Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Noda Di Kemeja


__ADS_3

"Siapa sayang?" Mayang Bertanya usai Brian memutus sambungan telepon nya.


"Ayah sayang," Brian menjawab sembari meletakkan ponselnya di meja kaca di hadapannya.


"Apa yang atah katakan? Apa ibu juga ikut bicara?" Tanya Mayang dengan wajah antusias. wajahnya tampak berbinar bahagia.


"Ayah Hans sayang, bukan Ayah Malik." Brian menjelaskan sembari memeluk tubuh istrinya. Sehingga ia tak menyadari perubahan mimik wajah dari Mayang.


Entah mengapa Mayang selalu memiliki firasat buruk jika menyangkut lelaki itu.


"Dia menitipkan salam untukmu."


"Waalaikumsalam," Mayang hanya bisa menjawab nya begitu.


"Sayang, dia butuh teman saat ini." Ucap Brian dengan wajah penuh iba pada mertuanya. "Ayah mengundang kita, tapi aku tak mengizinkannya mu keluar dalam waktu dekat ini sampai semuanya aman. Jadi tak apa kan kalau aku menemui Ayah sebentar?" Brian menunduk menatap wajah Mayang.


Mayang terlihat murung saat mendengar Brian akan keluar malam ini. Namun senyumnya terurai seketika saat ia sadar Brian tengah mengamati nya.


"Sayang,,, hanya sebentar," bujuk Brian.


"Iya sayang, tak apa. Pergilah dan temani ayah mu." Mayang menyunggingkan senyum nya. Ia berucap dengan tulus pada suaminya.


Sebelum pergi Brian mengecup bibir dan kening istrinya terlebih dulu. "Tak perlu mengantar ku sampai kebawah." Ucap nya setelah selesai dengan urusannya. "Jangan keluar dari kamar, dan jangan pergi ke balkon. Jika kau butuh sesuatu, mintalah pada pelayanan okey," Brian menambahkan beberapa perintah yang harus Mayang patuhi sembari mencubit hidung sang istri.


"Iya sayang, aku janji." Mayang mengacungkan dua jarinya. Ia tampak tersenyum tulus saat melepas suaminya pergi.


Namun Brian tampak berat melangkah kan kakinya untuk keluar dari kamar mereka. Saat sampai di ambang pintu ia kembali menggerakkan lehernya menoleh pada Mayang.


Kenapa kau diam saja dan tidak melarang ku untuk pergi? Atau paling tidak merengek lah untuk memaksa ikut bersama ku,


Mayang tersenyum sembari melambaikan tangannya. "Dah sayang... hati - hati di jalan ya..."


Kau benar - benar ingin bertahan di rumah sayang,


Brian masih tampak ragu. Tangannya yang semula sudah memegangi handle pintu ia lepas dan kembali melangkah mendekati sang istri.


"Sayang ada yang tertinggal. Ponsel mu?" Tebak Mayang bingung.


"Tidak," Brian menggeleng.


"lalu?"


"Beri aku ciuman mu," rengek Brian dengan nada manja.


Mayang hanya tersenyum menyembunyikan rona malu. Ia menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya lalu menempelkan bekas bibirnya di telunjuk itu pada bibir Brian.


"Apa ini?" kening Brian berkerut bingung. "Ini bukan ciuman sayang..!"


"Ini ciuman secara tak langsung," Sahut Mayang cepat. " Ciuman langsung nya nanti saja setelah kau pulang ya!" Iming Mayang agar suaminya semakin bersemangat.


"Tapi aku butuh lebih dari sekedar ciuman." Seringai Brian muncul berbarengan dengan tangannya yang dengan cekatan meraih tubuh Mayang.


"Asal kau cepat pulang dan datang padaku," Tangan Mayang membelai lembut seperti merayu menyusuri pipi Brian. Walau tubuhnya kini terasa gemetar karena takut.


"Kenapa kau mengoda ku di saat - saat seperti ini sayang," Ucap Brian seperti tak rela sembari meraih tangan Mayang dengan cepet.


Matanya kian meredup menikmati belaian tangan Mayang yang berhasil menggugah naluri kelelakian nya.dengan wajah putihnya yang kini tampak merah padam.


Matanya sayu nya menatap wajah Mayang lekat dan bibirnya mengecup punggung tangan Mayang dengan aura wajah yang berbeda dari biasanya.


