
Sore itu Seperti biasa Billy mengendarai mobil nya menuju rumah Brian sepulang nya mereka dari kantor.Billy berkali-kali melirik kaca spion dan melihat wajah bos nya dari pantulan cermin spion.
Merasa aneh karena sama sekali tak memperlihatkan senyum nya seperti beberapa hari belakangan ini.Brian terlihat menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mata yang terpejam.
"Tuan apa anda tidur?"Tanya Billy sambil menatap tuan nya dari spion.Akhir nya dia bertanya setelah sejak tadi berusaha menahan nya.
"Tidak,aku hanya merasa lelah."Brian menjawab dengan mata yang masih terpejam.Tak ada lagi percakapan setelah itu sampai akhir nya mobil memasuki gerbang utama dan melaju hingga kehalaman.
Billy turun lalau dengan cekatan membukakan pintu untuk Brian.Lelaki itu keluar lalu melangkah menuju pintu utama.Terlihat Bu Kuswara dan beberapa pelayan tampak berdiri menyambut Brian.
Billy mengikuti Brian di belakang nya.Meski batin nya bertanya-tanya.Tak seperti biasanya setelah beberapa hari belakangan ini Brian selalu menyuruh nya untuk pulang begitu selesai mengantarkan bos nya itu,tapi berbeda dengan hari ini.
Itu berarti Brian masih menginginkan nya untuk tetap tinggal di sini.Tanpa banyak tanya Billy mengikuti kemana Brian melangkah.
"Apa tuan mau langsung mandi?"Tanya Billy saat keduanya sudah memasuki kamar Brian.
"Apa kau ada janji setelah ini?"Tanya Brian pada Billy yang terlihat berdiri siaga menunggu perintah dari nya.
"Tidak tuan,saya akan tetap disini jika anda butuh teman bicara."Jawab Billy sopan dengan sangat yakin.Tak ingin tuan nya merasa tak enak hati.
"Baik lah,siapkan air mandi ku.Kita bicara sambil aku berendam."
"Baik tuan."Billy mengangguk sopan lalu melangkah menuju kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk Brian.Mengatur suhu nya agar tetap hangat saat akan tuan nya gunakan nanti.Ia melangkah kan kaki nya keluar dari kamar mandi untuk kembali menghampiri tuan nya yang masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya."Air mandi sudah siap tuan."Ucap Billy sopan.
"Sebentar."Jawab Brian dengan pandangan masih tertuju pada layar ponselnya.Setelah beberapa saat Brian menyerah kan ponsel nya pada Billy dan kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
Billy mencharger ponsel Brian karena melihat daya baterai nya yang hanya tinggal separuh nya.Ia lantas membuka kulkas dan mengambil dua botol jus jeruk dingin kemudian melangkah menuju kamar mandi menyusul Brian yang sepertinya sudah berendam di sana.
"Apa anda ingin minum?"Billy menyodorkan satu botol jus pada Brian yang sudah berendam dalam bath tub dengan memejam kan mata dan kepala yang bersandar di tepian nya.
"Terimakasih."Ucap Brian setelah meraih botol itu dari tangan Billy.Kemudian dengan cepat membukanya lalu meneguk nya hingga menyisakan separuh isi dari botol itu.Menutup botol itu lagi dan menyerah kan nya pada Billy yang masih siaga berdiri di samping nya.
"Duduk lah."Ucap Brian menyuruh Billy sambil melirik sebuah kursi agar di tempati oleh Billy.Sepertinya dia akan bicara banyak kali ini.Dan akan melelahkan untuk Billy kalau dia tetap dalam posisi berdiri.
Billy menurut dan menarik kursi itu agar posisi nya lebih dekat dengan Tuan nya.Menatap antusias pada Brian menunggu laki-laki itu untuk bicara.
"Kapan kau akan mengurus Karla?"Brian membuka pembicaraan dengan nada menuntut.merasa gadis itu telah jauh melewati batas.
