
"Yup, aku ingin kau memakainya." jawab Brian dengan percaya diri.
"Untuk apa? Kau tidak berencana menyekolahkan ku lagi kan Sayang?!" tanya Mayang setengah protes.
"Bukan hanya kau, tapi kita." bisik Brian nakal sembari mengedipkan matanya. Tangannya pun bergerak membuka paper bag yang dia pegang dan menunjukkan isi nya pada sang istri.
Mayang yang tampak penasaranpun segera melongok dan mencari tahu isi di dalamnya. Seketika mimik wajah gadis itu pun tampak terkejut, lalau pandangannya pun terangkat dan menatap sang suami dengan penuh tanda tanya.
"Sayang apa yang sedang kau rencanakan? Kenapa kau juga menyiapkan seragam SMA untuk mu juga?"
"Sudah ku katakan aku ingin mengajak mu kencan. Tapi ala - ala anak SMP dan SMA Sayang, tak apa kan?" Brian mencoba membujuk.
Di letakkannya paper bag itu begitu saja, kemudian tangannya bergerak meraih tubuh sang istri yang masih tampak bingung itu dan membawa nya kedalam pelukan.
"Sayang, aku ingin mengganti momen kita yang telah hilang. Aku ingin mengulang kembali masa - masa indah awal pertemuan kita yang seharusnya kita alami dulu. Jadi aku ingin kau kembali menjadi gadis SMP yang imut, lucu dan menggemaskan. Dan aku menjadi cowok SMA yang cool dan keren. Bagaimana Sayang?"
"Lalu kita akan kemana dengan pakaian ini?" tanya Mayang sembari mendongak menatap sang suami.
"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat." Brian menjawab cepat. "Aku ingat dulu rambut mu panjang terurai. Memakai poni dan dua kuncir kecil di atas sini."
Brian menyentuh dua titik sisi kiri dan kanan atas kepala Mayang untuk mengisyaratkan bagian yang ia maksud. Kemudian kembali mendekap sang istri dengan senyuman penuh angan.
"Kau tahu, kau sangat menggemaskan waktu itu. Aku ingin kau berdandan seperti itu lagi Sayang." Pinta Brian dengan nada menuntut.
"Tapi Sayang, aku tidak punya lagi, jadi lupakan saja ya. Biarkan aku mengikat rambutku satu saja di atas sini." Mayang menyentuh belakang kepalanya. "Seperti ekor kuda Sayang."
"Tidak mau. Itu terlalu dewasa seperti anak SMA. Aku ingin kau lucu dan menggemaskan seperti anak SMP titik!" Brian berucap dengan penuh penekanan. Ia tak ingin mendapatkan penolakan untuk ini.
"Jadi kau ingin aku terlihat seperti bocah?" tanya Mayang lagi untuk meyakinkan dirinya. "Sayang, aku sudah terlalu tua, itu akan membuatku terlihat konyol nanti," ucap Mayang dengan nada memohon.
"Tidak, kau masih terlihat imut kok. Aku juga sudah siapkan kuncir rambut kecil untukmu."
"Hah!!!"
* * *
"Apa bapak jadi menghadiri acara itu Pak Alex?" Seorang wanita muda yang menjabat sebagai sekretaris bertanya pada seseorang yang tengah duduk bersandar di kursi kerjanya.
"Tentu saja aku akan menghadirinya." Alex menjawab dengan penuh keyakinan di iringi seringai licik dari sudut bibirnya. "Siapkan semuanya untuk nanti. Aku ingin kemunculan ku sempurna di mata semua orang. Dan yang paling penting Brian akan sangat terkejut dengan kehadiran ku yang tiba - tiba. Dengan donasi yang ku berikan melebihi nominal yang dia berikan, itu pasti akan membuatnya berang." Desis Alex dengan seringai lebar di bibirnya.
Sesaat kemudian tawanya menggelegar menggema memenuhi ruang kerjanya yang kedap suara. Kilatan penuh kebencian pun tampak saat dirinya menyebutkan nama Brian dari bibirnya, seolah ia telah menunggu hari ini tiba sejak sekian lama.
* * *
Mayang hanya bisa pasrah saat harus mengikuti keinginan sang suami yang menurutnya sangat aneh itu. Kini ia sedang berdiri di halaman rumah. Sesuai permintaan Brian untuk menunggunya selagi Brian mengambil motor di garasi.
