
Pagi itu, Sesuai jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya, Mayang pun pergi ke dokter kandungan tanpa sepengetahuan Brian untuk memeriksa keadaan janinnya. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Putri sulung dari dua bersaudara itu hanya tak ingin sang suami terlalu berlebihan mengkhawatirkan dirinya.
Tak sendiri, dengan dikawal beberapa orang bodyguard terbaik yang dimiliki suaminya, Mayang pun ditemani Ratih dan Malik, sang mertua yang terlebih dulu datang menjemputnya. Sehingga tak ada keraguan di hati gadis berambut panjang itu meski tanpa suami di sampingnya.
Sudah sampai di lobi rumah sakit, tampak beberapa dokter tengah berdiri untuk menyambut kedatangan mereka yang baru saja tiba. Sebab, mereka datang dengan pemberitahuan sebelumnya. Lucy yang menjadi salah seorang diantaranya segera memeluk Ratih dan Mayang bergantian dengan hangat saat mereka bertatap muka.
"Apa kabar Lucy?" tanya Ratih selagi mengurai pelukan mereka. Di tangkupnya dua sisi bahu keponakannya itu dengan sayang.
"Alhamdulillah baik tante." jawab dokter muda itu seraya menunjukkan senyumnya.
Beralih menatap Mayang yang berdiri di sisi mertuanya, Lucy dan Mayang lantas mencondongkan tubuh mereka untuk saling berpelukan setelah keduanya saling melempar senyuman. Perut mereka yang saling bersentuhan membuat Lucy tersenyum sebelum kemudian mengurai pelukannya.
"Kau tahu Mayang, aku juga sedang mengandung bayi di rahimku." tutur Lucy sembari tersenyum, sementara pandangannya turun menatap ke arah perutnya.
"Benarkah?" Mayang melebarkan mata seolah tak percaya. Mamun ekspresi wajahnya terlihat begitu bahagia mendengarnya.
Ratih dan Malik yang tengah bertegur sapa dengan dokter lain tampaknya mendengar obrolan dua wanita hamil itu hingga timbul rasa penasaran dan tertarik untuk ikut bergabung dengan mereka.
"Apa benar yang kudengar ini, Lucy?" sahut Ratih untuk memastikan bahwa indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Wanita paruh baya itu menyentuh bahu keponakannya sembari menatap lekat Lucy untuk memastikan.
"Benar Tante, aku juga sedang hamil." Lucy meyakinkan dengan disertai senyum penuh kebahagiaan.
"Wah, tante ikut bahagia mendengarnya. Semoga Ibu dan Bayinya selalu dalam lindungan Tuhan ya Sayang." Ratih berucap seraya mengelus perut rata milik Lucy.
"Aamiin Tante." Sahut Lucy dengan khusyu mengamini doa tantenya.
"Berapa bulan usia kehamilanmu Lucy?" Mayang akhirnya mengutarakan pertanyaan yang ternyata juga mewakili ibu mertuanya.
"Iya Lucy, atau jangan-jangan usia kehamilan kalian sama persis?" tanya Ratih sembari menatap dua wanita hamil dihadapannya itu bergantian.
"Tidak Tante, dokter memperkirakan usia kehamilanku baru menginjak dua minggu. Aku saja baru mengetahuinya dua hari yang lalu." jawab gadis yang mengenakan jas berwarna putih itu penuh keyakinan.
"Selamat ya, Lucy." ucap Malik tulus sembari mengusap puncak kepala keponakannya.
"Terima kasih Om." Lucy menganggukkan kepalanya dengan sopan. Menyadari ada sesuatu yang kurang, wanita dengan rambut hitam sebahu yang dicepol itu celingukan seolah sedang mencari seseorang. "Dimana Brian? Apa dia tidak ikut?" Tanyanya penuh rasa ingin tahu.
"Brian sedang sangat sibuk, makanya kami yang datang mewakilinya untuk mengantar Mayang melakukan pemeriksaan." Malik yang menjawabnya dengan santai.
"Owh," Lucy mengangguk faham. "Aku ngerti gimana sibuknya Brian, Om." tutur gadis itu sembari tersenyum, lalu menatap prihatin pada Mayang lantas meraih jemari sepupu iparnya itu dengan hangat. "Mayang, kau tidak berkecil hati meskipun Brian tidak mengantarmu kan?"
