
"Ayah?"
Brian terkejut mendapati Malik sudah berada di dalam apartemen Billy ketika ia masuk. Kelihatannya dua pria itu tengah berbincang serius sebelum ia datang.
Menatap Ayahnya dengan heran, ia lantas bertanya, "Sedang apa Ayah disini?"
"Ada yang sedang ayah bicarakan dengan Billy," jawab Malik dengan suara tenang sambil melirik Billy sebentar. Kemudian, pria itu mengalihkan pandangan pada Brian sebelum akhirnya menambahkan dengan penuh penekanan. "Denganmu juga."
"Aku sudah tau apa yang ingin Ayah katakan."
Seolah-olah tahu dengan apa yang ingin Malik katakan, Brian berucap demikian dengan nada santai sembari duduk dengan kaki menyilang.
Brian memang tahu pass code apartemen Billy, sehingga ia bisa masuk ke apartemen mewah itu kapanpun ia mau.
"Bagus kalau kau tahu. Berarti Ayah tak perlu repot-repot memulainya, bukan," sindir Malik dengan senyum penuh ironi.
"Brian–" Billy yang melihat ada percikan ketegangan antara Ayah dan anak itu segera menyela. Ia tak ingin percikan itu menyala dan berkobar hingga membuat keduanya terbakar amarah. "Kami sudah memiliki banyak bukti, segeralah kau hentikan agar istrimu tak menjadi korban," ucapnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Namun, alih-alih menerima usulan Billy, Brian justru bersikap tenang seolah-olah telah memiliki siasat yang sudah final.
"Aku tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil langkah Bill, aku punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini."
"Tapi Brian," sahut Billy. "Semakin kau mengulur waktu, justru akan semakin membahayakan nyawa istrimu!" Billy menaikkan nada bicaranya. Ia menilainya Brian terlalu lemah menghadapi sang mertua.
"Hey, turunkan nada bicaramu, Bill! Aku tau apa yang harus aku lakukan," desis Brian setelah menuding Billy dengan penuh kemarahan.
"Aku begini karena aku peduli padamu, Brian! Tidak seharusnya kau menggadaikan keselamatan Mayang!" balas Billy pula tak mau kalah. Menghadap pria keras kepala di depannya benar-benar membuat dia naik darah.
"Peduli apa kau padaku, hah!" Brian bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati Billy yang duduk di sofa seberang.
Diraihnya kerah kemeja Billy dengan kuat hingga lelaki itu berdiri. "Kau bahkan memaksaku bersikap baik pada Karla. Untuk apa!" bentak Brian di depan wajah Billy, sementara tangannya juga semakin menguatkan cengkeraman.
"Tentu saja agar kau mendapatkan informasi dari dia!" Billy menepis keras tangan Brian hingga melepas cengkeramannya. "Kau pikir wanita itu tak ada hubungannya dengan mertua yang paling kau sayangi itu, hah!"
"Kau memang teman sekaligus saudara angkatku. Tapi kau tidak berhak mengatur hidupku!" Brian mendorong keras tubuh Billy hingga terhuyung ke belakang.
Menggeleng tak percaya, Billy lantas memaki Brian. "Kau lelaki egois!"
"Sudah! Hentikan pertengkaran ini!"
Malik yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya angkat bicara untuk melerai. Membuat kedua lelaki yang tengah bersitegang itu sontak menoleh bersamaanan dan kemudian menunduk dengan wajah gusar.
"Apa kalian pikir ini bagus, hah! Dengan bertengkar semua permasalahan kelar, begitu? Kalian bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah! Berdebat hanya akan menguras emosi." Malik memperhatikan dua lelaki keras kepala itu bergantian. Menyelidik dan menunggu reaksi dari keduanya.
Brian dan Billy saling memandang. Menghela nafas dalam sebelum akhirnya kembali duduk di kursi masing - masing.
"Apa kau pikir aku tak menyayangi istriku, begitu?!" Suara Brian terdengar seperti meraju. Namun juga memprotes tak terima. "Aku bahkan menyayangi istriku lebih dari nyawa ku sendiri." Lirihnya kemudian dengan wajah sedih yang tak di buat-buat.
