
"Nyonya, jadi sesungguhnya Nyonya tidak bisa menyetir?" pengawal muda itu memasang mimik serius ketika bertanya. Dan tanpa disadarinya, Mayang justru semakin senang menggodanya.
"Bisa ,,, tapi itu beberapa tahun yang lalu sebelum aku lupa bagaimana caranya." Mayang terkekeh kecil selagi bicara dan menatap pengawalnya. Istri Brian itu lantas kembali memegang kontak mobil hendak menyalakan mesinnya, namun si pengawal yang terlanjur panik itu berupaya menggagalkan.
"Nyonya, Nyonya. Biarkan saya mengantarkan anda. Kemanapun saya bersedia mengantar."
"Ah, tidak. Percayalah aku bisa. Pedal gas dan pedal rem letaknya tetap di kaki, kan??" Mayang mengalihkan pandangannya dari kaki ke wajah pengawalnya.
"Masih, Nyonya." pengawal itu menganggukkan kepalanya.
"Bagus," Mayang mengangguk mantap. "Selama belum dipindahkan, aku pastikan aku bisa." bersikap yakin, Mayang benar-benar menyalakan mobilnya. Mesin mobil yang bersuara membuatnya ikut tertawa, membuat si pengawal yang semula memegang pintu mobil tampak menarik diri untuk menjauh dari sana.
Namun siapa sangka, mobil yang seharusnya berjalan ke depan justru mundur ke belakang, membuat si pengawal menjadi panik bukan kepalang.
Lelaki yang membulatkan bola matanya itu sontak berlari memegangi mobil Mayang yang berjalan maju mundur dengan gaya sendat sebelum akhirnya berhenti.
Menggedor-gedor kaca yang tertutup rapat, pengawal itu berteriak memanggil Nyonyanya dengan wajah penuh kecemasan. "Nyonya, berhentilah, jangan mencelakai sendiri jika tidak ingin kita sama-sama mati." ucapnya dengan nada ketakutan.
Bukannya pintu yang terbuka, justru tangan Mayang terlihat memukul pintu dari dalam seolah sedang mengisyaratkan jika pintu tak bisa di buka. Tentu saja hal itu kian membuat pengawal semakin kebingungan.
Lelaki muda berkulit putih itu memanggil teman-temannya untuk meminta bantuan, namun pada saat semuanya berbondong-bondong datang, mobil Mayang justru melesat pergi meninggalkan kepanikan.
Para pengawal bertubuh tegap itu berlari mengikuti. Namun kaca di pintu bagian kemudi tampak turun di susul dengan kepala Mayang yang menyembul. "Kalian kena prank! Wekk ...!" Mayang tertawa sambil menjulurkan lidahnya.
Seketika semuanya menghentikan lari mereka. "Jadi Nyonya sedang mengerjai kami?" tanya pengawal tadi dengan posisi membungkuk dengan tangan memegangi lutut. "Ah, benar-benar ya." semuanya menatap bagian belakang mobil yang menjauh itu sambil menggelengkan kepala. Sementara bibir mereka tertawa menanggapi kekonyolan nyonya muda mereka.
"Oke. Sekarang kita mulai bersiap dan atur posisi." ujar salah seorang pengawal yang sepertinya memimpin mereka.
__ADS_1
***
Memarkirkan mobilnya dengan baik di area parkir taman, Mayang lantas keluar dari sana dan melangkah memasuki area taman dengan senyum keceriaan.
Wanita hamil itu terlihat begitu riang mencium aroma berbagai bunga. Berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Senyumnya terkembang lebar menandakan jika dirinya benar-benar tengah bahagia.
Pagi ini taman yang biasanya ramai itu terlihat sepi. Tak tampak banyak pengunjung seperti hari-hari biasanya. Namun wanita bersurai panjang itu seolah abai dan tak ambil pusing karenanya. Yang jelas ia ingin menikmati bahagia karena mendapatkan kebebasannya.
Saat wanita itu tengah asik bercengkrama dengan bunga-bunga, tanpa ia sadari sepasang tangan kokoh berhasil menyergapnya dari belakang serta membekap mulutnya sampai beberapa saat, hingga wanita cantik itu lemas, sebelum kemudian terpejam tanpa daya.
***
Memasuki kamar tidurnya untuk yang pertama setelah sekian lama, Milly mendapati keadaan kamarnya masih sama seperti semula. Letak barang-barang serta tatanannya masih sama seperti beberapa bulan lalu sebelum ia tinggalkan.
