Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Ingin Pingsan


__ADS_3

Setelah negosiasi yang alot, akhirnya kini Mayang berada di sini. Satu mobil bersama Billy.


Mengambil posisi di ujung hingga merapat pada pintu mobil, tubuh Mayang tampak membeku dan wajahnya pucat kesi. Ia benar-benar tak bisa berkutik lagi. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain pasrah hendak dibawa ke mana saja.


Meski tak ingin berpikiran buruk, tetapi Mayang tak bisa membuang jauh pikiran negatif perihal akan nasibnya ke depan dari otak warasnya. Ia saja dibawa dengan paksa, bisa saja kelak sesuatu buruk akan menimpa. Meski ia tak sepenuhnya bersalah, akan tetapi perbuatan sang ayah yang membawa pulang buku keramat itu merupakan kesalahan fatal kata Billy. Terlepas dari disengaja atau tidaknya oleh Anwar. Terlebih, ia telah membaca dan mengerti semua tulisan yang dituangkan dalam buku itu.


Ah, sial. Rupanya kebahagiaan singkatnya semalam berujung petaka yang menakutkannya. Kembali terngiang di benak Mayang bagaimana perpisahan penuh air mata bersama keluarganya beberapa waktu lalu. Ia tak menyangka, nasib bisa begitu mudahnya menjungkirbalikkan keadaan hingga ia terpaksa ikut dalam rombongan orang-orang asing.


Takut? Jangan ditanya lagi. Ia bahkan tak tahu bisa bertahan hidup atau mati, itu semua bergantung pada kebaikan hati sang bos besar nanti. Lantas ia pun bertanya-tanya dalam hati, bukankah yang menentukan jodoh, rezeki maut itu hanyalah Tuhan semata dan bukanlah manusia? Jadi, untuk apa harus takut dengan makhluk yang masih sederajat dengan dia? Nah, dari sinilah ia berusaha tenang dan mulai menetralkan pikiran.


Melirik ke sisi kiri, ditatapnya Billy yang tengah sibuk berkutat dengan layar laptop. Pria dengan kedua telinga terpasang airpod itu tampak berwibawa dan tegas. Entah apa yang sedang dikerjakan, tetapi Mayang bisa melihat loyalitas kerja yang ditunjukkan oleh sikap pria itu. Bagaimana tidak, bahkan saat dalam perjalanan saja ia masih mengutamakan pekerjaan.


Dari penampilannya saja pria itu sudah terlihat seperti bos besar. Namun, jelas-jelas Mayang tadi mendengar jika pria ini masih memiliki seorang atasan. Dan satu lagi, kesan kedua yang Mayang tangkap saat pria itu diam begini adalah tam-pan. Tapi hal itu hanya terjadi saat pria ini diam. Sebab jika sudah marah dan keluar taringnya seperti tadi, pria ini langsung berubah menyeramkan. Kira-kira begitulah yang ada dalam benak Mayang.

__ADS_1


Sadar jika sedang diperhatikan, tiba-tiba Billy berdeham dan langsung mengalihkan pandangan dari laptopnya. Tentu saja beralih pada Mayang yang tanpa sadar terpesona oleh ketampanannya.


Sontak saja, Mayang langsung membuang pandangan ke arah luar jendela demi menahan malu tak terkira. Ketahuan sedang memperhatikan pria tampan membuatnya kikuk dan salah tingkah. Beruntung Billy orangnya pendiam hingga rasa malu itu tak berkelanjutan. Pria dengan kacamata bertengger di atas hidung bangirnya itu memilih kembali melanjutkan pekerjaannya. Sesekali pria itu memberikan instruksi kepada anak buah melalui sambungan telepon.


Berjam-jam menghabiskan waktu dalam perjalanan, kini deretan mobil mewah itu mulai memasuki halaman bangunan besar dan melewati gerbang menjulang yang penuh penjagaan. Bangunan berlantai lima itu sama sekali tidak bisa dikatakan rumah, sebab bentuknya yang lebih mirip dengan istana. Baru turun dari mobil saja Mayang sudah dibuat terpana oleh keelokannya.


“Cepat jalan!” titah seorang pengawal berbadan kekar agar Mayang melangkah mengikuti Billy yang lebih dulu beranjak.


Menatap pria itu sekilas, Mayang mendengkus lirih. Namun, mau tak mau ia harus mengikuti perintah jika ingin selamat di negeri antah berantah ini. Ia bahkan tak tahu sedang berpijak di bumi belahan mana. Semua ini masih terasa asing baginya.


Biarin aja. Toh bentar lagi aku bakal dieksekusi, pikirnya dalam hati.


Memasuki ruang demi ruang, Mayang yang sedang hanyut dalam kelana takjub tanpa sadar menubruk sesuatu di depannya. Bukannya yang ditubruk yang ambruk, justru tubuhnya yang terpental dan berakhir jatuh terduduk sebab menabrak punggung kokoh di depannya.

__ADS_1


Mengerucutkan bibir sambil mengusap dahi yang sedikit nyeri, ia mendongak dan langsung bersirobok dengan Billy yang menggeleng tak habis pikir.


Malu, Mayang hanya bisa nyengir sambil berusaha bangkit. Dua orang penjaga yang berdiri di belakangnya pun tak urung turun tangan untuk membantu setelah mendapat instruksi dari Billy.


Meskipun sikapnya arogan, tapi ternyata dia masih punya hati juga, batin Mayang.


Pintu lift terbuka dan Billy masuk ke dalamnya. Sedangkan mata Mayang kian membola melihat fasilitas semacam itu benar-benar ada di dalam sebuah rumah. Seharusnya tak perlu seheran itu lah, biar nggak terlalu kentara seberapa udiknya. Horrang kaya mah bebas mau naruh apa di dalam rumahnya.


“Masuk!” titah Billy, sebab melihat Mayang hanya terbengong-bengong di depan pintu lift.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Billy pada Mayang saat lift sudah bergerak naik. “Apa kau sedang memikirkan bagaimana nasibmu nanti? Atau sedang menyusun permintaan terakhir sebelum malaikat maut datang menjemput?”


Mendengar itu sontak bulu kuduk Mayang bergidik ngeri. Tak hanya menakut-nakuti, Billy terang-terangan memasang seringai jahat yang membuat Mayang ingin pingsan saat itu juga.

__ADS_1


 


__ADS_2