"Lalu apa tujuanmu datang kemari?" Malik bertanya dengan wajah penasaran. karena Menurutnya Brian tak mungkin datang kemari tanpa maksud dan tujuan apapun.
"Aku ingin menitipkan Mayang pada Billy saat aku tak bisa menjaganya nanti."
" Apa?!" Malik dan Billy bersuara secara bersamaan. Keduanya terkejut, saling pandang satu sama lain dengan wajah bingung.
"Apa maksudmu?" Malik mengerutkan keningnya dengan tubuh yang semakin condong mendekati putranya.
"Aku memiliki rencana sendiri. Untuk otu aku meminta bantuan mu Bill, lindungi Mayang melebihi dirimu melindungi ku. Utamakan Mayang dari pada aku. Aku memohon padamu sebagai teman." Wajah Brian tampak pias saat ia bicara dengan nada memohon.
Menanggalkan atribut nya sebagai atasan dan berbicara sebagai teman. Matanya yang terlihat berkaca - kaca menunjukkan bahwa ia telah mengambil keputusan yang berat dalam hidupnya.
"Aku percayakan Mayang pada mu Bill," Imbuh Brian lagi yang membuat Billy seketika trenyuh.
"Tanpa kau minta pun aku pasti akan melindungi istrimu. Kau tenang saja." Billy mencoba meyakinkan melalui sorot mata penuh keyakinan.
"Terimakasih Bill," ucap Brian tulus. "Aku harus pulang sekarang. Tadi ada seseorang yang membidik Mayang dengan menggunakan senjata laser." Ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
"Lalu kau tinggal istrimu kemari?" Tanya Malik penasaran.
"Iya." Lirih Brian.
"Kau benar - benar gila."
* * *
Brian membuka pintu kamar dan langsung merasa lega saat di lihatnya Mayang yang sudah tertidur. Di bawah penjagaan Bu Kuswara dan beberapa pelayan perempuan, Mayang di pastikan tak bisa beranjak sedikitpun dari ranjang. Hingga ia yang tadinya hanya berpura-pura tidur pun benar-benar terlelap.
"Terimakasih sudah menjaga nya Bu Kus," ucap Brian tulus.
"Sudah menjadi tugas saya Tuan muda," Bu Kuswara berucap sebelum akhir nya mohon undur diri.
Brian melangkah di tepi ranjang disisi tempat Mayang berbaring. Ia lantas duduk di bibir ranjang. Ditatapnya wajah sang istri yang tampak pulas dalam tidurnya yang nyaman.
Namun keringnya tampak berkerut seolah ada yang yang sedang ia pikirkan hingga terbawa dalam tidurnya. Di kecup nya kening sang istri agak lama, seolah kecupan itu untuk terakhir kalinya.
* * *
Mayang mengerjap kan mata saat mendengar suara adzan subuh berkumandang. Teringat kembali olehnya kejadian semalam saat tiba - tiba sang suami meningggal kan nya pergi dalam kebingungan yang terus mengusiknya hingga ia tertidur.
Usahanya untuk mengelabui para pelayan dengan berpura - pura tidur ternyata membuatnya benar - benar tertidur. Hingga saat suaminya pulang pun Mayang tak menyadarinya. Suami? "Oh ya, suamiku, dimana suamiku?!"
Mayang menggerakkan tangan nya untuk meraba tempat kosong di sampingnya dan menemukan bantal guling diana. Lalu Mayang menggerakkan lehernya untuk menoleh, ternyata Brian berada di ujung ranjang dan tertidur dalam posisi memunggungi nya.
__ADS_1
'Ada apa dengan nya?' Pertanyaan itu mengusik batin Mayang. Terjadi perubahan sikap pada diri suaminya. Brian yang selama ini selalu hangat padanya. Yang tak mau melepaskan pelukannya walaupun tengah tertidur.
Mungkin dia hanya tak mau menggangu tidur ku saja. Sayang maafkan aku Yang tak menyadari kepulangan mu ya,
Mayang lantas merangkak untuk mendekati suaminya. Di kecupnya pipi Brian dari belakang dengan lembut. Lelaki itu tak bereaksi, ia masih tenggelam dalam buaian mimpi indahnya.
