
Malam hari sudah semakin larut. Namun Milly belum juga kembali ke rumah orang tuanya. Jamil dan Laksmi terlihat gelisah menanti sang putri. Tak ada kabar dari anak gadis mereka. Bahkan panggilan Jamil dari tak diangkatnya juga.
Jamil terlihat mondar-mandir di ruang tengah. Sementara Laksmi duduk di sebuah sofa panjang dengan wajah tertunduk dalam menahan kesedihan. Wanita paruh baya itu begitu dilanda kecemasan, mengingat sang putri yang baru saja kembali itu tak biasanya seperti ini.
Mendengar deru mobil yang datang lamat-lamat, Jamil dan Laksmi seketika saling menatap dengan sorot mata penuh isyarat. Sedetik kemudian keduanya tersenyum lega karena meyakini itu adalah putrinya.
"Itu pasti Milly," ucap Jamil penuh keyakinan.
"Benar. Itu suara mobilnya." Laksmi pula menimpali.
Jamil terseyum lega lantas segera melangkah menuju pintu utama. Senyum yang terkembang di wajah pria paruh baya itu seketika memudar berganti dengan penuh keterkejutan.
Tubuh pria paruh baya itu terpaku di depan pintu. Ia tampak syok menatap Milly yang tengah terpejam berada di gendongan seorang lelaki. Ia bukan tak tahu pria yang merengkuh tubuh putrinya itu siapa. Namun yang menjadi tanya, untuk apa dia datang setelah meluluh lantahkan hati putrinya. Terlebih lagi menggendong Milly yang tak sadarkan diri.
"Milly tertidur dan susah dibangunkan. Jadi, saya berinisiatif harus menggendongnya." Billy menjelaskan seolah tahu dengan apa yang tengah Jamil pikirkan. "Maaf," ucapnya kemudian setelah melihat air muka Jamil yang menunjukkan ketidak-sukaan.
Untuk sejenak keduanya saling pandang dalam diam. Bahkan Jamil terlihat masih belum bisa menguasai diri.
"Bisa tunjukkan di mana kamar Milly?"
Tanya Billy itu membuat Jamil tersentak dari lamunan. Pria itu mengerjapkan mata lalu berdehem pelan. Menoleh ke arah belakang, ia kemudian berkata, "Ikuti aku." Ia kemudian melangkah diikuti Billy di belakangnya.
Baru beberapa langkah kakinya berayun, Jamil kembali berhenti saat berhadapan dengan Laksmi yang tengah berdiri di ambang pintu tengah dengan wajah penuh keterkejutan. Pandangan wanita itu tertuju pada sosok di belakang Jamil.
"Milly? Ada apa dengannya? Putri kita kenapa!" Laksmi mendesak Jamil sambil mengguncang-guncang lengan lelaki itu. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia begitu cemas melihat putrinya yang tidak sadar, bahkan berada di tangan pria asing.
"Jangan cemas seperti itu. Putri kita tidak apa-apa. Dia hanya sedang tertidur sangat pulas. Kau tahu bagaimana dia, bukan?" jelas Jamil untuk menenangkan sambil menggenggam jemari istrinya.
Seketika wanita paruh baya itu menghela napas lega, lalu menggeser pandangannya menatap Billy penuh rasa terima kasih.
Sebagai pria berpendidikan, tentu Billy tahu bagaimana cara bersikap pada seseorang yang baru ditemuinya. Terlebih lagi kepada sang mertua. Pria dengan penampilan fisik nyaris sempurna itu mengangguk sopan dan terseyum ramah sebagai formalitas. Dan wanita paruh baya itu membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Cepat siapkan kamar Milly sekarang juga. Kasihan tamu kita telah menggendongnya terlalu lama," bisik Jamil pada istrinya.
"Kamar?" Laksmi sontak membulatkan mata sambil membungkam mulutnya yang ternganga. Ia kemudian menarik lengan Jamil lantas mendekatkan bibirnya pada telinga suaminya dan berbisik. "Apa kau sudah gila? Menyerahkan putri sendiri pada orang asing begitu saja. Bahkan langsung naik ranjang. Bagaimana bisa kau melupakan adat ketimuran dan menjadikan pernikahan hal yang sakral!" ucapnya penuh penekanan.
Jamil mendelik terkejut. Ia melirik ke arah Billy sebentar sebelum kemudian berbisik pada istrinya. "Apa yang kau bicarakan? Apa kau akan membiarkan putrimu berlama-lama berada di gendongannya?" tanyanya sambil melirik ke arah Billy penuh isyarat.
Laksmi sontak mengikuti kemana arah lirikan suaminya. "Ah, benar juga," lirihnya kemudian.
