
Brian masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ia menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.
Ia masih terperangah sambil menatap gadis yang tengah berlari menjauh darinya itu. Entah reaksi apa yang harus dia perlihatkan. Hal ini membuat Brian jadi berpikir apa gadis itu masih waras hingga menjadikan ini bahan candaan.
Tapi disisi lain, Brian sangat menikmati ini. Brian suka ini. Dia sangat-sangat suka.
Brian berlari menyusul Mayang yang sudah semakin jauh berlari meninggalkannya. Dari kejauhan, gadis itu terlihat tengah menungging dengan jemari menggenggam kedua lututnya. Napasnya terlihat tak beraturan. Sepertinya ia sedang kelelahan.
Brian mendekatinya pelan-pelan tanpa menimbulkan suara. Entah apa yang ada di benaknya hingga ia berpikir ingin melakukan aksi pembalasan dengan mengejutkan gadis itu. Namun, sayangnya ia tak pernah menduga dengan reaksi yang ditunjukkan gadis itu.
Mayang bahkan mencengkeram pergelangan tangan Brian yang memang dengan sengaja menyentuh bahunya. Dengan gerakan cepat gadis itu memelintir ke belakang punggung Brian dan menguncinya dengan kuat. Hal itu terjadi hanya spontanitas, sebab Mayang merasa dirinya sedang terancam. Gerakan itu begitu mudah ia lakukan sebab pria yang dicekalnya tidak dalam kondisi siap.
Sayangnya, itu tak bertahan lama. Sebab, ketika ia menyadari ada yang salah dengan tindakannya, sang lawan telah balik mendominasi dirinya hingga kini posisinya benar-benar terkunci.
Mayang tercekat. Ia membelalak. Ingin memberontak tetapi ia kalah dalam urusan tenaga.
"Tuan, apa ini Anda?" Mayang melirik ke belakang, dan ia merasakan embusan napas pria itu menyapu wajahnya.
Pria itu tak berkata-kata. Hanya menunjukkan seringai licik di balik sikap diamnya. Akan tetapi Mayang yang sudah terlanjur menyadari siapa sosok itu kembali memberontak dan memohon pengampunan.
"Tuan Brian maafkan saya, Tuan. Sungguh ini tidak ada unsur kesengajaan! Saya tidak bermaksud–"
"Tidak bermaksud apa, hemm? Kenapa tidak diteruskan?"
Meski Brian bertanya dengan nada tenang, tetapi Mayang bisa merasakan dirinya kini benar-benar terancam. Ia tak patah arang. Matang masih berupaya melepaskan diri meskipun hasilnya nihil.
"Apa kau akan mencoba melepaskan diri? Kau ingin lari dari aku? Lakukanlah jika kau bisa," bisik Brian di telinga kiri Mayang. Hembusan nafasnya yang sejuk dan tersengal membuat jantung Mayang semakin berdebar kencang. Ia melirik lelaki yang sudah berhasil menguasainya itu. Jarak mereka sangat dekat. Hingga Mayang bisa merasakan hembusan nafas itu kian menjalar ke bagian leher.
Tuan apa yang sedang anda lakukan pada saya.Tolong jangan kecup leher saya tuan, jangan cium saya.Saya takut....
"Tuan lepaskan saya ... jangan membuat saya takut ...." Entah bagaimana bisa suara Mayang terdengar manja saat memohon, hingga membuat naluri kelelakian Brian terasa bergejolak karena mendengarnya.
"Aku tak akan pernah melepaskanmu dari sisiku, kau tahu ...? Aku tak akan pernah membiarkanmu lari dariku. Tidak akan pernah."
Mayang kian ketakutan dengan perkataan Brian yang terdengar berbisik namun sarat akan ancaman. Mayang meronta tapi tak bisa.
"Meski pun kau lari sampai ke ujung dunia pun aku akan tetap mengejarmu." Nada bicara Brian semakin terdengar mengerikan di telinga Mayang.
Dengan begitu mudahnya Brian mampu memutar tubuh Mayang hingga posisi mereka saling berhadapan. Brian merengkuh pinggang Mayang erat dan menariknya kuat untuk mengikis jarak.
Mayang membuang muka, tak mampu membalas tatapan Brian yang begitu intens memindai wajahnya. Saat itu tak tahu harus melakukan apa selain mendorong dada berotot itu dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
Ia terperanjat saat Brian justru tergelak. Semakin ia mendorong, Brian justru kian mengeratkan pelukan.
Entah menghilang ke mana keahlian beka dirinya? Di depan pria itu tenaga Mayang seperti melemah saja. Jangankan menguasai Brian yang sangat kuat, menguasai dirinya dari debaran jantung saja ia tak mampu.
Entah karena pesona Brian yang selalu terpancar ataukah apa, meski pagi masih terlihat gelap namun ketampanan Brian tetap terlihat jelas oleh Mayang. Meski bibirnya terasa gemetar tapi tangan Mayang merayap membelai menyusuri wajah tampan Brian.
