
Mayang menghentikan tangisnya begitu pintu kamar itu tertutup. Tinggal dirinya seorang diri dalam ruangan berukuran luas itu. Lengan berbalut jaket hugo itu lantas bergerak mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, sementara pandangannya masih nyalang ke arah daun pintu di mana terakhir kali Alex menghilang di baliknya.
Bangkit dari tempatnya, Mayang melemparkan bantal yang dipegangnya itu tepat ke atas ranjang. Ia lantas melangkah mengamati ke sekeliling kamar yang didesain gaya klasik namun memadukan warna lembut pada dindingnya, Mayang berusaha memastikan bahwa tidak ada satupun kamera pengintai yang tersembunyi di sana. Maka bisa dipastikan, Alex beserta anak buahnya sama sekali tak mencium aroma rencana misi rahasia ini.
Namun tak banyak hal yang bisa ia perbuat, sebab ia meyakini Alex tidak mungkin meletakkan benda yang menjadi target itu di sini. Entah di mana tempatnya, yang jelas hal itu akan segera terungkap jika saatnya telah tiba.
Sebuah suara yang mendadak terdengar samar dari balik pintu membuat Mayang meyakini jika ada seseorang yang hendak mendatanginya kali ini. Tak ingin rencananya terbongkar, ia segera berhambur ke tempatnya semula tanpa melupakan bantal sebagai pelindung dirinya. Duduk memeluk lutut pada sudut kamar, ia memasang mimik wajahnya dengan ekspresi menyedihkan seolah dirinya begitu tertekan dan teraniaya.
Sedikit mengacak rambutnya, Mayang lantas menunduk selagi menanti seseorang yang berada di balik pintu itu masuk. Dan benar saja, tiga orang gadis tampak benar-benar memasuki ruangan itu setelah pintu terbuka.
Bianca, Kim dan Joy? Mereka lagi? Mayang Membatin tak percaya melihat kemunculan tiga gadis cantik itu di depannya. Sial. Kenapa aku sampai lupa. Aku memasuki kandang yang sama. Sudah barang tentu aku menemui peliharaan yang sama pula. Benar-benar menyebalkan saat harus berurusan dengan mereka untuk yang kedua kalinya.
Memasang ekspresi ketakutan, Mayang bergeming dan bergerak semakin menyudutkan dirinya pada dinding di belakang. Sementara tiga wanita tersebut tampak mengembangkan senyum, terlihat begitu menikmati ekspresi yang ditunjukkan oleh Mayang.
"Hai," sapa Bianca seraya menekuk lutut dan berjongkok di depan Mayang. "Apa kabar, Mayang?" tanyanya dengan seringai buas di bibirnya. Meski bibirnya menampilkan senyuman, namun sorot matanya memancarkan binar kebencian serta dendam yang membara.
Dendam? Tentu saja. Sampai kapanpun Bianca tak akan pernah melupakan kejadian itu. Sebuah kejadian yang membuatnya mati-matian berusaha melepaskan diri dari serangan binatang buas. Beruntung ia bisa melepaskan diri dan menolong dua temannya yang sama-sama terbelenggu dan terikat di hutan belantara.
Alex benar-benar tidak pernah main-main dengan ucapan serta ancamannya. Saat Bianca, Kim dan Joy lengah hingga kehilangan Mayang dari genggaman, anak buah Alex benar-benar mengikat dan meninggalkan mereka di hutan yang dihuni oleh binatang buas. Berkat kemampuan serta kegigihan Bianca dalam upayanya, akhirnya wanita penyuka warna hitam itu berhasil membuktikan kehebatannya di depan sang bos.
"Masih ingatkah kau, kepadaku?" tanya Bianca dengan nada menggoda sambil menggunakan telunjuknya untuk mengangkat dagu Mayang.
__ADS_1
Tentu saja aku masih mengingat wajah orang yang hampir membunuh bayi dalam kandunganku. Membuang muka seolah tak suka wanita itu menyentuh bagian tubuhnya, namun mata Mayang kembali memandang Bianca dengan tatapan jengah, yang justru membuat tawa Bianca meledak begitu senang. Ekspresi membangkang yang Mayang tunjukkan itu seolah menjadi pemantik semangatnya untuk menuntut balas.
Namun peringatan keras Alex yang tak mengizinkan siapapun melukai Mayang benar-benar membuatnya jengkel. Mau tak mau ia harus berusaha menahan amarah yang telah bergemuruh di dada sejak lama.
"Cepat Bi, jangan buang waktu lagi. Bos sudah menunggu kita." Kim yang berdiri di belakang Bianca berucap dengan nada mengingatkan.
Mengangguk faham, Bianca segera bangkit dari jongkoknya. Dan tanpa peringatan, kakinya bergerak melemparkan sebuah tendangan yang mendarat tepat di paha Mayang selagi dirinya berseru, "Cepat bangun!"
