Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Ngacir


__ADS_3

Duduk sendirian di kantin tempatnya bekerja yang baru berjalan beberapa hari ini, Milly yang terlihat murung dengan tangan bertopang dagu tampak memainkan sedotan di gelas jus buah dingin di depannya. Hari ini benar-benar terasa panas hingga membuatnya menginginkan minuman yang menyegarkan.


Sesekali gadis dengan rok selutut warna hitam yang berpadu dengan kemeja warna putih tulang itu celingukan ke sekeliling kantin dengan pandangan penuh kewaspadaan. Mencari seseorang yang mungkin saja tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa ia duga.


Merasa berada di posisi aman, akhirnya gadis yang menguncir ekor kuda rambut panjangnya itu menghela napas lega. Lantas kembali menyedot jus yang tinggal separuh itu hingga tandas tanpa sisa.


Kenapa ia harus begitu berhati-hati seperti ini? Sebab, bagaimanapun juga ia tak ingin merasakan malu yang ke dua kali. Sebuah peristiwa yang cukup membuat wajah Milly seketika memerah malu setiap kali ia mengingatnya.


Pagi itu, Milly keluar dari apartemen Billy dengan bibir terkatup menahan tawa. Ia berusaha keras menahan agar tawanya tidak meledak di hadapan Billy demi menghindari suami sirinya itu merasa tersinggung.


Barulah saat berada di lift, wanita dengan pakaian formal itu tertawa sekencang-kencangnya. "Rupanya dia pikir aku ini tampil tanpa busana? Astaga. Memangnya dia pikir aku segila itu, apa? Hahaha ...!" Tawa Milly menggelegar selagi lift itu bergerak turun ke lantai dasar hingga dia merasa puas tertawa.


Baru sehari lebih menjadi penghuni apartemen mewah itu membuat dirinya memang terlihat asing bagi para penghuni asli tempat itu. Nampak dari cara mereka menatap penuh selidik ke arahnya saat mereka jumpa. Namun sebisa mungkin ia bersikap ramah dan tersenyum terhadap siapapun yang dijumpainya selagi berjalan keluar.


"Menghadapi wawancara kerja, ke kantor aku harus naik apa ya? Masa iya angkot." Milly yang sudah berada di tepi jalan tampak menimbang-nimbang sebelum memutuskan. "Naik angkot pasti keringetan. Tapi naik taksi ongkosnya juga mahal. Dilema ini, mah." Gadis yang menenteng tas tangan berwarna hitam itu menggumam gelisah. Sambil berjalan keluar dari area apartemen yang ternyata jaraknya cukup jauh dari jalan raya.


Menoleh ke belakang, gadis bermata bulat itu menggeleng heran. "Astaga, bangunan besar dan megah begitu kenapa letaknya seolah tersembunyi dari keramaian. Apakah para penghuni itu benar-benar menginginkan ketenangan?"

__ADS_1


Mendesah pelan, Milly kembali melanjutkan perjalanan yang baru setengah ia tempuh dengan jalan kaki. Ia sudah meringis karena kelelahan, tapi belum nampak juga jalan poros kota besar. "Menyebalkan." gadis yang sudah berkeringat itu mengumpat kesal. "Baru sehari saja aku sudah mengeluh begini, bagaimana jika setiap hari ...! Bisa-bisa kakiku tidak sanggup berdiri!" keluhnya sambil berjalan dengan menghentakkan heels setinggi sembilan Senti yang dikenakannya.


"Ya Allah, baru keluar dari apartemen saja santapan sarapanku tadi entah perginya kemana. Aku lapar ...! Haus. Keringetan!" Milly membelalakkan matanya ketika mencoba mencium aroma tubuhnya. "Ya ampun. Aku sampai lupa pakai parfum. Aaa kenapa aku sampai lupa! Kalau badan saja tidak wangi bagaimana aku bisa di terima kerja!" Gerutunya semakin sebal sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Ah persetan dengan bau badan. Bukankah skill yang lebih di utamakan?" Berusaha mengembalikan kepercayaan diri, Milly melangkahkan kakinya lagi. Namun sebuah mobil yang berjalan pelan di belakangnya benar-benar membuat gadis itu resah hingga berkali-kali menoleh dan mengamatinya penuh tanda tanya. "Itu mobil siapa yang nyetir sih? Kayak niat banget ngikutin gue. Kasih tumpangan kek. Ajakin makan atau traktir minum, gitu. Ini malah ngekori Mulu. Eh tunggu. Kayak pernah liat tuh mobil. Tapi di mana?" Milly diam sejenak untuk mengingat-ingat. "Ah entahlah, nggak penting juga." Bersikap tak mau tahu, Milly mengabaikan hal itu begitu saja.


Hingga hampir mencapai perbatasan antara jalan poros dengan apartemen, mobil itu mendadak melaju kencang dan mendahului Milly sebelum kemudian mencegat tepat di depannya.


Terkejut setengah mati, gadis itu menggeram kesal sebelum kemudian melangkah cepat lantas mengitari mobil itu menuju pintu kemudi.