__ADS_1
Mata Brian terpejam dengan sendirinya, menikmati setiap sentuhan lembut jemari Mayang di wajahnya. Brian merasa semakin tak tahan sehingga tangan kanannya meraih dan menggenggam tangan kiri Mayang seraya membuka Matanya.
Di pandanginya wajah gadis yang mampu meluluhlantakkan pertahanannya. Menyatukan lagi kepingan-kepingan hati yang telah patah dan membuat jantungnya berdetak seperti genderang perang. Perasaan yang sempat mati suri itu seperti hidup kembali.
Di saat ketegangan itu, nampak seulas senyum terkembang di bibir mungil Mayang dan Ssseetttt, gadis itu terlepas dari pelukan Brian dan berlari kecil mundur sambil menghentikan jari telunjuknya, seperti mengatakan 'kejarlah aku.'
Terang saja Brian melotot sebab kehilangan sesuatu di pelukannya. Gadis itu sukses mengelabuinya dengan tindakan di luar dugaan.
"Dasar. Ternyata aku kecolongan." Tak ada gurat kemarahan ketika Brian mengumpat. Brian justru geleng kepala sambil menyeringai, sebelum kemudian ia gegas berlari menyusul gadis yang sudah jauh meninggalkannya itu.
Suasana berubah menjadi canggung pasca terjadinya peristiwa tadi. Mereka belum menemukan sebuah topik percakapan yang pas untuk mencairkan suasana yang sedingin kutub utara itu. Kejadian tadi benar-benar memalukan untuk mereka, hingga keduanya seperti sepakat untuk tidak lagi membahasnya.
Meski begitu Mayang selalu bersikap siaga dan waspada terhadap lelaki yang tengah berlari-lari kecil bersama nya itu. Selanjutnya ia tidak boleh lengah lagi.
Saat mereka sedang asik berlari kecil, tiba-tiba Mayang melihat sesuatu di antara remang-remang cahaya lampu yang membuatnya seketika menghentikan langkah.
"Tuan... apa itu kucing?" tanyanya penasaran pada Brian yang ikut berhenti sambil melihat objek yang ia tunjuk.
Brian mengernyitkan kening saat memperhatikan objek itu dengan seksama. Rupanya binatang berbulu berwarna putih yang sedang tertidur di depan pagar sebuah rumah.
"Sepertinya itu anjing," jawab Brian setelahnya.
"Tapi sepertinya kucing," bantah Mayang dengan penuh keyakinan.
"Entahlah. Masa bodoh itu kucing atau anjing. Yang penting jangan kamu ganggu dan biarkan dia tidur."
"Meoooong," panggilnya begitu sudah dekat dengan binatang itu.
Binatang itu menunjukkan pergerakan dan spontan berdiri karena merasa ada pengganggu tidurnya.
"Guk guk guk guk" Suara anjing melengking dalam kesunyian, yang terang saja akan mengundang perhatian banyak orang.
"Hey, kau membangunkan anjing penjaga, bodoh!" maki Brian pada Mayang yang tak mengindahkan peringatannya.
Sementara Mayang si biang kerok justru terlihat syok. Gadis itu bukannya buru-buru pergi, malahan melongo sambil melototi anjing itu.
"Cepat lari, bodoh!" Brian meraih Tangan Mayang dan menariknya untuk kabur. Keduanya lari tunggang langgang meninggalkan anjing yang masih melolong dari dalam pagar itu.
Entah sampai sejauh mana kedua nya berlari hingga mereka merasa aman dan berhenti untuk beristirahat.Nafas mereka tersengal dan kelelahan.
"Apa kau sudah tidak waras sampai-sampai membangunkan anjing yang sedang tidur, hah!" maki Brian pada Mayang sambil berkacak pinggang. Dia benar-benar terlihat sangat marah pada gadis yang tengah terduduk lemas di tepi jalan karena kelelahan.
"Apa kau tidak bisa berhenti membuat ulah?!Kalau kau ingin menggodaku, bukan begini caranya." ucap Brian lirih yang ketika itu juga membuat mata Mayang terbelalak.
"Siapa yang ingin menggoda Anda, Tuan?" Mayang tak terima.
"Kamu kan yang selalu mencoba menggodaku?!" tuduh Brian sembari mendekatkan wajahnya pada Mayang dengan posisi tubuh berjongkok.
__ADS_1
"Maaf tuan, sepertinya anda salah paham." Ucap Mayang seraya memalingkan mukanya dari Brian.
"Oh ya?" Brian merengkuh dagu mayang agar menatap wajahnya.
"Tuan berhentilah bicara kasar pada saya." Suara Mayang terdengar memohon. Terlihat ada rasa penyesalan dan lelah di wajah nya."Saya kan sudah menang tadi,,bisakah hari ini anda berbicara manis pada saya...?"
