
Acara lamaran pun berlanjut dengan pembicaraan persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu kemudian.Semua dibicarakan secara terperinci sampai dengan hal terkecil nya.Ratih memang wanita yang sangat teliti dalam segala hal.Ia seperti telah memikirkan nya dari jauh hari rencana pernikahan ini.
Termasuk mengenai resepsi.Awal nya Brian dan Mayang hanya ingin pernikahan yang tertutup dan hanya di hadiri oleh kerabat dekat saja.Tapi Ratih dan Malik ingin mengadakan resepsi karena Brian merupakan anak tunggal dari mereka.
Seolah Malik dan Ratih ingin dunia tau bahwa putra nya kini telah menikah dan akan hidup bahagia bersama istri tercintanya.Dan akhirnya kedua orang tua Brian itu tak mau menerima penolakan dalam bentuk apapun dari kedua calon mempelai.Ia hanya ingin Brian dan Mayang duduk manis menanti hari bahagia yang akan datang tak lama lagi.
Setelah pembicaraan selesai dan mencapai mufakat bersama,Malik pun meminta Hasan untuk menunjukkan perkebunan miliknya yang semua hasil panen nya di kirim langsung ke pabrik jus milik keluarga Malik.
Walaupun tak bersinggungan secara langsung,namun ternyata selama ini mereka telah terikat dalam kerja sama bisnis dengan baik.Malik pun tak membuang kesempatan untuk melihat bagaimana proses buah buahan itu sebelum sampai ke pabrik nya selagi dia berada disini.
Ratih melarang Brian dan Mayang ikut bersama rombongan yang akan berangkat ke perkebunan.
Para orang tua itu sengaja meninggalkan dan membiarkan putra putri mereka untuk berdua agar bisa berbicara satu sama lain tanpa canggung dan terganggu oleh keberadaan para orang tua.
Weni pun di tugaskan tetap berada di rumah untuk memonitor gerak gerik pasangan itu.Karena tak ingin menjadi obat nyamuk di antara pasangan itu,ia pun memanggil kekasih nya untuk datang saat itu juga.
Sebuah mobil berwarna hitam tampak muncul memasuki gerbang.Weni mengikuti pergerakan mobil itu dengan pandangan nya.Keningnya berkerut seketika saat pintu mobil terbuka dan melihat sesosok tubuh yang keluar dari sana.Seketika ia menepuk dahi nya sendiri kemudian berlari menghampiri orang itu.
"Hai sayang,,,"Arka terlihat sumringah begitu Weni berada di hadapan nya.
"Arka,kamu mau kondangan kemana si?"Tanya Weni dengan menatapan aneh ke arah Arka.
"Kok kondangan si?!"Arka berdecak kesal.Lalu ia mengenakan lagi kacamata hitam nya yang sempat ia buka saat Weni menghampirinya tadi."Aku keren tidak?"Tanya nya pula sembari berputar menunjukkan penampilan baru nya itu dengan bangga.
"Keren apanya!Jas kedodoran begini!Ini jas siapa kamu pakai?!Dan rambut kamu juga!Kenapa jadi seperti ini si ?!"Weni menggerakkan tangan nya dan mengacak rambut Arka yang terlihat klimis memakai Pommade.
"Aaa jangan!"Arka menepis tangan Weni yan berusaha merusak tatanan rambutnya."Kenapa kau malah merusaknya?!Padahal aku sudah bersusah payah berpenampilan sesempurna ini untuk mu!"
"Sempurna apanya?"Kau malah terlihat norak dengan pakaian ini!Sekarang buka dan buang jas ini!"Weni menarik jas Arka dan memaksa untuk membuka kancingnya.
"Aku bilang jangan!"Arka menepis tangan Weni dan berusaha mempertahankan jas nya dengan membentengi tubuh depan nya dengan kedua lengan nya.
