
Seorang wanita yang tengah berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri dengan ekspresi tak percaya. Dengan balutan kebaya pengantin modern warna putih rancangan desainer ternama, ia terlihat sangat elegan layaknya seorang ratu dari khayangan. Wajah yang dirias sedemikian rupa, membuat kecantikannya yang memang natural justru kian terpancar.
Ia sontak mengusap pipinya ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Ia menoleh ke belakang, lalu mengulas senyum saat menyadari yang datang adalah Mayang. Wanita hamil itu tersenyum selagi mendekat.
"Bagaimana Milly, apa kau sudah siap? Penghulu sudah datang dan siap menikahkan kalian. Hey, apa kau menangis?" Mayang terkejut ketika melihat netra Milly tampak berkaca-kaca. Gegas ia mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan. "Kenapa Milly, apa yang terjadi? Apa kau tak bahagia dengan pernikahan ini?" tanyanya memastikan. Ia tak dapat menutupi keterkejutan melihat Milly menitikkan air mata. Lobus frontalnya seketika bertanya-tanya, mungkinkah gadis ini menikah karena terpaksa? Lantas apa kurangnya sosok Billy hingga membuat Milly tak rela dinikahi?
"Bukan, Mayang. Bukan begitu," jawab Milly.
"Lalu?"
Milly mendesah pelan, berusaha menghalau perasaan berkecamuk yang menyerang relung hatinya.
"Mayang ...." Milly menatap Mayang lekat-lekat sebelum kemudian melanjutkan tanya. "Apakah ini nyata? Ataukah hanya halusinasiku saja? Benarkah kami akan menikah secara sah?"
Pertanyaan yang diutarakan Milly dengan wajah polos itu sontak saja membuat Mayang tertawa lega. Ia nyaris saja salah paham mengartikan air mata Milly. Rupanya gadis itu menangis bahagia di hari pernikahannya. Bahkan karena saking bahagianya, ia sampai-sampai sulit mempercayainya.
"Tentu saja, Milly. Hari ini kau akan menikah dengan Billy. Sah secara hukum dan juga agama. Apa kau bahagia?"
Milly tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Mayang. Wajahnya seketika merona, lalu menjawabnya dengan nada pelan.
__ADS_1
"Iya, aku bahagia. Aku sangat-sangat ... bahagia. Aku bahkan tidak pernah menyangka," lirihnya penuh perasaan.
"Kami turut bahagia atas kebahagiaanmu, Milly," sahut Mayang penuh antusias.
"Terima kasih, Mayang."
"Terima kasih kembali," balas Mayang dengan senyuman tulus. Wanita hamil dengan balutan kebaya modern cantik itu sengaja membungkukkan badan demi mensejajari posisi mereka saat berhadapan. Ketika tengah bercengkrama untuk memberikan semangat, tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok Ratih yang begitu elegan dengan balutan kebaya, bersama dengan ibunya Milly.
"Wah, dua putri Ibu kok akur banget," puji Ratih selagi berjalan mendekat. Pandangannya tertuju pada Milly dan senyumnya terkembang senang. Setelah berhenti di sisi gadis itu, ia pun membelai punggung si pengantin wanita dengan penuh kelembutan, sebelum kemudian melayangkan pertanyaan. "Milly, apa kau sudah siap? Penghulu sudah tiba untuk menikahkan kalian. Apa kau tahu, Billy juga sudah gelisah menantimu," bisiknya dengan nada menggoda, yang kian membuat wajah Milly semakin merona saja.
***
Pada ruangan berukuran luas dengan banyak tamu dan hiasan bunga-bunga, seluruh pasang mata langsung tertuju ke arah tangga, di mana tiga orang wanita tengah membantu wanita cantik turun dari lantai dua. Dua wanita paruh baya mengapit sisi kiri dan kanan sambil menggandeng tangan mempelai wanita, sementara Mayang memegangi kebaya panjang indah itu yang menjuntai ke belakang.
Ketika pandangan bersirobok, senyum simpul menghias bibir hingga keduanya sama-sama membuang pandangan demi menenangkan deguban jantung yang bergemuruh.
Acara ijab qobul berlangsung khidmat dan penuh haru. Billy yang berhasil menenangkan diri akhirnya mampu mengucapkan ijab kabul dengan begitu lancar dan hanya dengan satu tarikan napas.
Doa suci mengiringi pernikahan bahagia dua manusia yang saling jatuh cinta itu. Ucapan selamat mengalir deras dari para keluarga, saudara, teman dan kolega. Pernikahan Billy dan Milly berhasil menyita perhatian publik, karena mereka terlihat serasi terlepas dari begitu berpengaruhnya Billy.
__ADS_1
Hingga saat Malam, Milly terlihat kelelahan karena harus menyalami ribuan orang yang hadir dalam resepsi pernikahan mereka. Ia memang baru mengenal kehidupan semacam ini, dan kelak akan terbiasa dengan hal semacam ini. Bertemu dengan banyak orang, dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Acara pernikahan berlangsung sukses seperti yang Billy inginkan. Billy sangat berterima kasih kepada semua orang yang terkait dan turut andil dengan persiapan singkat ini, namun berakhir dengan nikmat.
Saat Malam pertama, Billy dengan sikap tenangnya bahkan mampu meyakinkan Milly. Pria itu dengan penuh kesabaran menarik Milly dari bayang ketakutan. Menuntun dan membawanya terbang melayang hingga gadis itu terlena dalam kenikmatan yang ia berikan. Melupakan rasa sakit yang sempat menyerang akibat hentakannya.
Billy menghela napas panjang. Ia menoleh ke sisi kiri, di mana Milly tengah terlelap dalam tidurnya yang nyaman. Malam ini sepertinya sangat menguras tenaga, hingga pasca permainan terakhirnya tadi gadis itu langsung terlelap karena kelelahan.
Direngkuhnya tubuh mungil polos yang hanya berbalut selimut itu ke dalam pelukan. Dikecupnya puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. Ia tersenyum bahagia, sebab pada akhirnya, ia kembali mendapatkan tambatan hati yang nyaris hilang karena sebuah kesalahpahaman.
"Emmmh ...." Milly melenguh dengan sedikit pergerakan. Tampaknya tindakan Billy membuatnya terjaga dari tidur. Ia mengerjap kecil sebelum kemudian memaksa membuka mata dan menatap Billy yang tengah tersenyum kepadanya.
"Kau tidak tidur?" tanyanya dengan nada lemah. "Aku mengantuk."
"Tidurlah, Sayang. Aku masih ingin terjaga dan menikmati wajah cantik wanita yang paling kucinta."
"Hemm, gombal," celetuk Milly dengan mata terpejam. Tangan kirinya juga refleks memukul pelan dada Billy yang polos sehelai benang. Namun, ia tak dapat pungkiri bahagia tak terkira yang saat ini dirasakannya.
Tuhan, andai ini cuma mimpi, kumohon jangan bangunkan aku lagi, pikirnya dalam hati.
__ADS_1
Tamat~~~
Baca juga novel aku yang lainnya ya😁