
Di pagi hari yang cerah oleh karena sinar matahari yang menyinari bumi membuat suasana hati Mayang pun kian bersemangat untuk menjalani hari ini. Meski rasa kantuk masih menyerang dan membuat matanya terasa berat. Namun setelah berendam dengan air hangat tadi pun membuat tubuhnya terasa lebih nyaman.
Ia memutuskan untuk menyiram bunga di taman sembari menjemur tubuhnya di bawah terik matahari pagi yang bermanfaat baik untuk kesehatan tubuh. Terlebih lagi akhir - akhir ini dirinya merasa kelelahan akibat kurang tidur di malam hari.
Gaun berwarna putih berlengan panjang yang Mayang kenakan tampak cocok dengan tubuh tinggi dan sedikit berisi milik Mayang. Dengan rambut pankangnya yang terurai membuatnya terlihat seperti bidadari di atara bunga - bunga.
Bibirnya menipis hingga menampakkan lesung di kedua pipinya manakala dirinya menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
Sebuah cincin berlian yang Brian selipkan secara diam - diam saat dirinya masih terlelap, sebelum akhirnya suaminya itu meninggalkannya secara diam - diam.
Hal itu tentunya bertujuan agar tak diketahui oleh orang tuanya. Mengingat pertemuan mereka ini adalah pertemuan rahasia. Dan hal ini pun berlangsung setiap malam hingga saat ini.
Keduanya selalu menghabiskan sepanjang malam hingga menjelang pagi dengan menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru. Bercinta, bercerita dan saling berkeluh kesah.
Brian selalu mengejutkan Mayang dengan kejutan - kejutan romantis yang tak pernah Mayang bayangkan sebelumnya. Laki - laki itu selalu datang dengan membawa kebahagiaan yang hanya tercurah kepadanya.
Brian bahkan bisa melakukan hal yang menurut Mayang itu gila sekalipun. Dan membuat wanita itu benar - benar tergila - gila padanya.
Tingkah Mayang yang tampak senyum - senyum sendiri itu tak luput dari pengawasan Ratih. Tak jarang Mayang juga terlihat lesu akhir - akhir ini. Wajahnya pun terlihat pucat dengan kelopak mata yang menghitam lebih mirip mata panda seperti orang yang kurang beristirahat.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Mayang pun meninggalkan taman dan melangkah memasuki rumah. Saat ia telah memasuki pintu belakang, suara panggilan Ratih pun terdengar lembut menyapa memenuhi gendang telinga Mayang membuat gadis itu pun seketika menoleh ke sumber suara.
Mayang tersenyum saat di lihatnya Ratih tengah duduk dengan santai di sebuah sofa di ruang belakang. Dengan langkah ringan Mayang pun datang menghampiri lantas duduk di samping Ratih.
"Iya ibu," jawab Mayang sembari tersenyum. Di tatapnya sang ibu mertua dengan hangat.
"Apa kau baik - baik saja Mayang? Apa kau sedang tidak sehat?" Tanya Ratih tanpa basa - basi. Namun dia berucap dengan lembut dan penuh perhatian.
Mayang pun seketika mengernyitkan dahinya merasa bingung dengan pertanyaan yang Ratih lontarkan.
"Mayang baik - baik saja bu, Mayang tidak sakit kok."
"Syukur lah." Ucap Ratih lega. "Tapi kenapa akhir - akhir ini kau tampak lesu dan sering sekali menguap di pagi hari. Kau terlihat tidak segar. Apa tidur malam mu tak pernah nyenyak?" Ratih pun bertanya dengan nada penasaran.
Dan pertanyaan Ratih pun seketika membuat Mayang berjingkat kaget dan terlihat gusar. Namun ia segera menutupinya dengan kalimat bantahan.
"Tidak bu, Mayang tetap tidur dengan nyenyak kok. Mungkin memang waktunya sedikit berkurang karena Mayang suka membaca buku saat susah tidur." Ucap Mayang mengambang seperti tak yakin sembari tertunduk.
"Kau yakin?" Tanya Ratih meminta ketegasan. "Ayo ibu antar periksa ke dokter kalau memang kau sedang tidak sehat." Ajak Ratih dengan lembut.
"Tidak Bu, Mayang baik - baik saja." Tolak Mayang dengan halus. "Mayang hanya lelah pikiran. Mayang tidak perlu ke dokter." Tambah nya dengan maksud tersirat dari ucapannya.
Ratih hanya tersenyum iba sembari mengusap lembut punggung tangan menantunya.