"Secepat nya tuan."Jawab Billy singkat.
"Kapan!!"Suara lantang itu dibarengi dengan pukulan di air hingga percikan air itu membasahi sebagian dari pakaian Billy.Brian menginginkan kepastian."Aku sudah sangat muak dengan wanita bermuka dua itu.Kau tau bagaimana dia selalu saja berusaha menggoda ku?"Senyum Brian terlihat menyedihkan.Tak percaya ini terjadi padanya."Dan kau!Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan dengan memaksa ku tetap bersikap pada nya!Kenapa bukan kau saja?!!"
"Maaf tuan,anda lah orang yang Karla mau,bukan saya."
"Kau sendiri tau rasanya aku ingin muntah setiap kali melihat wajah nya!"Brian mendengus kesal tanpa melihat ke arah Billy.Menggemerutukkan gigi nya menahan amarah.
"Maaf kan saya tuan,semua saya lakukan untuk kebaikan tuan dan perusahaan."Ucap Billy pasrah dan rasa bersalah dan tak menghiraukan jas nya yang sedikit basah karena terciprat oleh air mandi Brian.
"Bisa mu hanya maaf!Kebaikan apa yang kau maksud hah!!"Tangan Brian meraih dan menarik kerah jas Billy dengan kuat.Lalu melepaskan cengkeraman nya itu dengan kasar."Kau tidak tahu karena kau tidak merasakan yang aku rasakan!Rasanya aku ingin mematahkan tangan wanita itu saat dia seenaknya menyentuh tubuh ku!"Lagi-lagi Brian bicara dengan penuh amarah.Usaha nya untuk menahan masih belum berhasil.Hal itu cukup untuk menunjukkan seberapa benci nya Brian pada wanita itu.
"Saya dan tuan besar berharap anda bisa bertahan sedikit lagi sampai kita tahu yang sebenarnya Tuan."Billy bicara dengan penuh keyakinan.
"Apa kau dan ayah merahasiakan sesuatu dariku?!"
__ADS_1
"Tidak ada tuan muda.Tapi kita butuh waktu untuk menyelidiki semuanya."
"Cih!!Aku benar-benar tak percaya kau bisa mengendalikan diriku seperti ini!"Kepalanya menggeleng tak percaya.Brian hampir melayangkan pukulan nya ke wajah Billy.Tapi urung dilakukan nya karena Billy terlihat pasrah.Brian menghela nafasnya panjang dan menyandarkan kepalanya lagi di tepi bath tub. "Aku ingin segera mengakhiri semua ini."Suara Brian terdengar lirih.
Billy memperhatikan wajah tuan nya yang berubah pias.Terlihat sekali ia merasa tertekan.Merasa tak berdaya meski ia memiliki kekuasaan tertinggi.
Maafkan saya tuan,saya belum bisa jujur pada anda karena anda tak akan percaya dengan apa yang terjadi sebenarnya.Saya ingin anda tau dengan sendirinya.
Tiba-tiba Billy teringat akan Mayang.Di situasi seperti ini ia butuh sesuatu hal yang bisa membuat kemarahan Brian jadi mereda.
Biasanya Tuan muda ini selalu tersenyum jika sedang membicarakan gadis itu.Matanya selalu memancarkan binar bahagia setiap kali ia menyinggung gadis itu.Oh iya,kemana dia?Tuan juga tidak berniat untuk menjemputnya.Tapi dia juga tak menunjukkan batang hidung nya di rumah ini.
"Tuan,bagaimana hubungan anda dengan Mayang?"Akhirnya terlontar juga pertanyaan ini dari mulut Billy.
"Entah lah Bill,"Suara Brian terdengar melemah.Wajah nya memperlihatkan kepasrahan."Orang tua ku bahkan sudah menahan Mayang untuk tetap tinggal disana.Aku harus menikahinya untuk membawanya kembali ke rumah ini."