"Persetan siapapun kamu. Yang jelas, bikin orang jantungan itu harus di beri pelajaran. Seenaknya saja bikin kaget orang, apa dia pikir nyawaku ada lima." Milly menggerutu selagi berjalan. "Woy!! Keluar!" Milly menggedor pintu kaca itu dengan kencang dan penuh kemarahan. "Bisa bawa mobil nggak sih! Percuma punya mobil mahal kalau nyetir aja masih nggak bisa! Situ pengen bunuh orang?! Cepat keluar!!" gadis yang sudah menyingsingkan lengan bajunya itu mengomel tanpa berhenti menggedor. Dan saat kaca itu mulai bergerak turun, barulah Milly menghentikan dan kemudian berkacak pinggang dengan tatapan angkuhnya.


"OMG," Milly membelalakkan matanya selagi menatap lelaki di depannya. Gugup, ia pun tak bisa berkata-kata. Mendadak tubuhnya lemas, mual dan ingin pingsan. Gadis berwajah pucat itu menarik kakinya mundur perlahan. Ya Tuhan, kenapa yang keluar justru dia. Memang mobilnya ada berapa, sampai-sampai menghafalnya saja aku tidak bisa. Benar-benar memalukan. Kalau aku kabur saja bagaimana?


Seolah sedang mengambil ancang-ancang, Milly menggerakkan kaki kanannya yang gemetar. Ketakutannya tentang pintu yang jebol saja belum juga hilang dari ingatan, akankah ini berlanjut dengan nyawanya yang akan melayang? Bisa jadi, kan. Mana dia tau kalau ternyata lelaki tampan ini adalah psikopat. Jika dia membunuh seseorang dan memutilasi di dalam apartemennya, bisa dipastikan tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Ya Tuhan, lalu nasipku nanti bagaimana? Fix, aku harus kabur.


"Hey, buru-buru amat. Mau pergi ke mana?" seolah tahu apa yang Milly sedang pikirkan, lelaki berkaca mata hitam itu dengan cepat menarik tas tangan gadisnya.

__ADS_1


Meringis, kaki Milly yang sudah selangkah berayun itu terpaksa berhenti. Dengan takut-takut ia berbalik badan dan menghadap tepat ke arah suaminya. Berusaha mempertahankan sesuatu miliknya, jadilah tarik menarik antara Milly dan Billy terhadap tas tangan yang tak tahu apa-apa.


Ya ampun, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkan tas ku begitu saja. "Maaf Pak, saya buru-buru. Hehe." Milly meringis dengan bibir yang bergetar. Ia menatap Billy dan tas tangannya bergantian seolah mengisyaratkan kepada Billy agar lelaki itu melepaskannya.


Seolah tahu apa yang Milly maksudkan, Billy pun segera melepaskannya dengan senyuman yang melebar. "Kenapa harus buru-buru? Aku bisa mengantarmu sampai depan pintu, kalau perlu. Oh iya, kau bilang mau wawancara kerja, di perusahaan apa?" Billy menatap Milly dengan penuh rasa ingin tahu.


Kenapa dia mendadak ingin tahu? Aku harus jawab apa ya? Kalau dia sampai tahu, apa jadinya nanti. Bukankah ini berbahaya untukku? Aaa ... bingung ...! Aku harus bagaimana. Fix, sepertinya aku harus kabur.


Milly yang semula terdiam seolah sedang berangan mendadak mengarahkan pandangannya ke atas dengan sikap seolah sedang terperangah, sementara tangan kanannya bergerak menunjuk ke arah pandangannya. "Pak, ada ikan terbang!"


Melihat ekspresi Milly yang mengundang tanya itu sontak saja membuat Billy seketika menoleh, mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk Milly tertuju dengan sikap ingin tahu.


Dan benar saja, seolah tak ingin membuang waktu, Milly segera mengeluarkan jurus langkah seribu selagi Billy lengah menatap awan yang bergantung di langit biru. Tak tanggung-tanggung, gadis itu bahkan melepas heels nya demi bisa kabur.


Melihat gadis di hadapannya hilang tentu saja membuat Billy kebingungan. Ia segera mengarahkan pandangannya sekeliling dan mendapati gadis yang tengah terbirit-birit tanpa alas kaki. "Hey!" Billy berseru selagi tangannya masuk ke dalam saku di balik jasnya untuk merogoh sesuatu.


Milly yang mendengar teriakan Billy segera menoleh meski sambil berlari. Astaga, apa dia ingin mengeluarkan senjata dari balik jasnya? Oh no! Meski jaraknya sepuluh meter lebih, peluru itu pasti bisa menembus jantungku. Ya ampun, dia mengerikan sekali!

__ADS_1


Beruntung saat itu ada sebuah motor yang sedang berlalu, hingga tanpa pikir panjang Milly segera mencegat dan memaksanya memberi tumpangan. Dan berhasil. Milly tertawa sembari melambaikan tangan ke arah Billy yang terbengong selagi ngacir dengan Babang RX King.


__ADS_2