
Secangkir teh hangat menjadi teman sepi malam-malam Milly belakangan ini. Entah sudah berapa hari ia melewati sepanjang hari dengan hanya sendiri. Billy sepertinya sangat sibuk, hingga tak pernah ada waktu untuk mereka bahkan untuk sekedar bertatap muka. Lelaki itu berangkat saat hari belum fajar dan pulang saat hari lewat tengah malam.
Mendesah pelan, Milly yang sedang selonjoran di sofa depan TV itu menggerakkan tangannya meraih cangkir teh yang terletak di atas meja. Meneguk teh hangat yang berisi setengah di dalamnya, gadis mungil itu menghabiskannya hingga habis tanpa sisa.
Didera kebosanan yang semakin menjalar, Milly bangkit untuk mematikan televisi serta lampu-lampu ruangan yang masih berpendar. Ia memutuskan untuk pergi tidur lebih cepat dari biasanya, tanpa memiliki niat menunggu suami pulang seperti yang belakangan ini selalu ia lakukan. Meski pada akhirnya selalu berakhir dengan menelan kekecewaan.
Sesungguhnya Milly tak ingin selalu merasa curiga, namun nyatanya yang Billy lakukan di luar sana selalu membuat batinnya didera banyak tanya. Lelaki itu benar-benar misterius. Sekuat tenaga ia selalu berusaha tetap terjaga, namun nyatanya kedatangan Billy selalu luput dari setiap penjagaannya.
Milly hanya bisa melihat jejak kepulangan Billy hanya dengan pakaian kotor yang mengisi keranjang pakaian. Tak jarang Milly memeluk jas itu hanya untuk menghirup aroma tubuh Billy yang masih tertinggal di sana sebagai pengobat rindu.
"Apa dia sengaja menghindariku?" hanya pertanyaan itu yang berulang kali Milly ucapkan setiap kali mengingat sosok Billy. Dan seketika itulah semburat merah langsung nampak di pipinya yang memanas, kala pikirannya kembali teringat kejadian malam itu.
Malam kedua Milly berada satu atap dengan Billy, akibat mata yang mulai berat memaksanya untuk pergi tidur cepat. Tak ingin terjadi kesalah pahaman untuk kedua kalinya, ia pun patuh dan memutuskan tidur di ranjang seperti yang telah Billy perintahkan.
Belum sempat Milly terlelap, namun gadis mungil itu bisa mendengar kedatangan Billy di malam itu. Rasa malu yang masih menyergap karena kejutan hari pertama bekerja yang masih membekas diingatan membuatnya bingung harus melakukan apa, hingga ia memutuskan untuk berpura-pura tidur saja. Mungkin itu lebih baik, untuk menghargai privasi Billy dan yang pasti agar dirinya merasa aman.
Billy yang baru datang dan tak menemukan istri sirinya di lantai bawah pun segera naik ke atas dan langsung menuju ke kamar. Melihat pintu kamar mandi yang sudah kembali utuh membuat lelaki--yang selalu dijuluki sebongkah es batu oleh istrinya--itu menyunggingkan senyum. Terlebih melihat tubuh Milly yang tengah meringkuk dengan posisi miring di atas ranjang dan terbungkus rapat oleh selimut.
Milly menghela napas lega saat Billy masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa sedikitpun merespon keberadaannya di sana. Harap-harap cemas ia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimanapun juga ia belum bisa bernafas lega sebelum lelaki itu tertidur pulas tanpa mengintimidasi dirinya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka itu seketika mengejutkan Milly, membuat ekspresi gadis itu menegang, sementara jantungnya berdegup kencang. Segera ia memasang aksi pura-pura tidur dengan posisi persis sebelum Billy masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Billy yang sudah mengenakan kaus dalam warna putih yang dipadukan dengan celana panjang santai warna senada tampak keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah.
