
"Mundurlah, dan beri jarak aman untukku. Mana aku tau kalau nanti tiba-tiba kau merebut pistol ini dari tanganku." Mayang mengatakan itu sebagai syarat sebelum ia menyanggupi permintaan Alex.
Meski Alex sudah memberikan senjatanya sebagai jaminan diri, bukan tidak mungkin lelaki itu nanti mendadak menyerang saat ia lengah. Bisa saja kan, ini hanya taktik lelaki itu untuk memperdayainya saja.
Alex mendesah pelan sebelum kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya samar. "Iya, iya baik. Aku akan mundur dan menjaga jarak denganmu," ucapnya sambil menggeser posisi duduknya ke belakang.
Meskipun sedikit terpaksa, namun pada akhirnya Mayang mengikuti keinginan Alex dengan duduk bersimpuh di lantai berhadapan dengan lelaki itu. Tangan kirinya bergerak meraih bantal yang tergeletak tak jauh dari tempatnya, sebelum kemudian menggunakan itu sebagai penutup tubuh bagian depan.
"Sudah. Cepat ceritakan semua yang telah kau pendam selama ini!" tegas Mayang usai memposisikan duduknya dengan nyaman. Melihat Alex yang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan, ia pun memutar bola mata malas. "Cepat! Atau aku berubah pikiran dan benar-benar menembakmu sekarang," ancamannya seraya mengangkat tangan untuk menodongkan senjata.
Bukannya takut, Alex justru menatap Mayang penuh hasrat. Entah mengapa semakin gadis itu memasang wajah garang, ia justru semakin bersemangat untuk menggodanya. Ia hanya tersenyum menanggapi ancaman Mayang itu.
"Sepertinya kau ini benar-benar wanita yang tidak sabaran, ya? Tapi itu benar-benar membuatku semakin jatuh cinta," ucap Alex sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Gila." Mayang menatap Alex jengah, lantas menurunkan tangannya yang sempat terangkat untuk menodongkan senjata.
Alex tergelak kencang menanggapi umpatan Mayang. Entah mengapa bagi dirinya apapun yang Mayang lakukan selalu terlihat sangat menggemaskan.
"Apa kau tahu, sebenarnya akulah yang lebih berhak atas dirimu dan bukanlah Brianmu, itu!" tuturnya dengan nada kesal
"Hah?" Mayang membuka mulutnya lebar seolah-olah ia terkejut, lantas sesaat kemudian ia berdecak lalu tersenyum meremehkan. "Apa maksudmu? Apa hanya karena wajahku yang mirip dengan Lena, hingga beraninya kau mengklaim dirimu lebih berhak dari suamiku? Yang benar saja."
"Tidak." Alex menjawab tegas.
"Lalu?"
"Aku yang lebih dulu mencari-cari keberadaanmu. Tapi entah mengapa justru Brian sialan itu yang lebih dulu menemukanmu." Alex memasang wajah tidak suka saat harus menyebut nama Brian untuk yang kesekian kalinya.
"Mencari-cari keberadaanku kau bilang?" Mayang mengulangi ucapan Alex itu dengan ekspresi tak mengerti.
"Iya." Tegas Alex. "Kau tentu masih ingat dengan kejadian di gedung tua itu, bukan?" tanyanya kemudian dengan sorot mata penuh isyarat yang membuat mata Mayang seketika membelalak.
Alex sendiri langsung menyunggingkan senyum senang di bibirnya melihat keterkejutan di wajah Mayang. Ia bisa memastikan jika wanita di depannya ini sama sekali tak menyangka jika dirinyalah orang di balik kejadian yang membuatnya lari terbirit-birit beberapa bulan lalu.
__ADS_1
Alex sendiri saat itu tak bisa menatap wajah Mayang dengan jelas, sebab gadis itu berlari sangat cepat dan pergi begitu saja dengan motornya. Terlebih Mayang yang dengan sengaja menutupi nomor plat kendaraannya membuat penyelidikan anak buah Alex menjadi terhambat karena begitu sulitnya mencari identitas gadis ini.
"J-jadi kau adalah--" ucapan Mayang terhenti saat dirinya membungkam mulutnya sendiri, sementara matanya membulat sempurna seolah ia benar-benar dilanda keterkejutan yang luar biasa.
"Iya. Aku adalah pembunuh lelaki itu." Seolah tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan, Alex meyakinkan Mayang yang diliputi keterkejutan dengan nada tenang tanpa beban. Matanya pun menyiratkan kebahagiaan seolah-olah perbuatannya itu patut untuk dibanggakan.
