Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Semua sudah takdir


__ADS_3

Mayang hanya bisa pasrah saat Brian mengunci tubuhnya ke dalam pelukan erat lelaki itu. Sepanjang perjalanan menuju pulang lelaki itu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun.


Mayang sendiri pun tak berani berkutik. Karena sedikit saja dirinya salah berbicara, maka hal itu akan semakin membuat suaminya kembali labil dan bertindak tanpa terkendali.


Mayang menelusupkan tangannya pada pinggang sang suami, berusaha menyembunyikan goresan luka yang terdapat di tangannya.


Meski dirinya sendiri tahu, menyembunyikan sesuatu dari suaminya itu sama hal nya dengan bom waktu yang sudah pasti akan meledak cepat ataupun lambat. Namun setidaknya ia bisa mengulur waktu hingga suasana hati suaminya telah mencair.


"Sayang ..., turun yuk." Suara Mayang memecah keheningan didalam mobil Billy.


Sudah lebih dari sepuluh menit mereka sampai, namun Brian belum juga melepaskan pelukannya. Laki - laki itu nampaknya masih tenggelam dalam bayangan peristiwa buruk yang baru saja menimpa sang istri.


Brian menghela nafasnya dalam sang istri menepuk pipinya dengan lembut. Dipandang nya wajah Mayang dengan tatapan teduh sembari memaksakan senyumnya lalu mengecup puncak kepala istrinya itu agak lama.


"Turun yuk, aku rindu rumah kita ...," rengek Mayang sembari menarik mundur kepalanya dan mendongak menatap wajah Brian dengan tersenyum manja.


Brian hanya menjawabnya dengan senyuman. Laki - laki itu pun keluar, lantas membungkuk dan mengulurkan tangannya untuk membantu Mayang turun. Mayang menyambutnya dengan tersenyum riang dan keduanya sama - sama melangkah masuk beriringan.


"Selamat datang Nyonya muda, senang Nyonya telah kembali ke rumah ini lagi." Kuswara menyambut kedatangan keduanya dengan suka cita.


"Terimakasih Bu Kus, aku juga senang." Mayang menjawabnya dengan senyum yang ceria sembari berlalu melewati para pelayan yang sedang berdiri berjejer untuk menyambutnya dengan tangannya yang menarik tangan Brian.


Sudah sampai dikamar, Mayang segera melangkah menuju ranjang dan menepuk - nepuk bantal dan tempat yang biasa Brian tempat seolah sedang mempersiapkan tempat untuk suaminya.


"Istirahat lah sayang, kau kelihatannya lelah sekali." Ucap Mayang sembari menarik tangan Brian melangkah menuju ranjang.


"Lepas gaun mu sekarang." Perintah Brian dengan tatapan tajam kearah istrinya seolah tak ingin di bantah.


Seketika Mayang menatap heran pada Brian. Tak biasanya lelaki itu berucap dengan nada paksaan seperti itu sekalipun dirinya tengah dikuasai oleh hasrat yang membuncah. Tentu saja hal itu membuat Mayang berpikir bahwa ada sesuatu yang ingin Brian pastikan dari tubuhnya.


"Kau ingin memeriksa tubuhku sayang? Sudah ku katakan aku tak apa - apa. Sungguh." Mayang berusaha meyakinkan.


Mata Brian yang masih menatap tajam sang istri itu pun menggerakkan tangannya untuk meraih lengan Mayang. Lantas pandangannya pun turun pada luka yang sejak tadi berusaha Mayang sembunyikan.


"Lalu ini apa?" Tegas Brian meminta penjelasan.


Seketika Mayang pun tergagap dan berusaha menarik tangannya, namun tak berhasil karena cengkeraman tangan Brian cukup kuat.


"Sayang ini hanya luka kecil yang ku dapat dari taman." Mayang berusaha menjawab dengan tenang diiringi senyuman bibirnya.


"Sayang, aku tahu kau tidak pintar dalam hal berbohong. Jadi katakan sejujurnya." Desak Brian dengan tegas.


"I-iya sayang, aku akan jawab jujur Tapi setelah aku mandi ya?" Tawar Mayang berusaha mengulur waktu.


"Kau bisa menjelaskan sembari kita mandi." Ucap Brian dengan seringai nakal yang muncul di sudut bibirnya.