"Buka!"Weni masih berusaha menarik jas itu lagi dengan membelalak kan mata sebagai ancaman.
"Jangan!"Arka semakin menguat kan benteng pertahanan nya.
"Kenapa kamu ngotot begini si,cepat buka!"Weni meraih kerah jas Arka dan mencengkeram nya kuat.
"Ehhemm!"Suara deheman keras terdengar dari arah teras.Mayang yang sedang duduk bersama Brian di sebuah sofa panjang tampak menahan tawa melihat tingkah Weni dan Arka."Kenapa kau agresif sekali Weni?!"Mayang setengah berteriak dengan nada menyindir.
"Agresif,,,?"Seketika itu juga Weni melepaskan jemarinya yang tak sadar masih mencengkeram kerah jas yang di pakai Arka.
"Apa aku terlihat seperti ingin memperkosamu?!"Bisik Weni pada Arka kesal.
"Memang sikap mu terkadang mengerikan."Arka melirik Weni sebal sembari membetulkan jas nya.
"Makanya jangan aneh aneh!"Weni menggandeng pergelangan tangan Arka dan menariknya berjalan menuju kursi taman dan kemudian duduk di sana.
Posisi mereka berhadapan sejajar dengan posisi duduk Brian dan Mayang namun dengan jarak yang agak jauh.Sehingga mereka tak bisa mendengar obrolan yang terjadi antara Brian dan Mayang dan begitu juga sebaliknya.Kecuali jika berbicara keras.
"Kau sengaja berpenampilan seperti ini untuk menyamai para bodyguard itu ya?"Weni bertanya sembari melirik ke arah yang tengah menatap tak suka pada bodyguard yang kemarin ia pukul.
Arka langsung menoleh menatap Weni."Kan sudah ku katakan aku akan menjadi penjaga mu sekaligus penjaga hatimu!"
"Tidak perlu,,, aku suka dirimu apa adanya kok."Weni tersenyum untuk menghibur Arka."Lagi pula kalau memakai ini kau terlihat lebih tua dari usia mu."Weni cemberut.
"Tapi aku ingin terlihat dewasa saat bersamamu."Ucap Arka jujur.Namun Weni seperti tak menghiraukan nya.Pandangan nya tertuju pada Mayang dan Brian.
__ADS_1
Arka mendorong tubuh nya agar bisa melihat wajah Weni yang tengah duduk di samping nya dengan jelas."Sayang,siapa yang sedang duduk bersama kak Mayang itu?"Tanya Arka kemudian setelah pandangan nya tertuju pada Brian.
"Dia calon suami kakak ku."Jawab Weni tanpa mengalihkan pandangan nya dari Brian."Keren kan?Tajir lagi."Kau tau dua naik apa kesini?"Weni melempar pandangan nya pada Arka."Dia terbang dengan helikopter,,,"Ucap Weni dengan penuh kekaguman.
"Oh jadi dia terbang naik capung yang ada di lapangan itu?"Timpal Arka dengan nada mengejek."Apa bagusnya capung."
"Arka bagaimana kalau kita putus saja?"Ucap Weni pula dengan wajah tanpa dosa yang seketika membuat Arka terbelalak.
"Kenapa kau tiba-tiba bilang putus!Apa salah ku?"
"Tiba-tiba aku ingin seperti kakak ku."Ucapan Weni sekali lagi membuat Arka terkejut.Bagaimana tidak,bukan kah Weni yang paling tidak suka karena kakaknya betah menjomblo.Tapi kenapa sekarang malah menginginkan nya.
"Apa yang kau katakan?"
"Iya.Aku ingin seperti kakak.Tidak apa-apa mejadi jomblo lama asalkan di akhir aku dapat suami kaya."Weni berbicara dengan wajah polos tanpa dosa.Seolah tak mau tau perasaan Arka yang tiba-tiba panik dan cemas.
"Tapi aku tidak mau kita putus!"