Mayang memperhatikan dirinya sendiri yang benar - benar mirip dengan dirinya sepuluh tahun lalu. Seragam SMP lengkap dengan sepatu sekolah berwarna hitam serta kaus kaki berwarna putih. Tak ketinggalan juga sebuah tas mungil tampak di gendong di punggung Mayang.
Mayang pun tak habis pikir, entah dari mana Brian mendapatkan semua barang - barang itu singkat bahkan tanpa perlu keluar rumah. Bahkan Mayang sendiri pun tak tahu kapan suaminya itu menginstruksikan ini pada anak buahnya.
Mayang pun terlihat menyunggingkan senyum saat motor yang Brian kendarai tampak mendekat menghampiri dirinya. Ditatapnya sang suami dengan penuh kekaguman. Lelaki itu pun masih terlihat seperti anak SMA seperti saat pertama mereka bertemu.
"Hai cewek, mau kemana ni?" Brian pura - pura sembari tersenyum begitu motornya berhenti tepat di depan Mayang.
"Kakak nggak lihat saya sudah pakai seragam gini? Ya mau sekolah lah!"
"Kakak antar yuk."
"Nggak usah kak, makasih. Saya naik angkot saja."
"Naik angkot panas tahu, berjubel desak - desakan lagi. Mending ikut kakak, naik motor, nggak desak - desakan. Anginnya semilir lagi. Buruan adek ...! Jangan lama - lama. Keburu panas ini."
Mayang pun tersenyum sembari mencubit gemas lengan suaminya itu sehingga membuat Brian meringis kesakitan. Kemudian tangannya pun bergerak menerima helm yang disodorkan Brian.
__ADS_1
"Berani - beraninya ya anak SMP nyubit anak SMA!" Decak Brian sembari melirik pada istrinya yang tengah mengenakan helm. "Awas nanti ya, bakal ku bawa kau terbang." ocehnya lagi sembari tersenyum.
"Aku cubit lagi kalau sampai ngebut bawa motornya!" ancam Mayang sembari melotot ke arah Brian. Sedang yang pelotototi hanya menyeringai puas.
"Buruan naik adek, entar kita telat ...,"
"Iya - iya." Jawab Mayang kemudian berusaha naik di boncengan motor balap Brian dengan rok mini yang ia kenakan.
"Susah ya?" Tanya Brian sembari melirik sang istri terlihat kesusahan.
"Iya dikit." Jawab Mayang sembari cemberut. "Sayang memang kita mau kemana?" tanya Mayang kemudian setelah ia duduk dengan posisi nyaman sembari memeluk sang suami.
"Rahasia." Jawab Brian dengan seringai liciknya.
"Awas kalau sampai bawa aku ke tempat yang aneh - aneh!" ancam Mayang dengan nada kesal. Namun sepertinya tak di gubris oleh Brian. Sebab lelaki itu hanya tersenyum sembari menyalakan kembali mesin motornya.
Motor beserta dua penumpangnya itu telah meninggalkan rumah diiringi tatapan heran bercampur bahagia para pelayan yang tampak melepas keberangkatan mereka.
* * *
Mayang berdecak kagum dan menatap ke sekeliling dengan rasa tak percaya saat Brian benar - benar membawanya ke sekolah tempat Brian dulu menimba ilmu, dan juga dimana pertama kali mereka bertemu.
Lagi - lagi ia di buat terharu oleh suami yang selalu membuatnya di banjiri airmata bahagia karena selalu di hujani cinta yang begitu melimpah dari nya.
"Aku pengen kita nostalgia di sini." ucap Brian yang tampak tersenyum penuh bahagia sembari mendekap pundak sang istri. "Kamu suka?"
Mayang mengangguk cepat dengan penuh rasa bahagia. "Aku suka." jawab nya sembari tersenyum. Namun seketika mimik wajahnya pun terlihat terlihat cemas. Ia pun menggigit bibir bawahnya sembari menatap Brian dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Tapi apa yang akan kita lakukan di sini?"
"Banyak hal." Jawab Brian dengan penuh percaya diri. "Karena acara belum mulai, bagaimana kalau kita main - main dulu." usul Brian sembari meraih tangan Mayang dan menggandengnya.