Mayang tahu ada yang berbeda dari bahasa tubuh Brian kali ini. Dengan agresif Brian menyambar bibir Mayang dengan bibirnya. Menghisap bibir manus itu semakin dalam dan memainkan lidahnya di dalam sana dengan lihai.


Brian bahkan tidak memberi celah bagi Mayang untuk bernafas hingga akhirnya Mayang memaksa melepas pagutan itu karena ia kehabisan nafas.


Mayang menahan Bibir Brian dengan buku - buku jemarinya saat lelaki itu ingin mengulangi lagi aksinya.


"Sayang, Ayah sedang menunggu mu," Mayang mengingatkan dengan nada selembut mungkin berusaha agar tak menyakiti hati suaminya.

__ADS_1


Brian yang untuk beberapa saat lalu terlupa kini seakan tersadar kembali. Brian meraih tubuh Mayang dan memeluk istrinya dengan sangat erat untuk menahan hasratnya yang mulai bergejolak.


Mayang bisa merasakan detak jantung Brian yang berdebar sangat cepat dan hembusan nafas nya yang memburu.Mayang hanya diam pasrah menerima perlakuan suaminya. Meski ia merasa bergidik ngeri dengan sesuatu yang mengganjal dari Brian di bawa sana dan menyentuh tepat di bagian perutnya.


Andai saja ayah tak mengundang ku malam ini, aku benar - benar tak akan melepaskan mu.


"Sayang..." Lirih Mayang memanggil suaminya. kembali mengingatkan kaeena Brian tak kunjung melepaskan pelukannya.


"Kita lanjut nanti ya," bujuk Mayang kemudian.


Namun kini ia merasa tekanan di tubuhnya mengendur karena Brian pelan - pelan melepas pelukan nya. Lelaki terdengar mendesah kasar.


"Jangan buat Ayah menunggu terlalu lama," Mayang tersenyum sembari membetulkan kerah jas Brian lalu mengusap lembut di bagian pundak nya.


Dan akhirnya Brian benar - benar pergi meninggalkan rumah itu setelah terjadinya drama panjang yang tidak kelar yang membuatnya bersambung dan menggantung menunggu episode kelanjutannya.


* * *


Brian sudah melangkah memasuki pintu utama kediaman Hans, dan tetap melangkah melewati ruang tamu yang tampak sepi dan lengang. Brian tau kemana mesti mencari Ayah mertuanya itu.


Dan di ruang keluarga yang tampak luas dan tersedia begitu banyak sofa, Brian menemukan sosok Hans tengah duduk termenung seorang diri tanpa teman yang berada di samping nya.


Sebuah pemandangan yang sama persis dengan dirinya jauh sebelum Mayang muncul secara tiba - tiba di dalam kehidupannya. Namun kini ia telah memiliki Mayang yang telah merubah kehampaan hidup nya menjadi kebahagiaan.


Hal itulah yang membuatnya merasa iba dengan kehidupan mertuanya nya yang menyedihkan. Hans tampak tegar dan ceria dari tampilan luarnya, namun jauh di lubuk hatinya ia merasakan kepedihan yang mendalam. Sungguh ironi.


Brian menyayangi nya jauh melebihi apapun di dunia ini, termasuk dengan orang tua nya sendiri. Mungkin ia juga tak bisa mengatakan seberapa besar takaran sayang itu bila suatu saat nanti tiba - tiba Mayang mempertanyakan nya.


"Aku datang Ayah," suara Brian di barengi dengan suara langkah nya yang mendekat berhasil membuyarkan lamunan lelaki paruh baya itu.


Dengan senyum yang tiba - tiba terurai ia lantas bangun dan berdiri untuk menyambut kedatangan Brian. Brian pun mendekat dan memeluk Hans sebagai dalam hormat nya.


"Bagaimana keadaan Ayah?" Tanya Brian setelah melepaskan pelukan.


"Ayah tak pernah merasa lebih baik dari ini. Ayah bahagia karena putera Ayah datang mengunjungi. Lalu dimana menantu Ayah?" Mengarahkan pandangan nya pada pintu seperti sedang menanti seseorang muncul dari sana.


"Mayang tidak ikut bersama ku Ayah, ku pikir lebih baik dia di rumah saja." Brian yang ikut menoleh kemudian menjawab.


Sedang Brian duduk di sofa lain disisi kanan Hans. Di sebuah sofa panjang, Brian menyandarkan punggungnya dan menyilangkan satu kaki nya bertumpu pada kaki tang lain dengan posisi duduk yang santai.


