
Keadaan di ruang makan terasa hening untuk beberapa lama. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Tak seperti hari-hari biasanya, aktivitas di meja makan itu mendadak tegang dan kaku. Bahkan Milly yang selalu bebas makan dengan caranya saat bersama dengan Jamil dan Laksmi saja, kini harus menjaga image sebab ada Billy di tengah-tengah mereka.
Namun berbeda dengan Milly, pemandangan berbanding terbalik terlihat jelas dari raut wajah Billy. Pria tampan berkulit putih itu justru terlihat lebih santai, bahkan menyantap makanan yang tersaji di meja itu dengan lahapnya.
Sambil mengunyah makanan, Billy menoleh ke arah kiri, di mana Milly duduk di sisinya. Gadis itu tengah tertunduk kaku sambil menatap nasi yang baru di makannya sesendok dengan wajah murung.
Kluntang!
Suara dentingan sendok yang menimpa piring makan, mendadak menggemparkan keheningan meja makan. Semua pasang mata langsung tertuju ke arah Milly yang tengah ternganga dengan mata membulat sempurna. Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu? batinnya sambil menatap tiga orang di sekelilingnya itu secara bergantian.
"Milly ...." Laksmi menatap putrinya dengan sorot penuh peringatan. "Kalau makan yang cantik dong, Sayang. Jangan begajulan seperti hari-hari sebelumnya ...."
"Ibu ...." Milly mendesah gusar sambil beringsut dari posisinya. Wajahnya juga memperlihatkan mimik tak terima seolah memprotes tatapan penuh tuduhan dari ibu kandungnya. Namun melihat sang ibu yang hanya bergeming seolah tak ingin mendengar sedikitpun bantahan, iapun tak bisa berbuat banyak selain diam dan pasrah.
Seketika Milly tertunduk kaku sambil menggigit bibir bawah dengan kening yang memberengut. Sesaat kemudian gadis itu memberanikan diri mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah Billy. Rupanya pria itu tengah menatapnya dengan bibir yang bergerak mengunyah makanan.
Dan yang paling membuat Milly jengkel adalah ... wajah tanpa dosa suaminya. Bisa ya, lelaki itu bertingkah santai seperti tak terjadi apa-apa. Bukankah pria ini yang sengaja menginjak kakinya hingga terkejut, sampai-sampai tanpa sadar menjatuhkan sendok dari genggaman hingga memancing keributan.
Awas saja kau nanti ya. Bangga sekarang, mentang-mentang banyak yang bela. Pintar kali kau bisa rebut hati orang tuaku hanya dalam sekejap waktu.
Ritual sarapan pun telah usai. Milly membantu ibunya mengemasi piring kotor dengan wajah murung, sementara Billy meninggalkan ruang makan itu bersama Jamil menuju entah ke mana.
Milly yang sedang mengusap meja kaca itu mendadak berhenti, tapi pandangannya menatap punggung Billy yang semakin menjauh dengan sorot penuh ancaman. Akibat tamu tak diundang itu, ia bahkan tak bisa mengisi perutnya dengan kenyang. Yang ada malah ia merasa tegang.
"Biar Milly aja yang cuci, Bi." Milly melarang sang asisten rumah tangga saat wanita paruh baya itu hendak mencuci piring. Alhasil, kini ia sendirian di dapur dengan kedua tangan yang basah.
Berkutat dengan setumpuk perabotan kotor tak lantas menjauhkan pikiran Milly dari pria yang masih menjadi suaminya itu. Bukannya bergerak cepat menyelesaikan pekerjaannya, pikiran gadis mungil itu justru melanglang buana entah ke mana.
__ADS_1
"Ikut lomba mengusap-usap piring basah ya, Mba?"
Tubuh Milly sontak menegang saat bisikan suara bariton itu menggema di telinganya. Gadis itu terkesiap hingga tanpa sadar menjatuhkan piring dari pegangannya. Ia tahu siapa pelakunya. Namun Milly tak bisa berkutik saat bagian depan tubuh jangkung itu semakin merapat kepadanya.
