Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Rindu Nenek


__ADS_3

Rumah besar kediaman keluarga Malik kini semakin ramai dengan kedatangan kerabat dan keluarga dekat mereka karena semakin dekatnya hari pernikahan Brian dan Mayang.


Kebanyakan dari mereka adalah keluarga dan Kerabat dekat dari Ratih Karena Malik juga merupakan putra tunggal dari orang tua nya yang kini telah tiada beberapa tahun silam itu.


Mayang merasa bahagia karena ia dikelilingi oleh orang-orang yang baik di sekitarnya.Orang tua Mayang pun belum tampak terlihat,Karena Billy baru akan menjemputnya dua hari sebelum pernikahan.


Sesuai rencana,akad nikah akan di laksanakan di kediaman Malik,sedangkan resepsi nya akan di laksanakan di gedung hotel berbintang lima milik Wahana Group sendiri.


Di tengah hiruk pikuk nya keramaian di dalam rumah besar itu,Mayang terlihat tengah asik mengupas buah-buahan untuk ia Berikan kepada anak-anak para tantenya.Bisa di sebut juga para keponakan dan para sepupu karena Mayang sendiri belum bisa menghafal mereka satu per satu.


Seorang wanita tampak berjalan dengan susah payah mendekati Mayang."Hai capeng,,, kok mojok disini sendirian."Sapa wanita itu sembari tersenyum pada Mayang yang memang tengah sendirian di meja dapur.


Mayang mengerutkan dahi nya."Saya Mayang,,"Mayang tersenyum saat memyebutkan namanya karena merasa aneh dengan panggilan wanita itu.


"Iya calon pengantin,,, aku sudah tau namamu Mayang."Wanita itu menekan kata calon pengantin dalam ucapan nya.


Mayang tersenyum malu.


"Aku sepupu Brian,nama ku Renata."Renata mengulurkan tangan nya.


Mayang menyambut uluran tangan itu."Senang bertemu dengan mu."Mayang tersenyum ramah.Ia melirik perut buncit Renata."Hamil ya?"


"Iya lah,masa iya busung lapar."Renata terkekeh.


"Berapa bulan,,,?"


"Jalan tujuh bulan.Setelah pernikahan mu nanti aku akan mengadakan acara tujuh bulanan nya."Tersenyum sembari mengelus perutnya.


"Kau mau?"Mayang menyodorkan piring yang berisi irisan buah.


"Tidak."Renata menggeleng.Ia terlihat sedikit tak nyaman dengan posisinya berdiri saat ini.


Mayang menarik sebuah kursi seakan mengerti yang di rasakan Renata."Kenapa berdiri,seharusnya kau duduk."Ucap nya sembari membantu wanita itu untuk duduk.


"Terimakasih."Ucap Renata begitu bokong nya sudah mendarat di kursi dengan nyaman."Hah baru juga masuk bulan ke tujuh rasanya sudah seperti ini."Keluh nya kemudian.


"Kau mau minum biar ku ambil kan?"Tawar Mayang yang kini sudah dalam pisusi duduk berhadapan dengan Rena.


"Tidak terima kasih."Renata mendesah pelan.


"Apa bayi mu kembar ya?"Tanya Mayang pula saat melihat perut Rena yang sudah terlihat sangat besar.


"Sebenarnya tidak si,,, dokter bilang bayi ku terlalu gendut karena aku banyak makan."


"Dari mana dokter tau?"


"Tentu saja dari hasil USG.Di umur segini bayi ku sudah kelebihan berat badan.Entah kenapa bayi ku suka sekali makan hingga Perutku rasanya sangat begah."


"Bukan kah kau sendiri yang makan?Kenapa menyalah kan bayimu?"


"Mulut ku hanya perantara saja.Tapi masuk nya ke bayi ku he he."Rena terkekeh.


"Huh kau yang suka makan tapi menjadikan bayi mu sebagai kedok nya."