Brian tak menjawab atau mengiyakan permintaan Mayang.Tiba-tiba dia teringat akan janji nya pada ibu agar bersikap baik terhadap Mayang.Membuat nya menghela nafas panjang.Ibu hanya meminta nya bersikap baik.Apa salah nya di coba.
"Ayo kita pulang,"Brian beranjak berdiri."Hari sudah siang."Brian menatap sinar matahari pagi yang mulai terbit dari ufuk timur. memancarkan sinar jingga keemasan nampak
Indah sekali.
Mayang beranjak dan berdiri lalu berlari kecil mengikuti langkah Brian dari belakang. Langkah nya terhenti saat melihat tali sepatu nya terlepas.Ia berjongkok untuk membetulkan tali sepatu nya.
Brian yang menoleh langsung menghentikan langkahnya begitu tahu Mayang masih tertinggal. Ia masih menunggu mayang dengan sabar dengan tetap fokus memandang Mayang.
Tapi pandangan Brian teralihkan ketika sebuah motor yang ditumpangi seseorang berpakaian serba hitam lengkap dengan helm yang menutup seluruh bagian kepalanya tampak melaju kencang di belakang Mayang.
Yang membuat Brian merasa aneh adalah, begitu lebar jalanan yang kosong,tapi mengapa pengendara motor itu justru malah memilih mengendara di tepi jalan tepat di belakang Mayang.Ini sungguh mencurigakan.
Kecurigaan Brian ternyata benar-benar terjadi.
"Mayang awas!" teriak Brian. Namun, gadis itu hanya terlihat bingung tanpa beranjak dari tempat nya.Tanpa pikir panjang Brian secepat kilat berlari dan secepat mungkin meraih tubuh Mayang dan merengkuh nya dalam pelukan saat motor itu nyaris menabrak Mayang hingga tubuh kedua nya berguling di rerumputan di tepi jalan.
Bersamaan dengan itu pula terdengar beberapa tembakan menghujam tak tentu arah yang melesat dari tangan kiri pengendara motor itu.Beruntung tembakan itu tak mengenai sasaran karena Brian bergerak di waktu yang tepat.
Motor itu berlalu pergi meninggal kan kedua manusia yang masih tampak shock dengan kejadian yang terjadi di luar dugaan mereka itu.Dengan cekatan Brian merogoh ponsel dari saku jaket nya dan memencet sebuah nomor.
"Bill."Kata Brian saat Telephone sudah tersambung."Suruh anak buah melacak motor dengan plat nomor XXXX.Dan segera jemput aku di kafe di kawasan komplek."Brian menutup telpon dan memasukkan lagi ponsel nya kedalam saku.
Di lirik nya gadis yang masih tampak shock itu.Tubuh nya terasa dingin dan gemetar.Brian lalu merengkuh dan memeluk nya penuh kasih sayang untuk menenangkan nya.
"Tenang lah.Aku ada disini.semua akan baik-baik saja."Ucap Brian saat gadis itu mulai terisak.Mayang tak pernah mengalami hal mengerikan seperti ini sebelum nya.Andaikan saja Brian tak bergerak di waktu yang tepat,entah apa yang akan terjadi dengan nya Mayang tak sanggup membayangkan.
Brian membimbing Mayang untuk berjalan masuk ke sebuah kafe kecil yang tak jauh dari tempat kejadian.Beberapa orang sekitar tampak mengerumuni tempat kejadian karena mendengar suara tembakan.Tapi mereka tak menemukan apa-apa di sana.
Brian memesankan Mayang minuman setelah mereka sampai di dalam kafe."Minumlah agar kau merasa tenang."Brian menyodorkan minuman dingin pada Mayang yang langsung di terima gadis itu.
Tangan nya masih terlihat gemetar dan wajah yang sedikit pucat.Brian memutar kursi dan duduk tepat berhadapan dengan Mayang.Mata nya lekat menatap gadis yang masih belum mengucap sepatah kata pun setelah kejadian tadi.
"Aku janji,aku akan temukan orang yang berniat melukai mu.Aku akan menghukum nya di hadapan mu."Janji Brian dengan yatapan mata penuh keyakinan seraya menggenggam jemari Mayang dengan erat.Dan membuat Mayang jadi terperanjat.
"Itu tidak perlu tuan,,, "Mayang menggeleng lalu menunduk."Terimakasih telah menyelamatkan nyawa saya tuan.."Air mata Mayang kembali menetes tanpa ia minta.
"Tidak akan ada yang bisa menyentuh mu selagi ada aku di samping mu."Ucap Brian seraya menyeka air mata Mayang.Tatapan mata nya begitu tulus,kontras dengan sikap nya yang ia perlihatkan selama ini.
Billy sudah terlihat datang lalu dengan cepat masuk ke dalam kafe.Dan menghampiri Brian begitu tatapan mata mereka sudah beradu."Apa yang terjadi tuan muda..?"Tanya Billy dengan nada panik.
__ADS_1
Bersambung