Melirik gadis mungil berbungkus selimut dengan posisi yang masih sama dengan sebelum ia tinggal tadi, membuatnya meyakini jika gadis itu sudah terbuai jauh ke alam mimpi. Tak berniat ingin mengganggu, Billy hanya menipiskan bibir saat sekilas ia menatapnya.
Lelaki dengan kaus dalam pres body itu tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari yang rupanya adalah matras. Menggelarnya di samping ranjang sebelum kemudian mengambil satu bantal dan merebahkan tubuhnya di sana dengan nyaman.
Dan tak lama setelah itu, terdengar dengkuran halus dari bibirnya yang pada akhirnya membuat Milly yakin jika lelaki itu benar-benar telah terlelap. Dan anehnya, justru sekarang Milly lah yang tak bisa memejamkan mata karena rasa kantuk yang telah pergi entah kemana. Sial! Gadis itu menggerutu sebal.
Sudah berlalu beberapa waktu setelah Billy pulas di bawah sana, Milly justru gelisah dan kelimpungan tak bisa terpejam. Meski telah bolak-balik berganti posisi baring, tetap saja mata ini tetap bening. Dan sialnya, Billy justru pulas begitu nyamannya.
Karena penasaran, Milly pun beringsut dan menepi. Dengan posisi miring, gadis mungil dengan piyama putih polos itu tersenyum memperhatikan Billy yang begitu manis saat tertidur. Dengan posisi terlentang dan menjadikan tangannya yang bertaut sebagai bantalan, membuat tubuh kekarnya itu semakin jelas kelihatan. Bahkan perut kotak-kotaknya itu terlihat jelas di balik kaus dalam ketat yang dikenakannya.
Melihat itu, entah mengapa naluri jail Milly meronta-ronta. Ia tak bisa tinggal diam melihat lelaki itu tidur keenakan sementara dirinya kelimpungan. Menarik sudut kiri bibirnya hingga membentuk seringai nakal, Milly menjulurkan tangan kirinya dan mencolek pipi kiri Billy dengan pelan sebelum kemudian berguling menjauh untuk bersembunyi. Namun setelah beberapa saat diam menanti, tak ada reaksi yang ditunjukkan si lelaki sebagai tanda-tanda ia terjaga dan berniat menuntut balas.
Merasa lelah, Milly pun akhirnya menguap lebar tanda kantuk mulai menyerang. Namun gadis itu masih saja dilanda kegelisahan hingga sepasang netranya belum juga mau untuk terpejam. Entah demi apa, tiba-tiba tubuh Milly merosot dan menjatuhkan dirinya di samping Billy.
Meletakkan kepalanya di atas lengan sang suami, entah mengapa Milly justru menemukan kenyamanan di sana. Bahkan aroma maskulin yang menguar dari tubuh Billy terasa begitu menenangkan, hingga tak menunggu lama, gadis mungil itu pun terpejam dan terlelap begitu pulasnya.
Billy yang memanglah lelaki jeli langsung membuka mata begitu merasakan kehadiran seseorang. Lelaki itu mengerjap bingung, merasakan ada yang aneh di sisi kiri tubuhnya. Dan benar saja, seketika Billy membelalakkan mata karena saking terkejutnya begitu mendapati sosok Milly tidur merapat padanya, bahkan menjadikan lengannya sebagai bantal.
Bukankah tadi dia bergulung dengan selimut dan terlelap di atas ranjang? Lalu bagaimana ceritanya dia bisa turun dan tidur berbantal tanganku seperti ini? Apakah dia hobi tidur sambil mimpi berjalan? Billy membatin kebingungan.
__ADS_1
Hampir saja ia menarik tubuhnya untuk bangkit, namun Milly yang tak bereaksi dengan sikap terkejutnya membuat Billy meyakini jika sang istri benar-benar tertidur pulas.