"Tapi memang sebelum hamil aku tidak terlalu suka makan."Rena masih berusaha membantah.Tiba-tiba ia meringis saat perutnya menunjukkan sebuah pergerakan membuat Mayang juga ikut terperanjat."Ooww tenang sayang jangan marah ya."Rena mengelus perutnya untuk menenangkan janin yang tampak menendang dari dalam perutnya."Ibu hanya bercanda.Memang ibu yang suka makan.Begitu saja kau sudah tersinggung."


"Apa bayi mu benar-benar sedang marah?"Tanya Mayang merasa aneh.


"Apa kau tidak lihat dia menendang ku?!Masih di dalam perut saja sudah begini,bagaimana kalau sudah keluar nanti."Rena menggumam.Lalu terdengar desahan kasar kasar dari mulut nya."Ingin sekali rasanya aku mengumpulkan wanita hamil yang senasip dengan ku dalam satu ruangan."Ucap nya lagi sembari meraih piring buah yang yang ternyata tak dapat ia jangkau.


"Untuk apa?"Mayang menyodorkan piring buah itu.


"Tentu saja agar aku tak merasa sendirian dengan perut besar ini."Menyantap buah yang tadi sempat ia tolak dengan lahap.


"Kenapa tidak kau undang saja teman mu yang hamil saat acara tujuh bulanan nanti?"Cetus Mayang tiba-tiba.


Rena tampak membulatkan matanya dan tersenyum sumringah.Ia seperti mendapat angin segar mendengar usul Mayang."Haha terimakasih ya.Kau sudah memberi ku ide."Ia mencubit gemas pipi Mayang.


"Memang apa yang telah ku lakukan?"Mayang bingung sembari mengusap pipi nya.


Seorang lelaki tampak muncul menghampiri mereka dengan senyum ramah di wajah nya.


"Sayang kau disini."Membungkuk Mengecup pipi Rena."Aku mencari mu kemana-mana tadi."


"Aku sedang berkenalan dengan capeng."Rena mendongak menatap suami nya.


"Siapa capeng?"Bingung.


"Calon pengantin."

__ADS_1


"Bukan nya catin ya?Calon pengantin."Protes.


"Ah terserah apalah itu."Rena frustasi."Mayang ini suami ku.Dia yang sudah membuat ku jadi buncit begini."


"Hai."Mengulurkan tangan."Aku Dion."


"Mayang."Menyambut uluran tangan itu sembari tersenyum.


"Kau bicara apa?"Dion bertekuk lutut di hadapan istrinya yang tengah duduk di kursi."Bukan nya kau sendiri yang menginginkan ini bukan."Ucap nya sembari mengelus perut Rena.Dan kemudian terjadilah perdebatan suami istri yang tak kunjung usai.


Mayang yang merasa di kacangi dan hanya jadi obat nyamuk pun beranjak dan melangkah menuju kulkas.


Kalau berlama-lama di sini dada ku bisa sesak karena polusi udara ini. Gumam Mayang dalam hati.


"Mayang kenapa pergi?"Rena merasa tak enak.


"Aku tidak kemana-mana.Hanya mengambil buah saja."Mayang menutup pintu kulkas dengan kakinya karena di tangan nya penuh dengan buah."Apa kau mau lagi?"Tawar Mayang karena Rena benar-benar menghabiskan nya tanpa sisa.


"Haha tidak.Aku sudah kenyang."


Tiba-tiba dari pintu muncul seorang pemuda berbicara tak jelas sembari menunjukkan bahasa tubuhnya dengan isyarat seperti orang bisu yang sedang bicara. Suara nya terdengar keras membuat Mayang sampai terkejut.


Apa iya tuan Brian punya kerabat tuna wicara?


"Pergi kau dari sini!"Teriak Rena seketika sembari melempar sendok ke arah laki-laki itu.Bukan nya pergi,pemuda gagu namun tampan itu malah tertawa terbahak-bahak setelah berhasil menghindar.


"Haha nggak kena.Enggak kena."


Lho dia nggak bisu. Batin Mayang sembari melongo.


"Sayang dia selalu menggangguku!Cepat botaki kepalanya hingga rambutnya habis tak tersisa."Rengek Rena pada suaminya.


"Tapi dia kan adikmu!Jangan membatin dia ya.Kau sedang hamil sekarang dan jangan marah-marah."


