Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Mangga muda dan keripik kentang


__ADS_3

Mendapatkan sesuatu yang ia inginkan membuat Brian begitu ingin segera pulang. Dengan menenteng kantong berisi mangga muda di tangan kanannya, ia memasuki rumah dengan senyum bahagia.


Hanya Kuswara dan para pelayan yang tampak berdiri menyambutnya. Tak ada sang istri di sana. Brian memang sengaja melarang sang istri untuk beranjak dari lantai tempat kamarnya berada bahkan untuk ke balkon sekalipun, terlebih lagi untuk turun ke lantai bawah. Walaupun tidak secara langsung menuruni anak tangga satu persatu melainkan melalui lift.


"Selamat datang Tuan," sambut Kuswara ramah sambil menunduk seperti biasa. Lantas tangan cekatannya menerima koper milik Brian dari tangan Billy yang berjalan mengekori di belakang.


"Sedang apa istriku sekarang?" Tanya Brian sambil berlalu melewati Kuswara dan deretan pelayan yang menyambutnya.


Mengikuti langkah Brian dari bekakang, Kuswara pun menjawab. "Sedang membaca buku di atas Tuan."


Menghentikan langkahnya, Brian lantas menyodorkan kantong yang ia tenteng pada Kuswara. "Bersihkan ini dan buatkan sambal rujak. Aku yang akan membawanya sendiri ke atas."


"Baik Tuan," jawab Kuswara dengan mengangguk patuh. "Apa Tuan membutuhkan sesuatu sebelum saya tinggal ke dapur."


"Tidak."


"Baik Tuan, saya permisi ke dapur." Pamit Kuswara sopan. Lalu ia dan para pelayan beranjak dari ruang keluarga.


Brian melepas kancing jasnya satu persatu dan menanggalkannya. Ia lantas menjatuhkan tubuh lelahnya hingga terduduk pada sebuah sofa panjang. Sambil melipat lengan kemejanya, ia tersenyum dengan pandangan yang terarah ke langit-langit ruangan yang ia perkirakan sang istri tengah berada di sana.


Tak butuh waktu lama, Kuswara pun muncul dengan nampan berisi rujakan mangga di tangannya. Melihat hal itu, Brian pun segera bangkit dan hendak mengambil alih nampan dengan ekspresi senang.


"Biarkan saya yang membawakannya Tuan," pinta Kuswara sambil berusaha mempertahankan sesuatu yang ia pegang dengan nada tak enak hati.


"Tidak perlu Bu Kus, saya bisa sendiri." Setengah memaksa, hingga akhirnya Kuswara memberikan nampan itu dengan suka rela. "Terimakasih ya Bu Kus," ucap Brian setelah nampan itu berpindah ke tangan. Ia lantas berlalu meninggalkan Kuswara di sana.


Baru sampai di lantai atas, Brian langsung menangkap sosok sang istri dengan pandangannya. Wanita dengan mini dres berwarna marun yang melekat ditubuhnya itu selalu terlihat cantik penuh pesona. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan menari-nari saat embusan angin sore menyapanya dari jendela yang terbuka.


Gadis itu tengah menunduk dan begitu fokus pada buku di tangan kirinya hingga tak menyadari kehadiran suaminya di sana. Sementara tangan kanannya sesekali menjimpit keripik kentang dari dalam toples yang terletak di meja tanpa melihat dan menyuapkannya ke dalam mulut.


Namun kemudian, dahinya berkerut bingung saat tangannya yang tak punya mata itu tak menemukan toples keripik kentangnya di sana. Bahkan meski sudah meraba di sekitarnya ia masih tak menemukannya juga.


"Kemana perginya toples itu?" Gumamnya saat melirik pada meja kosong di sampingnya. Namun seketika ia terperanjat saat melihat sosok sang suami di belakangnya. Ia pun segera merubah posisi duduk dan menghadap pada lelaki yang tengah tersenyum penuh kemenangan sambil menunjukkan toples keripik kentang di tangannya.


Spontan Mayang menaruh buku di tangannya pada sofa kosong di sampingnya. "Sayang sudah pulang?" Tersenyum malu-malu, Mayang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Brian berdecak heran, sambil menggelang pelan. "Baca apaan si, sampai-sampai kau tidak menyadari ada orang di sekitar mu." Ucapnya sambil mengembalikan toples itu ke meja dan menaruh nampan yang ia bawa tadi di samping toples.