Mayang menggelengkan kepalanya seolah tak habis pikir. Pandangannya langsung menatap Alex dengan sorot tajam penuh kebencian. Entah bagaimana lelaki itu bisa begitu tenang setelah melakukan kejahatan dengan menghabisi nyawa orang.
"Apa kau sadar dengan perbuatanmu itu?" Mayang bersungut-sungut penuh kemarahan. "Kau benar-benar tidak punya perasaan! Apa kau tidak mengerti bagaimana nasip keluarganya kini? Bagaimana penantian orang tua, istri atau bahkan anaknya yang dirundung tersiksa dalam penantian tak berujung! Kau tentu tahu orang yang kau bunuh itu memiliki keluarga yang hingga kini sudah barang tentu menantikan kepulangannya!"
"Aku tidak peduli!" sahut Alex dengan suara lantang tanpa perasaan. "Dia anak buahku yang membangkang. Aku tidak suka dibantah. Kau tidak tahu betapa liciknya dia yang berusaha ingin menguasai isi berangkas itu hanya untuk dirinya saja! Dan bodohnya kau yang tidak tahu apa-apa malah membantu dan memuluskan niat jahat lelaki itu!"
"Tidak!" Mayang berseru dengan nada menyangkal. "Dia orang yang baik. Dia berniat untuk menggagalkan usaha barang harammu dan ingin melaporkanmu pada pihak berwajib. Seharusnya kau sadar, Alex. Bisnis yang kau jalankan itu tidak benar! Kau bersalah dan patut mendapatkan hukuman!"
"Apa kau tahu seberapa licinnya aku?" Alex berbisik nakal dengan tubuh bergerak condong ke arah Mayang, dan tentu saja membuat wanita itu sontak menarik diri mundur ke belakang dengan ekspresi wajah penuh keterkejutan.
Lelaki itu menyeringai nakal melihat reaksi Mayang, lalu dengan santainya menarik diri dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada tepian ranjang di belakangnya. "Sudah berapa kali aku lolos dalam upaya penangkapan? Bahkan Brian yang berkuasa saja tidak bisa menunjukkan bukti jika aku adalah penyebab kecelakaannya," tambahnya disertai tawa meremehkan menggema dari mulut jahatnya.
Hal itu sontak membuat Mayang melebarkan bola mata. "J-jadi kau--" lagi-lagi Mayang terperangah, didera syok yang luar biasa.
Mata Mayang mendelik sempurna, menatap ngeri pada lelaki di hadapannya. Ia menelan salivanya berat dan tak bisa berkata-kata.
Sementara Alex sendiri justru tergelak kencang, menatap wajah Mayang yang masih dikuasai keterkejutan.
"Kau memang manusia biadab dan tak berperasaan!" kalimat umpatan itu meluncur bebas dari bibir Mayang tanpa hambatan. Tangannya pun terkepal kuat seolah siap menghujamkan beribu pukulan pada lelaki yang telah membuatnya geram andai saja wanti-wanti untuk tidak menunjukkan kekuatan itu tidak bersemayam di ingatan.
"Piujianmu itu benar-benar terdengar sangat merdu menyapa gendang telingaku, Sayang," balas Alex dengan nada sensual nan menggoda.
"Kau benar-benar tidak waras." Mayang menekan kalimat itu dengan gigi yang menggemertak. "Kau adalah manusia paling jahat yang pernah kutemui."
"Itu belum seberapa, Sayang," sahut Alex sambil tertawa remeh, seolah-olah keterkejutan Mayang akan dirinya itu belum berarti apa-apa.
Mayang memiringkan kepalanya, menatap Alex dengan mata menyipit seolah tengah menyelidik. "Apa maksudmu? Apa kau memiliki riwayat kejahatan lain?" tanyanya kemudian setengah menebak.
__ADS_1
"Pintar." Alex mengedipkan sebelah mata seraya mengacungkan ibu jarinya ke arah Mayang. Dan lagi-lagi hal itu berhasil membuat Mayang ternganga.
Terus, terus saja bongkar aibmu sendiri, Alex. Aku senang mendengarnya. Silahkan kau gali lubang kuburanmu sendiri, batin Mayang dalam hati.
Alex tertawa senang melihat ekspresi Mayang yang begitu polos dan lugu ketika melongo. Baginya itu adalah hiburan yang begitu menyenangkan setelah sekian lama ia tak pernah tahu rasanya bahagia.