Mayang lantas beranjak untuk membersihkan dirinya di kamar mandi dan melakukan kegiatan nya seperti biasa sembari menunggu suaminya bangun.
Mayang sudah cantik hari ini, sudah berpakain rapi seperti biasa dan menatap cermin dengan penuh percaya diri dan meninggalkan dengan senyuman.
Saat kembali ke kamar, di lihatnya pula sang suami yang masih belum beranjak dari sana. Mayang lantas mengayunkan langkahnya menuju ranjang. Dan membungkukkan tubuhnya sembari mengecup pipi Brian yang yang tampak masih memejamkan mata dengan rapat.
"Sayang,,, bangun..." Bisik Mayang lembut di telinga Brian.
Brian yang merasa terusik tampak mengerjapkan mata. Tangannya reflek meraih pergelangan tangan Mayang yang tengah mengusap lembut pipinya.
Mayang tersenyum saat Brian telah membuka matanya. Namun bukan senyum hangat serta kecupan seperti pagi biasanya yang ia terima, melainkan rasa keterkejutan Brian saat menatapnya.
Brian terlonjak dan spontan terduduk sembari menepis tangan Mayang. " Minggir! Aku mau mandi!" Ucap Brian dengan wajah kesal.
"Sayang kau kenapa?" Mayang bertanya dengan wajah kebingungan.
"Minggir kau menghalangi jalanku!" Bentak Brian sembari mendorong tubuh Mayang hingga terhuyung kebelakang.
***
Pagi itu Mayang memulai harinya dengan suasana hati yang buruk. Perubahan sikap Brian padanya benar-benar mempengaruhi moodnya. Rasa bingung kaget dan penasaran bercampur aduk menjadi satu.
Namun Mayang tetap berpikir positif dan menganggap ini adalah hal yang wajar. Mungkin kesalahannya memanglah sangat fatal sehingga sang suami tak bisa memaafkannya begitu saja. Dan mungkin Brian bersikap begitu hanya untuk memberikan efek jera padanya.
Mayang merasa hidup nyaterasa hampa hari ini. Tanpa cinta dari suaminya. Tanpa ciuman dan pelukan Brian. Mayang baru sadari, rupanya sikap lembut Brian sudah membuatnya ketagihan. Dan saat ia melewatkannya pagi ini, Mayang merasa ada yang kurang lengkap. Seperti ada yang hilang dari dirinya.
Dengan wajah lesu Mayang memaksa kakinya melangkah menuju dapur. Ia ingin mencari pelampiasan di sana. Melakukan apapun yang bisa dilakukannya. Hidup tanpa kegiatan benar-benar mengurungnya dalam kebosanan.
Namun, belum sempat kakinya melangkah masuk, telinga Mayang lamat-lamat mendengar suara perbincangan dari dalam.
Oh ,,, jadi para pelayan disini juga senang bergosip rupanya. Tertangkap basah kalian ya...! Mayang menyeringai puas. Dari tempatnya berdiri ia lantas berusaha mencuri dengar.
"Hati-hati kalau tiba-tiba suami kita berubah sikap. Bisa jadi dia selingkuh." Seorang pelayan pertama terdengar oleh Mayang.
"Betul itu!" Sahut pelayan lainnya lagi. "Kalau sudah ada tanda-tanda seperti itu, para istri kudu waspada."
Kenapa jadi pas gini si momennya? Apa benar yang mereka bilang ya? Mayang menggumam khawatir dalam hatinya.
"Jika biasanya dia cuek lalu tiba-tiba perhatian, hemmm ... itu pasti ada udang di balik bakwan. Atau bisa juga sebaliknya."
"Lalu bagaimana supaya suami selalu sayang pada istrinya? Maksudku biar dia nggak bakal selingkuh gitu? Aku jadi was-was kalau nanti menikahi pria yang salah." Suara pelayan lain yang sepertinya masih muda dan singel.
"Istri itu, selain cantik juga harus pintar masak." Ucap pelayan senior
"Oh ya?"
