Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Psycophat Berwajah Malaikat


__ADS_3

Mayang mencengkeram kuat lengan Brian saat dirinya beradu pandang dengan Hans.Pria tua itu tampak tersenyum manis padanya,namun terlihat mengerikan dimata Mayang.


Bibir Mayang yang masih terlihat pucat tampak bergetar.Terlebih lagi saat lelaki itu sudah berdiri di sisi ranjang tepat di samping nya.


Aura gelap seperti menyelimuti tubuh lelaki itu.Dia terlihat seperti sedang menebarkan ancaman yang mengerikan namun dengan cara yang halus terhadap Mayang.


Brian memperhatikan reaksi Mayang yang tiba - tiba aneh dan terlihat panik. "Sayang kau kenapa?" Tanya nya kemudian sembari menggenggam jemari Mayang untuk menenangkan istri nya itu.


Mayang tertegun menatap suaminya yang tampak sangat menyayangi mertuanya.Mayang merasa perlu memikirkan nya lagi atau bahkan tak perlu mengatakan hal yang ia alami pada suaminya.


Brian tampak polos dan cenderung sensitif jika itu menyangkut tentang mertuanya.Bukan tak mungkin jika Bruan akan menganggap ini hanyalah sebagai fitnah semata jika Mayang menuduh mertuanya tanpa bukti.


Rasa cinta Brian terhadap nya mungkin tak sedalam rasa sayang Brian terhadap ayah mertuanya.Jadi Mayang tak ingin mengambil resiko besar dengan mempertaruhkan rasa cinta Brian terhadapnya atau bahkan kehilangan suaminya jika ia tetap berniat mengadukan hal ini pada Brian.


Mayang tak ingin mempermudah usaha Hans untuk menjauhkan Brian darinya. Maka dari itu ia harus bersikap jadi istri yang penurut dimata Brian dan gadis yang lemah di mata Hans.


"Sayang kepala ku masih sangat pusing dan sakit." Dusta Mayang tiba-tiba agar dirinya tak terlihat baik-baik saja di mata Hans. "Seperti nya aku tak kuat lagi sayang." Mayang benar-benar pintar berakting.Ia benar - benar terlihat seperti sedang sangat merasa kesakitan.Ia bahkan sampai mengeluarkan air mata.


"Cepat panggil kan dokter sayang, aku sudah tak tahan! Bagaimana kalau aku ma..." Kalimat Mayang terhenti karena Brian membungkam mulut Mayang dengan bibir nya.


Brian seolah tak mempedulikan keadaan sekitar.Ia bahkan tak memperhatikan ekspresi wajah mertuanya yang terlihat tak senang.Brian melakukan ini karena ia merasa tak tahan mendengar jerit kesakitan sang istri.


"Aku tak mau mendengar kata itu terucap dari bibir mu. Ku mohon jangan katakan itu lagi." Ucap Brian serak karena menahan tangis usai melepas pagutan nya. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap lekat pada sang istri.Lantas di peluk nya tubuh sang istri dengan erat seakan tak mau melepasnya lagi.


Sayang maafkan aku karena telah berbohong padamu. Sungguh aku tak ingin melakukan ini sayang, aku tak ingin membuat mu cemas. Tapi aku harus melakukan ini untuk melindungi diri ku sendiri. Aku tak tau harus mengadukan hal ini pada siapa lagi sayang.Mungkin tak ada seorang pun yang akan percaya padaku.


Dokter pun datang memasuki ruangan.Billy yang dengan sigap segera memanggilnya saat Mayang tadi secara tiba-tiba merasa kesakitan.


"Tolong saya minta kerja samanya,yang tak berkepentingan untuk meninggalkan ruangan. Biarkan kami menangani pasien dengan tenang." Ucap dokter Lucy dengan tegas.


Dan perkataan Dokter Lucy tadi secara langsung membuat semua orang yang berada di dalam pun menarik diri untuk keluar.


"Brian, kita keluar dulu." Ajak Ratih pada Brian yang masih belum melepaskan pelukannya.


"Tidak Bu, aku ingin tetap disini menemani istriku." Tolak Brian tegas.


"Tapi kau bisa mengganggu Lucy memeriksa istrimu Brian," Ratih memperingatkan.


"Sayang keluar lah dulu," pinta Mayang sembari mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah manik mata Brian.Hati Mayang berdesir nyeri melihat bagaimana mata suaminya tampak berkaca-kaca menahan tangis pilu karena kebohongannya.