"Lalu apa yang anda tunggu?Saya tahu sebesar apa cinta anda pada nya dengan melihat rasa cemburu anda saat saya menyentuh Mayang."Billy berbicara sambil tertawa di bagian akhir.Ia masih merasa kejadian itu lucu karena cemburu Brian yang tak beralasan.
"Kau mentertawakan ku!"Bentak Brian sambil tertawa.
"Maafkan saya tuan."Billy menyudahi tawanya lalu memasang wajah serius nya.
"Aku takut dengan menikahi nya malah akan membuat nyawanya semakin terancam."Lagi-lagi Brian bicara dengan wajah pias."Aku takut kehilangan dia."
"Percayalah pada saya tuan,setelah kita bisa mengungkap semuanya,Mayang akan aman berada di sisi tuan."Billy berusaha menenangkan tuan nya dengan penuh keyakinan.
"Tapi aku masih ragu dengan perasaan nya padaku."Pernyataan Brian ternyata mengejutkan Billy.
"Saat Sella mencoba menggoda ku,ia tak terlihat cemburu.Bahkan ia pergi meninggalkan kami hanya berdua seperti memberi kesempatan pada kami.Apa dia fikir Sella itu kekasih ku ya,"Brian meminta pendapat pada Billy.
"Apa anda mengatakan anda mempunyai kekasih?"
"Iya selama ini dua berfikir begitu.Gara-gara aku pergi ke makam dengan membawa buket bunga dia fikir aku akan pergi berkencan."Brian tersenyum mengingat kejadian itu."Jadi sampai sekarang dia masih berfikir begitu.Entah lah... Dia ini sebenar nya gadis yang cerdas,tapi bodoh untuk membaca isi hati ku seperti apa.Kami bahkan sudah..."Brian terdiam dan menggantung kata-katanya.
"Sudah apa?"Billy yang sejak tadi antusias mendengarkan di buat penasaran oleh kata-kata Brian yang terhenti.
"Ah sudah lah, lupakan!"Brian memalingkan wajah nya dari Billy.Tapi Billy sempat melihat wajah itu bersemu merah entah karena apa.Brian tersenyum sambil menggigit bibir bawah nya.Terlintas lagi di fikiran nya kejadian kemarin saat ia mencium bibir Mayang dengan paksa.Gadis itu sungguh menggemaskan saat tersipu malu.
Apa arti senyuman anda tuan?
Anda tidak melakukan perbuatan yang melebihi batas kan?
********
Pagi itu Mayang sedang asik berkutat di dapur.Ia memanfaatkan waktu senggang nya saat nyonya dan Bella sedang bekerja diluar rumah dengan belajar memasak.Entah mengapa akhir-akhir ini keinginan nya untuk bisa memasak begitu sangat kuat.Entah dorongan itu datang dari mana.
Mayang hanya tak ingin hal bodoh seperti yang dialami Sella terjadi juga padanya.Karena ingin terlihat pintar jadi ketahuan kan bodoh nya.Mayang tertawa geli setiap kali mengingat itu.Sebenar nya Mayang merasa iba pada kekasih tuan muda itu,tapi dia terlalu jahat menjadi wanita.
"Eh,tapi kenapa tuan Brian mau pacaran dengan wanita seperti itu ya??Aaaa kenapa jadi ingat nama itu lagi si!!Lupakan dia lupakan apapun tentang nya."Mayang bicara seperti sedang melafalkan mantra.Ia benar-benar sudah membulatkan tekad nya.
Dua hari tak bertemu Brian ternyata membuat hati nya merasa lebih tenang.Tak pernah terjadi lagi debaran-debaran yang sering datang dengan tiba-tiba seperti saat lelaki itu berada di samping nya.
Kini ia harus bisa belajar menjaga jarak darinya."Karena yang dekat belum tentu bisa jadian,dan yang jadian belum tentu ke pelaminan.Jadi stop baperan saat dia berada di dekat mu Mayang."Mayang memperingatkan pada diri nya sendiri.