"Hanya sementara!Setelah kau sukses datang lah padaku lagi ya.Plis,,,"Weni menangkup kan kedua telapak tangan nya memohon."Perjuangkan cinta mu untuk ku ya.Aku akan menanti mu sampai kau seperti calon kakak ipar."
"Aku tidak mau!Kita bisa menciptakan kebahagiaan kita bersama sama kan!Kau tidak bisa memaksa ku berjuang sendirian!Aku butuh dukungan mu!Aku siap kok jika harus menikahi mu sekarang juga!"
"Kau bicara apa?!"Weni terkejut."Jangan lebay deh.Kita masih sekolah!"
"Aku tau.Tapi aku janji bisa membahagiakan kamu meski kita masih sekolah.Kalau perlu sekarang juga aku akan melamar mu pada kak Mayang.Kak May...!"Suara Arka terhenti karena Weni membungkam mulut nya dengan tangan nya.
"Hey bisa diam tidak!"Weni melepas bungkamannya.
"Biar saja!Biar kakak mu tahu."Arka sudah akan berteriak namun lagi lagi Weni membungkam mulut nya.
"Tidak!"Jawab Arka setelah berhasil menyingkirkan tangan Weni dari mulutnya.
"Makanya diam."Ucap Weni ketus sembari memakai lagi sendal jepit nya.
Sementara itu,pembicaraan yang terjadi antara Brian dan Mayang.
"Adik mu lumayan juga ya,,, dia lebih agresif dari pacarnya.Bahkan dia yang berinisiatif mulai duluan."Brian tertawa gemas saat melihat Weni berusaha melepas jas yang di pakai Arka tadi.
"Mulai duluan bagaimana?Tuan sepertinya anda sudah salah faham,yang kulihat tidak begitu."Sahut Mayang yang melihat jelas wajah Weni menunjukkan ekspresi marah.
"Kau lihat saja,bahkan dia menggandeng mesra dan membawa pacarnya mojok di sana."Pandangan Brian mengikuti langkah kedua nya menuju kursi taman.
"Mereka bukan mojok,mereka hanya duduk saja.seperti kita ini."Mayang lalu menatap Brian yang tak henti memperhatikan tingkah dua bocah itu.
"Tapi kita berbeda dengan mereka.Kita calon suami istri sekarang."Ucap Brian sembari tersenyum bangga.
Mayang melirik ke arah Brian.Menatap mata lelaki itu lekat."Tuan,kenapa anda tidak menolak pernikahan ini?"
"Aku tidak bisa menolak."
"Kenapa?"
"Tidak tau.Pokok nya tidak bisa menolak."
"Tuan,bagaimana bisa anda menikah dan membina rumah tangga dengan wanita yang tidak anda cintai?!"Mayang berucap dengan wajah yang terlihat muram.
"Sudah,,, jangan memikirkan hal buruk.Kalau takdir kita memang begini kita bisa apa?"
__ADS_1
Mayang hanya diam tak bisa berkata-kata.Padahal ia sangat ingin tahu bagaimana perasaan Brian pada nya.Tapi dia tak memiliki keberanian untuk menanyakan nya.
Brian mengangkat kedua tangan nya dan merentangkan nya di atas sandaran sofa.Lalu menatap Mayang yang berada di sampingnya dengan tatapan yang membuat jantung Mayang seketika ingin melompat tak terkendali.
Mayang menggeser duduk nya semakin menjauh dari Brian.Ia sudah menangkap gelagat mencurigakan dari pandangan yang Brian tunjukkan tadi.Dan memutar posisi tubuh nya hingga membelakangi laki-laki itu.
Namun Mayang terperanjat seketika saat Brian tiba-tiba menggerakkan tangan nya lalu membelai rambut Mayang yang panjang sampai ke pinggul nya.
