Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Nggak ada ahlak


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Billy sudah berada di pasar tradisional hanya untuk berburu mangga muda. Setelah pencariannya yang tak berbuahkan hasil meski ia sudah memasuki seluruh pusat perbelanjaan bahkan toko-toko buah di pinggir jalan selama beberapa hari ini. Hingga pada akhirnya ia terdampar di tempat yang bahkan seumur hidup baru sekali ini ia datangi.


Melangkahkan kaki sembari pandangannya mengedar mencari buah dengan rasa asam yang membuat ngilu di gigi itu benar-benar membuatnya merasa gila. Brian benar-benar membuatnya kerepotan selama beberapa hari ini. Pekerjaanya di kantor pun jadi terbengkalai dengan kegiatan barunya berburu mangga muda.


Karena hampir setiap hari dibelinya, toko buah yang selama beberapa hari ini menjadi tempat langganannya pun kehabisan persediaan mangga muda. Terlebih musim mangga yang telah lewat menyebabkan kelangkaan di mana-mana.


Dan disini, berjumpa dengan begitu banyak manusia dan bermacam-macam rupa dan aroma. Bau amis ikan yang tiba-tiba menyeruak terhirup oleh hidungnya saat ia sedang berlalu, mendadak membuatnya pusing serta mual. Entah bagaimana bisa ia sampai ke pasar ikan untuk mencari mangga muda.


Terlebih saat begitu banyak mata yang tertuju padanya, menatap aneh, bahkan tatapan penuh puja saat melihat lelaki muda tampan dengan penampilan seperti seorang bangsawan yang nyasar berbelanja ke pasar.


Ia segera beranjak pergi menghindari sorotan kamera dari ponsel beberapa wanita yang secara terang-terangan memotret wajah Billy yang kini terlihat pucat pasi.


Jika bukan karena Brian sialan itu, aku tak mungkin berada disini sekarang ini! Umpatnya kesal dalam hati sambil menatap risih pada gadis-gadis yang mencoba menggodanya.


Saat melewati sebuah lapak seorang pedangang sayur mayur, secara tak sengaja pandangan Billy tertuju pada sebuah kantong plastik berisi tampak tergeletak duantara sayuran. Merasa dirinya perlu memastikan sesuatu, Billy pun melangkah mendekat dan tangannya pun bergerak membuka kantong itu.


Seperti mendapatkan harta karun berlimpah ruah saja, mata Billy langsung berbinar penuh bahagia begitu melihat kantung plastik itu berisi mangga muda.


"Bu, berapa harga semua muda ini? Saya mau membeli semuanya." Tanpa buang waktu, Billy langsung bertanya pada ibu paruh baya penjual mangga muda itu.


Ibu penjual sayur yang tadinya sedang sibuk memilah sayuran dagangannya di bagian belakang lapak segera menoleh begitu dia mendengar suara Billy. Untuk beberapa detik wanita itu terpana melihat lelaki muda dengan penampilan tak biasa menghampiri lapak dagangan sayurannya.


Billy menautkan alis bingung saat ibu sayur bukannya menjawab, malah bengong menatapnya dengan mulut yang ternganga.


"Ibu," panggil Billy pelan si ibu sayur tak menyahut. "Ibu." Panggilnya lagi lebih keras dengan menambah beberapa oktaf dalam nada suaranya. Eh si ibu masih bengong juga. Hingga akhirnya, "Hallo ... Ibu ...!" Panggil Billy setengah berteriak sambil tangannya melambai hingga si ibu sayur berjingkat seperti tersengat, lalu segera bangkit dan tergopoh mendekati lapak.


"Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau beli semua mangga muda ini Bu," Billy menjawab sambil menarik sudut bibirnya.


Bukannya terlihat senang karena jualannya akan di borong, wanita bertubuh tambun dengan kain celemek yang menempel di badan itu justru nampak keberatan.


"Wah gimana ya?" Ibu itu menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab. "Mohon maaf saja ya Mas, itu,--"


"Untuk apa meminta maaf, Ibu kan tidak salah." Potong Billy dengan senyuman yang merekah dari bibirnya. "Saya bayarin semua ya," ucapnya sambil merogoh dompet dari saku celananya.


"Bukannya saya tidak senang karena dagangan saya di borong, tapi itu mangga sudah ada yang punya tuh, gimana dong?" Papar nya dengan nada tak enak hati.


"Kalau masih di sini berarti masih milik Ibu, kan ,,, jadi sah-sah saja kalau saya mau membelinya." Balas Billy ramah namun nada bicaranya terdengar menuntut.


"Ih Mas ganteng ngebet banget pengen beli mangganya, kayak lagi ngidam aja ,,,," godanya sambil tersenyum genit, sementara tangannya tak sengaja meremas-remas kentang di hadapannya.


"Memang lagi ngidam Bu. Makanya, boleh ya ,,,," bujuk Billy dengan memasang tampang imutnya untuk meluluhkan hati ibu sayur, namun sepertinya sia-sia.