Sayang maafkan aku telah berbohong padamu.


"Sayang tolong permudah urusan Dokter ya," membelai lembut pipi suaminya.Brian malah memalingkan wajahnya.Tak ingin sang istri melihat air mata yang jatuh di dari pelupuk matanya. "Sayang, kau ingin aku sembuh kan..." Mayang kembali mengingatkan namun nada memohon.

__ADS_1


Sayang, aku bukanlah istri mu yang dulu, aku akan tetap hidup untuk mendampingi mu sampai kita tua nanti. Jadi kumohon jangan takut begitu sayang.


"Brian tolong keluar ya," pinta Lucy dengan halus. "Aku tidak bisa memeriksa Mayang kalau kau tetap memeluknya begitu."


Brian menundukkan wajah nya untuk menatap wajah sang istri.Mencoba meyakinkan dirinya melalui ekspresi wajah sang istri.Mayang pun mengerti maksud dalam hati Brian.Ia terlihat menyunggingkan senyum manisnya agar sang suami yakin kalau ia baik - baik saja.


"Kau yakin tak membutuhkan diriku disini?" Brian bertanya namun dengan nada kecewa.


"Bukan aku tidak membutuhkan mu sayang," tegas Mayang menjelaskan. "Tapi keberadaan mu disini malah menyulitkan Lucy dalam memeriksa ku. Kembalilah nanti setelah pemeriksaan selesai ya."


Brian menghela nafas dalam.Mengecup puncak kepala istrinya agak lama.Lalu perlahan melepaskan tubuh sang istri dari pelukan nya.


Sayang, untung saja istrimu tidak dalam kondisi kritis sekarang.


"Keluar dulu ya." Pinta Mayang penuh harap.


Bukan tanpa alasan Mayang tak ingin Brian berada disitu. Memang siapa yang tidak senang jika saat sakit di dampingi sang Mayang. Tapi Mayang ingin berbicara empat mata dengan Lucy. Ada yang ingin ia tanyakan pada saudara sepupu suaminya itu.


Brian melangkah mundur menuju itu.Ia tak mau membelakangi istrinya.Tatapan matanya pun tak lepas dari sang istri.Trauma yang dulu pernah ia rasakan,kini kembali datang menghantui pikirannya.


Rasa takut kehilangan benar - benar membuatnya tak bisa jauh dari Mayang. Ia ingin selalu berada di samping sang istri dan ikut merasakan rasa sakit yang istrinya rasakan kini.


Terlebih karena keselamatan nyawa istrinya kini sedang terancam. Entah musuh Brian yang datang dari sisi mana dan siapa Brian bahkan belum yakin. Dia menyadari dirinya yang dulu yang begitu angkuh dan tak punya hati,mungkin karena itulah banyak orang yang tak menyukainya dan menaruh dendam terhadapnya.


Brian menutup pintu ruangan itu pelan dan tak menimbulkan suara. Hans yang sudah berada di luar dan menunggunya sejak tadi pun mendekati dan membimbing Brian untuk duduk di sebuah kursi tunggu.


Seolah dia ikut merasakan kepedihan yang tengah dirasakan menantunya.Dia menempatkan dirinya sebagai orang pertama yang mengkhawatirkan keadaan Brian.Ia ingin tetap menjadi orang yang Brian bangga - banggakan.


Billy yang tahu kebusukan lelaki tua itu hanya bisa ber decih kesal tanpa bisa berbuat apapun.Untuk sementara ini, Billy hanya bisa membiarkan lelaki itu berada di atas angin.


Hans benar-benar sangat licik.Ia berhasil mencuci bersih tangan nya dari segala bentuk kejahatan yang telah ia lakukan dalam segala upayanya untuk menghabisi Mayang. Walaupun semua itu selalu berakhir dalam kegagalan.


Tapi Billy tak akan membiarkan hal itu terjadi lebih lama lagi. Billy sangat menyesali keterlambatan dirinya dalam penyelidikan upaya pembunuhan terhadap nyonya mudanya dengan menggunakan racun ini.


Andai saja dirinya berada di tempat kejadian saat itu,mungkin Billy akan dengan sangat mudah mengungkapnya.Hans memang sangat pintar memanfaatkan kondisi Brian yang teramat sayang terhadapnya,sehingga Brian tak pernah menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap lelaki yang diam - diam masih menaruh dendam atas kematian putrinya.


