
Billy merogoh ponsel dari sakunya setelah ia melangkah sedikit menjauh dari Brian. Dengan lihai ia pun memainkan ponselnya dan menekan satu nomor lalu menghubungi nya.
"Hallo sekretaris Billy," sapa yang di seberang saat panggilan telepon telah tersambung.
"Hallo nyonya Mayang, saya mau tanya?" Ucap Billy tanpa ragu.
"Iya," ucap Mayang lalu kemudian ia diam seperti sedang menunggu Billy bicara.
"Apa anda minta ketoprak pada Tuan Brian?" Tanya Brian kemudian.
"Iya, apa permintaan ku terlalu susah untuk di penuhi?" Tanya Mayang terdengar seperti khawatir.
"Ketoprak seperti apa yang anda minta?"
"Makanan sekretaris Billy." Jawab Mayang dengan cepat. "Ketupat yang di beri tauge dan bawang goreng disiram bumbu kacang dan kecap manis lalu di kasih kerupuk di atasnya." Mayang menjelaskan secara detail. " Apa yang Tuan Brian pikirkan bukan lah ketoprak yang itu?" Mayang Bertanya setengah menebak.
"Sepertinya iya Mayang." Billy tertawa kecil sembari melirik Brian yang sedang bersandar di mobilnya dengan wajah yang tampak kusut. Ia melihat kedua tangan nya di dada dengan jas yang sudah tergantung di pundaknya. Lengan kemeja yang sudah naik di bawah siku dan posisi dasi yang sudah tidak pada tempatnya.
Billy hanya tertawa geli melihat kegabutan bos nya.
"Apa yang dia cari ketoprak sejenis pentas seni yang berasal dari daerah begitu?! Ya tuhan!!" Mayang menepuk dahinya sendiri. "Saya pikir dia mengerti apa yang saya maksud sekretaris Billy." Ucap Mayang dengan nada penuh penyesalan.
Billy melangkah mendekati Brian setelah memutus sambungan telepon nya.
"Heh paijo!"
Panggilan Billy membuat Brian yang tengah tertunduk lesu seketika mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah Billy. Wajah yang tadinya lesu berubah jadi kesal karena merasa terhina.
"Orang kalau lagi kasmaran mbok ya blo'on nya jangan kelewatan dong!" Ucap Billy dengan nada mengejek setelah berada dihadapan Brian.
"Dasar gila!" Brian tiba - tiba naik darah mendengar ucapan Billy. " Mana ada anak buah yang mengatai bos nya blo'on!" Brian membuka lipatan tangan nya dan berdiri tegak. "Elu yang pe'a!" Ucap Brian sembari menendang kaki Billy karena kesal.
"Tau tidak ketoprak yang di maksud bini lo itu apaan?"
"Hiburan kan?!" Tebak Brian sok tau.
"Makanan Paijo!!" Sahut Billy setengah berteriak dengan memanggil Brian menggunakan nama lain karena kesal.
"Apa?!" Brian melebarkan mata tak percaya. "Mana ada makanan pakai nama ketoprak! Bangun woy!!" Brian memetik jarinya tepat di depan wajah Billy seperti sedang menyadarkan sekretaris nya itu.
"Elo yang nggak jelas!" Bantah Billy tak mau kalah. "Ayo gue kasih tau ketoprak yang bini lo maksud. Ikutin gue!"
" Oke!" Jawab Brian dengan nada menantang.
Kita lihat, lo pikir gampang cari ketoprak di zaman sekarang.
Gumam Brian dalam hati sembari masuk kedalam mobil nya. Ia kemudian mengikuti laju Mobil Billy yang berada di depan mobilnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, mobil Billy pun akhirnya menepi di sebuah lapak pedagang kaki lima.
Brian pun ikut menepikan mobilnya meski dibenaknya merasa bingung untuk apa Billy membawanya kemari.
"Untuk apa kita kemari?" Brian bertanya bingung dengan ekspresi wajah tak bersahabat nya.
"Noh ketoprak yang bini lo maksud!" Billy menunjuk gerobak jualan milik Abang - abang yang bertuliskan ketoprak dengan tulisan berukuran besar.
Brian tampak menyeringai puas begitu melihat tulisan itu. Matanya tampak berbinar bahagia seperti telah menemukan harta karun.
"Thank you Bill, thank you banget!" Brian memeluk Billy penuh rasa terimakasih. "Kau lah penyelamat ku."
"Biasa saja bang," jawab Billy santai. "Lepas dong bang, nanti di kira orang kita lagi pacaran." Billy mengingatkan Brian yang tak kunjung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Namun setelah mendengar ucapan yang Billy lontarkan membuat Brian spontan melepaskan pelukan nya dan menatap Billy risih.