__ADS_1


"Wah beneran nggak bisa Mas, sudah milik orang, soalnya." Ucapnya dengan nada menyesal. "Kalau saya saja gimana? Saya belum milik siapa-siapa kok?" Tanya si ibu sambil mengerlingkan matanya genit.


Astaghfirullah Bu, tobat ngapa. Gumam Billy dalam hati. Sementara ia hanya bisa nyengir saat si ibu masih menatapnya penuh kekaguman.


Tiba-tiba entah dari arah mana datangnya muncul seorang gadis ke arah mereka dengan dua tangan menenteng masing-masing kantong besar yang tampaknya begitu berat. Meletakkan di lantai dengan kasar, gadis itu menghela nafas lalu mengibas-kibaskan tangannya yang terlihat pegal.


"Bibi! Mangga aku mana?" Tanya gadis itu kemudian pada ibu penjual sayur dengan suaranya yang lantang namun terdengar renyah.


"Itu." Tunjuk ibu sayur pada kantong di hadapan Billy.


"Oh, terima kasih Bi," ucapnya dengan senyum yang mengembang, tangan kurusnya kemudian bergerak hendak meraih kantong plastik berwarna putih itu, namun sepertinya sia-sia. Sebab Billy dengan cekatan berhasil meraih kantong itu lebih dulu.


"Ini mililku." Ucap Billy dingin tanpa menoleh pada gadis itu. Ia lantas mengenakan kembali kaca mata hitamnya.


"Eh mana bisa! Itu punya saya!" Tak mau kalah, gadis itu pun bergerak berusaha merebutnya. Billy yang berusaha mempertahankan mangga itu pun mengangkat tinggi-tinggi kantong itu.


Si gadis melompat-lompat berusaha menggapai, namun postur yang kalah telak membuat usahanya itu hanya sia-sia. "Kembalikan! Itu milik saya karena saya sudah membayarnya! Dasar, tidak tahu malu ya, beraninya berebut dengan wanita lemah!" Maki gadis itu kesal setelah gagal dalam upayanya.


"Terserah kau mau bilang apa. Aku akan membelinya berkali-kali lipat dari harga yang kau bayarkan tadi."


"Ah benarkah??" Si gadis membulatkan dua bola matanya dengan sempurna, tergiur dengan harga yang lelaki itu tawarkan. Lalu sedetik kemudian gadis itu pun berdehem kecil dan memasang wajah angkuhnya.


Stop deh ya, tobat. Insaf. Keliatan banget matre nya kalau kaya gitu kan, biar miskin mesti punya harga diri dong! Batinnya.


Gadis itu berdecak dengan pandangannya mengamati pria bertubuh tinggi kejar itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Ah entah lah! Di kota kan memang banyak pria songong suka menindas rakyat kecil seperti dia. Aku harus kuat agar harga diriku tidak terinjak-injak. Sudah cukup aku tertipu satu kali saja.


"Dasar orang kaya! Kau pikir semuanya bisa kau beli dengan uang mu hah!" Menegakkan dagunya, gadis itu memaki Billy sambil berkacak pinggang dengan angkuhnya.


Billy yang merasa tersinggung dengan ucapan gadis itu pun segera melepas kaca mata dan menundukkan kepalanya dan menatap gadis itu dengan sorot mata tajam. Namun keduanya sama-sama membelalakkan mata saat pandangan mereka beradu. Dengan segera si gadis berpaling dan menutupi wajahnya dengan dompet yang ia pegang.


Mati aku! Kenapa jumpa dia di sini?! Mana duit sepeser pun nggak punya lagi. Kalau tiba-tiba dia nagih hutang terus aku mau pakai alasan apa ...? Gerutu gadis itu dalam hati sambil meringis dan menggigit bibir bawahnya.


"Kau!" Seolah tak percaya, Billy menarik tangan si gadis agar dapat melihat jelas wajahnya. Sedangkan tangan kirinya menjatuhkan kantong mangga muda tadi ke tempat asalnya. "Kau Milly, kan??"


"Ha-ha Bapak," gadis itu tersenyum masam merasa malu seperti sedang tertangkap basah. "Bapak suka belanja di pasar juga?" Lagi-lagi ia hanya bisa meringis. Gadis itu salah tingkah saat Billy tak menjawab dan hanya menatapnya dingin sembari bersedekap dada.


Milly, keselamatan mu terancam baby ..., Dia menatapmu penuh ancaman. Milly menggeser langkahnya sedikit demi sedikit dengan tangan yang bergerak memjangkau kantong plastik berisi mangga muda.


Dan dengan gerakan secepat kilat ia berhasil meraih kantung itu dan bergegas menjinjing belanjaannya hendak kabur dari sana dengan jurus langkah seribu.


Namun apalah daya. Langkahnya pun terpaksa terhenti akibat tangan panjang Billy yang dengan cekatan menarik kerah kemeja bagian belakangnya. Dengan berat hati gadis itu menaruh kembali kantong belanjaannya, lantas berbalik badan dan menghadap kepada lelaki yang tengah menyeringai licik itu.