"Kamu yang sabar ya, Brian pasti segera datang untuk menjemputmu." Ucap Ratih dengan lembut untuk memberi semangat pada menantunya. "Maafkan atas sikap Ayah pada kalian. Ayah memisahkan kalian itu demi kebaikan kalian juga."
__ADS_1
Entah mengapa Mayang tiba - tiba merasa berdesir mendengar ucapan mertuanya. Di tatapnya sang mertua dengan pandangan penuh rasa bersalah karena kebohongannya.
Ia merasa seperti seorang penghianat pada sang mertua dengan sikap ketidak jujurannya. Namun apalah daya, Brian tak ingin Mayang memberitahukan ini pada siapapun agar mereka bisa saling bertemu.
"Maaf ibu, Mayang mohon diri ke kamar sebentar." Ucap Mayang mencari alasan untuk menghindar.
"Istirahatlah. Kau kelihatan lelah sekali." Sembari tersenyum Ratih pun mengizinkan Mayang.
"Terimakasih Ibu," ucap Amara sembari bangkit dari duduknya. Dengan tergesa ia pun meninggalkan mertuanya yang masih menatapnya dengan tatapan heran.
Nafas Mayang terengah - engah saat harus berlari menaiki tangga agar lebih cepat sampai di kamarnya. Mayang menutup pintu itu rapat lalu menyandarkan tubuh pada pintu itu.
Ia tampak menghela nafas dalam untuk menenangkan pikirannya. Entah sampai kapan ia harus berpura - pura demi menutupi kebohongannya.
Dan tiba - tiba ponselnya yang tergeletak di nakas pun bergetar. Dengan cepat Mayang pun melangkah menuju nakas lalu menyambar ponsel itu dengan cepat.
Sebuah chat masuk melalui aplikasi whatsapp nya.
'Sayang, keluarlah ke pintu rahasia dan keluarlah. Aku menunggu mu di sana.
Dari suami mu yang tercinta.'
Mayang tampak menautkan alisnya saat membaca pesan itu. Ia merasa ada yang aneh dari pesan ini. Untuk apa Brian mengirimkan pesan melalui nomor baru, kenapa tidak dengan nomornya sendiri?
Mayang lantas bergegas untuk bersiap. Ia menyapukan riasan minimalis fan natural namun sesuai dengan gaun yang ia kenakan sehingga menutupi wajahnya tang terlihat sedikit pucat.
Ia meraih salah satu tas miliknya dan memasukkan ponsel serta dompet ke dalamnya. Tak lupa pula sebuah botol mungil berisi cairan yang telah lama ia siapkan untuk perlindungan dirinya.
Dengan mengendap - endap ia pun berusaha keluar dari rumah itu. Ternyata lumayan jauh juga jarak antara rumah dengan pintu rahasia itu sehingga membuat Mayang sedikit kelelahan.
Hal itu pun membuat rasa curiga kembali menyergap Mayang, dan membuat gadis itu berpikir kalau memang ini pesan dari suaminya, lalu untuk apa dia mempersulit nya seperti ini. Karena Brian yang ia kenal tak pernah mau menyusahkan istrinya sedikitpun. Namun lagi - lagi Mayang kembali menepis pikiran buruk itu.
Mayang akhirnya bernafas lega setelah berhasil sampai di depan pintu itu. Ia segera membuka dengan kunci yang Brian berikan beberapa waktu lalu.
Namun alangkah terkejut nya Mayang saat Bukan Brian lah yang menunggunya di luar pintu, melainkan seseorang bertubuh tegap dengan stelan jas berwarna hitam dengan logo Wahana Group di kerah nya.
Lelaki yang tampak berdiri dengan siaga disamping mobilnya itu tersenyum menyambut kedatangan Mayang sembari membungkuk hormat.
"Selamat datang Nyonya," sapanya dengan sopan. "Saya mendapat tugas dari Tuan Brian untuk menjemput anda."
"Benarkah?!" Tanya Mayang dengan pandangan menyelidik. "Apa buktinya jika memang benar kau ini suruhan suami ku?"
"Saya adalah orang yang di tugaskan Tuan Brian untuk membeli cincin yang anda kenakan sekarang."
Mayang pun seketika melirik pada jari manisnya. Lantas di tatapnya cincin yang awalnya ia pikir Brian sendirilah yang membelinya. Namun ia cukup mengerti dengan kesibukan sang suami yang tidak memiliki waktu bahkan sekedar untuk membeli sebuah cincin.
