Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Amnesia


__ADS_3

Duduk berseberangan dengan Boy rupanya sedikit membuat sikap Milly terlihat kalem dan femini. Cara duduk dan pun terlihat elegan. Senyumannya pun lebih anggun dan mempesona. Dan bahasa tubuhnya terlihat santai dan berkelas.


Duduk dengan satu kaki memangku kaki lainnya, wajah Milly masih tertunduk, menatap gelas minum miliknya yang ia aduk-aduk dengan perlahan. Sambil sesekali meneguknya menggunakan sedotan.


"Mill, kok diam aja," suara Boy membuat Milly seketika mengangkat pandangannya. "Ngomong dong ,,, kenapa diam saja."


"Hehe, nggak tau mau ngomong apa." Tersenyum rikuh, Milly kembali menunduk dan mengaduk minumannya. Berusaha menyembunyikan rasa canggung yang kental sebab memang telah lama mereka tak berjumpa.


"Mill, masih ingat nggak waktu kita jadian saat SMP dulu?" tanya Boy yang terlihat mencari-cari topik pembicaraan, berusaha mencairkan suasana.


Milly yang tengah menunduk pun seketika mendongak, menatap ria di hadapannya dengan bola mata yang melebar sempurna. Astaga, dia masih ingat juga kalau aku ini mantan pacarnya. Padahal sudah berapa tahun saat itu terjadi. Aaaa ... aku jadi terharu.


"Ma-masih." Milly menjawab dengan suara terbata.


"Maaf dulu udah mutusin kamu, ya." ucap Boy dengan nada menyesal.


"Ah tidak apa ,,, namanya juga cinta monyet ya kan ,,,." Balas Milly sambil tertawa kikuk sambil menepuk lengan Boy di atas meja yang jemarinya saling bertaut. "Aku saja sudah melupakannya kok. Santuy lah ...." Terangnya dengan penuh keyakinan, lalu kembsli tersenyum simpul dengan gaya sok cantik. Ya-walaupun memang benar dia itu gadis yang cantik.


"Semudah itu kamu ngelupain kenangan kita, Mill? Walaupun sejak saat itu hingga sekarang sudah berjalan sekian tahun, tapi sedikit pun aku nggak pernah lupa, Mill. Aku tetap ingat kamu. Ingat seberapa besar rasa bersalah aku karena telah mengkhianatimu."


Milly terpaku menatap Boy yang tengah menatapnya dengan rasa bersalah. Tak tahu harus berkata apa sebab dia memang benar-benar telah melupakan kenangan itu. Walaupun saat SMP dulu Boy pernah membuatnya terluka dengan memutuskannya secara sepihak dan memilih menjalin kasih dengan sahabatnya sendiri. Ah Itu memang benar-benar sakit. Di tikung sahabatnya sendiri. Namun hal itu tak lantas membuatnya terpuruk karena patah hati. Bahkan hari ini Milly ingin tertawa geli karena telah mengingatnya kembali.


"Kamu percaya nggak, kalau sampai sekarang aku masih sendiri." tutur Boy dengan wajah begitu meyakinkan.

__ADS_1


Milly tersenyum malu sambil menunduk sebelum kemudian berucap, "Sama."


"Benarkah? Gadis secantik kamu masih sendiri?" Boy bertanya dengan nada tak percaya. lelaki dengan gaya rambut undercut itu bahkan sampai-sampai mengenggam jemari Milly demi untuk meyakinkan kebenaran gadis itu.


"Yang benar masih sendiri???"


Milly menautkan alis ketika mendengar suara familiar yang menyapa gendang telinganya. Suara Boy kok berubah, ya? Apa karena dia grogi atau aku yang gemetaran? Jadi suaranya kedengaran oleng? Agak berat dan lebih merdu si. Kayak pernah dengar, tapi di mana?


Sesaat kemudian terdengar suara batuk yang terdengar seperti dibuat-buat dari sisi kanan meja mereka. Seketika Milly menoleh ke arahnya. Dan nampak seorang lelaki sedang duduk sambil membaca koran dengan posisi membelakanginya. Eh tunggu, baca koran kok posisinya terbalik. Orangnya juga, kaya pernah lihat. Tapi di mana ya?


"Mill, kok diam?" Boy bertanya sambil mengguncang jemari lentik milik Milly. "Kau benar-benar belum ada yang memiliki?" tanyanya kemudian dengan wajah seolah menuntut kepastian.


Sambil malu-malu Milly menganggukkan kepalanya. Boy memang telah banyak berubah sekarang. Dulu dia masih kecil dan agak sedikit dekil. Tapi lihatlah tingginya sekarang. Dulu dia juga masih bocah dan cenderung kekanakan, tapi lihatlah kedewasaannya sekarang. Kegantengannya bahkan bertambah seratus kali lipat. Tentu saja Milly merasa berbunga-bunga begitu tau jika Boy belum menikah juga.