Hans tak ingin Brian hidup bahagia. Ia ingin Brian selalu dalam keterpurukan dan penyesalan serta rasa bersalah yang teramat karena kematian putrinya.


Saat Brian dalam keterpurukan nya di waktu lalu,Hans benar - benar merasa bahagia.Setidaknya ada teman yang sama - sama merasakan kepedihan seperti dirinya. Namun sejak kehadiran Mayang yang secara perlahan namun pasti mampu mengubah kehidupan Brian kearah yang lebih baik ternyata itu membuat Hans meradang.


Rasa kesepian membuat nya buta serta tamak.Ia tak ingin melepaskan Brian dalam kebahagian, terlebih Brian bahagia dengan wanita lain.Karena bagi Hans, Brian adalah lelaki milik putrinya seorang sampai kapan pun.


Billy tiba di tempat acara pesta malam itu dan memulai penyelidikan bersama Malik dengan di bantu polisi dan anak buahnya.Namun mereka telah menghilangkan segala jejak yang mungkin bisa di jadikan alat bukti kejahatan Hans.

__ADS_1


Bahkan dari rekaman CCTV pun tak memperlihatkan pertemuan antara Mayang dan Hans.Mereka benar - benar bekerja sangat resik dalam waktu sekejap bisa melenyapkan semua bukti dengan mudah. Bahkan mengganti gelas minum Mayang dengan gelas lain dan membuang gelas aslinya entah kemana.


Maafkan saya nyonya Mayang, saya belim bisa menyelamatkan anda untuk saat ini. Tapi saya janji akan melindungi anda dari psycophat berwajah malaikat ini nyonya. Billy.


****


Sementara di dalam ruangan.


"Mayang berbaringlah," Lucy membantu Mayang untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Lalu ia memulai pemeriksaan nya terhadap Mayang.


"Lucy, aku baik - baik saja." Ucap Mayang tegas.


"Lalu kenapa kau menggegerkan semua orang?" Tanya Lucy sembari tersenyum tanpa menghentikan pemeriksaan nya.


"Apa kau tahu sebab aku masuk kesini?"


"Tahu, Karena jus jeruk yang kau minum dan juga karena luka mu ini." Lucy menunjuk pergelangan tangan Mayang yang tertutup dengan kasa putih yang melilit nya.


"Ada apa dengan jus jeruk itu Lucy?" Mayang bertanya dengan penuh rasa penasaran. Walaupun ia bisa menebak nya,tapi Mayang ingin mendengarnya langsung dari orang yang lebih mengerti.


Lucy terkejut mendengar tanya yang dilayangkan Mayang.Dan ekspresi wajahnya memperlihatkan kalau sebenarnya gadis ini mengerti apa yang telah terjadi padanya.


"Mayang," Lucy menyipit kan matanya.Ingin menyelidik lebih jauh pada pasien spesialnya itu. "Apa kau mengetahui kejadian yang telah menimpa dirimu?"


"A apa maksudmu Lucy." Mayang gelagapan. "Aku benar - benar sedang bertanya padamu. Aku hanya ingin tahu,bukankah kau bilang karena jus jeruk itu aku berada didalam ruang perawatan ini kan? Apa karena jus itu sudah kadaluwarsa?"


"Tidak, jus itu masih segar. Namun kandungan yang sengaja dimasukkan kedalam jus itulah yang membawa mu kesini. Ada zat asing di dalam jus itu. Apa kau menyadarinya?" Tanya Lucy dengan nada menyelidik.


Mayang tertunduk lalu mengangguk pelan.


Ekspresi wajah Lucy tampak terkejut. "Kau tau dirimu di racun?! Siapa pelaku nya Mayang?!" Lucy mendesak Mayang dengan dengan wajah penuh penasaran serta geram tang bercampur jadi satu.


"Aku tidak tau."


"Tidak mungkin kau tidak tau! Siapa yang memberikan minuman itu padamu?!"


"Aku mengambilnya dari nampan seorang pelayan." Ucap Mayang tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kau tahu Mayang, polisi dan Billy bahkan tidak bisa mengungkap kasus ini untuk menolong mu. Tapi kenapa kau malah seolah menutupinya?!" Lucy benar - benar merasa geram.


Mayang menatap lekat wajah Lucy dengan seksama.Ingin menyelidik dokter muda dan cantik ini lebih dalam. Apakah dia bisa di percaya karena berpikir dengan logikanya, atau kah dia cenderung seperti Brian yang membutakan matanya hanya karena rasa iba.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2