Keduanya menunggu pesanan mereka disiapkan sembari bersandar di mobil Brian. Billy menggunakan waktu senggang itu untuk sedikit memberikan laporan pekerjaan pada Brian. Brian juga nampak serius menanggapinya.
Billy tang tak sengaja melihat motor yang yang tampak muncul dan mendekat dari arah ujung gang jalan di buat terpaku oleh kedua pengendaranya yang tampak berboncengan mesra. Terlebih lagi keduanya masih menggunakan seragam SMP.
Brian yang kemudian sadar dengan apa yang sedang Billy perhatikan membuatnya dengan spontan segera menutup mata Billy dengan buku - buku jemarinya.
"Jangan di lihat! Kau masih jomblo, jadi belum cukup umur!" Ucap Brian dengan nada mengejek.
Billy menepis tangan Brian yang menghalangi pandangan nya dengan kesal. Lantas melanjutkan kembali mengamati dua sejoli tak tahu diri itu.
"Lihatlah mereka!" Billy menunjuk ke arah dua bocah yang sudah berlalu melewatinya itu. "Mereka membuat jiwa miskin ku bergejolak!" Ucap Billy dengan wajah penuh perasaan.
"Jiwa jomblo Billy pe'a," Brian mengoreksi ucapan Billy. "Makanya buruan nikah! Jomblo di pelihara, jadi gampang baper kan!"
Tiba - tiba Billy teringat akan Milly. Gadis aneh yang pernah tolong dengan memberinya pinjaman uang. Walaupun Billy tak mengharap uang itu kembali karena ia sendiri masih ragu jika mereka masih akan bertemu lagi.
"Malah melamun, ambil tuh pesanan!" Brian menyadarkan Billy yang memang tampak bengong untuk beberapa detik karena panggilan dari Abang ketoprak yang sudah selesai dengan tugasnya.
Billy segera mengayunkan langkahnya mendekati gerobak penjual itu untuk membayar sekaligus mengambil bungkusan yang tampak sudah di kemas dengan rapi.
Brian tampak tak sabar ingin segera sampai di rumah. Setelah mampir ke rumah ibu sebentar ia pun bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju pulang.
"Sayang kau dimana?" Teriak Brian saat masuk kedalam rumah dan tak mendapati istrinya menyambutnya pulang.
"Aku di hatimu sayang,,," Sahut Mayang yang terlihat tengah berlari - lari kecil dari arah dalam dengan senyum sejuta watt nya mendekati Brian.
Seketika Mayang melebarkan matanya saat pandangan nya tertuju pada dua kantong besar yang Brian tenteng di tangan nya. Kantong plastik tembus pandang itu memperlihatkan susunan kotak mika hingga tersusun beberapa tumpuk.
"Sayang itu apa?" Tanya Mayang penasaran sekaligus heran, walau sejujurnya dia sudah bisa memperkirakan sendiri sebenarnya itu apa.
"Tapi kenapa sebanyak itu?" Lirih Mayang dengan wajah herannya.
"Sayang, kau tahu kan aku selalu total dalam melakukan apapun. Termasuk untuk ini." Brian lalu membimbing istrinya melangkah menuju meja makan. Brian menaruh kedua kantong berisi ketoprak itu di meja makan dengan hati - hati, lalu menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Apa kau ingin aku menghabiskan semuanya?!" Mayang yang telah duduk menatap heran pada Brian yang tengah mengeluarkan semua isi dari dua kantong itu.
"Kau tidak ingin mengecewakan ku yang sudah bersusah payah mendapatkan ini untukmu bukan?" Brian meneruskan kegiatannya menyusun berjejer mika berisi ketoprak itu di atas meja makan.
"Tapi ini dua puluh porsi sayang,,, perutku tidak akan sanggup!" Keluh Mayang dengan wajah frustasi. "Kau tidak ingin aku pingsan karena kekenyangan bukan?" Lirih nya pula dengan wajah memohon.
"Sayang apa kau tau bagaimana susahnya aku mendapatkan ini?" Brian dengan wajah memelas nya.
Karena kau bodoh sok tau! Bertindak tanpa bertanya dulu! Sok pintar!
Tapi tiba - tiba Mayang merasa iba begiti melihat wajah lelah suaminya. Dia pasti sudah bekerja keras untuk ini. Tiba - tiba Mayang ingin tertawa terpingkal mengingat cerita sekretaris Billy tadi.
Sayang maafkan aku telah membuatmu susah karena ini...
Mayang menggumam dalam hati sembari menatap suaminya dengan penuh rasa haru.
Tapi lain kali tanyakan dulu kalau memang kau tak tahu ya,,,
Mayang senyum - senyum sendiri.
