
"Entahlah, aku tidak membukanya," jawab Brian jujur. "Mungkin gaun pesta. Tapi ibu bilang aku harus memastikan kalau kau memakainya."
"Benarkah?" Alis Mayang bertaut heran. Entah mengapa tiba-tiba Mayang merasa ada yang aneh.
"Aku mandi dulu ya," ucap Brian, lalu menyambar pipi Mayang dengan bibirnya. "Nanti kenakan hadiah dari ibu lalu kita kirim buktinya. Biar kanjeng mami itu nggak ngamuk," guraunya sembari mencubit gemas pipi Mayang, lalu beranjak pergi meninggalkan sang istri yang masih bersemu karena ulahnya.
***
"Sayang, nyobain bajunya kenapa lama sekali!" teriak Brian tak sabar dari luar ruang pakaian. "Sudah hampir setengah jam kau di dalam situ." Brian mulai gelisah sembari mengetuk pintu walk in closed yang masih tertutup rapat.
"Sayang kau yakin ibu memberikan ini untukku?Apa tidak salah?"
Brian tersenyum saat suara Mayang dari dalam terdengar meragukan.
"Tentu saja tidak, Sayang. Ibu memang memberikan itu untukmu! Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Cepat keluar sayang! Aku penasaran!"
Ceklek
Terdengar suara kunci di buka dari dalam. Brian yang sudah sangat penasaran segera membuka pintu dengan cepat lalu melangkah masuk ke ruang ganti pakaian.
Brian yang tak menemukan sosok istrinya di depan pintu segera mengedarkan pandangannya dan mendapati Mayang tengah berdiri di sudut dengan wajah tertunduk malu.
Dia tampak cantik dan seksi dengan balutan gaun berwarna merah muda yang tipis dan transparan hingga memperlihatkan belahan dadanya yang indah. Rambutnya yang ia biarkan tergerai kian menambah sisi sensual dari diri Mayang.
Untuk beberapa saat Brian pun terpesona. Ia terbuai dengan makhluk indah di hadapannya itu. Sehingga tanpa sadar ia pun melangkah semakin mendekati Mayang yang sudah dalam posisi terpojok.
Namun, seketika Brian merasa ada yang janggal. Gaun itu bisa mengundang syahwat para pria, bisa-bisanya ibunya memberikan itu untuk acara pesta? Sontak saja Brian naik pitam akibat cemburu yang menjalar.
"Apa-apaan ini! Lepas gaun itu sekarang!" bentaknya dengan wajah merah padam penuh amarah.
Seketika Mayang pun terkejut dengan reaksi Brian. Bukannya senang istrinya berpenampilan seksi, suaminya justru marah besar.
"Apa maksudmu sayang?" tanyanya dengan wajah kebingungan.
"Aku tidak suka kau memakai gaun itu untuk pesta! Lepas sekarang! Bukannya cantik tapi kau malah terlihat seperti wanita murahan!"
Plak!
Tamparan keras dari tangan Mayang mengenai tepat di wajah Brian. Seketika pria itu terdiam, lalu menatap istrinya dengan wajah penuh sesal.
"Kau mengatakan aku ini murahan?" lirih Mayang penuh penekanan. Matanya menatap nanar pada Brian. Terlihat marah, tapi ia perlu memastikan apa yang baru saja didengungkan Brian.
__ADS_1
Panas telapak tangan bahkan tak sepanas hatinya saat ini. Napas Mayang terdengar memburu hingga dadanya terlihat naik turun. Wajahnya merah padam menahan amarah.
Harga dirinya sebagai wanita telah tercabik. Mungkin rasanya tak akan sesakit ini jika Mayang mendengarnya dari mulut orang lain. Tapi mendengarnya langsung dari mulut Brian sungguh membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Sa–sayang maaf, bukan begitu maksudku ...." Mendadak Brian tergagap. Ia sadar telah melakukan kesalahan.
"Pergi kau."
Meski diucapkan dengan nada pelan, tetapi penekanan dalam ucapan diiringi telunjuk Mayang yang terarah menuju pintu membuat hati Brian seperti tersayat. Istrinya tak pernah semarah ini. Mayang pasti sangat terluka jika sampai murka padanya.
"Sayang dengar dulu."
"Pergi!" teriak Mayang dengan intonasi tinggi. Karena Brian tak juga beranjak dari sana, ia pun meraih apa pun yang bisa dijangkau dan melemparnya pada Brian. "Pergi!"
"Sayang dengar dulu penjelasanku!" pinta Brian sembari menangkap beberapa lembar pakaian dengan model yang sama seperti yang Mayang kenakan. Terang saja itu membuatnya semakin merasa bersalah.
"Keluar! Aku mohon kamu keluar!" Mayang menepis tangan Brian yang berusaha memeluknya. Ia memukul dada pria itu bertubi-tubi. Alih-alih marah, Brian justru terlihat pasrah.
Melihat bagaimana Mayang jadi tantrum akibat ulahnya, Brian pun tak berani memaksa. Istrinya mulai menitikkan air mata, dan ia berniat untuk menenangkannya. Namun, sepertinya Mayang tak menginginkan itu untuk saat ini, dan Brian berpikir, mungkin dengan sendirian Mayang bisa menenangkan diri.