__ADS_1


Menjatuhnya tubuhnya perlahan pada sofa, tangan Brian lantas bergerak merengkuh tubuh sang istri yang berada di sisinya dan membawanya ke dalam pelukan.


"Apa yang sedang kau baca Sayang?" Brian mengulai pertanyaan sambil berusaha mengambil buku yang terhimpit di antara tubuh mereka. Brian berdecih begitu tahu ternyata sebuah novel berjenre romantis yang istrinya baca. Lantas menaruh buku setebal dua ruas jari itu di atas meja.


Di tatapnya wajah sang istri dengan penuh cinta sambil mengusap lembut rambutnya. "Akhir-akhir ini kau suka sekali membaca novel romantis Sayang, apakah kau sedang belajar bagaimana cara bersikap romantis padaku dari novel itu, heum??" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya dan mencium lengkung merah sang istri dengan lembut.


Usai membalas ciuman hangat Brian, Mayang membenamkan wajahnya di dada suaminya sambil memainkan telunjuknya di sana. "Aku membaca untuk mengusir kebosanan saja Sayang ,,,." Jawabnya terdengar lemah.


"Bertahanlah sebentar lagi Sayang ,,, ini untuk kebaikan mu dan bayi kita. Aku tidak ingin terjadi hal buruk dengan kalian." Di usapnya bahu Mayang dengan lembut. "Oh ya, apa lagi yang kau lakukan selain membaca?"


"Apa lagi yang bisa ku lakukan selain tidur dan makan." Jawab Mayang dengan nada kesal. Ia pun melepaskan diri dari pelukan Brian dan duduk dengan tegak, sambil merengut menatap suaminya. "Setiap hari kerjaku hanya berguling-guling di tempat tidur. Lelah tidur aku hanya bangun untuk makan. Kemudian setelah kenyang aku kembali lagi ke ranjang untuk rebahan. Aku sudah seperti sapi saja Sayang ,,,,! Kerjaku hanya makan tidur." Mayang menggerutu kesal sambil menyebik.


Sedang Brian bukannya merasa iba justru terkekeh sambil mencubit gemas pipi sang istri yang bahkan sekarang mulai tembam. "Bagaimana kau bisa berkata demikian, tembam."


Reflek Mayang menangkup kedua pipinya dengan bola mata yang membulat sempurna. "Bahkan sekarang kau memanggilku tembam, apa aku setembam itu sekarang?" Bertanya sambil menekan kedua pipinya, gadis itu terlihat semakin menggemaskan.


"Ha-ha iya Sayang, kau terlihat tembam sekarang, tapi aku semakin cinta padamu yang tembam." Goda Brian sambil bertopang dagunya dan menatap sang istri penuh puja.


"Benarkah ,,,?" Mayang mengerlingkan matanya. "Kalau begitu tak masalah kan jika aku banyak makan, Ha-ha." Tawa Mayang terdengar renyah sambil meraih toples berisi keripik kentang itu lagi.


Kraus-kraus, suara renyah keripik kentang itu terdengar saat Mayang mengunyah di dalam mulutnya. Brian hanya tertegun heran menatap sang istri yang tampak begitu menikmati keripik kentang itu, sedangkan rujak mangga muda yang ia bawa sama sekali tak diliriknya.


"Iya Sayang, aku tahu." Jawab Mayang santai tanpa meliriknya.


"Kalau tahu dimakan dong, Sayang." Kata Brian dengan nada setengah memerintah.


"Iya Sayang, aku coba ya." Mayang menusuk satu iris mangga dan mencocolkannya pada sambal rujak. Gadis itu meringis karena keasaman saat mengunyahnya. Lantas diletakkannya sendok garpu itu pada piring. "Sudah ah, terimakasih Sayang,,,," ucapnya sambil menyunggingkan senyum termanisnya.


Brian mendengus sambil meletakkan piring itu lagi di atas meja. Lantas kembali bertopang dagu dengan wajah murung dan menatap nanar pada rujakan yang terabaikan itu.


Mayang yang menangkap perubahan wajah sang suami pun seketika menghentikan kegiatan ngemilnya. Diliriknya sang suami penuh tanda tanya di kepala sambil menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa ia merasa jika suasana hati sang suami sedang buruk saat ini.


Beringsut, Mayang pun menyandarkan kepalanya di bahu Brian dan menelusupkan tangan merangkul lengan kekar suaminya. "Tumben bawa mangga muda Sayang, lagi kepingin ya?" Tanyanya dengan nada manja.