"Tadinya aku mau mengambil alih putri kita, tapi pinggangku encok gara-gara semalam kau menghajarku habis-habisan," sindirnya sambil mengedipkan mata. Genit.
"Bapak," tegur Laksmi malu-malu sambil menepuk bahu Jamil.
"Ehemm!"
Deheman Billy itu berhasil mengejutkan keduanya. Jamil dan Laksmi sontak menoleh ke arah Billy dengan pupil mata yang melebar. Entah bagaimana bisa mereka terlupa jika ada orang lain berada di sana.
"Bisa kita ke kamar Milly, sekarang?" tanya Billy setengah mengingatkan.
"Oh, tentu-tentu. Kasihan anda harus angkat berat di malam selarut ini. Mari ikuti saya."
Billy terseyum samar saat membacanya, lantas melangkah masuk saat Laksmi sudah membuka dan mempersilahkan padanya untuk masuk.
Laksmi lagi-lagi menarik lengan Jamil dan membawanya sedikit menjauh untuk berdiskusi.
"Yah, bagaimana bisa kau membiarkan orang asing menyentuh putri kita? Bagaimana jika nanti pemuda itu bersikap lebih jauh pada Milly?"
"Apa aku harus melarang seorang suami untuk menyentuh istrinya?"
Laksmi tertegun mendengar pertanyaan suaminya. Ia langsung menatap Jamil dengan bola mata yang membulat sempurna. Tangannya langsung bergerak menutup mulutnya yang ternganga.
"Maksudmu?"
__ADS_1
Jamil menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan istrinya yang masih terperangah tak percaya. Keduanya lantas bersamaan mengarahkan pandangan ke arah Billy yang tengah merebahkan tubuh Milly dengan hati-hati ke atas ranjang. Bahkan menyibak helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.
"Dia tampan sekali," lirih Laksmi dengan tatapan begitu terpesona. "Bagaimana bisa putri kita mendapatkan pria sempurna seperti dia?"
Namun sesaat kemudian ia terhenyak kala mengingat bagaimana pria itu telah menyakiti hati putrinya.
"Huh, tapi tetap saja dia pria jahat yang telah mencampakkan Milly begitu saja. Aku tidak terima. Kali ini ia akan mendapatkan balasannya," tutur wanita paruh baya itu dengan wajah angkuh penuh kemarahan. Lantas tangan kirinya meraih apapun yang ia bisa tanpa melihatnya, dan berniat menjadikan itu sebagai senjata.
Mengabaikan sepasang manusia yang tengah membicarakannya di belakang, Billy menekuk lututnya dengan lengan kiri yang bertumpu pada tepi ranjang. Ia berjongkok tepat di sisi istrinya.
Tersenyum lembut, Billy mengusap pelan puncak kepala Milly lantas membelai samar pipi istrinya. Ia terlihat begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan wanita yang mampu menggetarkan hatinya.
Billy bangkit dari jongkok, lantas menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya hingga sebatas dada. Pria itu kemudian berbalik badan dan melangkah menghampiri mertuanya yang tengah berdiri di depan pintu.
"Bisa kita bicara?" tanya Billy pada dua mertuanya itu dengan hati-hati.
"Bisa!" jawab Laksmi cepat dengan nada yang mantap.
Sementara Jamil justru tercengang dengan reaksi plin-plan. Bukankah dua menit tadi kemarahannya begitu menggelora, lalu sekarang amarah itu pergi kemana?
Dasar wanita. Dihadapkan dengan pria tampan saja, nalurinya kewanitaannya langsung meronta-ronta.
"Mari," ajak Billy ramah. Lantas berlalu mendahului kedua mertuanya itu.
"Silahkan," tutur Laksmi. Lantas melempar remote AC yang sejak tadi digenggam, urung menjadikannya sebagai senjata.
Jamil menatap istrinya dengan wajah heran. Lalu menarik lengan Laksmi untuk menghentikannya yang sudah selangkah berjalan. "Bu," panggilnya.
"Apa sih, Yah?" balas Laksmi dengan ekspresi sedikit kesal.
"Tadi niatmu apa? Bukankah kau ingin menghajar dan memberinya pelajaran? Tapi sekarang kau malah terpesona begini?"
__ADS_1
"Ayah, wajahnya terlalu sempurna untuk mendapatkan hajaranku. Terlebih lagi, ia terlalu pintar untuk mendapatkan pelajaranku. Jadi terpaksa kuurungkan niat sebelum nantinya kita yang akan mendapat malu. Lagi pula dia kan tamu sekaligus menantu kita, jadi lebih baik kita beri sambutan yang luar biasa," tutur wanita itu sambil nyengir.
Bersambung