Alih-alih melepaskan diri lalu kabur, Milly justru semakin membeku saat Billy melingkarkan tangan pada perutnya. Boro-boro marah dan memberi peringatan pada si suami, Milly justru memejamkan mata akibat dirinya merasakan geli. Bulu kuduk bahkan berdiri saat Billy menyapukan embusan napas pada permukaan kulit lehernya. Benar-benar sinkronisasi yang tidak bagus antara hati dan keinginan.
Meski di awal Milly merasa kesal oleh kehadiran Billy yang begitu mengejutkan, tapi ia tak bisa menampik kehangatan yang begitu menentramkan dari belaian pria ini.
Billy terseyum dalam diam, menikmati reaksi istrinya yang begitu menggelikan. Seperti takut jika tubuhnya akan goyang dan terjungkang, Milly bahkan berpegang begitu erat pada tepian wastafel tempatnya mencuci piring. Kelopak matanya terpejam begitu rapat, sementara giginya menggigit bibir bawah. Entah apa yang ada di benaknya sampai-sampai suhu tubuhnya begitu dingin macam es batu.
Wusshh .... Billy meniupkan angin cinta tepat di telinga Milly. Lumayan hangat dan sedikit membuat gadis itu terperanjat, tapi rupanya tak cukup membuat Milly langsung bergerak dan ambil sikap. Ia justru tetap memilih untuk diam di tempat.
Tak patah arang, Billy kembali melakukan sebuah serangan. Dikecupnya pipi mulus wanita itu dengan lembut sebelum kemudian membisikkan sebuah kata di telinganya. "Aku mencintaimu, istriku."
Seperti baru tersadar, Milly langsung berjingkat seketika. Gadis itu terkejut bukan kepalang sampai-sampai tanpa sadar memutar tubuhnya untuk berbalik badan.
Hal itu membuat Billy sedikit menarik diri untuk memberi ruang gerak istrinya yang tengah didera keterkejutan. Istrinya itu bahkan menepis tangannya yang semula memeluk dari belakang.
Bila sebelumnya Billy akan menghadapi ancaman istrinya dengan menggunakan ancaman pula, tapi hal itu akan berbeda mulai saat ini.
"Bahaya?" Billy mengerutkan keningnya. Lalu menatap Milly lekat-lekat dan semakin mendekatkan wajahnya dengan posisi setengah membungkuk dan tangan bertumpu pada tepian wastafel. Milly sendiri nampak semakin canggung. Iapun berusaha menjauhkan wajahnya dari Billy. "Bahayanya bagaimana, ya? Apa beliau akan menikahkan kita lagi?" tanya pria itu kemudian dengan nada yang tersirat.
Milly terkesiap. Bukannya berhasil menyelamatkan diri, nyatanya usahanya mengancam itu justru menjadi senjata Billy untuk menggodanya. Nampak dari seringai pria itu yang terlihat begitu nakal saat menatapnya.
Tak bisa berkata-kata, Milly hanya bisa memalingkan wajahnya yang semakin memerah saja. Gusar. Tangannya pun semakin erat mencengkeram tepian wastafel di belakang. Tubuh Billy bahkan semakin condong saja ke arahnya.
"Apa kau menyesal karena telah menikah denganku?"
Milly kembali terkesiap mendengar pertanyaan dengan suara membisik itu. Lagi pula, entah sejak kapan pria ini telah mendekatkan bibir pada telinganya, bahkan dengan lancang menyibak helaian rambut yang membingkai wajah ayu itu sebelum kemudian menyelipkan ke belakang telinga. Gerakan tangannya begitu ringan hingga menghadirkan senyar berbeda yang membuat Milly merinding karenanya.
__ADS_1
"Bahkan," lanjut Billy lirih namun penuh keyakinan sambil menatap mata Milly yang saat itu juga tengah menatapnya. "Meskipun kau mengatakan pernikahan itu adalah musibah ..., aku akan meneriakkan dengan bangga jika kau adalah anugerah."
Dengan kondisi tubuh yang terkurung oleh pria yang dicintai, Milly hampir saja terbuai dengan ungkapan Billy yang begitu menggetarkan jiwanya sebagai wanita yang ingin dicinta. Namun ingatan akan sakit hati yang pernah Billy torehkan padanya waktu lalu, pada akhirnya membuat Milly mengukuhkan tekad untuk tak lagi-lagi terperdaya apapun iming-imingnya.