"Tapi aku benar-benar ngidam ingin mengelus kepala botak.Bagaimana ini?!"


Hah!! Mayang sampai tersedak ludah nya sendiri.


"Tenang ya sayang.Besok saat acara pernikahan Brian pasti banyak tamu undangan berkepala botak.Kau bisa mengelus sepuas nya ya,,,"Membenamkan wajah Rena di perutnya untuk menenangkan.


Huh suami istri stres. Mayang.


Mendongakkan kepala menatap suaminya.


"Sekarang bukan musim buah manggis sayang,aku harus cari kemana?"Dion mengacak rambutnya frustasi.


"Kau harus mendapat kan nya!Aku tidak mau anak kita ileran gara-gara ngidam ku tidak keturutan,,,"


"Buah manggis ya?"Sela Mayang yang memang sengaja mendengar.


Keduanya bersamaan menoleh."Iya,istriku ingin sekali makan buah manggis.Aku sudah mencari ke seluruh toko buah,tapi mereka bilang musim buah manggis sudah lewat."


"Aku akan menelpon Ayah ku untuk membawakan manggis saat kemari.Jadi jangan khawatir bayi mu nanti ileran ya.."


"Terima kasih capeng,,,"


"Haha iya." Capeng lagi.


Ratih yang muncul dari arah pintu membuat perhatian ketiga nya teralih kan.


"Kau disini Mayang?"


"Iya nyonya.Eh,,,"Mayang membungkam mulutnya sendiri.


"Sudah ku bilang,biasakan mulai sekarang untuk memanggil ku ibu."Ratih mengingatkan.


"Baik bu."


"Ikut lah dengan ku,Nenek mencari mu."


Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang tengah.Nenek sedang duduk di sana.


"Cucu menantu ku,kau kemana saja...?"Tanya nenek begitu Mayang muncul.


"Saya sedang mengupas buah di dapur nek."Mayang tersenyum ramah.Lalu duduk di samping Nenek.


"Calon pengantin jangan sering-sering ke dapur dulu,"


"Memang nya kenapa nek?"

__ADS_1


"Nanti aku susah mencari mu."


"Oh saya pikir kenapa nek,,,"


"Eh bagaimana kalau kita berjalan-jalan keluar?"Usul nenek dengan mata berbinar."Aku ingin menghirup udara segar."


"Oh mari nek."Mayang pun bangkit dan ingin membantu nenek untuk berdiri.


"Tidak perlu di bantu,nenek bisa sendiri."Tolak nenek sembari menepis tangan Mayang. "Nenek masih sehat dan bugar kau lihat?!"Ucap nenek kemudian sembari menunjukkan tubuh nya yang memang masih tegap.


"Oh iya nek,,,maaf."Ucap Mayang takut nenek tersinggung.


"Maaf untuk apa?Kau kan tidak bersalah."


Mayang pun berjalan mengikuti nenek yang sepertinya menuju ke taman di halaman samping.Di tempat itu suasana nya sangat nyaman dan teduh di bawah terik nya matahari di siang yang panas ini,karena ada beberapa pohon yang menaungi nya.


"Berapa lama kau mengenal Brian?"Tanya nenek di sela-sela langkah nya.


"Sekitar dua bulan nek,"


"Apa kau tau watak keras Brian?"Nenek menoleh menatap Mayang.Ia ingin melihat ekspresi gadis itu.


"Iya nek,"Mayang mengangguk.


"Nenek berharap kalian memiliki kecocokan satu sama lain.Saat salah satu sedang marah,maka yang lain harus bisa meredam amarah nya.Sehingga tak terjadi benturan yang mengakibatkan kerusakan.Jika dua benda sama-sama keras berbenturan,apa yang akan terjadi?"Nenek menatap Mayang.


"E kalau pun tidak pecah,tapi dua benda itu bisa menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga kemudian terpental saling menjauh nek,,?"


"Ya kurang lebih nya begitu juga dengan manusia.Kau bisa bersikap lembut saat Brian marah kan??"Tanya nenek seperti menyelidik.


"Saya akan berusaha nek."


