
Dua raga yang kelelahan akibat pertempuran mereka dalam percintaan yang panas pun terlelap dengan damai diantara ribuan kelopak bunga yang menyelimuti tubuh mereka.
Brian dengan kelembutan dan kelihaiannya yang ia dapat secara naluri kelelakian nya pun mampu membawa Mayang kedalam puncak kenikmatan. Berdua mereka bersama - sama menjelajah mencari pengalaman baru dalam variasi bercinta hingga mereka merasakan hal yang luar biasa saat kedua tubuh mereka saling berpadu.
Brian bahkan tak melepaskan Mayang sedikitpun walau keduanya dalam keadaan terlelap dalam buaian mimpi yang indah. Laki - laki itu tetap memeluk erat tubuh sang istri dan melindunginya dari hawa dingin yang menyentuh permukaan kulit.
Matahari tampak mulai bersinar berwarna jingga keemasan. Brian menunjukan pergerakannya. Ia mengerjapkan mata berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Ia tersenyum saat wajah istrinya lah yang pertama kali ia pandang di pagi hari yang cerah ini. Senyumnya semakin lebar manakala di lihatnya tubuh polos sang istri, wajah cantik dengan rambut panjang dan taburan kelopak bunga di sekujur tubuhnya membuat Mayang terlihat seperti seorang peri yang tampak indah berkilau.
Tak lupa ia mengabadikan wajah imut sang istri yang sedang terlelap diantara kelopak bunga. Lantas di tariknya ujung selimut yang terletak di tepi ranjang untuk menutupi tubuh sang istri hingga sebatas lehernya.
Mayang menggeliat pelan saat Brian mengecup dengan lembut bibir nya yang ranum. Namun rasa kantuk dan lelah yang teramat membuatnya tak mampu membuka matanya untuk terbangun. Alhasil ia kembali terlelap setelah merapat pada tubuh Brian untuk mencari kehangatan.
Brian menggertakkan giginya menahan hasrat yang kembali bangkit oleh sentuhan lembut tangan Mayang yang secara tak sengaja gadis itu lakukan. Ia harus secapat nya bangun agar ia tak kembali mengusik kenyamanan istrinya yang sedang terlelap.
Brian menyempatkan menoleh pada sang istri setelah selesai memunguti satu persatu pakaian mereka yang berserak di lantai, akibat ulahnya yang melepas pakaian yang istri dengan tak sabaran lalu melemparnya ke sembarang arah. Lalu ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Brian yang telah rapi pun melangkah menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke dapur. Di buka nya pintu kulkas besar yang berada di dapur itu untuk memeriksa isi di dalamnya.
Ia hanya menemukan dua potong daging sapi berkualitas premium di dalam kulkas. Dan ia tahu harus membuat apa dengan daging itu. Brian memang sengaja mengosongkan rumah itu dari para pelayan agar dirinya bisa menikmati sepanjang waktu hanya berdua saja bersama sang istri.
Namun sepertinya ia lupa menginstruksikan untuk menyiapkan persediaan bahan pangan yang lebih pada para pelayan sebelum mereka meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Mereka hanya datang di saat Brian dan Mayang keluar dari rumah, seperti pada saat Brian membawa Mayang ke stand kuliner di hari kemarin.
Usai membumbui , Brian menaruh daging itu pada grill pan yang sudah panas untuk memanggang nya dan menjadikannya steak.
Namun tubuhnya seketika menegang karena terkejut saat dua lengan yang lembut tiba - tiba menelusup dari sisi pinggang dan memeluk tubuhnya dari belakang.
Brian tersenyum saat bisa menebak sesosok tubuh ramping yang merapat dan terasa hangat di belakangnya.
"Selamat pagi sayang, sudah bangun?" Sapa Brian sembari menoleh dan melirik puncak kepala sang istri, karena hanya bagian itu saja yang nampak.
"Ish kok tahu kalau ini aku?!" Tanya Mayang dengan nada kesal karena tak berhasil mengejutkan suaminya. Kepalanya pun mendongak menatap Brian dari belakang.
"Di rumah ini tidak ada orang lain selain kita sayang,,," jawab Brian sembari tersenyum. Namun pandangannya tetap fokus pada masakan di hadapannya.