__ADS_1
Entah mengapa matanya jadi perih hingga meneteskan air mata.Ia menyeka air mata itu dengan jemari nya."Dasar bawang sialan!Kau yang sekecil ini saja sanggup membuat ku menangis apa lagi Tuan Brian!"Mayang menggerutu sendiri.
Ia mulai memasak.Menumis bumbu,masukkan sayuran.. masukkan semua bumbu,icip-icip,matang,angkat lalu sajikan.
Mayang menyendok sayur hasil masakan nya sendiri yang telah ia pindah ke piring saji.Memasukkan satu sendok ke mulut nya.Hap,lalu megunyahnya pelan-pelan sambil mengecap rasanya.
Aaahhhh kenapa rasanya masih biasa saja.Kenapa tak seenak masakan koki ya?Padahal aku sudah praktekkan sesuai yang dia ajarkan...Mayang bersandar lemas di kursi meja makan.
Apa benar memasak itu harus dengan cinta?Lalu kalau tidak ada cinta nya bagaimana?
Mayang membenamkan pipi kiri nya di meja makan bertumpu pada punggung tangan kiri nya,Sementara tangan kanan nya mengaduk-aduk masakan yang menurut nya gagal itu.
"May,kamu ngapain disini?"Suara Bella mengagetkan Mayang sehingga gadis itu spontan mengangkat kepalanya.
"Aku belajar masak.cobain..."Mayang menyodorkan satu sendok sayur capcay itu ke mulut Bella agar gadis itu mencicipi nya.
"Hemmm enak."Ucap Bella sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Bohong."Ucap Mayang sambil cemberut.
"Enggak kok,beneran enak.coba saja cicipi?"
"Justru karena aku sudah mencicipi nya.Rasanya biasa saja.Tidak enak."
"Ini kan baru awal,kau bisa mencobanya lagi nanti.."Bella mengelus punggung Mayang agar gadis itu kembali bersemangat."Kenapa kamu ngotot sekali pengen masak capcay yang enak?Apa kau mau memasak nya untuk Brian?Itu kan sayur kesukaan Brian.."
Duaarr!Kok Bella tau si,, aku nya jadi malu kan..
"Enggak kok,buat aku sendiri.Aku kan suka makan sayur."Mayang mengelak sambil menyembunyikan wajah nya yang bersemu malu.
"Ahh yang benar??"Bella menggoda Mayang dengan menunjuk wajah nya.
Iya si,beberapa kali kulihat tuan Brian memilih sayur capcay setiap kali makan bersama.
"Iya benar.Aku mana tau kesukaan tuan Brian itu apa."
"Ah terserah lah,yang pasti ayo cepetan ikut aku.Nyonya sudah menunggu mu."Ucap Bella sambil menarik tangan Mayang agar gadis itu mengikuti nya.
"Memang nya nyonya mau apa menunggu ku?"Tanya Mayang penasaran sambil berjalan mengimbangi langkah Bella.
"Seperti nya nyonya mau mengajak mu ke suatu tempat."
"Kemana?Bukan kah Tuan Brian melarang ku keluar rumah kan?"
"Hemm."Bella mengangkat bahu nya sambil menggelengkan kepala tanda tak tahu.
Kedua gadis itu melangkah bersamaan memasuki ruang kerja dimana Ratih sedang menunggu Mayang sembari melakukan pekerjaan nya.
"Nyonya memanggil saya?"Tanya Mayang sambil berjalan mendekati Ratih yang duduk di kursi meja kerjanya.
"Iya,kamu mau kan menemaniku menggantikan Bella."Ratih bicara sambil menyandarkan tubuh nya di kursi."Dia sangat sibuk hari ini."Mayang melirik Bella,gadis itu mengangguk sambil memanyunkan bibir nya seolah mengiyakan yang di katakan Ratih.
"Baik nyonya."Jawaban Mayang di sambut senyuman Ratih.
__ADS_1