
Billy yang saat itu tengah dalam perjalanan pulang usai mengantar Brian, mendadak mendapat telepon dari seseorang.
"Katakan," ucap Billy pada seseorang di seberang sana.
"Apa kita bisa bertemu? Ada informasi penting yang harus saya sampaikan. Ini mengenai istri anda."
"Katakan di mana tempatnya." Billy menyahut cepat. Lelaki itu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang sudah si penelpon berikan.
Dengan kecepatan kilat mobil mewahnya, Billy tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat yang dituju.
Seorang pria dengan stelan jas hitam yang tampak sudah menunggu segera bangkit begitu Billy tiba. Pria muda itu mengangguk sopan untuk menyampaikan penghormatan. Lalu kembali duduk setelah Billy duduk mengambil posisi di depannya.
"Katakan. Berita penting apa yang kau bawa mengenai istriku?" tanya Billy tanpa basa-basi.
"Ini menyangkut orang tua istri anda beserta usaha mereka, Tuan." Pria itu lantas mengangsurkan amplop besar berwarna coklat yang berada di atas meja kafe semakin mendekat pada Billy. Amplop yang memang sudah ia siapkan itu berisi beberapa lembar laporan lengkap mengenai kehidupan keluarga Milly.
Masih dalam posisinya bersandar, Billy menatap amplop itu sekilas, lalu mengembalikan pandangan pada pria di seberangnya lagi. "Ada apa dengan mereka? Bukankah semula kau bilang mereka baik-baik saja?" tanyanya kemudian dengan nada memprotes.
"Benar, Tuan." Pria itu mengangguk membenarkan
Billy meraih amplop itu kemudian membukanya. Pria itu mulai membaca laporan itu selagi pria suruhannya menjelaskan.
"Namun informasi terbaru yang saya dapat ini mengatakan kalau ibu mertua anda mengalami sakit keras. Dan satu-satunya rumah mereka telah dijadikan jaminan untuk pemulihan pabrik yang dulu terbakar. Menurut informasi, tenggang waktu yang diberikan sudah jatuh tempo sehingga rumah itu mau tak mau beralih kepemilikan. Dan yang lebih parah lagi--"
Pria itu menghentikan laporan saat melihat aura wajah Billy menggelap penuh kemarahan.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan, karena aku ingin mendengar semuanya."
"Si pemberi pinjaman melakukan kecurangan, hingga berhasil membalik namakan kepemilikan pabrik itu." Pria itu menjeda ucapannya dan mengamati ekspresi Billy. Lantas kembali melanjutkan setelah melihat sorot mata Billy yang begitu penasaran. "Nasib keluarga istri anda berada di ujung tanduk, sekarang."
"Sialan!" geram Billy sambil menggebrak meja kafe dengan keras.
Seolah sudah tahu seperti apa nantinya reaksi Billy, pria itu tidak terlihat terkejut oleh tindakan tiba-tiba Tuannya tadi. Sehingga pria itu hanya menundukkan kepala sebagai bentuk simpatinya.
__ADS_1
Beruntung pertemuan keduanya terjadi di ruang privat, sehingga apapun yang terjadi di sana tak ada yang mengetahuinya.
Billy mengepalkan tangannya dengan kuat. Rahangnya mengeras dan wajahnya memerah padam. Pandangannya menerawang jauh entah kemana. Ia terdiam namun wajahnya menunjukkan kemarahan yang dalam.
Sementara pria suruhan itu pun terdiam dengan kepala menunduk dalam. Ia menanti perintah selanjutnya yang mungkin saja akan sekretaris Billy berikan.
"Aku mau--" Billy berucap dengan gigi yang menggemertak. "Beli rumah serta pabrik itu secepatnya, dan berapapun harganya. Dan cari bukti-bukti lain untuk menjebloskan mereka ke dalam penjara."
Pria itu langsung mengangguk patuh. "Baik Tuan, akan saya laksanakan."
"Aku ingin kau bertindak cepat mengenai hal ini. Jangan sampai keluarga istrku mengalami hal sulit sedikitpun."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi,--" Billy menatap pria itu penuh peringatan. "Rahasiakan ini dari keluarga istrku."
***
Sepanjang perjalanan menuju pulang dari kafe itu, Billy terlihat tidak fokus pada kemudinya. Ia mengendarainya dengan kecepatan sedang. Tubuhnya memang berada di sana, tapi pikirannya tengah melayang entah kemana.
Billy tahu betul gadis itu tak pernah pulang sejak kedatangannya ke kota ini. Bahkan gadis itu pergi dari rumah tanpa pamit terlebih dulu. Ia tahu itu, sebab Milly telah menceritakan semuanya pada awal pertemuan mereka.
Terlebih lagi mendengar sumpah sang ayah usai pernikahan, di mana Jamil tak akan menerima kedatangan putrinya tanpa didampingi sang suami.
Terang saja Billy tak bisa mendampingi Milly, mengingat kesibukannya akhir-akhir ini. Terlebih esok hari ia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menjalankan misi rahasia untuk menumpas kejahatan para mafia itu.
