
Mayang menutup pintu kamar setengah membanting nya.Ia menghempaskan tubuhnya di kasur empuk yang lebih dari sebulan ini menjadi teman malamnya, Penyangga tubuh nya dan dan tak pernah keberatan meski setiap hari ia tindih.
Menatap langit-langit kamar. Teringat kembali oleh kejadian yang terasa mencekam tadi. Nyawanya hampir saja melayang dua kali tapi dia masih bisa sesantuy ini. Wajar nggak, sih?!
Mayang membalikkan tubuh nya menjadi posisi telungkup dengan memeluk bantal.
Teringat lagi wajah tampan yang sebulan lebih ini semakin menghiasi hari-harinya.
Memberi warna-warni di hidup nya.
Mayang tak pernah takut menghadapi apapun asal bersamanya.Dia lah penyemangat hidup Mayang yang hakiki.Kejadian tadi semakin membuat Mayang semakin tergila-gila padanya.Semakin membuat Mayang ingin menggantungkan hidup padanya.Yang kayak gini bukan sih bucin tuh..
Mayang sudah sangat bahagia dan bersyukur meski hanya bisa melihat senyum nya saja tanpa memiliki hatinya.Lelaki itu berani bertaruh apapun untuk melindungi nya.
Tapi sampai kapan semua nya akan begini.Kau juga punya masa depan Mayang.Kau perlu menikah dan membangun rumah tangga dengan orang yang kau cintai! Begitu lah perang batin yang selalu terjadi setiap kali Mayang membayangkan tuan muda nya.
Disaat begini tiba-tiba Mayang rindu pada Weni,adiknya tercinta yang kadang juga suka nyebelin.Meraih ponsel dari saku jaketnya dan menekan sebuah nama dari kontak di ponselnya.Menyandarkan ponsel nya di bantal dengan posisi yang memperlihatkan wajahnya hingga ke bahu.
Tuut... tuut .. tuut..
Sambungan VC berdering.Tapi kok lama ngangkat nya.
"Kakak..."tiba-tiba muncul gambar cewek cantik dengan rambut panjang lurus tergerai kedepan dengan senyum sejuta watt nya.
"Kemana aja si,kok lama ngangkat nya?"Tanya Mayang mulai merengut."Eh kamu dimana si,ini kayak bukan dirumah!"Tanya Mayang curiga karena melihat pemandangan yang terlihat di belakang Weni.
"Iya emang,ini aku lagi memancing di pemancingan.Kakak masih ingat kan tempat nya?"
"Ahh nggak penting!Kakak mau curhat ni.."Dengan wajah sedih yang di dramatisasi.
"Jangan sekarang deh kak,lagi tanggung ni.."Sambil melirik yang di sebelah.Senyum-senyum.
"Kamu sama siapa?!"
"Ni aku sama Arka,,"Menggeser ponselnya memperlihatkan seseorang disampingnya.
"Hai kak."Sapa yang di sebelah,sambil senyum-senyum.
"Kalian mancing apa pacaran si!"Apa romantis pacaran di pemancingan.
"Pacaran sambil mancing itu seru tau kak..."Weni mulai pamer sama si jomblo."Eh aku dapat ikan gede lho,,ini..."Weni menunjukkan beberapa ekor ikan nila yang sedang meronta ingin melepaskan diri dari
jaring cinta kedua bocah bucin itu.Kasihan banget kamu ikan...
"Mau lihat dong,disitu banyak orang ngga,, kalian nggak mojok kan...??"Mayang penuh curiga.
"Ya enggak lah kak!"Sergah Mayang sambil berdiri.Lalu menggerakkan hp nya pelan memutar menunjukkan keadaan sekeliling yang tampak begitu ramai orang sedang memancing."Tuh.. banyak orang kan,,, aku nggak lagi mojok tau."
"Iya iya.."
"OMG!Honey bunny sweety!Astaghfirullah!" Teriak Weni begitu menggelegar dan layar ponsel Mayang memperlihatkan gambar yang semrawut entah di apain tuh hp membuat yang melihat terkejut setengah mati. Tanpa menghiraukan yang di seberang sana kebingungan karena lawan bicaranya hilang."Sayang kamu ngapain tiduran disitu si.."