"K-kita?!"


* * *


"Sudah ku katakan tidak ada luka di tubuhku kan? Tapi kau tidak percaya." Mayang tampak kesal saat Brian memeriksa tubuh polosnya dengan seksama.

__ADS_1


Gadis itu tampak bersemu malu saat harus menampakkan tubuhnya secara terang - terangan dihadapan suaminya sembari menyilangkan tangan untu menutup **** ***** miliknya.


"Kau mencoba membohongi ku tadi, jadi aku perlu memastikannya." Ucap Brian diiringi senyuman nakal.


"Puas sekarang?!"


"Ya belum lah! Belum juga dapat apa - apa."


Brian yang terkekeh pun meceburkan kakinya kedalam bathtub, dan membenamkan tubuhnya didalam air yang telah di penuhi dengan busa. Lantas ia menjentikkan jarinya mengisyaratkan agar sang istri mendekat.


"Kemari sayang, kita mandi bersama." Ajaknya dengan suara lembut.


Mayang pun dengan patuh mengikuti kemauan Brian. Ia pun membenamkan tubuhnya pada air hangat itu dengan posisi menghadap suaminya.


Brian hanya tersenyum sembari memandangi wajah istrinya yang tampak malu - malu. Lantas tangannya bergerak merengkuh tubuh Mayang dan menariknya sembari di putar sehingga tubuh mereka berhimpitan dengan posisi Mayang membelakanginya.


Tangan Brian lembut meraba dan memeluk tubuh Mayang, sementara bibirnya bergerilya menyusuri leher hingga ke wajah Mayang membuat Mayang secara tak sadar melenguh kegelian.


"Sekarang ceritakan bagaimana lau mendapatkan luka ini." Bisik Brian lembut tepat di telinga Mayang.


Dan dalam keadaan tubuhnya yang terasa nyaman karena kehangatan sang suami diantara busa - busa harum dan aroma terapi yang menenangkan, Mayang pun memulai ceritanya.


Hans yang saat itu terlihat geram tiba - tiba merebut dan menarik paksa kalung pemberian Brian dari genggaman Mayang. Lelaki itu lantas tertawa terbahak - bahak setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


Ia tak menghiraukan Mayang yang memohon agar mengembalikan kalung itu padanya dan melemparnya begitu saja hingga terjatuh kebawah.


Mayang menangis sembari menatap kalungnya dengan putus asa. Dengan terlepas nya kalung itu, maka harapannya agar sang suami mengetahui keadaannya pupus sudah bersama dengan terlempar nya kalung itu.


"Kenapa anda membuang kalung saya! Apa salah saya!" Mayang yang menjadi emosi pun memprotes keras perbuatan yang Hans lakukan pada dirinya dengan tangisnya yang tak bisa ia tahan lagi.


Mayang tampak berdecak kaget mendengar pengakuan Hans yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin laki - laki ini bisa berpikir sedemikian rupa mengenai orang yang sudah tiada.


Sungguh pemikiran yang salah mengenai kebahagiaan orang yang telah meninggal. Mayang pun menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya sebelum berbicara.


"Tuan, bukan seperti ini cara membahagiakan putri anda yang telah meninggal. Dan dengan membahagiakan putri anda dengan cara yang salah ini justru membuat putri anda tak tenang berada di alam sana. Mengertilah Tuan," ucap Mayang lirih dengan nada memohon agar lelaki ini sadar dan berharap Hans akan luluh dan sentuh.


"Halah! Tau apa kau tentang kebahagiaan puteriku!" bentak Hans dengan penuh kebencian. "Ku akui kau memang wanita yang kuat. Kau berhasil selamat dari segala upaya yang telah kulakukan untuk membunuh mu. Tapi ku pastikan kali ini kau tidak akan bisa meloloskan diri dari kematian." Tawa Hans menggelegar usai berucap dengan nada penuh ancaman.


"Saya tidak takut mati Tuan. Karena semua yang akan terjadi itu adalah takdir. Seperti hal nya kematian puteri anda Tuan. Itu semua karena takdir dan anda tak bisa menyalahkan siapapun atas hal ini!" Mayang masih tetap berusaha berucap tenang meski dirinya kini benar - benar ketakutan.