__ADS_1


"Mau kabur kemana, hah?!" Tanya Billy tanpa melepaskan tentengan tangannya pada kerah baju si gadis.


"Siapa juga yang mau kabur sih Pak? Saya cuma mau menggeser belanjaan saja, he-he."


"Bohong." Ketus Billy tepat di depan wajah Milly. Lalu menarik mundur kepalanya dan menatap remeh pada gadis dengan celana jens hitam yang di padukan dengan kemeja putih sebagai atasannya. "Sudah memaki ku seenaknya, kau ingin pergi begitu saja?! Benar-benar nggak ada ahlak." Makinya pula dengan sengit.


"Bapak tuh yang nggak ada ahlak! Menindas makhluk lemah seperti saya!" Sungut Milly sambil menepis tangan Billy dengan keras.


"Terserah! Aku malas berdebat dengan wanita yang gemar menipu seperti mu." Mendengar ungkapan Billy yang terlontar dengan nada menghina, seketika membuat Milly membelalak tak terima.


"Menipu anda bilang?! Saya bukan penipu!"


"Penipu atau bukan, hanya kau dan tuhan saja yang tahu. Sekarang berikan mangga itu pada ku." Ucap Billy sambil menadahkan tangannya.


Gadis berambut panjang yang diikat ekor kuda itu menatap sekilas telapak tangan Billy lalu tertawa remeh. "Tidak semudah itu pak. Anda harus membeli rujak buah saya dulu jika ingin mangga muda."


"Kalau aku tidak mau?!" Dengan santai Billy bersedekap dada.


"Saya akan teriak." Ancam Milly dengan seringai di bibirnya. Gadis itu menunjukkan sikap beraninya agar lelaki di hadapannya itu tak berhasil meremehkannya.


Billy yang gemas dengan usaha keras gadis itu pun tersenyum lebar. Ia pun membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya di telinga Milly. "Teriak saja. Saya tidak takut." Bisiknya dengan nada menantang.


"Tolong! Tolong saya! Lelaki ini berani menggoda saya!" Lengkingan suara teriakan Milly yang begitu tiba-tiba ternyata berhasil menggegerkan pengunjung pasar hingga mendekat pada mereka.


"Mbak siapa yang sudah kurang ajar sama embak?" Beberapa wanita medekati Milly dan tampak bersimpati pada gadis yang tengah berakting seolah dirinya teraniaya sambil meremas kerah bajunya.


Billy membelalakkan mata bingung dan serba salah tampak menelan ludahnya berat saat semua pasang mata menatapnya jijik dan geram. Sementara si gadis biang kerok tampak menyeringai puas dengan satu alis yang terangkat.


Rasakan kau, ha-ha!


"Mohon tenang dulu Bapak-bapak dan Ibu-ibu, ini hanya salah faham! Saya tidak bersalah!" Billy mencoba membela diri.


"Oh jadi ini lelaki yang kurang ajar!" Ucap seorang lelaki sambil mengamati wajah Billy. "Cekal dia, hangan sampai kabur!" Perintahnya pada beberapa lelaki lain.


"Ya ampun Mas, ganteng-ganteng kok ganjen si? Jadi ilfil saya." Ucap seorang wanita dengan nada mengejek. "Beri dia pelajaran aja Pak!" Suruhnya pada beberapa orang pria yang sudah mencekal tangan Billy.


Tak ada jalan lain bagi Billy selain berdamai dengan gadis pembuat ulah yang telah menjebloskannya dalam jebakan rumit ini. Ia hanya seorang diri di sana. Berusaha kabur akan percuma, melawan pun ia akan terluka jika orang-orang seluruh pasar menghajarnya. Billy pun lantas membulatkan bola mata mencoba memberi kode pada Milly. Beruntung gadis itu cepat bertindak sebelum Billy habis di hajar masa.


"Mohon maaf Bapak Ibu sekalian! Ini hanya kesalah fahaman antara saya dan suami. Kami akan menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan." Sambil tersenyum kecut menahan malu dengan kedua tangan yang menangkup, Milly berusaha menjelaskan dan meminta pengertian pada semuanya.


Billy dengan tenaganya segera menghempaskan tangan-tangan yang mencekalnya paksa hingga mereka terhuyung. Lantas dengan bangga ia mengibaskan dan membetulkan posisi jasnya.


"Lho, jadi kalian ini suami istri?! Buang-buang waktu saja!" Seorang lelaki yang hendak menghajar Billy pun menggerutu sambil berlalu.

__ADS_1


"Kalau berantem sama suami mbok ya di rumah saja to mbak, suami istri ribut pake dibawa-bawa ke pasar."


"Maafkan kami sekali lagi ya ...." Ucap gadis itu sambil berkali-kali membungkukkan badan meminta pengampunan pada orang-orang yang serentak membubarkan diri. Gadis itu pun seketika terperanjat saat dirinya menoleh dan pandangannya beradu dengan lelaki yang kini tengah menatapnya penuh ancaman.


__ADS_2