"Tidak." Brian menjawab singkat namun nadanya terdengar menohok. Membuat jiwa tersinggung Mayang tiba-tiba bergetar dengan sendirinya.


"Tentu saja aku membawanya untuk mu Sayang, hargai usaha ku dong. Ku pikir kau akan sangat senang karena kubawakan mangga muda. Ternyata kau malah mengabaikannya." Gerutu Brian tak bisa menyembunyikan kekesalannya.

__ADS_1


Mendadak melepaskan rangkulannya, Mayang pun tak kalah terlihat kesal. "Memangnya siapa yang minta dibawakan mangga muda, Sayang?! Dari dulu aku memang tidak suka mangga yang masih muda karena asam. Bukankah lebih enak yang tua, sudah pasti manis kan?!" Sungut Mayang pula sambil mengunyah kasar keripik kentang kesayangan.


"Kau ini aneh sekali. Wanita hamil biasanya suka mangga muda kan?!"


"Itu kan mereka, tapi aku tidak!" Sahut Mayang cepat. Setelah terdiam sejenak iapun lantas melempar pandangannya pada sang suami dan menatapnya penuh curiga. "Wanita hamil siapa yang kau maksud suka mangga muda Sayang??" Tanyanya kemudian setengah menginterogasi.


"Siapa?" Brian tergagap saat sang istri tiba-tiba menatapnya penuh selidik seolah dirinya ini seorang terdakwa saja. "Tidak ada Sayang, aku hanya pernah mendengar dari teman saja." Sambil nyengir, Brian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Brian menghela nafas lega saat sang istri tak berniat membahasnya lebih jauh dan memilih fokus pasa keripiknya. Dari sini ia pun menyimpulkan ternyata semua wanita hamil itu tidaklah sama.


Bagaimana bisa ia terpengaruh pada pengakuan dua wanita hamil penyuka mangga muda tadi. Meraka bukanlah Mayang istrinya. Bagaimana bisa dirinya menyamakan mereka begitu saja.


Entah mengapa Brian begitu ingin mencicipi mangga muda yang tersaji dihadapannya. Semakin dipandang mangga itu terlihat semakin menggiurkan saja.


Ditariknya piring itu agar lebih dekat padanya. Diraihnya pula sendok garpu dan menancapkannya pada seiris mangga muda. Brian menyuapkannya ke mulut usai mencelupkannya pada sambal rujak pedas yang nikmat.


"Hemm, enak." Gumamnya pelan saat mulai mengunyahnya. Karena tak puas hati, ia pun memakannya lagi, lagi dan lagi. Karena begitu bersemangatnya membuat ia tersedak dan terbatuk-batuk.


Mayang yang terkejut pun seketika bereaksi menepuk-nepuk ringan punggung sang suami. "Kalau makan pelan-pelan dong Sayang, kadinya tersedak kan ,,,!" Tuturnya pelan. Tangannya pun bergerak meraih gelas untuk memberi suaminya minuman, namun ternyata gelasnya telah kosong.


"Yah, minumnya habis." Keluh Mayang sambil menatap gelas kosong yang ia angkat tinggi-tinggi. "Sayang, aku tinggal ambil minum di kamar sebentar ya," pamitnya kemudian. Ia pun beranjak usai mecium lembut pipi sang suami.


Larangan sang suami untuk berjalan tergesa pun membuatnya berjalan sangat lamban. Sehingga hanya bolak-balik ke kamar saja membutuhkan waktu beberapa menit hingga kembali duduk di samping suaminya. Lalu disodorkannya gelas berisi air putih itu pada sang suami yang telah bersantai sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Usai menaruh gelas kosong yang airnya telah dihabiskan Brian pada meja, tatapan Brian langsung tertuju pada piring kosong di hadapannya.


"Sayang, mangga mudanya mana?" Tanyanya dengan heran.


"Sudah habis." Brian menjawab enteng sambil memainkan ponselnya.


"Mangga muda yang satu piring besar itu tadi Sayang?"


"Iya." Jawabnya singkat sambil menoleh menatap sang istri yang tengah menatapnya bingung. "Kenapa menatap ku seperti itu? Tenyata rujakan mangga muda itu enak ya."


"Hah?" Mayang menatap aneh pada Brian yang tengah tersenyum lebar. "Sejak kapan kau suka mangga muda Sayang?!"


"Entah. Sepertinya sejak tadi."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2