"Tapi lain kali kau harus membawanya kemari dan menginap lah di sini." Ucap Hans kemudian dengan nada penuh tuntutan seolah ingin mengganti pertemuan hari ini dengan durasi yang lebih lama.


"Tentu ayah." Brian menjawab yakin.


"Kau mau minum?"


"Boleh,"


"Biar ku panggilkan seseorang untuk menyuguhkan minum untukmu." Hans lantas mengadu dua telapak tangan nya hingga menimbulkan suara tepukan keras. seoerti tengah memberi kode pada seseorang di dalam sana.


Brian hanya bersikap bias dan tak menaruh curiga sedikitpun terhadap lelaki paruh baya itu.


"Hey kenapa dengan tangan mu?" Pandangan Hans terfokus pada jemari Brian yang di bebat oleh Mayang. "Apa kau berkelahi secara bar - bar lagi?" Tebak Hans dengan senyuman.


"Tidak Ayah, hanya terjadi kecelakaan kecil saja."


Suara derap langkah sepatu hak tinggi seorang wanita yang beradu dengan lantai saat melangkah terdengar semakin mendekat ke arah mereka. Awalnya Brian menyangka itu hanyalah pelayan yang sedang melaksanakan tugas mengantarkan minuman untuknya.


Namun Brian membulatkan bola matanya seketika saat yang muncul justru Karla.


Untuk apa dia berada disini?


Brian bertanya - tanya dalam benaknya sendiri. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi selama ini. Atau mungkin karena dia yang terlalu fokus pada Mayang sehingga tak memperhatikan hal semacam ini.


"Aku sudah menganggap nya seperti putriku." Hans seolah tahu apa yang sedang Brian pikirkan.


Karla dengan tubuh dan penampilan nya yang seksi tampak melangkah dengan berlenggak - lenggok sembari membawa nampan berisi tiga cangkir kopi disana.

__ADS_1


Dengan gaya sensual nya ia menyuguhkan satu per satu cangkir itu ke hadapan Brian dan Hans. Sementara satu cangkir lagi untuknya sendiri. Karla lantas duduk di samping Brian dengan merapatkan tubuhnya pada lelaki itu.


Karla bahkan mengabaikan peringatan Brian yang menatapnya sinis sebagai bentuk rasa ketidak sukaan nya. Ia malah menyunggingkan senyum manisnya terhadap Brian. Karla malah secara terang - terangan mengabaikan rasa ketidaknyamanan Brian dan menatap wajah lelaki itu dengan leluasa.


Andai saja dirinya tidak sedang bersama dengan Hans, mungkin Brian sudah menghajar gadis ini sebagai ganjaran atas sikap melebihi batasnya. Brian benar - benar merasa terjebak dalam kondisi menyebalkan seperti ini.


"Ayo diminum kopinya." Hans mempersilahkan untuk mencairkan suasana yang tiba - tiba saja terasa membeku.


Sesungguhnya Brian tak ingin menenggak apapun yang di berikan wanita ini, namun untuk menghargai permintaan Hans ia pun berniat untuk menyesapnya sedikit saja.


Brian meraih cangkir itu dengan tangan nya yang terluka sehingga menarik perhatian Karla yang melihatnya.


"Ada apa dengan tangan mu Brian?" Karla yang panik segera meraih tangan Brian. Membuat tangan Brian yang sedang dalam posisi akan meminum menjadi terguncang dan kopi panas itu pun tumpah di dada mengotori pakaian mahal Brian.


Stelan jas berwarna putih yang Brian kenakan seketika ternoda oleh pekat nya warna kopi hitam dari cangkir itu. Karla tampak menyesal dengan spontanitas yang terjadi pada dirinya sehingga melepaskan tangan nya dari lengan Brian.


Brian menampar wajah Karla dengan sorot matanya yang tajam dan berhasil membuat gadis itu tertunduk takut. Brian menaruh lagi cangkir itu dengan kasar di alas nya sehingga menghasilkan suara dentingan yang nyaring sebagai bentuk kemarahan nya.


"Brian, tukar pakaian mu dengan yang masih bersih di kamar mu." perintah Hans karena melihat pakaian Brian yang kini sudah tak layak pakai. " Biar Karla yang menyuapkan nya untukmu. Dua adalah adik mu sekarang."


Brian bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya di masa lalu saat masih menjadi suami Lena. Dengan beribu tanda tanya memenuhi kepalanya.


