Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bab 265


__ADS_3

Sepasang suami istri tengah berada di jog belakang sebuah mobil mewah. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman seseorang.


Si wanita terlihat begitu bahagia dengan senyuman manis yang senantiasa terkembang. Sedangkan pemandangan sebaliknya terlihat dari raut wajah pasangannya.


Si pria tampak gelisah sejak memutuskan untuk berangkat tadi. Terlihat sekali jika lelaki itu masih merasa tak yakin akan keputusan yang sudah terlanjur ia ambil.


Berada dalam rengkuhan tangan Brian, Mayang--yang menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami--mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Brian dengan seksama.


Pria itu tampak murung sambil bertopang dagu dengan siku bertumpu pada jendela mobil. Pandangannya menatap kosong ke arah luar yang menyajikan keramaian lalu lintas kota.


Mendesah pelan, Mayang lantas menyentuh pipi suaminya untuk menarik perhatian. Sedang Brian yang saat itu tengah melamun langsung terkesiap. Mengira sang istri menginginkan sesuatu, ia kemudian menoleh dan menunduk, menatap istrinya dengan sikap siaga.


"Ya, Sayang. Kau membutuhkan sesuatu?"


Mayang menganggukkan kepala sambil memasang mimik manja.


Brian terseyum lembut lantas menangkup wajah istrinya. "Katakan," ujarnya kemudian.


Mayang terseyum senang lantas menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Sayang. Sebab, aku sudah mendapatkannya lagi." Wanita hamil itu kembali menyandarkan kepalanya dengan perasaan bahagia.


"Hey, hey ... apa yang kau katakan, heum?" Brian yang tak mengerti maksud sang istri segera mengurai pelukannya dan menangkup wajah Mayang. Ditatapnya wajah si istri itu dengan alis yang bertaut penuh tanya.


"Kau tahu, tadi aku sempat berpikir kehilangan senyummu. Aku bahkan hampir saja meminta supir agar kembali demi untuk mengambil senyummu yang masih tertinggal di rumah. Tapi ternyata aku salah, barusan kulihat senyuman yang begitu mempesona itu sudah kembali pada pemiliknya," ucap Mayang dengan penuh kesungguhan, yang seketika langsung dihujani ciuman oleh suaminya.


Dengan penuh sayang, Brian kembali merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukan, lantas mengecup puncak kepala Mayang agak lama. "Maafkan aku, Sayang. Maaf," tutur Brian sambil memejamkan mata, lalu mengecup kembali sang istri sebelum kemudian semakin mengeratkan pelukan.


Mayang masih diam merasakan kehangatan yang tersalur dari tubuh suaminya. Namun, melihat sikap pura-pura baik-baik saja Brian yang sesungguhnya merasa tidak nyaman membuat Mayang merasa perlu membicarakan hal ini. "Sayang," Mayang meraba-raba dada Brian sebelum kemudian mendongakkan kepala. "Apa kau menyesali keputusan ini?"


Menunduk menatap istrinya, Brian lantas menggeleng cepat. "Tidak. Sama sekali tidak."


"Lalu, kenapa kau masih terlihat ragu?"


Brian terseyum tipis lalu memegang pipi kanan istrinya. "Bukan ragu, Sayang. Aku hanya merasa belum siap untuk ini." Brian mendesah pelan lantas menatap ke arah luar seperti tengah berusaha mengingat kepingan-kepingan kejadian masa lalu. "Jujur, aku merasa masih berat untuk memberinya maaf. Kesalahannya di masa lalu sangat-sangat fatal, Sayang. Dia hampir saja membunuhmu waktu itu, dan itu bukan hanya sekali." Brian mengembalikan pandangan pada Mayang dengan tatapan seperti sedang mengingatkan. "Dia memang menyelamatkan kita saat kemarin itu, tapi apakah kau tahu, itu bisa saja hanya siasat buruknya untuk menipu kita--"


Mayang membungkam bibir Brian dengan jari telunjuknya. Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang-ulang sebelum kemudian berkata, "Jangan biarkan dendam menguasai dan membuat hatimu kotor, Sayang. Terlebih selalu berprasangka buruk pada orang lain. Ingatlah kebaikan yang pernah ia buat. Andai dia tidak menembak Bianca, entah apa yang akan terjadi dengan kita saat itu."

__ADS_1


***


Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Milly menyuguhkan minuman untuk para tamu yang tak dikenalnya. Billy memang sengaja memintanya untuk menjamu para tamu. Bukan di kantor ataupun di ruang kerja. Melainkan masih di tempat yang sama.


Billy menyulap ruang tamu rumah yang baru berpindah kepemilikan itu menjadi ruang kerja sementara. Tentu saja bukan dia sendiri yang turun tangan, melainkan orang-orang suruhan yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu dengan membawa sejumlah perlengkapan.