"Ya iya lah, Kalau beli terus mah boros. Kalau masakan istri enak, suami pasti bakal rindu terus sama masakan istri."
"Wah betul juga."
"Kalau cinta pada pandangan pertamakan dari mata turun ke hati, tapi kalau cinta suami pada istri dari perut, turun ke hati! Hahaha!" Tawa para pelayan itu menggema.
"Hus jangan kenceng-kenceng kalau tertawa, nanti kalau nyonya Mayang dengar bagaimana?"
"Ah nyonya Mayang mah baik orangnya, dia nggak mungkin marah-marah." Kata sanjungan dari pelayan itu secara spontan membuat hati Mayang berbunga-bunga. Lumayan, itu sedikit mengobati kehampaan hatinya beberapa waktu lalu.
Selamat kalian ya, untung kalian tidak sedang membicarakanku.
Seketika Mayang berpikir, ucapan mereka ada benarnya juga. Mungkin dengan dirinya pintar memasak, perilaku Brian tak akan dingin lagi kepadanya.
Mayang dengan hati-hati menarik kakinya untuk mundur beberapa langkah, lalu berjalan normal menuju ke dapur seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Para pelayan yang tadi bergosip ria kini tampak berdiri sembari menunduk sopan. Kemudian salah satu dari mereka maju selangkah dan mulai angkat bicara.
"Jika Nyonya membutuhkan sesuatu kami siap melayani. Seharusnya Nyonya tak perlu repot-repot ke dapur lagi."
"Mulai sekarang tidak apa, kan jika aku jadi sering-sering kemari." Mayang berucap sambil tersenyum pada pelayan itu. Namun, rupanya kata-kata Mayang terdengar ambigu di telinga mereka.
"Hahaha, bukan untuk mengawasi kalian ya, tapi aku ingin belajar masak." Seolah-olah tahu apa yang mereka pikirkan, Mayang menjelaskan maksudnya sambil tertawa. Tentunya untuk mengusir ketegangan.
"Ada yang bisa bantu aku belajar masak?"
* * *
"Namamu siapa?" tanya Mayang pada Chief laki-laki itu. Dilihat dari wajahnya, sepertinya mereka seumuran saja.
"Juan nyonya." Jawabnya takut - takut.
"Baiklah Juan, kau bisa mengajariku memasak makanan kesukaan Tuan, bukan?"
"Bisa nyonya," jawabnya sembari mengangguk. Namun wajahnya terlihat melamun dan tak fokus membuat Mayang gemas dan ingin memukul lengannya.
"Juan!"
"Cok!" Juan tergagap hingga mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Juan kau latah?" Tanya Mayang dengan wajah yak percaya.
"Tidak nyonya," bantah Juan cepat namun dengan wajah terlihat gelisah.
"Hemm baik lah, kau mau mengajari ku memasak kan?"
"Mau nyonya,"
"Benarkah?" Tanya Mayang dengan wajah tak yakin. Saat Juan akan membuka mulutnya, cepat - cepat Mayang memukul lengan Juan hingga lelaki itu kembali terkejut dan kembali bersuara.
"Tidak mau nyonya!" Hup, Juan spontan menutup mulutnya. "Maaf nyonya," Juan menyadari kesalahannya.
"Kenapa tidak mau?"
"Saya mau nyonya,"
"Jawab aku, kenapa tidak mau?" Mayang mengangkat tangan nya untuk menggertak Juan.
Juan yang khawatir akan dipukul lagi oleh Mayang dan membuatnya bicara yang tidak - tidak, akhirnya tertunduk dan buka suara. "Kalau nyonya sendiri yang memasak untuk Tuan, lantas bagaiman dengan saya." Ucap nya dengan nada penuh kekhawatiran.
"Kau takut di pecat ya?" Mayang terkeleh. " Tidak akan Juan!"
"Cok!" Lagi - lagi Mayang memukul Chief itu.
Juan sudah mulai menunjukkan kebolehannya memasak. Dan hal itu membuat Mayang kagum. Juan benar - benar sangat ahli. Dari caranya mengiris bawang yang super cepat, dan hasil masakannya yang super lezat.