"Takdir kau bilang! Puteriku meninggal bukan karena takdir! Tapi karena kecelakaan yang di buat oleh manusia. Dia tidak seharusnya mati secepat itu dan dengan cara yang mengenaskan seperti itu! Dia seharusnya sedang menikmati kebahagiaannya Bersama Brian saat ini." Kemarahan Hans berubah menjadi kegetiran saat dirinya mengingat tragisnya takdir yang menimpa sang puteri. Ia bahkan hingga menitikkan air mata akibat kesedihan yang ia pendam selama ini.


"Tuan mengerti lah, takdir memang terkadang harus terjadi melalui tangan manusia sebagai perantara. Namun semua itu tetap atas kehendak yang maha kuasa." ucap Mayang pelan berusaha meyakinkan.


"Lagi - lagi kau berbicara takdir." sahut Hans dengan nada tidak suka. Lantas tatapannya pun tertuju pada Mayang penuh ancaman disertai seringai jahat yang muncul disudut bibirnya. "Apa kau siap menyambut takdir mu yang akan mati di tanganku?" ucap Hans dengan diiringi gelak tawa.


Lagi - lagi tawa Han uang menggelegar itu semakin menambah ketakutan menguasai diri Mayang hingga gadis itu menatap ngeri pada Hans. Namun Mayang berusaha menutupinya dengan sikap nya yang tenang.


"Sudah saya katakan saya tidak takut jika memang ini sudah takdir." Tegas Mayang dengan suara tenang. "Tapi percayalah Tuan, Allah tidak tidur. Dia pasti akan menolong hamba nya yang berada dalam kesusahan. Dan polisi pasti akan segera mengetahui segala perbuatan buruk anda, karena tidak ada kejahatan yang sempurna."


"Kau bebas berbicara apapun sebelum ajal menjemputmu Mayang." ucap Han sembari tersenyum penuh percaya diri dan mengabaikan ucapan Mayang begitu saja. "Kau tahu aku pintar memutar balikkan fakta bukan?" ucapnya lagi dengan seringai penuh arti.

__ADS_1


Han lantas menggeser pandangannya melirik jauh kebawah di area pelataran rumah dari lantai tiga tempatnya saat ini berdiri di hadapan Mayang yang tengah tersudut bersandar pada tembok.


"Kau lihat Mayang, kita berada di ketinggian yang lumayan ternyata." Lagi - lagi Hans menyertaka seringai di balik kata - kata yang sengaja ia ucapkan dengan maksud tertentu.


Mayang pun secara spontan menoleh ke arah bawah, dan bergidik ngeri setelah bisa menelaah maksud dari ucapan Hans tersebut.


"Bagaimana jadinya jika tubuhmu terlempar dari sini Nyonya Brian? Sangat ngeri bukan? Setelah kau merasakan sakit yang teramat karena benturan keras, takdir mu pun akan berujung pada kematian. Dan parahnya lagi semua orang akan menganggap mu bunuh diri. Atau kecelakaan karena mencoba kabur dari kurungan suamimu sendiri. Bagaimana rencana ku? Luar biasa bukan?" Ucap Hans dengan santai saat mengatakan rencana jahatnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Hans bukannya meyesal akan perbuatan buruknya selama ini. Ia bahkan benar - benar tampak bahagia dan menikmati melihat ekspresi wajah Mayang yang mulai ketakutan.


"Tidak semudah itu Tuan Hans yang terhormat. Menantu kesayangan anda yang tercinta yang tepatnya adalah suami saya yang tercinta. Brian sangat mencintai saya dengan segenap jiwanya. Dia pasti akan datang untuk menolong saya dan tak ragu - ragu untuk membunuh siapapun yang mengganggu saya, bahkan terhadap anda sekalipun Tuan. Ingat dan cam kan itu!"


Ucapan peuh ancaman yang terlontar dari mulut Mayang itu ternyata berhasil memancing amarah Hans hingga lelaki itu mengepalkan tangannya dan menatap Mayang dengan sorot mata tajam penuh kemarahan.


"Karena hal ini saya jadi benar - benar berpikir kalau anda ini sakit jiwa Tuan. Anda gila!" Maki Mayang dengan penuh kekesalan.