Terkekeh geli, Mayang merasa lucu mendengar pertanyaan Lucy. "Tentu saja tidak, Lucy. Justru aku merasa sangat senang sebab aku diantar oleh mertuaku yang begitu pengertian dan sayang padaku. Aku malah merasa khawatir kalau suamiku yang mengantarku." Mayang terkekeh pelan dan melembutkan suara saat menyebut nama suaminya.
Jawaban Mayang membuat Lucy mengerutkan keningnya. Sepupu Brian itu lantas bertanya dengan nada penasaran. "Khawatir kenapa Mayang? Apa yang perlu kau khawatirkan?" tanyanya sembari menatap tiga orang dihadapannya itu bergantian dengan ekspresi kecemasan.
Bukannya terlihat cemas, ketiganya justru tergelak. menertawakan Lucy. Sebab dokter muda itu mengartikan lain perkataan Mayang yang sebenarnya hanya untuk gurauan saja.
"Kenapa kalian malah tertawa? Sebenarnya ada apa dengan Brian?" Lucy tampak semakin bingung.
"Kenapa kau menanggapinya berlebihan begitu Lucy?" Mayang berusaha menghentikan tawanya. "Kau tahu seperti apa suamiku kan, aku hanya khawatir dokter tidak sanggup menjawab semua pertanyaan suamiku tentang bayi di kandunganku ini. Dia pasti akan bertanya dari hal yang terkecil hingga hal besar yang kemungkinan akan terjadi."
"Astaga ,,," Lucy menghela napas lega. "Kalian membuatku cemas saja. Kupikir apa yang terjadi dengan Brian hingga membuat kalian begitu khawatir."
__ADS_1
"Mari Tuan Malik, kami akan mengantar anda beserta keluarga menuju ruang USG." Ajak lelaki paruh baya bernama Salman yang menjabat sebagai kepala rumah sakit itu dengan sopan. Sebab sejak datang tadi, mereka masih berdiri dan bercengkerama di lobi rumah sakit.
"Baik kalau begitu." Dengan lembut, Malik menghela Mayang supaya berjalan terlebih dulu saat wanita muda yang tengah hamil itu mendadak menunjukkan ekspresi wajah tegang. Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat seorang ibu akan melihat keadaan calon bayi didalam rahimya meski hanya melalui layar USG.
Melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit besar itu, Mayang yang berjalan beriringan dengan Lucy hanya terdiam, sementara pikirannya melanglang buana membayangkan bagaimana perkembangan calon bayinya. Sambil sesekali diusapnya lembut perutnya yang kini sedikit mununjukkan perubahan bentuk lebih menonjol itu.
Lucy yang menangkap ketegangan yang terpancar di wajah Mayang pun tersenyum, seolah memahami kegelisahan yang sepupunya itu rasakan saat ini. Segera ia menggerakkan tangannya meraih jemari sang sepupu ipar untuk memberikan dukungan. Ditautkannya jemarinya pada jemari dingin Mayang, agar wanita istri sepupunya itu merasa lebih tenang.
"Kenapa tegang begitu? Walaupun sebelumnya kandunganmu mengalami masalah, tapi aku yakin semakin bertambahnya usia, bayimu akan semakin kuat berpegangan di rahimmu. Bayimu pasti baik-baik saja." tutur Lucy penuh kelembutan.
Bibir Mayang langsung terurai dengan senyuman. Perhatian Lucy benar-benar membuatnya merasa tenang. Mungkin karena mereka sama-sama sedang hamil, sehingga Mayang merasa mereka memiliki kesamaan.
"Aku hanya merasa sedikit gugup saja Lucy. Kau tahu kan, keseharianku tidak di rumah sakit seperti dirimu. Aku yakin kau tidak segugup ini saat akan menjalani pemeriksaan karena sudah terbiasa berada di lingkungan rumah sakit bukan?"
Lucy terkekeh mendengar pengakuan Mayang. "Siapa yang bilang aku tidak gugup saat akan menjalani pemeriksaan, Mayang? Bagaimanapun juga aku ini tetap wanita, sama sepertimu juga. Terlebih lagi di kehamilan pertama, semua wanita pasti merasa gugup juga."
"Benarkah?" Mayang melebarkan mata.
"Hu'um." Lucy mengangguk yakin sebelum kemudian beetanya. "Apa setiap pagi kau mengalami mual dan muntah selama hamil ini?"
