Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pura-pura tidak tahu


__ADS_3

Seorang lelaki paruh baya tengah berjalan menuju kamarnya dengan membawa segelas air putih di tangannya. Duduk di bibir ranjang, ia menyodorkan gelas itu beserta beberapa butir obat kepada istrinya yang sedang duduk selonjoran.


Selimut hangat bermotif bunga-bunga menutupi seluruh bagian kakinya hingga menyentuh pinggang. Wanita paruh baya itu terlihat pucat, dengan tubuh kurus yang nyaris tinggal tulang.


"Minumlah istriku," ucap pria berperawakan sedang itu selagi mendekatkan butiran pil dan kapsul ke bibir sang istri, berniat untuk membantunya. Namun si istri justru memalingkan wajahnya lantas menggeleng pelan.


Wajah pucat nan lemah itu terlihat lelah dan bosan setiap hari harus menelan obat-obatan yang sebenarnya takkan bisa mengubah keadaan. Dalam kesakitan yang dirasakan, bukanlah butiran pil pahit yang bisa menyembuhkannya. Namun kehadiran sang putrilah yang dinantikan sebagai penawar kesedihannya.


"Istriku," lelaki bernama Sulaiman Jamil itu mendesah pelan saat sang istri lagi-lagi menolak mengkonsumsi obatnya. "Minumlah, Sayang."


"Yang kubutuhkan bukan obat, suamiku. Tapi putri kita!" balas wanita bernama Laksmi itu penuh penekanan. Matanya yang sayu itu menatap sang suami penuh kemarahan.


Putus asa, Jamil meletakkan gelas beserta obat itu ke atas nakas. Ia tahu membujuk wanitanya bukanlah perkara mudah. Malas berdebat iapun memilih mengalah. Bergerak mendekat, dipeluknya si wanita dengan penuh kasih sayang. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredam emosi istrinya.


"Lepas!" Laksmi meronta. Ia berusaha melepaskan diri, menolak si suami memeluknya. Namun tubuhnya yang lemah seolah tak memiliki daya untuk melakukan niatannya, hingga tangisnya pecah dalam dekapan suaminya.


Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan bagi lelaki selain melihat penderitaan istri. Namun apa daya, ia telah terlanjur memberikan ultimatum terhadap sang putri agar pulang dengan membawa serta sang suami.


Bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu. Dengan pulangnya Milly dengan membawa Billy, itu sudah merupakan bukti jika pernikahan mereka bahagia serta saling mencintai. Namun hingga saat ini, keduanya tak juga menunjukkan tanda-tanda jika akan pulang dan menunjukkan bukti.

__ADS_1


Tak ada suara, namun bulir bening dari netra yang mulai renta cukup memperlihatkan jika Jamil begitu merasa terluka. Tangan kanannya bergerak mengusap rambut si istri yang dicepol asal dengan kasih sayang. "Aku yakin dia akan datang," lirihnya kemudian dengan penuh keyakinan. Seolah sedang melafalkan sumpah tak terbantahkan.


"Apa kau tidak lelah mengatakan hal itu setiap hari?!" Laksmi menarik diri, lantas menatap suaminya dengan penuh kesedihan. "Aku saja merasa bosan mendengarnya. Kau selalu mengatakan jika putrimu baik-baik saja. Tapi mengapa naluriku sebagai ibu kandungnya mengatakan hal berbeda?" lanjutnya dengan nada yang sengaja ia naikkan.


Kehabisan kata-kata, Jamil memilih membuang muka. Menghindari beradu pandang dengan istrinya. Tak tega, itulah yang kini dirasakannya. Entah sampai kapan ia harus berdusta, dan memberikan harapan palsu terhadap istri yang sangat dicintainya.


"Kenapa diam? Apa kau mulai lelah berbohong kepadaku?" seringai Laksmi tersungging meremehkan. Menatap suaminya penuh permohonan, tangannya pun bergerak mencengkeram kerah kemeja yang suaminya kenakan seolah sedang mengancam. "Aku hanya ingin melihat putri kita sedikit saja. Sebentar pun tak apa! Apa permintaanku terlalu besar kepadamu hingga terlalu memberatkan dirimu!" Laksmi mengguncang-guncang tubuh suaminya yang membeku dengan tangis yang tersedu. "Jika memang dia tak mau pulang, bukankah kau bisa membawaku ke sana agar aku bisa memeluknya? Tapi kenapa kau seolah menutupi keadaannya dariku? Kenapa, Ayah? Kenapa!" Laksmi mengguncang-guncang lagi tubuh suaminya, namun lelaki itu masih enggan buka suara.