Rasa penasaran membuat Billy menundukkan kepala, dan menatap wajah istrinya yang tengah terlelap dengan seksama. Tanpa terasa seulas senyuman tercetak jelas di wajah gioknya. Wajah polos tanpa dosa itu begitu manis saat sedang terlelap. Terlebih dengan jarak sedekat ini, membuat Milly terlihat semakin cantik dan menggemaskan, bertolak belakang dengan saat dia terjaga, sumpah demi apa, saat itu dia benar-benar menyebalkan.
Melihatnya tanpa daya seperti ini benar-benar membuat Billy melebarkan senyum penuh kemenangan. Entah mengapa naluri balas dendamnya seolah meronta-ronta. Selama ini ia selalu merasa tertekan dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba dan memporak-porandakan perasaannya. Bagaimana jika sekarang dia bermain-main sedikit saja. Bukankah Milly yang dengan sendirinya turun ranjang dan menyerahkan diri?
Sebuah seringai nakal pun tersungging samar di bibir tipisnya. Billy beringsut dengan gerakan pelan berusaha memiringkan tubuhnya. Dengan telunjuknya, ia mulai menyentuhnya ke wajah Milly dan berusaha membangunkannya. Kita lihat saja, seperti apa penampakannya saat terkejut, dan menyadari dirinya sendiri yang mendekatiku dan mencari kehangatan. Hahaha, entah wajahnya akan semerah apa karena menahan malu karena mendapati dirinya sendiri yang mendesak laki-laki. Hahaha malang sekali nasipku Milly ...! Billy terpingkal dalam hati.
Entah mengapa, meski Billy telah menekan-tekan ujung hidung, bahkan memainkan pipi si gadis, namun Milly masih juga tak bereaksi. Bukannya merasa terganggu, ia justru terlihat semakin nyaman saja berada di posisinya sekarang.
Heran, dia tidur apa pingsan, sih? Dia tidur sudah seperti orang mati saja. Sama sekali tak terganggu meski aku sudah mengusiknya. Untung saja aku ini pria baik-baik. Coba saja kalau aku ini pria brengsek, entah apa jadinya kau nanti. Billy mengernyit bingung.
Mendesah pelan, Billy tampak mengamati Milly dengan seksama. Setelah selama ini berusaha menepis rasa yang ada, nyatanya gadis di depannya ini benar-benar ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Bulu mata yang lentik. Hidung mungil yang mancung berpadu sempurna dengan pipi sedikit tembam dan di tambah dengan alis hitam yang menukik indah. Dan bibirnya ....
Tanpa sadar tangan Billy bergerilya dari pipi menuju ke bibir ranum istrinya, Daging tanpa tulang itu benar-benar terlihat menggiurkan, begitu lembut saat di sentuh dengan jemarinya.
Seketika ekspresi Billy melembut, begitu terpesona dengan keindahan yang terpampang nyata di depannya. Haruskah ia menyiakan bidadari yang sengaja Tuhan kirimkan, atau tetap berusaha mengelak dan menolak atas nama dengan yang masih membekas di dalam dada.
Tanpa bisa menolak, entah mengapa bibir Milly bahkan seperti magnet yang seolah menariknya tanpa bisa memberontak, hingga tanpa sadar, kini bibir Billy telah tertanam di sana, menyesapi manis dari sari yang tersimpan dari bibir Milly yang terkadang berkata pedas. Bahkan lidahnya bermain bebas di dalam sana tanpa mendapatkan perlawanan.
Namun siapa sangka jika sepasang netra yang semula terpejam rapat mendadak terbuka dan mengerjap-ngerjap kebingungan. Dan pada akhirnya dua pasang mata itu sama-sama terbelalak, terlebih dengan bibir yang saling berpaut.
__ADS_1
Keduanya sama-sama berteriak begitu pertautan terlepas, karena keterkejutan yang teramat hingga keduanya refleks saling menarik diri. Yang satu naik ke atas ranjang dan satu nya lagi naik ke atas sofa dengan ekspresi wajah gusar.
bersambung