Brian yang sudah akan menarik tangan Mayang pun urung, sebab sang istri sepertinya tampak enggan untuk melangkah.
"Kenapa lagi sayang?"
"Sayang kau tidak lihat baju yang ku kenakan berbeda dari mereka?! Aku malu ...!" rengek Mayang dengan wajah kesal karena menahan malu saat merasa dirinya menjadi pusat perhatian murid - murid SMA yang sebenarnya.
"Ngeledek aku kan!" Mayang memukul lengan Brian seperti anak kecil. "Kamu nya aja pengen ketawa ngelihat aku! Gimana mereka!"
"Abaikan mereka sayang. Anggap saja mereka adalah kerlipan bintang - bintang yang kian menambah keindahan sinar mu. Karena kau adalah rembulan." ucap Brian dengan pandangan penuh cinta pada sang istri. Hal itu terang saja membuat Mayang tersenyum simpul bersemu malu.
"Udah yuk ah." Brian menggerakkan tangannya menarik pergelangan tangan Mayang, dan memaksa sang istri untuk berjalan bersamanya. Keduanya melangkah membaur diantara ribuan murid yang tampak mengamati keduanya dengan pandangan penuh kekaguman.
Saat tengah berjalan, tak sengaja pandangan Mayang menangkap beberapa orang lelaki dengan berpakaian stelan jas rapi dengan logo Wahana Group menempel di kerahnya. Tak ayal hal itu membuat rasa penasaran Mayang pun muncul.
"Sayang, itu anak buah mu kan? Untuk apa mereka berada disini? Apa mereka mengawal kita?"
Pertanyaan Mayang itu pun seketika membuat Brian terkejut dan menatap kearah yang Mayang tunjuk. Dan benar saja, beberapa anak buah nya tampak sedang beraktifitas di sana.
"Sayang kau tau kan orang - orang ku banyak. Mereka itu seperti nyamuk yang tersebar dan bertebaran dimana - mana. Mungkin mereka sedang ada tugas disini sayang, jadi abaikan mereka ya. Apa kau haus?" tanya Brian untuk mengalihkan perhatian Mayang.
"Tidak Sayang," jawab Mayang sembari tersenyum saat menatap Brian sekilas. Namun pandangannya kembali terarah pada orang - orang itu seperti menyelidik.
"Sayang ayo." Brian merangkul sang istri dan menghelanya semakin menjauhi tempat itu.
Brian membawa Mayang melihat - lihat area sekolah itu dengan santai sembari menceritakan kenangan masa lalunya saat mengenyam pendidikan di tempat ini.
Dalam waktu sepuluh tahun telah banyak yang berubah dari tempat ini. Namun justru membuat Brian tampak senang. Ia tampak puas saat mengamati setiap sudut area kelas dan tempat yang lain.
"Sayang, apa hari ini tidak ada pelajaran? Kenapa semua murid tampak bersantai di luar kelas? Apa akan ada acara di sekolah ini?" Mayang mencecar Brian dengan pertanyaan karena rasa penasaran yang mengganggu pikirannya.
"Bukan urusan kita Sayang, kita kan cuma orang luar." jelas Brian dengan santai. "Kau bisa main basket?"
"Sedikit. Tapi sudah lama aku tak pernah main Sayang, aku sudah lupa bagaimana caranya."
__ADS_1
"Aku akan mengajarimu." dengan senyuman lebar Brian menarik tangan Mayang dan membawa istrinya itu menuju lapangan basket.
Brian mengambil satu bola basket dan memainkan bola itu dengan teknik dribel lalu memasukkan bola itu hingga memasuki ring dengan sempurna. Ia tampak lihai memainkan bola itu, hingga Mayang menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Ayo rebut bola nya sayang," tantang Brian pada Mayang yang masih tampak berdiri di tempatnya.
"Aku tidak bisa." ucap Mayang menyerah.
"Jangan bilang tidak bisa kalau belum di coba. Ayo lah ...!" Seru Brian memberi semangat.
Melihat permainan dribel Brian yang begitu sempurna membuat Mayang merasa minder. Ia bahkan tak memiliki celah untuk merebut bola itu dari suaminya.
"Sayang kok malah melamun! Ayo rebut. Kau pasti bisa ...!" lagi - lagi Brian berseru. memberi dukungan. Dan hal itu pun tak ayal membuat Mayang melangkah mendekat.