"Tiduran gimana si sayang!"Suara Arka terdengar agak kesal."Kamu yang berdiri nya nggak bilang-bilang dulu,jadinya aku terjungkal kan..."Marah manja.
"Oh honey maaf nggak sengaja.."Weni menolong Arka untuk bangun."Eh hp aku mana?Hp aku mana Arka?!"
"Ye mana ku tahu!Kan yang pegang kamu.."
"Jatuh dimana ya..." Weni mencari-cari di rerumputan."Ah ketemu,,,"Weni mengambil ponsel nya dengan sangat hati-hati."Kakak masih disitu... maaf ya..."Weni melihat wajah malas Mayang dari layar ponsel nya.
"Kalian ini kenapa si.."
"Itu tadi Arka jatuh..."Sambil melirik yang disebelah lagi."Kita ngobrol nanti lagi ya kak.."
Mayang memutar kedua bola matanya jengah."iya iya!"Lalu sambungan terputus. "Mau curhat malah jadinya nonton drama!Dasar bucin."Gerutu Mayang sambil melempar ponselnya di ranjang."Mending kalau drama nya bagus,, lah yang ini malah bikin eneg.."Yang jomblo suka jadi sensi.
Di area pemancingan setelah memutus sambungan telfon,,
"Aku seneng lho kalau kamu romantis kaya tadi..."Arka terkekeh.
__ADS_1
"Kita romantis nya cuma didepan kak Mayang aja tau!"Jawab Weni ketus.
"Lah kenapa?"
"Biar kak Mayang iri."
"Jahat nya!Kamu ini adik durhaka tau nggak!"Maki Arka sambil merengut."Memang nya Kak Mayang suka sama aku??"
"Ih sorry ya,,kak Mayang nggak suka sama berondong!"Sergah Weni."Masa nih ya,, kak Mayang sampe sekarang tuh belum punya pacar juga!Aku kan jadi sedih..."Weni memanyunkan bibirnya.
"Nggak usah sedih sayang,, kan ada aku..."Arka tersenyum sambil mengelus punggung tangan Weni.
Plak!
Weni memukul tangan Arka."Kamu cari-cari kesempatan ya!Jangan pegang-pegang!Nggak boleh peluk,nggak mau cium!Kalau melanggar kita putus!"Ucap Weni dengan angkuh nya.
"Iya iya maaf..."Arka menghela nafas.Nasip-nasip nggak dapat apa-apa..
***********
"Gimana perkembangan nya?"Tanya Brian pada seseorang di seberang telfon.Diam mendengarkan."Sial!"Ucap Brian bersamaan dengan ponsel yang melayang ke udara.Tapi tak menimbulkan suara terjatuh.Malah terdengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat.Memaksa Brian untuk melihat siapa yang datang.
"Tuan marah sama saya!"Tanya Mayang ketus setelah berdiri tak jauh dari tempat Brian duduk di sofa.
"Siapa yang marah sama kamu?"Bantah Brian acuh.
"Terus kenapa tuan muda melempar hp ke wajah saya?!"Nada bicara Mayang terdengar meninggi.Sepertinya dia benar-benar marah.
"Benarkah?"Brian bergegas mendekat dan memeriksa wajah Mayang."Mana yang terluka?"
"Stop!"Mayang menepis tangan Brian."Apaan si,, nggak ada!"Mulai terlihat gusar.Menyesal telah berkata bohong."Lalu tuan marah-marah sama siapa?"
"Nggak ada."Brian melengos.
"Bohong ya.."Tuduh Mayang sambil menuding."Ketahuan tuh bohong nya.. "
"Tuan muda kelihatan jelek kalau lagi bohong.. dan kalau lagi marah,, tanduk nya keluar.."Mayang mendramatisasi bicaranya membuat Brian reflek memegang kepala nya.Mayang terpingkal dalam hati.
"Kamu itu yang bohong!"Ucap Brian dengan nada kesal lalu menjatuhkan diri di sofa."Berikan Hp ku."Ucap Brian dingin.Menadahkan tangan nya tanpa melihat lawan bicara.
"Tidak mau."Mayang menyembunyikan Hp Brian di balik tubuh nya."Tuan sudah membuangnya kan..."
"Berikan!"Brian menaikkan nada bicara nya."Jangan ganggu aku sedang marah sekarang."