__ADS_1
Mayang lantas mengalihkan pandangannya pada lelaki itu sebelum akhirnya ia pun mengangguk setuju. Ia kemudian masuk kedalam mobil setelah lelaki itu membukakan pintu untuknya.
"Suamiku memerintah kan padamu untuk membawa ku kemana?" Tanya Mayang penuh rasa ingin tahu setelah beberapa menit mobil itu berjalan.
"Ke rumah Tuan Brian yang lain nona," jawab sopir itu lalu mengatakan alamat rumah itu untuk meyakinkan Mayang.
Setelah itu Mayang hanya diam selama perjalanan hingga mobil itu berbelok ke sebuah kompleks perumahan elit. Dan setelah beberapa menit, mobil itu pun memasuki sebuah gerbang lantas berhenti di halaman depan.
"Mari saya antar Nyonya untuk masuk kedalam." Ucapnya dengan mengisyaratkan agar Mayang mengikutinya di belakang.
Mayang pun dengan sikap waspada mengikuti langkah lelaki itu menuju lantai teratas rumah itu. Dengan sikap sopan, lelaki itu meminta Mayang untuk beristirahat di sebuah kamar sembari menunggu kedatangan Brian.
"Jadi suamiku belum ada di sini?" Mayang bertanya dengan nada terkejut setelah mendengar penjelasan sopir itu.
"Benar Nyonya, tapi sebentar lagi Tuan akan sampai karena beliau sedang dalam perjalanan menuju kemari."
Tanpa menjawab ataupun bertanya Mayang pun memutar tubuhnya dan melangkah masuk dan berjalan menuju ranjang dengan perasaan kesal.
Dan sedetik kemudian ia pun terjinjit kaget oleh suara pintu yang sepertinya di tutup dengan keras dari luar dan sisok sopir. itu pun tak nampak lagi dari pandangannya.
Untuk mengusir rasa bosan, Mayang pun membuka pintu penghubung antara kamar dan balkon. Ia pun melangkah keluar sembari berpikir, sepertinya dengan melihat kedatangan sang suami dari atas lebih seru.
Entah sudah berapa lama Mayang berdiri di balkon itu, namun Brian belum juga memberi tanda - tanda kemunculannya. Mayang pun semakin gelisah setelah beberapa dalam penantian yabg tak pasti.
Namun suara langkah yang terdengar mendekat pun berhasil membuat gadis itu tersenyum. Mayang menoleh ke arah pintu sembari bersiap menyambut kedatangan suaminya.
Sungguh yang terjadi ternyata meleset dari apa yang Mayang duga. Seketika Mayang membelalakkan mata oleh keterkejutan yang teramat sangat.
Jantung yang semula berdetak normal kini pun berpacu berkali lipat. Rasa takut yang menyergap secara spontan membuat tubuhnya mulai gemetar.
Matanya seolah terhipnotis saat pandangannya beradu dengan lelaki paruh baya yang tampak melangkah pelan dengan seringai jahat yang muncul dari bibirnya.
"Selamat datang Mayang, bagaimana kabar mu sekarang?" Tanya lelaki itu dengan senyum remeh yang dan sorot mata penuh kebencian yang dengan sengaja ia tampak kan.
Mayang melangkah mundur seiring dengan mendekat nya lelaki itu hingga dirinya tersudut dan menghimpit tembok di belakangnya tanpa bisa melawan.
Ia merutuki kebodohannya karena masuk kedalam jebakan mengerikan. Tangannya yang gemetar pun meraih liontin pemberian Brian dan meremasnya. Berharap suaminya mendengar percakapan mereka dan segera datang untuk memberikan pertolongan.
Namun mata serta pikiran lelaki itu ternyata sangat awas. Sehingga ia pandangannya pun teralihkan pada tangan Mayang yang menggenggam liontin itu.
"Apa itu pemberian suami mu?!" Tanyanya dengan kasar dan membentak. "Katakan! Apa itu pemberian suamimu!!!" tanyanya lagi dengan suara yang lebih keras hingga membuat Mayang bergetar ketakutan. Dan dengan cepat lelaki itu pun menggerakkan tangannya ke arah Mayang seperti akan mendorong.
"Tidak Tuan, jangan. Saya mohon Tuan lepaskan!" Suara Mayang terdengar merintih memohon mengharap belas kasihan. Namun lelaki itu tampak tak menggubris nya. "Jangan Tuan, saya mohon. Tidak!!!" teriak Mayang di iringi suara tawa terbahak - bahak lelaki itu.
Bersambung
__ADS_1