"Kurang ajar! Berani - beraninya kau mengatakan aku gila! Aku benar - benar akan membunuh mu!" geram Hans penuh kemarahan sembari melangkah mendekati Mayang. Tangannya pun bergerak meraih tangan Mayang dan hendak melempar gadis itu.


Namun seketika suara Hans yang mengerang kesakitan pun terdengar sehingga lelaki itu melepaskan cengkeraman tangannya dan mengusap matanya yang terasa perih.


Ternyata Mayang berhasil menyemprotkan cairan cabai pedas yang sengaja ia simpan di dalam tas nya di waktu yang tepat.


Hans yang merasa sakit di bagian mata pun tubuhnya tiba - tiba oleng. Kaki Hans yang melangkah tak tentu arah pun tersandung sebuah pot bunga yang berada di balkon itu sehingga tubuhnya terhuyung melewati pagar pembatas balkon dan hampir - hampir saja terjatuh ke bawah jika saja tangannya tak berhasil meraih tepian lantai balkon.


Mayang yang terkejut karena tak menyangka hal ini akan terjadi merasa tak tega dengan keadaan lelaki paruh baya yang tampak bergelantungan di ketinggian seperti itu.


Mayang pun segera naik dan melompati pagar pembatas dan bersimpuh meraih tangan Hans untuk menolong lelaki itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya berpegangan kuat pada pagar pembatas yang kokoh.


"Tenang lah Tuan, saya akan menolong anda." Ucap Mayang dengan tulus pada Hans yang tampak terkejut menatap dirinya.


Sungguh lelaki itu seketika merasa menyesal karena telah berpikir buruk terhadap Mayang. Gadis itu bukannya senang karena terbebas dari penderitaan dan lari meninggalkannya dalam kesusahan dan bahaya, namun dengan keberaniannya dia malah datang membawa kedamaian bahkan menawarkan bantuan kepadanya.


Sungguh Hans benar - benar merasa malu pada gadis tang selama ini ia pandang dari kacamata buruknya. Mengabaikan segala kebaikan yang telah gadis itu perbuat.


Hans menatap wajah Mayang yang tampak menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan berat tubuhnya yang bergelantung bebas di atas ketinggian.


Dengan rambut terurai yang menari - nari saat di terpa angin sungguh membuat Hans teringat pada sosok puterinya, hingga tak terasa air mata pun menitik dari sudut matanya.


Penyesalan pun tampak terlihat dari mata Hans saat mengingat segala perbuatan buruk atas sikap ego nya selama ini. Entah apa yang membuatnya menjadi lelaki jahat seperti itu.


"Mari Tuan, naiklah. Berpegangan dengan kuat. Saya akan menarik anda."


Namun bukannya semakin mengeratkan pegangan nya, Hans justru berusaha melepaskan tangan Mayang sembari tersenyum tulus.


"Lepaskan tangan mu nak, biarkan aku menyambut kematian ku dengan tenang jika memang jalan takdir ku akan seperti ini. Kau gadis yang baik, Brian beruntung mendapatkan dirimu. Kau akan bahagia hidup bersamanya. Aku benar - benar malu padamu. Maafkanlah aku yang selalu jahat padamu." ucap Hans dengan nafas terengah, meski begitu kata - katanya masih jelas terdengar di telinga Mayang.


"Tidak Tuan, jangan menyerah begitu. Ayo berusaha tuan!" desak Mayang dengan nada khawatir. Lantas Mayang melihat kearah sekeliling dan berteriak untuk meminta pertolongan.


Namun ternyata para anak buah Hans yang sepertinya sudah mengetahui akan hal ini, sehingga mereka pun tampak melakukan persiapan di bawah, sehingga saat Hans terjatuh tak mengalami cedera yang parah di tubuhnya. Namun Hans pun pingsan karena tubuhnya yang kelelahan hingga harus di larikan ke rumah sakit.


Banyak orang yang berdatangan karena kejadian ini, sehingga Mayang di tempatkan tempat aman untuk menghindari cecaran pertanyaan orang - orang itu.

__ADS_1


Namun pada saat suara Brian yang lantang terdengar menggelegar memekakkan telinga, Mayang pun keluar untuk menghampiri sang suami yang tampak kacau bertekuk lutut di lantai dengan deraian air mata.


Bersambung


__ADS_2