"Oke baik lah,nenek akan mendukung mu.Semangat!"Ucap Nenek sembari menaikkan lengan nya dengan jari yang terkepal.


Mayang tertawa geli melihat ulah nenek."Mendukung untuk apa nek?Kami tidak sedang akan berlomba."


"Kalian memang tidak berlomba,tapi butuh tenaga ekstra untuk itu."Nenek mendekatkan wajah nya ke telinga Mayang."Buat kan nenek cicit yang banyak ya."Nenek mengerling kan mata nya.


Mayang hanya tersenyum kecut.


Aku harus jawab apa...?


Saat Mayang dan Nenek sedang asik berbincang,tiba-tiba seseorang menyergap dan memeluk tubuh nenek secara mengejutkan dari belakang.Mayang juga ikut terkejut karena itu.


Bukan nya sedang di pingit.Kenapa dia kesini?


"Hai cantik."Ucap nya sambil mencium pipi nenek.


"Mulai sekarang berhentilah menggoda ku!"Ucap nenek yang terlihat tak terkejut seolah hal ini sudah biasa terjadi."Ada yang cemburu nanti."


"Tidak akan ada yang cemburu nek,,,"Ucap Brian yang kemudian mencium punggung tangan keriput nenek lalu memeluk nya penuh kasih sayang.Namun pandangan nya tertuju pada Mayang yang berada di belakang nenek.Gadis itu tertunduk seketika.


"Kenapa kemari?Seharusnya kau tidak menampakkan wajah mu yang jelek itu di sini."Ucap nenek saat Brian melepaskan pelukan nya.


"Aku rindu nenek ku yang seksi."


"Sudah nenek bilang,berhenti menggoda nenek mulai sekarang."


"Tapi di mata ku nenek tetap lah yang paling seksi!"Brian ngotot."Belum ada yang bisa menandingi keseksian nenek sampai saat ini."


"Apa kau sudah memeriksakan matamu?"Tanya nenek menyelidik."Sepertinya penyakit rabun dekat mu belum sembuh juga sampai sekarang ya.Dan sekarang di tambah lagi dengan juling.Bicara pada nenek tapi pandangan ke lain."Ucap Nenek setengah menggerutu.


"Apa Nenek cemburu aku melirik gadis di belakang nenek ini?"Goda Brian.


"Tentu saja.Untuk sekarang kau tidak boleh melihatnya sampai hari pernikahan mu tiba."


"Tapi aku benar-benar rindu nenek."


"Jangan banyak alasan!"Nenek memutar tubuh nya dan mengayunkan langkah nya."Ayo kembali ke rumah,di sini udara nya semakin panas."Mayang dan Brian pun berjalan mengiringi nenek.


Brian berkali-kali melirik ke arah Mayang yang tampak tak menghiraukan keberadaan nya.Mungkin Mayang tak tau kalau hal itu malah membuat Brian semakin penasaran dan geregetan.


Tanpa di sadari nenek,Brian meraih pun pergelangan tangan Mayang dan menarik nya dengan paksa.Brian menyudutkan tubuh Mayang di dinding,sedang kan tubuh nya menghimpit Mayang dan mengurung nya dengan kedua lengan kekar nya agar gadis itu tak kabur.Tatapan nya yang tajam kini telah beradu dengan mata indah bening yang tampak melihat nya dengan ekspresi bingung dan takut.


"Aa apa yang anda lakukan?"Tanya Mayang dengan suara terbata."Tuan bagaimana kalau ada yang melihat kita begini,,,?"


"Aku tidak peduli."Brian menggerakkan tangan nya mulai membelai pipi putih Mayang yang kini terlihat merona."Tak ada yang peduli pada ku juga.Seenak nya saja mereka melarang ku bertemu dengan mu."Suara Brian terdengar parau.Nafas hangat nya menyapu lembut wajah Mayang karena begitu dekat nya jarak antara mereka berdua.


"Mayang!!"Terdengar teriakan Ratih menggelegar dari teras depan sehingga menciptakan kepanikan dua anak manusia tang tengah beradu pandang di sisi dinding yang tersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2