Billy bahkan tak segan mengundang para klien untuk mengadakan pertemuan di rumah itu. Tadinya Billy ingin meminta Milly untuk mendampingi sekaligus memperkenalkannya sebagai istri, tapi melihat perilaku gadis itu terhadapnya, sepertinya ia perlu memberikan Milly sebuah pengertian.


Milly menekuk lututnya untuk menunjukkan sikap sopan saat sedang menyuguhkan minuman untuk dua orang pria paruh baya klien suaminya.


"Silahkan, Tuan," ucap gadis bersurai panjang itu sopan.


Satu orang pria di antaranya langsung menoleh menatap Milly dan memindai keseluruhan penampilan gadis itu.


Billy yang menyadari akan hal itu segera berdehem kecil untuk menyindir.


"Eh, maaf Sekretaris, apa gadis ini adik anda?" tanya pria itu dengan ekspresi sedikit canggung. Pasalnya, ia tertangkap basah tengah memperhatikan wanita dari lingkungan klien nya.


Entah gadis itu siapa, yang jelas ekspresi Billy menunjukkan sikap tidak suka. Sedang pria itu sendiri mengamati Milly bukan dengan maksud tidak senonoh, melainkan ia sedikit penasaran dengan hubungan antara Billy dengan wanita yang baru kali ini ia jumpai.


Milly terlihat canggung, tetapi sangat penasaran dengan jawaban yang akan Billy berikan hingga ia memutuskan untuk diam di tempatnya. Sedangkan Billy, ia menunggu bagaimana reaksi Milly sebelum ia memberikan jawaban. Akan memperkenalkan gadis itu sebagai istri atau tidak, hal itu tentunya bergantung pada bagaimana sikap Milly.


"Katakan padanya kau itu siapa."


Milly terkesiap saat Billy memerintahkan padanya untuk memperkenalkan diri. Entah mengapa ia mendadak gugup melihat tiga pasang mata itu tengah menatapnya dengan pandangan penuh harap.


Milly sendiri bingung harus menjawab apa. Ia yang bukan siapa-siapa merasa begitu tak sepadan bersanding dengan Billy yang begitu berkilauan, pantaskah mengakui diri sebagai istri pria ini?


Keadaan hening untuk beberapa lama saat tiga pria itu menunggu pengakuan dari Milly. Sampai pada akhirnya gadis itu menggetarkan bibirnya dan berkata.


"Maaf, saya ... saya hanya pelayan Tuan Billy saja."


Tangan Billy terkepal mendengar jawaban yang begitu mencengangkan akhirnya terlontar dari bibir mungil Milly. Sungguh, bukan itu jawaban yang ia ingini. Ia bahkan akan merasa bangga saat Milly lebih dulu mengakui. Entah mengapa ia merasa sakit hati saat pengakuan status mereka begitu sulit Milly akui.


Namun, pengakuan Milly yang sebagai pelayan itu sontak menuai reaksi lucu dua pria tadi.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu tebakan saya salah." Pria itu terkekeh sambil menatap Billy. "Maafkan saya Sekretaris, saya hampir lupa kalau anda tidak memiliki satupun saudara perempuan."


"Tak apa," Billy hanya menjawab singkat dengan seringai misterius di bibirnya.


"Saya bahkan sempat berpikir kalau gadis ini adalah istri anda. Padahal sudah jelas-jelas anda belum melangsungkan pernikahan. Saya benar-benar mohon maaf, Sekretaris," ucap pria satunya lagi.


"Kita lanjutkan meeting lagi dan berhenti membahas persoalan 'tidak penting' ini." Billy berucap penuh penekanan pada kata tidak penting seraya melayangkan tatapan penuh ironi ke arah Milly. Kemudian membuang muka sebelum akhirnya memfokuskan diri pada lembaran-lembaran laporan di depannya.


Sungguh, hati Milly bagai tersayat sembilu mendengar perkataan Billy barusan. Terlebih dengan tatapan penuh kebencian yang lelaki itu sempat layangkan, sebelum kemudian bersikap acuh dan seolah-olah menganggapnya tak berarti.


Salahnya memang. Tapi Milly memiliki alasan kuat akan hal ini, dengan tidak mengakui status mereka tadi.


Merasa tak lagi dibutuhkan, Milly akhirnya bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju pintu. Di sana, ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah belakang untuk melihat bagaimana reaksi Billy. Pria itu bahkan sama sekali tak meliriknya, dan itu sungguh-sungguh membuat batinnya tersiksa.


Mendesah pelan, Milly kemudian meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang hampir saja berlinang.


Bersambung


_________________________________________


Halo guys, hari ini aku mau promisiin novel temen-temen aku yang kece-kece abis. Pop nya juga udah wow, ngalahin aku.








__ADS_1



__ADS_2