Mayang menggeleng cepat sembari berucap, "Tidak. Lalu bagaimana denganmu?" tanyanya kemudian penuh rasa ingin tahu.
"Kau beruntung Mayang. Kau tidak merasakan mual dan muntah seperti aku. Perutku bahkan tidak bisa menerima makanan apapun."
"Tapi kau masih bisa beraktifitas seperti biasa bukan?" hibur Mayang dengan senyuman yang terkembang sebelum kemudian ia merubah ekspresi wajahnya setengah kesal. "Sementara aku? Kerjaku hanya makan dan tidur saja Lucy, tak ada yang lain. Sampai-sampai pipiku tembam seperti ini." keluhnya sembari menepuk pipinya yang memang sekarang terlihat lebih berisi dari sebumnya.
Karena tingkah yang dilakukan Mayang itu, mau tidak mau membuat Lucy menjadi terpancing untuk memperhatikan wajah Mayang dengan seksama. Seketika iris coklatnya berbinar takjup saat menatap gadis yang membiarkan rambut panjangnya itu terurai begitu saja.
"Ah yang benar?!"
***
Suasana hening saat dokter Elma memulai pemeriksaan USG pada Mayang yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang pemeriksaan. Pakaian atasannya sengaja di buka dibagian perutnya saat dokter mengoleskan sejenis jel dingin di sana sebelum menempelkan alat USG di perutnya.
Ratih berdiri di sisi dekat kepala sang menantu. Jemari tangan keduanya saling bertaut, sementara pandangan Ratih menatap lekat ke arah layar besar yang menampilkan visualisasi dari hasil pemindaian USG itu sendiri.
Ekspresi bahagia terpampang nyata dari wajah-wajah penuh cinta semua yang ada di sana. Hasil pemeriksaan yang menyatakan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik-baik saja membuat semuanya riang gembira. Terlebih Ratih dan Malik yang lepas kontrol hingga tak sadar kedianya saling berpelukan karena saking bahagianya.
Saat proses pemeriksaan telah usai, Ratih membantu Mayang untuk bangun dari pembaringan. Setelah dokter menjelaskan semua anjuran serta pantangan kepada Mayang, tak lupa dokter Elma pun memberikan resep obat serta vitamin yang harus Mayang konsumsi setiap hari.
Tiba saatnya mereka semua pamit, namun wajah Mayang masih terlihat gelisah seolah sedang menahan sesuatu di hatinya. Namun tak ada yang menyadari akan hal itu, sebab Mayang selalu menyembunyikan dibalik senyumannya.
Tak tahan lagi, pada akhirnya Mayang berbisik dan meminta pada dokter Elma untuk berbicara empat mata dengannya saat mereka berada di lobi rumah sakit. Tentu saja hal itu membuat yang berada di sana menatap penasaran pada tingkah aneh Msyang itu. Namun Ratih beserta Malik memberi kesempatan pada Mayang untuk mengutarakan isi hatinya tanpa berniat mencampuri.
"Ada apa Nyonya Mayang? Apa ada yang masih belum anda fahami dari penjelasan saya tadi?" tanya dokter Elma saat dirinya dan Mayang hanya berdua di sudut lobi itu.
Tertunduk, kedua belah telapak tangan Mayang meremas tas pegangan tangannya saat menahan malu. Namun rasa penasarannya berhasil mengalahkan rasa malunya, terlebih baginya hal ini sangatlah penting untuk ia ketahui.
"Nyonya, anda baik-baik saja kan?" dokter Elma bertanya khawatir saat melihat wajah Mayang yang mendadak pucat pasi.
"Dokter," Mayang mengangkat pandangannya ragu sembari menggigit bibir bawahnya. Menatap dokter Elma yang sudah menunggunya untuk bicara, pada akhirnya Mayang pun buka suara. "A-apa saya dan suami sudah boleh berhubungan badan?" tanyanya dengan suara terbata.
__ADS_1
Seketika itu juga dokter Elma tersenyum lega. Ada sedikit rasa bersalah terlihat dari senyumannya, sebab ia terlupa mengenai penjelasan ini karena ada pihak lain yang berada di dalam ruangan saat dirinya memberikan penjelasan tadi.
"Apakah perut Nyonya masih terasa sakit akhir-akhir ini?" tanya Dokter Elma setengah memastikan.
"Tidak," jawab Mayang sembari menggeleng samar.