"Jadi kamu belum menikah, Mill?" tanya Boy begitu penasaran.


Sambil tersenyum malu, Milly menjawab, "Belum. Dan kamu?" Milly balik bertanya.


"Sama belum juga, berarti kita jodoh ya ...!" ucap Boy begitu bahagia sampai-sampai tawanya lepas saking senangnya. Namun di saat yang bersamaan terdengar juga tawa yang lain dari arah sisi kanan meja mereka. Orang itu lantas terbatuk-batuk seperti disengaja.


Milly yang keheranan segera menatap ke arahnya. "Pak," tegurnya. "Kalau batuk minum obat dong, ngapain baca koran posisi kebalik gitu?" Ucapnya dengan nada setengah kesal.


Lelaki dengan stelan jas berwarna hitam itu seketika menoleh ke arahnya. Dengan gerakan santai saat menaikkan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya, ia menampakkan sorot matanya yang tengah menyalang tajam ke arah Milly, sementara bibir tipisnya menunjukkan seringai penuh ancaman.

__ADS_1


OMG ,,, astaga-astsga, rasanya aku ingin pingsan. Bagaimana bisa dia ada di sini juga ...! Habislah aku .... batin Milly


Seketika Milly membelalakkan mata penuh keterkejutan. Menatap lelaki itu sambil menelan salivanya berat. Jantungnya berdegup kencang, sementara wajahnya merah padam. Merasa malu saat tertangkap basah oleh sang suami saya sedang saling merayu.


"Eh Bapak," untuk mengusir rasa malu, Milly pun terpaksa menegurnya. "Bapak di sini juga?" tanyanya pada lelaki yang hampir seminggu ini menjadi suami sirinya.


"Iya ,,," jawab Billy dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Lantas memutar tubuh hingga tepat berhadapan dengan istrinya. "Ngomong-ngomong Mbak masih singgel ya?" tanyanya kemudian dengan nada kental akan sindiran.


"I-iya ..." ringis Milly sambil menggigit bibir bawahnya. "Tapi itu seminggu yang lalu kok Pak, beneran deh. Suer ...." Imbuhnya sambil mengacungkan dua jarinya dengan mantap.


Boy yang semula hanya diam dan mengamati dengan ekspresi bingung tingkah dua orang berbeda jender itu, pada akhirnya tak bisa menahan diri untuk melontarkan pertanyaan.


"Sebentar-sebentar, ini sebenarnya ada apa ini?" tanyanya dengan nada penasaran sambil menatap Milly dan Billy bergantian menuntut penjelasan.


Billy dengan pesonanya yang tetap bersikap tenang dan santai, lantas tersenyum dan menatap Milly dengan ekor matanya dengan penuh tuntutan, seolah tengah meminta pada sang istri untuk meluruskan perkara yang melibatkan tiga manusia dan memicu kesalah pahaman.


Menatap Billy dengan pandangan yang mengiba, Milly menggelengkan kepala, seolah sedang meminta Billy untuk meralat ucapannya. Namun Billy dengan sikap teguhnya itu, yang kemudian secara terang-terangan menolak keinginan istrinya. Lelaki berkulit putih itu bahkan melebarkan matanya seolah menuntut pertanggung jawaban. Membuat Milly hanya bisa mendesah pasrah, dan terpaksa mengikuti kemauan suaminya.


Beringsut dari duduknya dan lebih mendekat ke arah meja, Milly tersenyum kecut saat beradu tatap dengan Boy, sang mantan terindah. "Em ,,, gini Boy," gadis bersurai panjang mulai berbicara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya aku udah ni ... kah.... Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu ,,, suer ...." Milly mengacungkan dua jarinya sebelum kemudian melanjutkan bicaranya. "Kamu ingat kan, dulu waktu SMP kepalaku pernah kepentok bola? Nah, sampai sekarang aku kadang-kadang masih suka amnesia. Makanya aku nggak ingat kalau seminggu yang lalu aku udah nikah, dan ... ini suamiku ...." terang Milly dengan wajah memerah menahan malu, sambil tangannya menunjuk Billy dengan ragu saat mengakui lelaki itu sebagai suaminya.


Sambil memalingkan wajahnya, Milly merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba lupa jika dirinya sudahlah berkeluarga. Menatap mantan terindah yang sudah berubah wah, membuatnya lupa jika dirinya sudah menikah. Meski hanya pernikahan siri, tapi pernikahan tetap saja pernikahan.


Sementara Boy hanya bisa menelan kekalahan sebelum berperang, dan menikmati hampanya hati. Melihat sosok berkuasa di hadapannya sudah pasti membuat siapapun mundur dan berbalik arah. Terlebih dengan status pernikahan mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2