Puas melampiaskan kemarahan yang bahkan tak mendapat tanggapan, Laksmi pun terisak. Dilepaskannya cengkeraman di kerah si suami dengan kasar, sebelum kemudian membaringkan diri dengan posisi tubuh membelakangi si suami.


"Sayang," Jamil dengan mata berkaca-kaca mencoba membujuk istrinya. Tangannya bergerak menyentuh bahu kurus milik Laksmi, namun mendapatkan tepisan keras dari wanita itu.


"Tinggalkan aku sendiri." datar, namun perintah Laksmi seolah tak ingin mendengar penolakan.


Melangkah menuruni tangga, perhatian Jamil tertuju pada pintu yang terdengar diketuk dari luar.


"Biar saya yang buka, Pak." seorang wanita yang mengenakan daster segera melangkah mendekati pintu. Asisten rumah tangga di rumah dua lantai itu memutar pegangan pintu usai membuka kuncinya.


"Mbak Milly!" seruan wanita paruh baya itu berhasil membuat Jamil menghentikan langkahnya yang sedang menuju ruang tengah. Mata pria paruh baya itu membelalak penuh keterkejutan. Dengan penuh penasaran, melangkah cepat menuju ruang tamu hanya untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


Tubuh Jamil seketika terpaku mendapati asisten rumah tangganya tengah berpelukan dengan seorang gadis yang ia yakini itu adalah sang putri di depan pintu, terlebih dengan dua koper besar di sisinya namun tanpa suami yang mendampinginya.


***


"Milly janji, nggak akan ninggalin Ibu lagi." masih dengan isak tangis, Milly berucap penuh keyakinan. Berusaha meyakinkan wanita paruh baya yang sejak tadi tidak melepaskan pelukannya.


Keduanya terlihat lebih tenang setelah tadi melewati drama yang menguras air mata oleh perjumpaan pertama keduanya usai terpisah lama. Tangis bahagia keduanya pecah dalam rindu yang membuncah.


Jamil yang berdiri di ambang pintu tak bisa berkata-kata menyaksikan euforia kebahagiaan dua wanitanya meski dengan linangan air mata. Entah dia harus merasa sedih atau justru merasa senang melihat putrinya kembali namun tanpa suami. Entah mengapa ia merasakan firasat buruk dengan kedatangan Milly yang terkesan mendadak.


***


Billy yang telah kembali usai pergi, tak mendapati lagi Milly ada di apartemennya. Gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya. Ia bahkan tak menyisakan satupun barang miliknya. Meninggalkan barang serta pakaian yang Billy sediakan serta meninggalkan kartu tanpa batas yang telah Billy berikan. Seolah ingin tak meninggalkan sedikitpun jejaknya.


Beralih ke ruang sebelah, di mana tempat itu telah porak poranda seperti kapal pecah, Billy yang menelusupkan jemarinya ke dalam saku celana bahannya tampak mengamati setiap sudut ruangan itu.


Ia memang sengaja memasang ranjau untuk memperkuat pengamanan semua yang tersimpan rapat di sana. Tanpa disangka, jebakan itu justru menyerang istrinya sendiri.


Menyentuh bekas darah yang setengah kering di lantai dengan serpihan kaca, ada sejejak sesal di wajah gioknya. Ia melihat gadisnya terluka. Namun ia tak ingin memberikan harapan palsu dengan menolongnya. Baginya, pura-pura tidak tahu itu lebih baik untuk sekarang. Pergi dan menyingkir, dari pada hati terluka dengan melihat air mata gadisnya.

__ADS_1


"Bawa petugas kebersihan khusus ke apartemenku untuk membereskan kekacauan yang terjadi di sini." kalimat bernada perintah itu terlontar dari bibir Billy pada seseorang di seberang telepon.


Bersambung


__ADS_2