
Brian dan Mayang sudah duduk di sebuah meja makan besar yang penuh dengan hidangan lezat bersama dengan panitia pelaksana beserta para dewan guru dan para undangan yang juga pejabat tinggi negara dan daerah tersebut.
Sambutan hangat dari mereka membuat keduanya merasa nyaman berada di tengah-tengah suasana makan bersama yang meriah dengan kebersamaan tersebut.
Usai melewati jamuan makan, keduanya pun mengiyakan ajakan nostalgia singkat dengan berbincang-bincang bersama para guru yang dulu telah memberikan ilmu dengan suka rela kepada Brian. Meski tak seluruhnya Brian mengenalnya karena banyak pula guru yang telah berganti dengan guru baru.
"Kami semua disini benar-benar berterimakasih atas kebaikan Brian yang dengan suka rela selalu menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk kepentingan sekolah ini. Semoga kalian berdua selalu mendapatkan berkah yang melimpah dari Tuhan yang maha esa." Bu Rani yang berada di seberang Mayang dan Brian berucap tulus dengan disertai doa melalui ucapannya.
"Bu Rani, bagi saya itu tidak ada apa-apanya dengan keouasan yang saya rasakan saat ini, jadi saya mohon untuk tidak mengungkit lagi mengenai hal itu." Brian berucap dengan sopan, senyumnya terlihat hangat saat menyampaikan hal itu pada kepala sekolah yang sejak dulu selalu membela dan mendukungnya.
Brian memang tak ingin segala kebaikannya selalu di ungkit dan menjadi bahan perbincangan. Karena sejatinya harta yang di pergunakan dengan ikhlas untuk kebaikan itu tak akan habis seberapapun besar dan jumlahnya. Karena Allah Swt pasti akan membalasnya berkali lipat dari yang kita keluarkan.
"Mayang," Rani menggeser pandangannya pada Mayang yang sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka.
"Iya Bu," sembari tersenyum, gadis berparas ayu itu pun mengangguk sopan. Lantas menoleh sekilas pada sang suami yang sejak tadi menggenggam lembut jemari tangannya seolah tak ingin melepasnya lagi.
"Kau sangat cantik. Kau bahkan tak jauh berubah dengan sepuluh tahun lalu. Kau tahu, sepuluh tahun lalu setelah kepergian rombongan kalian, Brian lah yang mati-matian menegakkan keadilan untukmu. Dengan usahanya yang gigih dan gagah berani, Brian berhasil mengungkap semuanya sehingga kami bisa menghukum semua yang terlibat dalam hal ini. Izinkan Ibu sebagai kepala sekolah dan mewakili sekolah ini menyampaikan permintaan maaf kami yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan yang terjadi sepuluh tahun lalu." Rani tampak berbicara dengan tulus dan dengan kerendahan hatinya.
Hal itu tentu saja membuat Mayang merasa tak enak hati. Sebab sesungguhnya ia sudah lama sekali melupakan kejadian itu tanpa menyisakan rasa dendam atas ketidak nyamanan tersebut.
"Ibu, sungguh saya sudah melupakan ketidak nyamanan itu sejak sepuluh tahun lalu. Saya sama sekali tidak marah ataupun dendam terhadap mereka. Justru saya sangat berterima kasih, berkat kekadian itu lah saya di pertemukan dengan suami yang sangat mencintai saya melebihi dirinya sendiri." Mayang mengalihkan pandangan terhadap Brian. "Justru saya sangat terkejut saat mendengar ternyata suami saya berupaya mencarikan keadilan untuk saya." dengan mata yang berkaca-kaca Mayang tersenyum dengan sangat tulus pada Brian. Tak dapat menutupi rasa harunya ia pun hampir-hampir menitikkan air mata. Sungguh sang suami benar-benar menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang bahkan sebelum mereka saling mengenal.
Entah pengorbanan serta kebaikan apa lagi yang telah kau lakukan di belakang ku Sayang, ternyata cinta mu sangat lah tulus terhadap ku. Mayang menggumam haru dalam hati.
"Terima kasih untuk semuanya Sayang," ucap Mayang dengan kesungguhan hati. Sedang Brian hanya tersenyum tulus dengan anggukan tipis sembari mengeratkan petautan tangan mereka.
* * *
__ADS_1
Alex menyeret kakinya melangkah dengan gontai menuju sebuah sofa panjang. Dengan lemah ia merebahkan tubuhnya pada sofa itu, meneguk lagi minuman keras bernama wiski itu dari botolnya hingga tandas sampai ke tetes terakhir. Lantas melepaskan botol itu hingga jatuh menimpa lantai dan menimbulkan suara nyaring.
Dengan berbantalkan Lengan sofa yang empuk untuk menyangga kepala, Alex menghela nafasnya. Menatap langit-langit ruangan dengan perasaan hampa serta angan yang melayang.
Meski dirinya sudah mulai merasa mabuk oleh karena minuman beralkohol itu, namun otaknya masih cukup waras untuk mengingat masa lalunya yang terasa perih.
Layaknya sebuah luka yang kasat mata, luka itu masih membekas meski telah mengering dan menimbulkan sebuah kecacatan tanpa bisa dihilangkan. begitu pula denganluka di hati yang belum sepenuhnya kering tentu saja masih masih menyisakan rasa perih meski nampak dari luar wajah menampilkan senyum seolah baik-baik saja..