"Juan pelan - pelan saja!" Protes Mayang dengan gerakan juan yang sangat cepat. "Kau ini mau mengajari atau mau mengajak balapan dengan ku?! Kau ingin Tuan marah gara - gara jari ku hilang karena mengikuti cara mu?!"
"Tidak nyonya, maaf." Merasa bersalah.
"Hemm baiklah, tak masalah." Mayang terdiam sebentar lalu melirik lelaki yang sedang serius itu. " Saat ku panggil tadi, kau sedang apa?
"Mencuci baju tidur nyonya," hawab nya singkat.
"Lalu?"
"Saya bangunin!" Teriak Juan lagi karena Mayang lagi - lagi memukulnya.
"Hahaha kau ini aneh ya? Mana mungkin baju tidur mu mau bangun! hahaha..." Mayang tampak tertawa puas tanpa menghiraukan lelaki yang tertunduk malu itu.
* * *
Makan malam sudah terhidang di meja makan dengan banyak menu dan kesemuanya itu adalah kesukaan Brian.
Mayang menyambutnya kepulangan Brian dengan suka cita dan bahagia.
"Sayang makan yuk, hari ini aku memasak khusus buat kamu,,," Ajak Mayang sembari bergelsyut manja di lengan suami nya. Ia menggandeng suaminya menuju ruang makan tang penuh dengan hidangan.
Brian yang perutnya merasa sudah kenyang karena sudah makan bersama Billy terlihat tak berselera dengan hidangan yang begitu banyak itu.
Mayang menarik kursi. "Sayang duduklah..." Mayang tersenyum sembari menatap suaminya. Namun Brian tetap pada posisinya dan menatap heran pada Mayang.
"Yakin semua ini kau yang memasak?"
"Iya sayang, bersama Juan. Aku memintanya untuk membantu ku."
Brian menghela nafas. Di tatap nya Mayang yang terlihat sangat bersemangat. Terlihat sekali dia begitu ingin menunjukkan rasa cinta padanya.
Sungguh dari lubuk hatinya yang terdalam ia tak ingin menyakiti hati istrinya. Tapi hari ini dia benar - benar sudah sangat kenyang di tambah lagi dengan misi yang sedang ia jalankan.
"Sayang,,,"
"Ya," Jawab Mayang dengan binar bahagia. Kegelisahan nya seharian ini luntur sudah.
"Apa kau pikir perutku ini sebesar gentong air yang cukup untuk menampung semua makanan itu?!" Mayang menggeleng pelan. "Lalu kenapa kau masak sebanyak ini untukku?"
"A' aku... aku hanya ingin..."
"Juan!" Seru Brian memanggil Juan. Brian tahu koki itu pasti ada di dapur sekarang. "Juan!!" Panggil Brian lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lantang.
Tampak Juan berlari tergopoh untuk mendekat. Wajahnya terlihat panik. " Saya Tuan," Juan menunduk sopan.
"Sayang apa tang akan kau lakukan padanya?!" Ucap Mayang setengah berbisik dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia tak ingin Brian memecat Juan karena hal sepele ini.
"Kau yang membantu istri ku menyiapkan semua ini?" Tanya Brian du tujukan pada Juan.
"Benar tuan," Jawab Juan takut - takut.
"Sayang,,," Lirih Mayang sembari menggeleng dengan wajah yang memohon.
Brian memegang pundak Mayang lalu menekan nya agar duduk di kursi yang telah ia siapkan tadi. "Duduk!" Paksa Brian dengan suara keras karena Mayang terlihat enggan.
"Juan kau juga duduk!" Perintah Brian sembari melirik kursi kosong tak jauh dari tempat Mayang duduk.
Meski takut - takut akhirnya Juan pun menurut. Ia tak mampu menolak saat di lihatnya Brian tengah menatapnya tajam.
"Kalian yang masak kalian juga yang makan!" Ucap brian dengan nada memerintah. "Habiskan semuanya." Tambah nya, lalu berlalu pergi meninggalkan ruang makan.
"Nyonya,,,"
Bersambung
__ADS_1