"Sepertinya kau tidak tahu apa-apa tentang diriku, ya? Baiklah, karena sejak saat ini kau adalah milikku, jadi sudah seharusnya kau mengerti akan diriku secara keseluruhannya tanpa perlu kututup-tutupi lagi." Alex beringsut, dan semakin mendekatkan dirinya kepada Mayang. "Aku akan menceritakan semua kebobrokanku kepadamu, Sayangku," sambungnya kemudian dengan mata berkedip genit, sementara tangannya, bergerak mencolek dagu Mayang lembut dengan telunjuknya.
Gerakan Alex itu begitu tiba-tiba, hingga tak terbaca oleh Mayang yang saat itu masih dikuasai keterkejutan, membuatnya tak bisa mengelak dan pada akhirnya hanya bisa menggemertakkan giginya jengkel karena Alex berhasil menyentuh wajahnya.
"Apa kau tahu seberapa bahagianya aku ini?" Alex menatap lekat manik Mayang. Entah dia sedang benar-brenar bertanya atau sekedar memberikan tebakan saja. Yang jelas, Mayang hanya membalas tatapan Alex itu dengan pelotototan penuh kebencian.
"Ternyata kata-kata mutiara indah pada waktunya itu benar-benar ada, ya. Aku saja yang dulu tidak pernah percaya jadi meyakini karena sekarang telah merasakannya," ucap Alex dengan mata berbinar bahagia. Dan kata-kata yang ia ucapkan baru saja itu adalah benar-brenar ungkapan hatinya.
Mengamati ekspresi Mayang yang terlihat penasaran, Alexpun kemudian melanjutkan ceritanya. "Dulu aku pernah merasakan indahnya cinta sebelum Brian datang dan merusaknya," ucapnya dengan pandangan menerawang. "Saat itu aku benar-benar merasa hancur. Saat satu-satunya orang yang aku cinta pergi meninggalkanku dengan sengaja. Dan lebih parahnya dia berpaling dengan rivalku sejak SMA."
"Aku turut bersedih atas itu," sahut Mayang dengan seringai mengejek di bibirnya.
Namun Alex tak terlihat tersinggung oleh olokan Mayang tersebut. Ia justru membalasnya dengan senyuman yang begitu manis, namun tersimpan hasrat yang begitu menggelora di balik tatapan lembutnya.
"Kau tahu, kurasa kita memang sudah berjodoh sejak lama karena kita sudah pernah dipertemukan di masa sekolah dulu." Alex diam sejenak untuk memperhatikan reaksi Mayang.
Namun ekspresi Mayang yang datar seolah tak terpancing membuatnya mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
"Dan dugaanku ini semakin diperkuat oleh ayahmu yang menemukan buku curian anak buahku dari kantor Brian."
"Kau! Jadi kau yang berniat mencuri buku itu dari suamiku?" Mayang menyambar penuh keterkejutan. Ini benar-benar membuatnya tercengang. Sungguh sebelumnya ia tak pernah menyangka atau mencurigai siapapun yang berniat mengambil buku itu selain menyesali perbuatannya yang telah menjerumuskan sang ayah pada persoalan pelik waktu itu.
"Iya! Aku yang berniat mencuri buku itu. Aku ingin mendapatkan semuanya! Aku ingin menguasai semua milik Brian! Aku ingin melihatnya hancur, hingga pada akhirnya ia menyerah di bawah kakiku. Tapi sialnya, lagi-lagi Brian lebih dulu menemukanmu dari pada aku. Untuk kesekian kalinya ia membuat rencanaku hancur berantakan!" Alex berseru penuh kebencian. Ekspresinya seketika menggelap memancarkan aura mengerikan. Tatapannya begitu tajam menusuk seolah ingin menembus relung hati Mayang yang terdalam.
"Tapi kau tahu? Ada titik di mana aku merasa begitu puas dan senang." Alex sengaja menjeda ucapannya. Ia memperhatikan Mayang yang sudah sangat penasaran. "Yaitu di saat Brian berada di titik terendah. Ia hancur. Tertekan. Depresi. Bahkan gila karena kehilangan istrinya. Dan itu akan kembali terulang dengan lenyapnya dirimu dari sisinya!"
"Diam kau biadab!" teriak Mayang tak kalah berapi-apinya dari Alex. Entah bagaimana caranya ia bisa melompat dan menindih tubuh Alex, mendominasi tubuh pria itu dengan kekuatan penuh dan menebarkan ancaman mematikan melalui senjata yang ia tekankan pada kening Alex yang tengah lengan terbuai dalam euforia kemenangan.
__ADS_1
Bersambung