"Maaf, Pak," Milly berucap tegas penuh penekanan. "Kita masih sama-sama terjaga dan berpijak di dunia yang fana. Jadi saya harap, Bapak tidak lagi menjanjikan mimpi-mimpi dan melambungkan khayal saya pada angan-angan yang tidak nyata."
Billy tertegun mendengar perkataan Milly. Bukan tak mengerti maksud dari istrinya itu. Namun dalam kediamannya, Billy tengah menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan. Alih-alih dapat menjelaskan, Milly bahkan menyela Billy yang hampir saja buka suara.
"Maaf, Pak. Saya tidak mau sakit hati untuk yang ke dua kali." Milly terpaksa mengambil keputusan tegas. Meski ia sadar cintanya begitu besar, tapi pria ini pernah membuatnya merasa tak diterima dan terlunta. Bukankah akan terkesan gampangan jika ia begitu mudah menerima untuk bersama? Walau hati kecil tak menolak, tapi ia butuh meyakinkan diri jika lelaki ini memang layak untuk dimiliki.
Terkadang manusia perlu juga sesekali berganti posisi dan bertukar keadaan. Tentunya agar dia ikut merasakan sepedih apa luka yang pernah ditorehkan.
Milly hanya ingin tahu bagaimana usaha Billy merebut hatinya kembali. Menarik perhatiannya, hingga ia merasa lelaki ini layak untuk diperjuangkan.
"Aku datang bukan untuk menoreh kembali luka lama, tapi untuk membalut dan menyembuhkan luka yang ada. Sebab aku tak ingin kehilanganmu untuk yang ke dua kalinya." Billy berucap penuh keyakinan selagi dua pasang netra itu masih bertaut pandang dengan lekat. Sorot mata yang biasanya begitu tajam itu kini bahkan nampak sendu dan penuh cinta.
Jika dengan wajah garang saja Milly sudah seperti ikan yang menggelepar, tentu bisa dibayangkan bagaimana gadis ini tidak akan terhipnotis oleh perilaku Billy yang begitu manis.
Ah, persetan dengan wajah manis. Bukankah yang terpenting sekarang itu adalah jual mahal sebab dagangan sudah mulai laris? Bukankah uji coba itu perlu, untuk mengukur seberapa besar kelayakan? Kalau memang cinta, meski sejauh apapun jarak kami, pada akhirnya yang namanya jodoh itu pasti akan bertemu.
Billy menarik pinggang Milly hingga tubuh keduanya saling merapat. Seakan tak mampu lagi menahan ingin yang tertahan setelah beberapa lama, tak bisa lagi menekan asa yang membuncah di dalam dada, iapun menyambar bibir si gadis dengan begitu rakusnya. Bahkan seperti tak memberi kesempatan pada Milly untuk meraup udara cukup sebelum menuntaskan hasratnya, hingga gadis itu tersengal dan terpaksa melepaskan pertautan saliva yang hanya diinginkan oleh sebelah pihak itu.
Dengan napas yang terengah, Milly mengusap bibirnya yang basah dengan kasar. Matanya juga masih menatap Billy dengan nyalang. Sedangkan Billy tak juga menunjukkan sedikitpun raut sesal. Ia bahkan seperti sengaja ingin menunjukkan rasa kepemilikannya, hingga tiba-tiba menyerang tanpa pemberitahuan.
Tak bisa berkata-kata, Milly memilih enyah dari sana usai berhasil melepaskan diri. Dengan wajah merah padam, ia berlari meninggalkan dapur dengan langkah setengah berlari.
Tak mengejar, Billy memilih membiarkan wanitanya pergi dari sana. Bukan. Bukan untuk menyerah. Namun sengaja memberi waktu pada si wanita untuk sendiri. Ia hanya tersenyum sambil mengawasi punggung ramping itu berlari, semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu.
"Aku tahu kau masih mencintaiku. Baik, akan kutunjukkan seberapa besar keinginanku untuk membawamu kembali," gumam Billy pelan sambil bersedekap dada usai gadis itu tak nampak lagi.
__ADS_1
Bersambung