Namun saat luka yang mulai mengering itu kembali tergores, justru menimbulkan rasa sakit yang teramat melebihi sakit luka yang sebelumnya.
Senyuman getir muncul dari bibirnya manakala pikiran Alex kembali melompat ke masa lalu. Hujan rintik serta dinginnya hembusan angin menjadi saksi bisu awal mula pertemuannya dengan gadis cantik bernama Magda Lena.
Alex yang saat itu sedang bejalan dengan santai pun bergegas berlari mencari tempat bernaung saat air hujan mulai turun. Tanpa berpikir panjang serta di tambah pula desakan hujan yang mulai deras, membuat Alex tak mempunyai pilihan lain untuk bernaung selain pada teras sebuah bangunan pos scurity yang berukuran kecil.
Tanpa sengaja sesosok tubuh ramping seorang wanita dengan pakaian setengah basah menabrak Alex hingga lelaki itu bergeser karenanya. Gadis cantik dengan wajah tirus dan bola mata indah berwarna hitam itu tampaknya juga sedang mencari tempat bernaung. Keduanya sama-sama terpana untuk beberapa saat ketika pandangan mereka saling bertemu.
"Maaf." Ucapan Alex yang membuka percakapan terdengar lirih, tenggelam oleh suara hujan yang bergemuruh namun dapat di dengar jelas oleh Lena.
"Tak perlu merebut, kita bisa bernaung bersama-sama." sembari tersenyum, Alex yang memanglah tampan terlihat semakin keren saat ia mengusap rambutnya yang basah dan mengibaskannya hingga menimbulkan percikan air dari sana. Sembari menelan slavinanya, Lena terpaku menatap lelaki disampingnya.
"Kenalkan namaku Magda Lena." sembari mengulurkan tangannya gadis itu mengulas senyum. Mata yang berbinar semakin menambah kecantikannya, lantas lelaki mana yang mampu menolaknya begitu saja.
"Aku Alex." dengan cepat Alex menyambut uluran tangan itu. "Senang berkenalan dengan mu."
"Aku juga." sembari tersipu gadis itu mengulum senyum nya.
Hujan yang semakin deras membuat tubuh keduanya saling berhimpitan. Mencari kehangatan diantara dinginnya hembusan angin serta tempias air hujan yang membasahi keduanya.
__ADS_1
Alex dengan jiwa pelindungnya merelakan dirinya kebasahan dengan menjadikan dirinya tameng untuk melindungi tubuh Lena dari terpaan air hujan.
Saling melempar senyum, keduanya menjalani awal pertemuan yang indah dan manis. Mengukir cinta dengan pahatan rindu di hati, hingga keduanya memutuskan bersama menjalin kasih setelah beberapa bulan menjalin kedekatan.
Hari itu, hari yang menegangkan bagi Alex tatkala dirinya dengan sikap berani berusaha menyatakan perasaan cintanya pada Lena. Dengan pakaian rapi ia memberanikan diri mengajak Lena makan malam di sebuah restoran mewah. Alex sudah mengobservasi satu meja VIP untuk kencan mereka malam itu.
Kejutan demi kejutan pun berhasil membuat Lena terperangah. Dan di puncak kejuatannya Alex yang dengan sikap gentle nya menekuk satu lutut bertumpu pada lantai di hasapan Lena dengan buket bunga indah di tangannya.
"Maukah kau menjadi kekasih ku?" dengan wajah memohon Alex berusaha mengutarakan isi hatinya. "Ku mohon jangan kau tolak dan membuat hatiku hancur. Aku akan berusaha membuat mu bahagia dengan sepenuh hati dan jiwa ku."
Lena yang seperti sudah tau hal ini akan terjadi tampak berbinar bahagia menatap kesungguhan Alex. Sehingga tak butuh waktu lama ia pun menerima pernyataan cinta lelaki itu dengan senang hati.
"Aku bersedia menjadi kekasih mu." sembari tersenyum Lena menerima buket bunga itu dengan suka cita. "Bangunlah Alex, kau tak perlu melakukan hal ini." ucap Lena dengan nada memohon.
"Apa benar yang ku dengar ini Lena? Aku tidak sedang bermimpi kan?" Alex bertanya seolah tak percaya.
"Tidak Alex, kau tidak sedang bermimpi." Lena mencoba meyakinkan dengan membelai wajah lelaki yang masih tampak terperangah itu dengan lembut.
"Terima kasih Lena, aku berjanji akan membahagiakan mu sayang. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu." sembari berteriak, Alex membungkuk dan merengkuh paha dan mengangkat wanita yang kini telah menjadi kekasihnya itu dan membawanya berputar-putar sebagai ungkapan kebahagiaannya.
"Alex turunkan aku! Aku takut jatuh ...!" Lena berteriak ketakutan dibalik tawa gembiranya. Alex yang begitu gembira mengabaikan rengekan kekasihnya itu hingga dirinya merasa puas, dan kemudian dengan perlahan ia menurunkan tubuh mungil itu dengan perlahan. Keduanya saling melempar senyuman sebelum hanyut dalam pelukan nan hangat.
Bersambung
_______________________________
Hai readers tercinta, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Terjerat cinta sang perawat
__ADS_1
Dan berikan juga dukungan kalian ya
Terimakasih 🙏🙏🙏