Sentuhan nya terasa sangat lembut melebihi lembutnya kapas.Membuat bulu-bulu halus di setiap pori kulit Mayang seperti berdiri dan membuat sekujur tubuh Mayang terasa merinding.
Mayang menoleh saat merasa rambutnya di tarik oleh Brian.Dan ia tergelak seketika saat melihat Brian menaruh rambutnya di antara hidung dan bibirnya yang sedikit manyun hingga terlihat seperti kumis yang menjuntai.
"Astaga tuan,anda ingin menyaingi Jack separuh?! Kenapa tidak sekalian anda kepang dua juga di bagian janggut nya?"Ucap Mayang di sela sela tawanya sembari menarik rambutnya dari wajah Brian karena ia merasa geli tak bisa menahan tawa.
"Kau menyamakan ku dengan bajak laut ya?!"Bentak Brian pura-pura marah.Tapi setelah nya ia pun tersenyum karena Mayang telah menunjukkan tawa ceria nya.
"Tidak tuan,masih tampan anda kemana mana."
"Tentu saja."
"Tapi Jack Separuh itu juga keren."
"Apa kau bilang!Kau harus nya bilang aku orang paling tampan sedunia karena aku adalah calon suami mu!"Ucap Brian dengan nada tak terima.
"Hahaha, tentu saja anda paling tampan calon suamiku,,,"Ucap Mayang agar Brian puas."Tapi jika di lihat dari sedotan! Ha ha ha."Sambung nya lagi sembari beringsut menjauh.
"Apa kau bilang!"Teriak Brian tak terima."Hanya lubang hidung ku yang nampak jika kau melihat nya dari lubang sedotan!Ini pelecehan namanya!Kau menggoda ku ya?!"Brian melingkar kan lengan nya di pinggang Mayang lalu menarik tubuh gadis itu agar mendekat ke arah nya.
"Tidak tuan,,, maaf,,,"Ucap Mayang dengan nada suara melemah karena Brian sudah berhasil memeluk tubuh nya."
Semua orang juga tau ada tampan,tapi tak perlu narsis juga kan,,,
"Apa kau sengaja berdandan untuk ku?"Brian bertanya sembari tersenyum.
"Ini hanya akal-akalan Weni untuk mencoba alat make up nya yang baru tuan.Saya bahkan tidak tau keluarga anda akan datang kemari.Dengan cara yang mengejutkan pula."
"Maaf jika kami menakuti mu.Ini semua terjadi atas ide Ibu."
Benarkah?Apa anda benar-benar tidak ikut andil dalam urusan ini?
"Tuan lepaskan saya."Mayang mendorong dada Brian agar lelaki itu melepas kan pelukan nya.Namun Brian seperti nya masih enggan.
"Hanya sebentar Mayang,,, biarkan aku memeluk mu."Brian menghirup aroma harum dari rambut Mayang.
"Tapi kita belum menikah tuan..."
"Setelah ini kita tak bisa bertemu sampai hari pernikahan kita..Saat kau di pingit nanti aku bahkan tidak bisa menemui mu."Ucap Brian lesu.
Makna di pingit sebelum hari pernikahan adalah salah satu adat di Indonesia yang harus di ikuti adalah tradisi pingitan yaitu sang calon pengantin wanita tidak boleh keluar rumah dan bertemu calon pengantin pria berdasarkan waktu yang telah di tentukan.Biasanya sekitar satu minggu.
"Nanti saja ibu melarang ku pulang bersama mu."Keluh nya lagi.Mayang hanya diam sembari merasakan hangat nya dekapan Brian dengan beribu tanda tanya.
Saat semua rombongan dari perkebunan telah tiba,mereka lantas berkemas untuk kembali ke ibu kota.
"Brian kembali pada penerbangan pertama bersama orang tuanya. Dan di susul Billy bersama Mayang di penerbangan kedua.Mayang memberikan senyum termanis nya sebagai salam perpisahan Pada Brian.
Bersambung.
__ADS_1