Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kompensasi


__ADS_3

"A-Alex. D-di mana ini?" tanya Mayang gugup ketika pandangannya bersirobok dengan sepasang manik Alex yang menatapnya dengan senyuman. Mayang terlihat panik, terlebih saat mengedarkan pandangannya, ia mendapati begitu banyak orang yang berada di sana sedang menatapnya dengan ekspresi datar.


Mayang tak tahu dirinya kini ada di mana. Yang jelas ia berada di sebuah ruangan berukuran luas dan bernuansa suram dengan dinding tanpa cat. Ruangan ini lebih mirip gudang kosong namun terkesan seperti ruangan tersembunyi.


Mayang menelan ludahnya berat. Jantungnya berdegup sangat kencang sebab hal yang telah dinantinya kini hampir tiba. Terlebih dirinya kini menjadi pusat perhatian para manusia yang tidak ia ketahui berapa jumlahnya. Rata-rata dari mereka memiliki postur tubuh tinggi dan dempal serta berpakaian serba hitam.


Sejenak pandangan Mayang yang tengah mengedar itu terhenti pada pria berkulit putih dan bermata sipit. Mayang bisa memastikan jika pria yang nampaknya berasal dari luar Indonesia itu adalah penguanya. Sebab di antara semua orang yang berdiri, pria itu sendiri yang tampak duduk dengan sikap arogan. Ia bersedekap dada dengan dua kaki berada di atas meja, di antara botol-bolol minuman beralkohol mahal yang tersaji di sana.


Sementara di seberang tempat pria itu, nampak sebuah kursi kosong yang hanya terhalang oleh meja di tengahnya, dan Mayang bisa pastikan kursi itu adalah tempat duduk Alex sebelum pria itu menghampirinya.


"Kau berada di tempat yang aman, Sayang," jawab sambil tersenyum seolah sedang menenangkan Mayang dari rasa ketakutannya. Pria itu membelai lembut tangan Mayang yang tengah bertautan di pangkuan. Mayang sontak mengalihkan pandangannya pada Alex. "Kau tidak perlu merasa takut. Mereka adalah orang-orangku juga," lanjut Alex.


"Lalu, kenapa aku dibawa ke sini?" tanya Mayang dengan ekspresi wajah penasaran. "Apa kau mau membunuhku di sini? Kau ingin menjadikanku sebagai tumbal untuk kejayaan bisnis kotormu itu?"


Ekspresi wajah Mayang yang begitu lugu saat bertanya itu benar-benar menggemaskan di mata Alex, hingga membuat lelaki itu tertawa geli karenanya.


"Halusinasimu itu terlalu tinggi, Sayang," balas Alex di sela tawanya.


Pria itu beringsut. Ia bergerak semakin mendekatkan dirinya pada Mayang, kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam jemari Mayang dengan lembut. Sementara itu, dengan kepala yang sedikit mendongak, matanya menatap Mayang yang sedikit lebih tinggi dari dirinya itu lekat-lekat.

__ADS_1


"Dengarkan aku Sayang," lanjut Alex kemudian dengan nada meyakinkan. "Kau adalah ratuku. Mana mungkin aku akan membunuh ratuku dan menjadikannya tumbal untuk kerajaan bisnisku. Itu tidak mungkin, Sayang ,,, kau ini yang benar saja ,,,."


Mayang tersenyum miring. Wanita yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun malam itu menarik kedua tangannya dari genggaman Alex dengan ekspresi tidak suka.


Namun bukan Alex namanya jika lelaki itu tersinggung oleh reaksi sinis Mayang itu. Ia malah tersenyum tersenyum penuh puja pada Mayang, sambil mengusap dagunya dengan tatapan penasaran.


"Lalu?" tanya Mayang kemudian dengan tatapan menuntut penjelasan.


Alex diam sejenak. Pria itu tak langsung menjawab pertanyaan Mayang. Ia nampak berpikir, seolah-olah tengah mencari kata yang pas untuk menjelaskannya kepada Mayang.


Menoleh ke arah belakang, Alex kemudian menjentikkan jarinya. Empat orang pria berpakaian serba hitam bergerak sigap mendekati benda berukuran besar yang tersembunyi di balik kain penutup yang melindunginya.


Seketika perhatian semua orang tertuju pada sesuatu sana. Empat pria itu berdiri siaga, seolah sedang menanti sang tuan memberikan instruksinya.


Empat orang itu bergerak cekatan membuka kain penutup itu, hingga memperlihatkan dengan jelas sesuatu yang tersembunyi sebelumnya.


Mayang tercengang melihat sesuatu yang ada di sana. Sebuah brankas berukuran raksasa yang berbulan-bulan lalu pernah ia jamah, dan kini benar-benar nyata berada di depan matanya. Waktu itu bahkan Mayang tak pernah menyangka jika niatnya yang hanya membantu itu akan berbuntut panjang dan menimbulkan kekacauan banyak orang.


"Tentunya kau masih mengingat brangkas itu, bukan?" tanya Alex dengan mata menyipit

__ADS_1


seketika Mayang menggeser pandangannya dan menatap Alex yang tengah menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kemudian tanpa basa-basi.


"Bukalah brankas itu untuk diriku." Alex berucap tegas dengan nada memerintah. Bahkan tanpa berkedip. Pandangannya menyorot tajam penuh tuntutan. "Kau tentu masih ingat bagaimana cara membuka brangkas itu, bukan? Mengingat, kau yang telah mengganti password serta meninggalkan sidik jarimu di sana. Jadi hanya kau yang bisa membuka brangkas itu, Sayang," Alex berucap penuh penekanan.


Tanpa menunggu jawaban dari Mayang, Alex bangkit dari jongkoknya. Ia berjalan ke arah belakang Mayang dan mendorong kursi roda itu melangkah menuju brangkas. Mayang tak bisa berbuat banyak selain hanya diam dan pasrah, menanti hal yang akan terjadi selanjutnya.


Alex menghentikan kursi roda itu tepat di depan brankas seukuran mobil box itu sebelum kemudian melangkah menuju sisi Mayang.


"Mari kubantu, Sayang." Alex setengah membungkukkan tubuhnya dengan tangan terulur hendak mengangkat tubuh Mayang. Namun wanita itu menolak dan menepis tangan Alex.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Mayang berucap sinis seraya bangkit dari kursi roda. Ia pun lantas berdiri dengan normal seolah-olah dirinya baik-baik saja.


Mister Wang yang semula duduk santai di kursi itu seketika bangkit dan ikut bergabung dengan Alex dan Mayang di depan pintu brankas. Pria yang seumuran dengan Alex itu tak dapat menutupi raut bahagia yang tercetak sempurna di wajah pualamnya.


Ia bersedekap dada usai mengambil posisi di samping Alex. Pandangannya terarah begitu sempurna pada pintu brankas itu, seolah-olah tak ingin melewatkan detik-detik berharga ketika pintu brankas itu terbuka dan memperlihatkan isi di dalamnya.


"Kau bisa membukanya sekarang." Alex berucap setengah memerintah sambil menatap Mayang yang terlihat tegang.


Bukannya langsung membuka brangkas itu, Mayang justru menatap Alex dengan sorot mata tajam. Alex sendiri bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti akan maksud dari tatapan Mayang itu. Bersedekap dada, Alex menipiskan bibir sambil mengangkat kedua alisnya seolah mengisyaratkan agar Mayang segera menjelaskan.

__ADS_1


"Kompensasi apa yang akan kau berikan jika aku berhasil membuka brankas itu?"


Bersambung


__ADS_2