun, terlambat. Ratih yang mendengar itu langsung saja menginformasinya.
"Benar yang dikatakan Brian itu? Kamu mengalami nyeri haid?"
Malu-malu Mayang sambil mengangguk. Mukanya bersemu merah.
Benar-benar memalukan.
"Mayang, bisa temani aku ke dapur?" Tiba-tiba Nyonya besar bangkit dan mengisyaratkan Mayang untuk mengikutinya.
Mayang pun bersikap patuh. Mengikuti langkah Ratih setelah berpamitan dengan Brian dan ayahnya.
Kedua lelaki itu mengekori langkah dua wanita dengan pandangan.
Mayang mengayunkan langkahnya mensejajari langkah nyonya besar sehingga mereka berjalan bersamaan. Mereka berjalan menyusuri tiap sudut rumah besar itu hingga sampai di sebuah ruangan yang masih tampak beberapa pelayan masih berada di situ.
Sepertinya kedatangan kedua ini mengagetkan mereka yang spontan memberi hormat.
"Lanjutkan saja tugas kalian, tidak perlu hiraukan kami. Kata nyonya pada para pelayan itu. Mereka pun patuh dan meneruskan pekerjaan mereka.
Nyonya mengambil tempat bumbu dan rempah-rempah. "Mayang bisa bantu mengupasnya?"
"Bisa nyonya." Mayang meraih pisau dan bahan-bahan yang akan dikupas.
Nyonya jika anda ingin saya masak,ini benar-benar ide buruk nyonya.Saya tidak ahli dalam memasak... Anda tidak ingin keluarga anda sakit perut gara-gara makan masakan saya kan... Menggumam dalam hati,Mayang menyelesaikan tugas mengupas nya.Di lihat nya nyonya yang masih sibuk mempersiapkan bahan lain nya.
Apa aku pura-pura sakit perut saja supaya tidak jadi memasak?!Tapi aku kan memang sedang sakit perut.Kenapa aku jadi tegang begini si,rasa nya seperti akan menjalani ujian saja.
Mayang merasa di rumah nya jarang menginjak dapur,hingga membuatnya menjadi wanita yang buruk keahlianya dalam hal memasak.Merebus air saja sampai hangus.. Ya pasti hangus lah,,, orang di tinggal tidur.
Ternyata nyonya besar membuatkan jamu untuk Mayang agar rasa nyeri nya berkurang.
Nyonya besar sangat baik,membuat Mayang merasa terharu.Dia benar-benar merasa di kelilingi oleh orang-orang baik walau diri nya merasa terasing.
Malam semakin larut,membuat udara semakin dingin.Mayang menatap keatas langit yang masih dengan gagah nya menampakkan bintang-bintang yang bertaburan.Pantulan cahaya terang nya bulan purnama yang bulat sempurna terlihat indah dan menambah kesan romantis bagi jiwa yang memiliki kekasih.
Brian membiarkan Mayang yang sedang tersenyum saat melihat pantulan bulan purnama di halaman rumah orang tua Brian sesaat setelah mereka berpamitan.Entah apa yang ada difikirkan gadis itu di balik senyum nya yang terkembang di saat menikmati indah nya rembulan.Sebuah hal yang tak pernah di rasakan Mayang setelah menjadi tawanan Brian, menghirup udara dengan sebebas ini.
Hingga akhir nya Mayang tersadar,lelaki di samping nya sedang mengamati nya dengan melipat kedua tangannya di dada.Tampak melotot ke arah Mayang.
"Maaf tuan membuat anda lama menunggu."
Mayang bergegas masuk kedalam mobil. Disusul Brian pula.Lalu mobil itu melaju meninggalkan rumah besar itu menuju sangkar emas yang selama ini menjadi tempat terindah Mayang menjalani hari-harinya sebagai tawanan.
__ADS_1
Bersambung