"Okay. Aku akan keluar. Tapi aku mohon, meskipun dirimu sedang kesal, tetapi jangan pernah lukai dirimu sendiri, Sayang. Maaf ...."
"Pergi!" Mayang mendorong tubuh pasrah Brian hingga keluar kamar. Lalu setelahnya ia mengunci pintu itu rapat-rapat.
* * *
"Halo Brian, ada apa?" sapa Ratih dari sambungan telepon saat Brian menghubunginya.
"Ibu, gaun apa yang ibu berikan pada Mayang? Kenapa bentuknya seperti itu?"
Ratih mengernyit heran saat Brian bertanya tanpa basa-basi. Kemudian ia teringat akan lingerie yang diberikannya tadi.
"Ibu, gaun itu tidak cocok dipakai untuk pesta, Ibu!"
"Untuk ke pesta bagaimana!" sahut Ratih cepat sebab nada bicara Brian terdengar kesal. "Itu lingerie, Sayang ... baju seksi untuk tidur. Kenapa? Apa ada masalah? Apa istrimu tak mau memakainya?"
Aduh! Sambil memejamkan mata, Brian menepuk dahinya sendiri. Jelas-jelas ini semua salahnya sebab tak tanya dulu pada sang ibu.
Brian mengabaikan pertanyaan Ratih. Ia mengacak rambutnya frustasi. Semakin merasa bersalah terhadap istrinya sendiri.
"Brian .. kau masih di sana?" tanya Ratih lagi.
__ADS_1
"Iya ibu, aku masih disini."
"Apa ada masalah?"
"Tidak," dusta Brian. Ia tak mungkin menceritakan kebodohannya pada sang ibu.
"Apa kau suka?"
"Iya. Aku suka. Mayang sangat cantik memakainya." Brian meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bagus kalau kau suka."
Brian menebak ibunya sedang tersenyum bangga di sana.
"Ibu tutup teleponnya, ya. Nikmati malam pengantinmu!" ucap Ratih mengakhiri obrolan mereka.
Brian menjatuhkan tubuhnya di sofa. Wajahnya kusut masai. Ia menghela napas panjang berulang-ulang demi mengusir rasa bersalah.
Kini ia hanya bisa berharap agar Mayang mau mendengar penjelasannya. Memaklumi kebodohannya. Namun, sekarang ia ingin memberi waktu pada istrinya untuk menenangkan diri. Hingga beberapa saat kemudian, barulah ia datang dan mengetuk pintu kamar mereka.
"Sayang, buka pintunya sayang. Tolong dengarkan penjelasanku." Brian diam sejenak untuk mendengarkan. Namun tak ada sahutan dari dalam.
Brian kembali mengetuk pintu itu. " Sayang buka pintunya. Kau tidak ingin aku menghancurkan pintu ini bukan? Aku bahkan bisa menjebol pintu ini hanya dengan sekali tendangan. Ayo lah sayang buka! Kau bisa menghukum ku kalau kau marah, tapi jangan menyiksa ku dengan diam seperti ini!"
Brian semakin merasa gelisah dan tidak tenang. Ia tak tahan berada dalam situasi seperti ini.Diam nya Mayang justru semakin membuatnya tersiksa.
Baginya lebih baik jika istrinya itu meluapkan kemarahan padanya dari pada diam dalam kebisuan dan membiarkan nya dalam ketidak pastian.
Agak lama Brian termenung di depan pintu kamarnya dengan rasa bersalah yang kian menyiksanya. Bagai kapal kecil yang yang mengambang di tengah lautan tanpa sebuah dayung, terombang-ambing tak tentu arah.
"Sayang ku mohon bicaralah!" Brian menggedor pintu itu agak keras setengah mendorongnya. Dan tanpa Brian duga pintu itu terbuka dengan sendiri nya. Brian baru menyadari bahwa ternyata sejak tadi pintu itu tidak dalam kondisi terkunci.
Brian bergegas masuk kedalam dan mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan. Namun ia tak menemukan sosok istrinya berada. Ia mengayunkan langkah lebar nya menuju ruang pakaian dan toilet, Namun ia juga tak mendapati istrinya disana.
Ruangan memang terasa hening. Seharusnya ia merasa curiga sejak tadi. Brian meninggalkan Mayang dalam keadaan jiwa yang tengah terguncang. Mayang menangis hebat tadi. Dan seharusnya dia masih terisak sekarang. Lalu dimana dia sekarang?
Rasa cemas khawatir serta takut bercampur aduk menjadi satu menjalar di tubuh Brian. Kian membuatnya bertambah takut karena Mayang meninggalkannya dalam kondisi emosi seperti itu. Brian tak ingin istrinya itu melakukan hal nekad yang membahayakan dirinya.
Brian segera memerintahkan seluruh pengawal dan pelayanan di rumahnya untuk mencari istrinya ke seluruh penjuru rumah, di tempat-tempat favorit istrinya. Seluruh taman dan kolam renang bahkan area parkir serta di garasi. Namun, mereka masih tak menemukan keberadaan istrinya.
Brian terduduk di sofa dengan wajah frustasi. Semakin putus asa dengan laporan penjaga gerbang yang sama sekali tak membukakan pintu untuk istrinya. Bahkan melihatnya pun tidak. Mayang tak mungkin keluar dengan memanjat tembok setinggi itu, kan?
__ADS_1
"Sayang kau dimana?!"
Bersambung