Meskipun tak menampakkan perasaan melalui tindakan, Billy benar-benar tak ingin Milly merasa sendirian saat ia tiada. Dari itu lah selama perjalanan ini ia memutar otak untuk mencari penyelesaian yang tepat. Namun hingga Billy memarkirkan mobilnya di basemen apartemen, ia belum juga menemukan caranya.
Memasuki apartemen, ia mendapati tempat tinggalnya itu dalam keadaan lengang dan sepi. Namun ruangan yang harum dan nampak rapi membuatnya yakin jika Milly ada di sini.
Lalu di mana dia? pertanyaan itu masih berputar-putar di kepala.
Billy menyisir dan memeriksa satu persatu ruangan di lantai bawah. Dari kamar, toilet, ruangan home theate hingga ke dapur. Billy mengernyit bingung saat tak jua mendapati Milly di sana.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Billy pun menuju lantai atas, dan menjadikan kamar sebagai tujuan pertama. Ia sengaja membuka pintunya perlahan agar tidak menimbulkan suara hingga mengganggu istrinya yang barangkali sedang tertidur.
Lagi-lagi Pria itu hanya menelan ludah saat Milly tak juga ditemukannya. Billy sudah habis kesabaran. Pria itu terlihat cemas saat tak menemukan istrinya di mana-mana.
Keluar dari kamar, Billy menutup pintu itu dengan kasar. Namun pada saat ia berlalu di depan sebuah pintu, langkahnya mendadak terhenti saat mendengar sebuah suara yang muncul dari arah dalam. Terlebih dengan kondisi pintu yang terbuka, ia meyakini ada seseorang di dalam sana.
Billy panik. Suara alarm yang meraung dari dalam ruangan meneriakkan jika yang berada di dalam sana tengah dalam kondisi tidak aman. Entah siapapun yang berada di sana, Billy hanya berpikir untuk menyelamatkannya.
Pria dengan stelan jas serba hitam itu bergerak cepat memasuki ruangan. Keadaan yang remang-remang membuatnya tidak leluasa melihat keadaan di dalam ruangan.
Namun ia bisa melihat sesosok tubuh mungil tengah berdiri di sana. Siapapun dia, Billy meyakini orang itu tak tahu jika sebuah bahaya besar tengah mengancamnya. Dengan sigap ia menarik tangan ramping itu dan membawanya ke dalam dekapan.
Tubuh mereka harus merendah, maka dari itu Billy membanting diri ke lantai bersamaan dengan tubuh mungil--yang pada akhirnya ia tahu jika itu adalah Milly--itu. Billy bahkan bisa mendengar dengan jelas pekikan tertahan istrinya yang tengah menahan kesakitan.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam hingga keadaan genting melesatnya ranjau-ranjau yang Billy miliki itu berakhir.
Untuk sejenak keduanya terpaku dengan dua netra yang saling beradu pandang. Dengan jarak sedekat itu, mereka bahkan bertukar udara yang sama untuk bernapas.
Tubuh Billy yang menindih istrinya dengan menjadikan lengan sebagai tumpuan benar-brenar ampuh melindungi Milly dari segala serpihan. Gadis itu sedikitpun tak terluka meskipun keadaan ruangan itu porak-poranda. Setidaknya Billy merasa lega sebab istrinya kini dalam keadaan baik-baik saja.
Billy yang terpesona pada sang istri membuatnya hampir-hampir saja terlupa pada rencananya. Barulah pada saat ia sadar dan teringat, Billy sontak bangkit dan berdiri, mengabaikan Milly yang terlihat kerepotan bangkit.
Dalam hati Billy bersyukur, sebab Tuhan mempermudah urusannya untuk mencari alasan mengeluarkan Milly dari rumah ini. Dan dari situlah akting Billy dimulai.
Drama pertengkaran menyakitkan hati pun terjadi. Meski harus mengorbankan perasaan Milly, pada akhirnya Billy berhasil mendepak gadis itu dari apartemennya.
Namun bukanlah perkara mudah untuk membuat Milly menyerah. Bukannya pulang dan mengadu pada orang tuanya, Milly justru berniat untuk hidup mandiri dan menjalani hari-harinya sendiri. Hingga hal itu kembali membuat Billy harus memutar otak dengan menghadirkan seseorang dari masa lalu Milly sebagai perantara untuk menyampaikan berita.
Dan sasaran Billy terarah tepat. Malam itu juga Milly kembali ke kampung halaman dan berniat untuk tidak pernah kembali lagi ke kota yang membuatnya terluka.
Jamil dan Laksmi saling menatap penuh sesal usai Billy menceritakan semua peristiwa tentang putrinya. Mereka bahkan merutuki diri sendiri yang telah menilai buruk niatan baik menantunya itu.
Sementara Billy masih tetap pada posisinya. Duduk di seberang Jamil dan Laksmi dengan posisi tegak dan bahasa tubuh penuh wibawa.
__ADS_1
Bersambung