Meringis, tendangan tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan Mayang dan pastinya terasa nyeri di kaki bagi wanita hamil itu. Merasa bayi dalam kandungannya bisa saja terancam bahaya, naluri keibuannya pun bereaksi cepat dengan berusaha melindungi perutnya dari jangkauan kaki Bianca.
Rupanya Bianca sengaja menggunakan cara lain untuk menyakiti Mayang yang tanpa menimbulkan luka berdarah, hingga tak memunculkan kecurigaan bosnya jika sampai terlihat.
"Lepas!" Mayang meremas lengan tak berpenghalang itu, berharap tangan dengan kuku-kuku panjang itu melepaskan jambakannya. Namun sepertinya Bianca masih enggan melepaskan, hingga Mayang memutuskan balik menarik surai sebahu Milik Bianca yang tergerai bebas. Saling menarik serta sama-sama ingin menguasai lawan membuat kedua wanita itu terjerembab dan terpelanting ke atas ranjang yang memang berada di sisinya.
Adegan saling jambak dan mengunci tubuh lawan pun tak terelakkan. Kedua wanita kuat itu tak ada yang mau mengalah dan lebih dulu melepaskan, hingga membuat Kim dan Joy merasa jengah melihat keributan yang tak semestinya terjadi itu.
"Bi! Hentikan!" teriak Joy sambil menyusul naik, berusaha melerai keduanya. Namun tendangan kaki Bianca yang sepertinya tak sengaja dan tepat mengenai perutnya, membuat tubuh Joy yang terdorong itu terjatuh ke bawah.
Tak ada cara lain, Kim pun bergerak cepat mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya. "Berhenti atau Kutarik pelatuk ini!" ancamnya sambil menempelkan ujung benda itu tepat di pelipis Bianca.
"Kim, dia yang seharusnya Lo bunuh, bukan gue!"
__ADS_1
"Membunuh dia sama artinya dengan mencari mati, sebab bos pasti akan membalasnya lebih perih dari kata mati. Tapi membunuh ELo, sama sekali nggak masalah buat gue. Sebab Lo itu cuma pengacau, yang nggak berarti!" ucap Kim penuh penekanan pada kalimat terakhirnya. Ekspresinya pun terlihat begitu meyakinkan, membuat Bianca yang selama ini selalu memimpin mereka tak berani berkutik oleh ancamannya.
"Sialan!" Bianca menggeram penuh kemarahan. Namun tak ada yang bisa dilakukannya selain melepaskan jambakannya dengan kasar.
Kim yang satu kakinya berada di atas ranjang saat mengancam Bianca pun segera menarik diri. Merasa temannya sudah aman karena berhasil dijinakkan, ia lantas menyimpan kembali senjatanya pada tempatnya semula.
"Jangan kira Lo bisa lepas dari gue dengan begitu mudah," Bianca mendesis selagi menatap Mayang penuh ancaman. Dua wanita itu kini sama-sama duduk di tepi ranjang.
Seolah tak takut oleh ancaman yang Bianca layangkan, Mayang justru menunjukkan seringai menantang. Memutar bola mata malas, ia lantas menyisir rambut dengan jemarinya, berusaha merapikan kembali tatanan rambutnya yang acak-acakan sebab pergulatan tadi.
"Nggak usah sok cantik, Lo!" Bianca yang tak tahan, lagi-lagi menarik rambut panjang Mayang dengan kejam. Membuat pertahanan tubuh Mayang pun oleng dan seketika refleks condong ke arahnya akibat tarikan itu.
Adu tatap penuh kebencian pun tak terelakkan pada dua wanita yang sama-sama menyimpan dendam. Andai saja keadaan mengizinkan, mereka benar-benar akan menuntaskannya detik itu juga. Namun misi yang belum terselesaikan pada akhirnya membuat keduanya sama-sama berusaha untuk mengesampingkan ego mereka.
"Sekarang Lo bisa aja merasa di atas awan karena bos memberikan larangan untuk nyakitin Lo! Tapi gue pastiin, Lo akan menerima ganjaran yang pantas karena telah berurusan dengan gue." Bianca mendesis sambil menekan tarikannya pada rambut Mayang.
Mayang memejamkan mata dengan rahang yang mengetat, menikmati hentakan yang meninggalkan sensasi nyeri di kepalanya. Tidak ingin membalas perlakuan itu dengan kata pedas atau tindakan brutal, cukup sebuah senyuman, maka Bianca akan kelimpungan dan semakin merasa geram. Dan benar saja, amarah Bianca semakin meledak akibat senyum meremehkan yang baru saja Mayang perlihatkan.
Bianca yang kalap sudah bergerak ingin menghajar Mayang, hingga membuat Kim dan Joy terpaksa kembali mengeluarkan senjata mereka dan menggunakannya sebagai alat untuk mengancam. Tak lupa sebuah pukulan keras pun mendarat pada perut Bianca sebagai bentuk peringatan.
Bersambung
__ADS_1