"Kenapa senyum - senyum sendiri begitu! Pasti karena aku suami yang tampan baik hati dan hebat bukan," Brian tersenyum bangga sembari membusungkan dadanya seolah dirinya telah berhasil menaklukkan dunia.
"Iya sayang,,," Mayang mencubit gemas pipi suaminya sembari tertawa.
__ADS_1
"Cepatlah makan," Brian menyuguhkan satu mika berisi ketoprak itu di hadapan Mayang.
"Asik,,," Mayang bertepuk tangan kegirangan. "Aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Pasti enak. Terimakasih sayang," ucap Mayang tulus sembari kembali mencubit pipi suaminya gemas.
"Kenapa hanya mencubit, seharusnya kau mencium ku sayang," gerutu Brian dengan wajah kecewa.
"Nanti ya sayang,,," Mayang fokus pada ketoprak di hadapannya. Ia kemudian mengambil sendok dan garpu lalu menyendok dan menyuapkan ke mulutnya.
Ekspresi wajah nya tampak berubah begitu lidahnya sudah merasakan ketoprak itu.
"Sayang kok nggak pedas?" Tanya nya heran sembari mengunyah makanan itu. "Ini memang tidak di kasih cabai atau Abangnya yang lupa?"
"Di kasih cabai kok." Jawab Brian singkat sembari menatap wajah Mayang dengan antusias.
"Di kasih berapa cabai nya sayang? Kok nggak berasa?"
"Satu." Ucap Brian singkat.
"Satu cabai untuk dua puluh porsi sayang?! Mana berasa..!" Protes Mayang dengan nada kecewa.Kenyataan tak sesuai dengan harapan.Padahal dia sudah membayangkan akan menyantap ketoprak yang pedas dan enak.
"Mau protes lagi!" Hardik Brian dengan sorot mata tajam. "Sekarang cepat makan dan habiskan!" Ucap nya lagi dengan pandangan mata mengawasi.
Mayang hanya bisa tertunduk sembari menyantap ketoprak itu dengan rasa terpaksa. Ia mengunyah dan menelan makanan yang menurut nya hambar itu dengan susah payah.
Sementara Brian tetap mengawasi Mayang dengan wajah terlihat menahan tawa. Namun Mayang tak menyadarinya karena ia tak berani mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami yang ia pikir masih marah itu.
Mayang berhasil menghabiskan tiga mika ketoprak itu meski dengan susah payah. Hingga Brian merasa iba serta merasa bersalah karena telah mengerjai istrinya.
"Sudah kenyang?" Tanya Brian saat ia rasa Mayang sudah tak sanggup lagi mengunyah dan menelan makanan itu.
"Sudah sejak tadi,,," Lirih Mayang dengan wajah memelas. Matanya tampak berkaca-kaca.
Brian tak tega menatap wajah istrinya yang seperti itu. Ia pun lantas meraih tubuh Mayang lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Maaf," bisik Brian di telinga Mayang.
"Maaf untuk apa?" Tanya Mayang bingung.
"Aku mengerjai mu."
"Apa?!" Mayang terkejut. "Aaaa kau jahat! Lepaskan aku kesal padamu!" Mayang menepuk - nepuk pundak Brian yang masih memeluk nya sekenanya. "Kau tau, aku bahkan tidak berani menangis karena mu! Aku ingin muntah karena kekenyangan,,," sedu Mayang dengan linangan air mata.
"Maaf sayang, aku janji tak akan mengulanginya lagi." Brian berucap dengan penuh penyesalan.Ia mengendurkan pelukannya.
Tangis Mayang pun mereda.Ia lalu menyeka airmata nya setelah melepaskan pelukan nya. Brian membelai lembut pipi sang istri yang basah sembari mengusapnya.
"Aku juga minta maaf," Celetuk Mayang sembari tersenyum.
"Maaf untuk apa? Apa kau mengerjai ku juga?!" Tuduh Brian penuh curiga.
"Tidak! Maaf telah membuatmu susah karena permintaan ku." Ucap Mayang jujur. " Kau pasti sudah bekerja keras untuk ini kan?"
Brian hanya tersenyum sembari merangkul tubuh istrinya. "Untuk mu apa si yang tidak,,,"
"Aaaa aku jadi terharu,,," Mayang membalas rangkulan suaminya dengan memeluk tubuh nya erat.
"Oh iya, ada titipan hadiah dari ibu buat kamu." Brian meraih paper bag yang ada di kursi. Lalu memberikan nya pada Mayang.
"Apa isinya?" Tanya Mayang penasaran sembari mengintip sedikit paper bag itu.
__ADS_1
Bersambung