Mata Mayang tajam menatap bola yang masih di kuasai Brian, mencoba mencari cara untuk merebutnya. Namun seperti sangat sulit bagi Mayang. Hingga gadis itu tampak menatap aneh pada bola itu dan berbicara.
"Sayang, ada kotoran di bola itu!" Mayang berseru sembari menujukkan jemarinya pada bola yang Brian mainkan. Tentu saja hal itu membuat Brian menghentikan aktifitas nya.
"Mana Sayang, tadi bersih kok." Brian mengamati bola itu dengan seksama. Namun tanpa dia duga, Mayang justru merebut bola itu dari tangannya dan membawanya menjauh.
"Terima kasih Sayang," ucapnya dengan senyum menggoda. Sedang Brian yang kecolongan tampak berkacak pinggang sembari menggeleng kepala heran menatap sang istri.
"Dasar curang." Ucap Brian dengan santai sembari tersenyum pada istrinya.
Pandangan nya pun mengawasi Mayang yang tengah mendribel bola dan berusaha memasukkannya ke dalam ring. Namu entah karena kurang fokus atau apa, Mayang pun gagal memasukkan bola itu ke dalam ring hingga membuat gadis itu berdecak kesal.
"Sayang, jangan kesal begitu dong," Brian membelai lembut pipi sang istri. "Aku ajari ya."
Brian membawa Mayang berada lurus tak jauh dari ring. Ia pun berdiri di belakang sang istri dan membimbing nya untuk mengarahkan lemparan bola itu.
"Pandangan fokus pada ring Sayang, dan dikira - kira seberapa tinggi lemparan kita agar bola dapat memantul dan kemudia masuk ke dalam ring." Bisik Brian tepat di telinga Mayang. "Sudah kau perkirakan?"
Mayang mengangguk mengerti meski dia merasa tegang.
"Coba lempar bola itu." Perintah Brian yang langsung di ikuti Mayang dengan melempar bola itu dengan penuh keyakinan.
Dan gadis itu tampak tertawa senang begitu bola itu berhasil memantul dan memasuki ring. Tanpa sadar ia pun mencium Brian sebagai ekspresi kebahagiaannya. Namun seketika Mayang pun menutup bibirnya dengan telapak tangan dengan rasa menyesal sembari melihat ke sekeliling.
"Nggak ada orang yang melihat kita Sayang," ucap Brian seolah tau apa yang sedang di pikirkan sang istri.
Permainan pun lanjut hingga keduanya tampak larut dengan kebahagiaan. Seolah keduanya benar - benar kembali pada masa - masa indah anak sekolahan.
Entah karena lelah atau apa, lemparan Mayang kali ini tak berhasil masuk kedalam ring. Bola itu justru terpental jauh dan menggelinding tak tentu arah.
"Sayang aku ambil bola nya dulu ya,"
"Nggak usah Sayang, masih banyak bola yang lain!"
Mayang tak menghiraukan larangan yang Brian katakan. Gadis itu berlari kecil mencari keberadaan bola itu. Namun ternyata bola itu menggelinding dan berhenti tepat di kaki seorang lelaki dengan perawakan tinggi berpenampilan rapi dengan stelan jas nya.
Saat lelaki itu berhasil mengambil bola basket itu, tiba - tiba sebuah tangan lembut yang mengenakan aksesoris dan tampak tersenyum riang menyambar bola itu begitu saja.
Hingga membuat Lelaki itu pun seketika mengarahkan pandangannya pada gadis berseragam SMP itu dengan mata terbelalak di balik kaca mata hitam yang ia kenakan.
"Terimakasih." Ucap Mayang tanpa menatap pada lawan bicaranya.
Namun Mayang yang sudah akan melangkah pergi itu pun terhenti karena lelaki itu menahan dengan meraih dan menggenggam kuat pergelangan tangannya.
Seketika Mayang pun memutar tubuhnya dan menatap kesal pada lelaki itu. Namun Mayang sendiri pun di buat terkejut saat lelaki itu membuka kaca matanya dan menatap lekat pada Mayang seperti sedang mengamati dengan seksama.
Bersambung
______________________________
__ADS_1
Hai readers tercinta, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara
dan berikan juga dukungan kalian untuk author ya, terimakasih 🙏🙏