"Tuan tidak boleh marah-marah seperti itu,,, nanti cepat tua lho..."
Brian beranjak dan berdiri."Berikan atau aku akan merebutnya darimu."Mengancam dengan sorot mata tajam.Membuat Mayang terpaksa menyerahkan nya.
Apa lelaki selalu bersikap seperti itu pada wanita?Kasar dan cenderung memaksa dengan mengancam?Apa tidak ada cara lain yang lebih halus?Dengan merayu mungkin... membujuk wanita dengan lemah lembut bukankah lebih baik... Mayang menggumam dalam hati.Kesal.
Tiba-tiba ponsel nya yang ia genggam bergetar,tanda panggilan masuk.Dari nyonya besar.Mayang berjalan menjauhi Brian yang sedang asik dengan ponsel nya untuk mengangkat telfon dari nyonya.
"Halo assalamualaikum nyonya..."Sapa Mayang ketika mengangkat telfon.Lalu diam dengan wajah antusias mendengarkan yang di seberang bicara.Lalu mimik wajah nya terlihat tersenyum.Dan sesaat kemudian berbicara dengan nada menyesal.Entah apa yang sedang di bicarakan dua wanita beda usia itu.
**********
"Bagaimana?"Tanya Malik sesaat setelah Ratih menutup sambungan telfon nya.
"Brian di rumah,jadi Mayang menolak ku jemput.Apa kau merasa,,mereka sudah seperti pasangan suami istri saja.Tapi kenapa Brian susah sekali untuk di paksa menikah."Nada bicara Ratih terdengar putus asa.Dia selalu khawatir dengan masa depan Putra tunggalnya.
"Jika kau yakin kau boleh campur tangan untuk itu.Kau wanita cerdas,,, lakukanlah untuk putra mu.Untuk kelangsungan penerus kita."Malik membelai lembut punggung tangan istrinya sebelum mereka saling menggenggam dengan erat.Dengan senyum penuh arti.
"Aku melihat ada cinta di mata Brian."Ratih bicara lagi dengan pandangan mata menerawang."Kau lihat sendiri kan,,, gadis itu mampu merubah penampilan Brian kembali pada dirinya yang sebenarnya.Aku yakin gadis itu bisa meluluhkan hati batu Brian dengan cintanya."Ratih tersenyum bahagia.Ada secercah harapan yang membuat semangatnya kembali bergejolak.Dia juga sangat bahagia memiliki suami yang setia mendampinginya.Yang selalu mendukungnya.
"Percayalah.... tak lama lagi kita akan menimang cucu dari Brian."Malik bicara penuh keyakinan.Lelaki ini selalu berfikir positif dan optimis.Dia juga tak mudah goyah.Mungkin itu adalah salah satu kunci sukses nya.
Kedua pasangan paruh baya itu saling merangkul memberi semangat.Semangat yang sempat padam itu kini menyala kembali dan semakin bergejolak.Harapan serta keinginan mereka untuk putranya yang selama ini selalu mereka panjatkan dalam doa yang tak pernah putus.Meski rasa putus asa itu terkadang tiba-tiba saja menghampiri tapi mereka tak pernah merasa lelah.
************
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba pergi?"Suara terdengar dari belakang Mayang. Ternyata tuan muda menyusul.
"Tidak kenapa-kenapa.."Jawab Mayang tanpa menoleh.
"Apa kau sedang marah?!"Mencoba menelisik.
"Bukan nya anda yang selalu marah-marah?"Masih belum mau melihat wajah lawan bicaranya.
Hey apa dia tidak tahu aku begini karena dia!Nyawanya hampir saja melayang tapi masih bisa sok -sok ngambek begitu ya!
"Kemari lah duduk bersamaku."Ucap Brian dengan suara datar lalu kembali duduk di sofa."Cepat duduk!"Mengeluarkan auman harimau karena Mayang belum juga memunculkan batang hidung nya.
"Baik tuan..."Mayang tergopoh sambil memasang muka cemberut.Lalu duduk di pojok kursi.
"Sini mendekat."Perintah Brian sambil menepuk sofa kosong disampingnya.
"Tidak mau,,,"Bantah Mayang."Anda masih marah.Saya takut anda membanting saya nanti."