"Oh iya." Ucap Mayang dengan wajah nyengir. Lantas pandangannya pun bergeser pada grill pan yang terletak di atas kompor. "Sayang lagi masak apa?" Tanyanya sembari melepaskan pelukan nya dan berpindah ke sisi suaminya.
"Aroma nya menggugah selera. Pasti enak deh." Puji Mayang sembari tersenyum pada Brian. Namun sedetik kemudian, senyuman itu memudar dan berubah melow. "Tapi sayang, urusan dapur dan memasak kan tugas istri. Tapi kenapa malah kamu yang turun sendiri ke dapur untuk bikinkan aku makanan. Aku kan jadi malu sayang,,, sudah dua kali lho." Mayang cemberut sembari menunjukkan dua jarinya untuk memastikannya.
"Itu sudah kewajiban ku sayang," jawab Brian sembari membalik daging yang mulai setengah matang. "Aku sudah menikahi mu, jadi aku bertanggung jawab memberikan sandang pangan untukmu. Memberimu pakaian yang layak, rumah yang nyaman untuk berteduh serta makanan yang bergizi untuk kebutuhan tubuhmu. Itu adalah nafkah lahir sayang." jelas Brian pada Mayang yang tampak antusias mendengarkannya dengan tersenyum penuh haru.
Kembali Brian membuka mulutnya dan berucap. "Kalau dirumah, aku mengutus para pelayan untuk melayani mu dengan baik, karena aku sangat sibuk dan tak bisa memberi sandang pangan secara langsung padamu. Tapi karena sekarang aku tak memiliki pelayan dan waktu ku juga sedang senggang, jadi aku memasaknya sendiri untukmu ..."
"Tapi istri yang baik akan mengurus rumah tangga nya dengan baik serta melayani suami dengan ikhlas untuk menunjukkan bakti nya kan?" Sahut Mayang tak mau kalah. "Izinkan aku berbakti padamu suamiku...," ucap Mayang kemudian dengan nada memohon sembari menangkupkan kedua telapak tangannya. "Karena aku menganggap pernikahan kita adalah ibadah, dan menjadikan ini ladang pahala untuk kita."
__ADS_1
Brian yang geregetan dengan sang istri pun memutar tubuhnya seketika. Dan tanpa aba - aba dia pun membungkuk dan merengkuh tubuh sang istri. Menganggkat nya dan mendudukkannya dengan hati - hati pada meja pantry yang kokoh yang terbuat dari marmer itu. Brian berdiri diantara kedua paha Mayang.
"Sayang kau mau apa?" Mayang yang terkejut dengan ulah Brian yang begitu tiba - tiba pun bertanya bingung. Matanya menatap seperti menelisik pada Brian yang tampak menyeringai.
"Memberimu nafkah batin." Bisik Brian dengan nakal tepat di telinga Mayang hingga membuat wanita itu merinding dibuat nya.
"Tapi ini kan di dapur sayang ,,," protes Mayang dengan nada penolakan.
"Sayang, memberi nafkah batin itu bisa di mana saja. Di dapur, di ruang tengah atau di manapun. Tidak harus melulu di ranjang sayang," jelas Brian dengan lirih. Matanya yang mulai berkabut saat memandang Mayang penuh hasrat seolah tak bisa lagi menahannya.
Brian lantas menyesap bibir sang istri dengan liar. Tangan kirinya menahan tengkuk sang istri agar ciuman mereka semakin dalam. Sedangkan tangan kanan nya bergerak tak terkendali meraba area favorit nya.
Mayang hanya bisa pasrah menerima cumbuan Brian yang sudah di kuasai dengan gairah nya. Namun di tengah pagutan mereka yang semakin memanas, aroma menyengat dari masakan yang gosong menyeruak memenuhi ruangan dapur di tempat mereka saat ini memadu kasih.
Aroma itu sampai pada indera penciuman Brian dan Mayang yang tengah larut dalam kemesraan mereka. Dan seketika otak mereka pun bekerja saat keduanya teringat akan daging steak yang masih berada dalam pemanggangan hingga membuat keduanya saling melepaskan pagutan mereka yang semakin memanas itu.
"Steak!!" Teriak keduanya secara bersamaan.
Bersambung
________________________
Hai readers tercinta, kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara
__ADS_1
dan beri dukungan kalian juga untuk author ya
Terimakasih 🙏🙏