Meraba satu persatu barang-barang miliknya, ada sejejak rindu yang dalam di wajah pualamnya. Senyumnya mengembang saat kembali menjadi dirinya yang sebelumnya. Setidaknya ia merasa bahagia meskipun keadaan kini telah berbeda.
"Setidaknya berada di sini aku merasa dihargai selain dibutuhkan. Orang tuaku pasti akan merasakan kehilangan jika aku meninggalkan. Tapi tidak dengan dia. Dia bahkan menganggapku seperti benalu saja. Hadir untuk merusak, maka harus segera dienyahkan sebelum menimbulkan banyak kekacauan." Milly menggumam lirih selagi membenamkan diri di ranjang tempat tidurnya.
***
Milly yang keluar dari kamar dengan keadaan rapi tampak melangkah menuju dapur dengan langkah santai.
"Selamat pagi, Bi," sapa Milly pada seorang wanita paruh baya dengan celemek warna biru motif bunga-bunga menempel di badannya.
"Selamat pagi juga, Mbak Milly." balas wanita dengan rambut dicepol asal itu sambil melebarkan senyumnya. "Mbak Milly sudah lapar? Kok pagi-pagi sudah ke dapur aja." ucapnya dengan wajah keheranan.
"Mau bantuin Bibi masak, dong ...." jawab Milly dengan penuh percaya diri sambil meraih pisau dan mengambil bawang merah untuk ia kupas.
__ADS_1
"Ah, nggak usah Mbak, Bibi bisa sendiri, kok. Mbak Milly kan masih capek, mendingan istirahat dulu." dengan wajah tak enak hati, Bi Odah menolaknya dengan nada halus.
"Enggak kok, aku nggak capek." tanpa peduli akan penolakan Odah, Milly tampak acuh sambil tetap mengupas bawang di depannya. Tersenyum senang, pada akhirnya Odah tak bisa lagi untuk melarang.
"Bi," panggil Milly tanpa menatap ke arah yang dipanggilnya.
"Iya, Mbak, Bibi bisa bantu apa?" begitu antusias, Odah segera melangkah mendekati gadis yang sejak kecil telah dirawatnya dengan penuh semangat.
"Bi, bisa ceritakan apa saja yang terjadi selagi aku tak ada?" melirik sekilas ke arah Odah, gadis yang mengenakan celana jeans berpadu kaus oblong warna putih itu kemudian mengambil bawang putih untuk ia kupas juga.
"Telah banyak hal yang terjadi, Mbak. Mulai dari pertengkaran sengit antara Bapak dengan orang yang meminjamkan modal padanya, sampai pengambilan alih pabrik milik Bapak satu-satunya."
Ekspresi Milly terlihat biasa mendengar cerita dari Odah, sebab dirinya sudah mendengarnya secara langsung dari pengakuan Ayahnya. Dan kali ini Milly hanya berusaha mencocokkan saja, sekedar meneliti agar tak ada lagi kebohongan yang disembunyikan orang tuanya.
"Dan yang terakhir--"
Milly menautkan alisnya selagi menghentikan gerakan tangannya. Seketika ia melempar pandangan ke arah Odah yang tengah menunduk dengan wajah takut-takut. Tangannya bahkan meremas kain daster yang ia kenakan. Meletakkan pisau dan bawang secara bersamaan ke atas meja, Milly lantas memegangi lengan Odah dengan pandangan penasaran. "Yang terakhir apa, Bibi. Jangan suka gantung kalau kasih informasi." desaknya seraya mengguncang tubuh renta itu dengan wajah begitu cemas.
Karena Milly terus mendesak, akhirnya Odah tak kuasa untuk menyembunyikannya. Wanita paruh baya itu perlahan mendongak, dan membalas tatapan Milly dengan kepasrahan.
"Rupanya pengambilan alih pabrik saja masih tak cukup untuk membayar hutang-hutangnya Bapak, Mbak. Mereka mengklaim nilai dari pabrik itu hanya delapan puluh persen saja, hingga mereka menuntut rumah ini untuk menggenapi. Sekarang Bapak sedang berusaha mati-matian untuk mencari dana agar rumah ini tidak ikut disita." Odah menunduk mengakhiri ceritanya.
Sementara gadis cantik di depannya mendadak terhuyung ke belakang saat merasakan lemah seluruh badan. Milly terduduk pada kursi makan di belakang, dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan siku bertumpu pada meja, tangan gadis mungil itu meremas kepalanya sendiri dengan kasar diikuti erangan penyesalan di sela-sela tangisnya.
Bersambung
__ADS_1