Entah atas dasar apa mertua nya itu membawa Karla masuk kedalam kehidupan nya. Dan tak tanggung - tanggung, dia bahkan menganggap wanita licik ini sebagai putrinya. Bahkan menyuruh nya memperlakukan Karla sebagai adik.


Semenjak bekerja di perusahaan nya, Karla memang menunjukkan loyalitasnya pada perusahaan Brian. Namun hal itu tidak lantas membuat Brian melupakan kesalahan Karla di masa lalu nya.


Karla muncul dari balik pintu yang sedang terbuka di saat Brian sedang membuka pakaian nya. Pria itu melirik tajam sebagai bentuk nyata penolakannya terhadap kehadiran Karla di kamar itu.


"Tenang saja, aku tak akan mengganggu mu." Ucap Karla meyakinkan. "Aku hanya menuruti kemauan Ayah angkat ku saja untuk membantu mu berpakaian." Muncul seringai di bibir Karla.


"Aku tidak butuh bantuan apapun dari mu." Tegas Brian dengan nada tak suka. " Dan ku peringatkan padamu agar tidak mengganggu Ayah ku!" Brian meraih leher Karla dan menekan sepeeti ingin mencekik nya.


"Aku tidak akan mengganggunya percayalah." Karla sekuat tenaga mengeluarkan suaranya yang ter cekat akibat cengkeraman tangan Brian di leher Karla. "Lepas kan aku." Pekik Karla yang memohon membuat Brian melepaskan tangannya.


Karla pergi meninggalkan Brian dengan seringai jahat nya setelah menyiapkan baju ganti untuk Brian. Dan karena amarah yang memuncak membuat Brian tak memperhatikan kemeja itu sebelum menggunakan nya.


* * *


Saat membuka pintu kamarnya, Brian yang tadinya terlihat lesu kini menjadi tampak penuh semangat dengan senyumnya yang menawan.


Bagaimana tidak, jika Brian melihat tubuh Mayang yang terlihat sensual dengan balutan lingerie berwarna gold tengah berbaring memiringkan tubuhnya dengan tangan yang menyangga kepalanya.


Mayang tampak tersenyum meski terlihat tersipu, seperti nya dia memang sudah menyiapkan dirinya untuk malam ini.


Brian yang tampak terpaku dengan pandangan yang tak lepas dari setiap jengkal lekuk tubuh isterinya di balik pakaian transparan nya itu.


"Sayang,,," suara Mayang lembut terdengar seketika menyadarkan Brian dari pandangan nya yang sedang berkelana. "Apa kau akan berdiri di situ sampai besok?" Ucap Matang dengan nada sedikit meraju.


Brian yang sudah tergugah segera naik ke ranjang menyusul sang istri tanpa pikir panjang lagi. Ia segera menyerang tubuh istrinya dengan bertubi - tubi ciuman di setiap inci tubuh istrinya.


Mayang merasa geli dengan ciuman suaminya pun tertawa terbahak sembari menahan tubuh Brian dengan kedua tangan nya.


"Sayang hentikan, aku geli!" Ucap nya di sela tawa.


"Kali ini kau tak akan ku lepaskan." Seringai Brian muncul saat menatap wajah malu sang istri. Lantas ia membuka kancing jas nya satu per satu.


Karena melihat Brian Brian mengenakan pakaian yang berbeda dengan sebelum ia berangkat tadi membuat Mayang tergelitik ingin bertanya.


"Sayang kenapa pakaian mu berbeda dengan yang tadi?"


"Baju ku yang tadi kotor terkena noda kopi sayang, jadi aku menggantinya.


Tiba - tiba mata Mayang menangkap bercak merah di kerah kemeja Brian yang putih. Entah mengapa seketika hal itu membuat hatinya Mayang seperti teriris sembilu. Bulir air mata mengalir begitu saja melalui sudut mata nya.


Ia lantas menarik tubuhnya meringkuk dan membelakangi suaminya. Brian yang tampak aneh dengan perubahan sikap sang istri membuatnya terpancing untuk bertanya.


"Sayang, kenapa memalingkan tubuhmu begitu?" Tanya nya dengan tangan yang bergerilya. Namun membuat nya heran karena sang istri tak bereaksi apapun. "Sayang..." Panggi nya lagi dengan kening berkerut karena merasa ini ada yang tidak beres.

__ADS_1


"Dari mana kau mendapatkan noda lipstik berbentuk bibir itu?!"


Bersambung


__ADS_2