"Selama tidak sakit saat melalukannya, berarti itu boleh di lakukan. Namun jika sakit, sepertinya Nyonya dan suami perlu sedikit bersabar demi keamanan janin dalam kandungan, sebab trimester pertama adalah usia yang sangat rawan bagi janin di rahim. Dan jika sudah bisa melakukannya, sebaiknya Nyonya meminta suami untuk melakukannya dengan sangat hati-hati dan perlahan saja." Jelas dokter Elma pelan agar Mayang bisa memahaminya.
Dengan wajah memerah, gadis pemalu itu lantas mengangguk faham.
***
Duduk bertiga di ruang makan, Mayang, Malik dan Ratih tampak menikmati hidangan makan siang itu. Karena begitu jarangnya akhir-akhir ini mereka bertemu, ketiganya tak ingin melewatkan kebersamaan mereka begitu saja.
Saling bercerita dan bercengkerama di meja makan, tanpa sengaja pembahaan mereka sampai pada pernikahan dadakan yang dilakukan oleh Billy.
"Apa kau sudah pernah bertemu dengan gadis itu?" tanya Ratih yang keihatannya begitu penasaran dengan sosok misterius yang ia anggap sebagai menantu itu.
Menggelang samar, Mayang pun berucap heran. "Akhir-akhir ini Billy bahkan jarang menjemput putra Ibu seperti biasanya, Bu."
"Padahal Ibu sudah memintanya untuk mengenalkan istrinya itu pada Ibu, tapi sampai sekarang dia bahkan tidak menunjukkan jidat licinnya. Ibu kan jadi kesal." Keluh Ratih dengan mimik wajah cemberutnya.
"Sepertinya Billy butuh sedikit paksaan." celetuk Malik menyela.
Seketika manik mata Ratih berbinar penuh bahagia tatkala dirinya mendapatkan ide setelah mendengar perkataan suaminya. Wanita paruh baya itupun tersenyum sendiri sembari berangan-angan.
"Ibu," panggil Mayang saat melihat ada yang aneh dari senyuman mertuanya. "Ibu kok senyum-semyum sendiri?"
"Ibu sedang memikirkan sesuatu untuk me arik Billy pulang ke rumah Ibu, Sayang." Tuturnya sambil tersenyu.
***
Usai makan siang bersama, ketiganya lantas berpindah tempat dan melanjutkan perbincangan di ruang keluarga. Pada saat Ratih pergi ke dapur untuk mengambilkan Mayang buah, Malik seolah tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya pada menantunya.
"Mayang ,,, tolong jawab pertanyaan Ayah dengan jujur Nak. Apa kau benar-benar
menerima kerja sama dengan polisi mengenai kasus mavia yang menyeretmu menjadi saksi, Nak?" Menatap lekat pada menantunya, Malik berusaha memastikan.
Mayang yang sudah menduga hal ini akan terjadi cepat ataupun lambat, gadis yang mengikat rambutnya ekor kuda itu lantas mengangguk penuh keyakinan. "Benar Ayah, saya menerima ajakan kerja sama mereka."
Malik mendesah pelan. Ada rasa yang mengganjal di hatinya setelah mendengar pengakuan sang putri. Kekhawatiran yang begitu besar. Namun ia tak bisa menentangnya begitu saja, sebab hal ini adalah bagian dari tanggung jawabnya putrinya sebagai satu-satunya saksi kunci kasus ini, hingga mau tak mau Mayang harus menjalaninya sebagai warga negara yang baik.
"Lalu bagaimana dengan Brian?"
Seketika Mayang tertunduk getir. "Putra Ayah masih belum mengizinkannya, Ayah." jelas Mayang dengan berat.
Mendesah pelan, Malik mengusap puncak kepala Mayang sebagai bentuk restunya. Namun ia masih memilki tanggung jawab besar untuk memberi pengertian pada putra tunggalnya.
Menatap lekat manik menantunya dengan raut kesedihan, Malik lantas kembali bertanya berusaha menggali sedalam apa keyakinan putrinya. "Mayang, apa kau mengerti arti dari kerja sama ini? Apa kau faham kemana arah kerja sama ini?"
Mayang yang sudah akan membuka mulut untuk menjawab terpaksa menahannya, sebab di saat yang bersamaan Tatih muncul dengan nampan berisi irisan buah serta camilan di tangannya.
__ADS_1
Bersambung