Brian tergelak."Aku tidak marah... kemarilah. Ada yang ingin ku tanyakan padamu."
Meski sedikit takut,tapi Mayang akhirnya beringsut mendekat.Dilirik nya lelaki yang masih menatapnya dengan lekat,membuat jantung nya semakin berdebar.Membuat Mayang jadi tak tenang.
"Sini lebih dekat lagi.."Brian berbicara pelan agar gadis di sampingnya ini tak merasa takut.
"Disini saja ya tuan.."Tawar Mayang.
Maaf tuan,saya tidak sanggup kalau terlalu dekat dengan anda..
"Baiklah..."Brian akhirnya menyerah."Apa kau siap menjawab pertanyaanku?"Nada Bicara Brian terdengar serius sekali.
Ya tuhan.. apa yang ingin dia tanyakan padaku?Aku harus jawab apa ya... iya atu tidak,,, Fikiran Mayang ngelantur kemana-mana.Jangan ngarep kamu Mayang.
"Kau masih ingat kejadian dikafe tadi?"Brian bertanya dengan tatapan lekat seperti menginterogasi.Membuat Mayang tak bisa membalas tatapan nya.
"Tentu saja saya ingat tuan,,, saya kan tidak amnesia.."
"Lalu bagaimana kau bisa tak sadarkan diri?"
Eh dia benar-benar sedang menginterogasi ku.
"Waktu saya berjalan ke toilet,saya tidak melihat ada orang disekitar nya.Tapi begitu saya akan membuka kran untuk mencuci tangan saya di wastafel,saya melihat ada orang dibelakang saya dari cermin.Saya sudah berusaha melawan saat dia mencekik leher saya tuan..."
"Dia mencekik mu!"Brian memotong cerita Mayang.Wajah nya yang langsung memerah karena marah.
"Benar tuan... Dia menekan saya ke dinding lalu mencekik leher saya.Saya berusaha melepas topi dan masker yang dipakai nya tapi tak berhasil.Karena cengkeraman nya yang kuat membuat saya susah bernafas."
Mayang menghentikan cerita nya sebentar, melirik Brian yang masih tampak antusias mendengar ceritanya membuat nya meneruskan nya lagi.
"Saya menyerang alat vital nya untuk melepasakan diri.Sebenarnya berhasil karena dia kesakitan dan cengkeraman tangan nya terlepas.Saya tidak bisa langsung lari karena dia menguci pintu dari dalam.Saat saya mencoba membuka kuncinya,saya merasa di bekap dari belakang dan saya tidak ingat apa-apa lagi tuan... "Mayang mengakhiri cerita nya.
Mayang memberanikan diri menatap Brian.Terlihat sekali guratan sesal diwajah nya.Dia terlihat sedang mengendalikan amarah nya.
Brian masih menatap Mayang lekat.Gadis ini terlihat tenang saat menceritakan pengalamannya.Tak terlihat rasa takut sedikit pun diwajah nya.Apa dia seberani itu?
"Maaf..."Ucap nya singkat namun terlihat sangat tulus.Membuat Mayang merasa tak enak hati.
"Maaf untuk apa tuan..."Tanya Mayang dengan tersenyum.
"Karena aku membiarkan mu melewati nya sendirian.Seharusnya aku mengantarmu ke toilet tadi.Maaf karena aku telah membahayakan nyawa mu..." Terlihat sekali sesal di wajah nya.Ia belum bisa menepati janjinya untuk menyeret orang itu ke hadapan Mayang.
"Tuan... anda tak perlu merasa bersalah begitu..."Mayang tersenyum lebar meyakinkan diri nya baik-baik saja."Anda lihat kan saya baik-baik saja.."Memasang wajah imut nya.
"Seharus nya aku bisa menghajar nya saat itu juga!"Tangan Brian mulai mengepal dan Mayang menyadari itu.
"Tuan harus bisa mengendalikan diri tuan..."Mayang menenangkan Brian dengan membelai lembut jemari Brian yang terkepal agar amarah nya mereda."Apa tuan mau saya ajari cara mengendalikan emosi?Agar tuan lebih bisa bersabar..."
Brian melirik Mayang dengan penuh selidik. Apalagi yang sedang kau rencanakan Mayang..?
Bersambung
__ADS_1