
Rasa sakit dan takut sesuatu buruk terjadi pada janinnya tanpa sadar membuat Mayang menangis dan berteriak. Pekikan Mayang membuat semua orang seketika menghentikan kegiatan dengan penuh keterkejutan, terutama Brian dan Alex.
Didera kepanikan yang luar biasa, Brian yang tengah mencengkeram tubuh Alex sontak mengempaskan lelaki itu dan segera beranjak.
Namun Bianca yang berada di dekat Mayang tak ingin membuang kesempatan begitu saja. Ia segera membangunkan Mayang hingga berdiri dan menjadikan tubuh itu sebagai tameng pelindungnya.
Mayang tak bisa berkutik. Sebab selain sedang kesakitan, iapun berada di bawah ancaman. Tangan kiri Bianca yang memegang belati mendekap leher Mayang, sementara tangan kanannya memegang pistol dan menempelkan ujungnya tepat di kepala Mayang.
"Diam semua! Berhenti di tempat, atau aku akan membunuhnya!" teriak Bianca sambil menekan leher Mayang.
Tentu saja hal itu membuat panik semua orang, terlebih lagi Brian. Pria itu langsung menggeram penuh kemarahan dan mengayunkan langkah hendak menyerang Bianca.
"Berhenti di tempat, aku bilang!"
Teriakan Bianca yang diiringi tindakan menyakiti Mayang itu berhasil menghentikan Brian. Bagaimanapun juga ia tak ingin melihat istrinya terluka sedikitpun.
"Jangan ada yang mendekat, atau aku, akan menyayat wajah cantiknya!" gertak Bianca sambil menempelkan ujung belati ke pipi Mayang. Ia menyeringai penuh kepuasan melihat ekspresi Mayang yang ketakutan.
"Jangan sakiti dia!" Brian berteriak panik sambil memajukan tangannya, seolah memberi isyarat agar Bianca menghentikannya. "Lepaskan istriku, aku mohon! Aku akan berikan apapun yang kau minta, tapi tolong lepaskan dia!" Brian berteriak penuh permohonan, dan wajahnya terlihat penuh kesedihan.
Bianca tergelak kencang penuh kemenangan. Sesaat kemudian tawa itu berhenti dan berubah menjadi seringai iblis yang mengerikan. Ditatapnya Brian yang tengah memohon dan merendahkan dirinya. Lelaki itu bahkan rela memberikan apapun yang ia minta. Tapi sayang hal itu tidak membuatnya senang.
Bianca memang tersenyum penuh kemenangan. Namun sebenarnya senyum itu mengandung sejejak kegetiran. Ia iri melihat Mayang begitu dicintai. Bukan hanya oleh seorang lelaki, tapi dua pria sekaligus yang dengan tulus mengasihi. Bahkan Alex yang begitu ia cinta begitu tergila-gila terhadap Mayang.
Lalu apa yang dia dapat dari pengorbanannya selama ini? Tak ada. Selain luka dan kepedihan. Sekian lama terjebak dalam cinta bertepuk sebelah tangan tak membuatnya menyerah melakukan pengabdian. Tentunya dengan harapan suatu saat Alex akan membalas cinta dan menganggapnya ada. Tapi ternyata semuanya percuma.
Sungguh miris. Mencintai tapi tak dicintai. Selalu setia tapi tidak pernah dianggap ada. Batin Bianca menangis. Selama ini ia rela walau hanya menjadi bayang-bayang. Puas merasakan kasih sayang Alex walau hanya sebagai pelampiasan. Tapi sayang lelaki itu hanya menganggapnya sebagai wanita murahan yang hanya akan dipandang saat ia dibutuhkan.
__ADS_1
"Sebuah penawaran yang menarik," ujar Bianca datar menanggapi penawaran Brian. "Tapi sayangnya aku tidak tertarik."
Brian mengepalkan tangan berusaha menahan amarah yang bergemuruh di dada. Ia merasa tak berguna. Bahkan apapun yang ia miliki sama sekali tak ada harganya.
Bianca yang semula menatap Brian tampak menggeser pandangannya ke belakang. Mendadak ia mengetatkan rahang.
Melihat hal itu membuat Brian yang tengah memperhatikan Bianca dibuat penasaran. Ia segera menoleh dan mendapati Alex tengah berjalan dan berdiri mensejajarinya.
"Lepaskan dia." Alex berucap datar tapi sarat akan perintah.
Bianca menggelengkan kepala menolak mentah-mentah perintah dari bosnya.
"Lepaskan dia sekarang!" ulang Alex dengan nada yang meninggi.
Mendengar itu mendadak mata Bianca berkaca-kaca. Bentakan Alex benar-brenar menyakiti hatinya. Ia menggeleng cepat sambil menggemertakkan giginya.
"Kalau begitu kau yang akan mati!"
Suara Alex yang begitu lantang bagaikan pedang yang langsung menusuk relung hati Bianca. Rasanya begitu menyakitkan, hingga wanita itu tak bisa membendung air matanya.
"Bunuh aku, Alex! Bunuh saja aku!" ratap Bianca di tengah tangisnya. "Aku memang tidak berguna untukmu! Aku tidak ada artinya bagimu! Memang lebih baik aku mati dari pada selamanya makan hati."
Tanpa sadar ancaman Bianca terhadap Mayang itu sedikit melemah. Mayang tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia yang tengah beradu pandang dengan suaminya saling memberi isyarat melalui tatapan. Sementara Alex tengah berusaha menjalin komunikasi dengan Bianca untuk mengalihkan perhatian wanita itu. Sebuah kerja sama yang pas untuk mengelabui seorang wanita jahat.
"Sudah kukatakan berulang kali, berhentilah berharap lebih padaku, Bianca! Aku tidak bisa berkomitmen dengan wanita yang tidak aku cinta!" Alex berseru sambil melangkah perlahan mendekati Bianca. Begitu pula Brian yang berdiri di sisinya.
"Aku tidak mencintaimu, Bianca," lanjut Alex lagi. "Aku hanya menganggapmu tak lebih dari teman. Kau cantik dan menarik, Bi. Kau pasti bisa mendapatkan pria baik yang tulus mencintaimu, dan bukan pria kotor seperti aku."
__ADS_1
"Cukup! Cukup Alex! Cukup kau berusaha menghiburku dengan bualanmu itu! Aku tidak butuh!" Bianca berteriak penuh kemarahan. Ia pun terlihat gelisah dan frustasi.
Tanpa terasa jarak antara Brian dan Alex dengan Mayang dan Bianca sudah dekat. Bianca yang menyadari itu terlihat gugup. Ia meneguk salivanya berat dan terlihat semakin gelisah.
"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!" Bianca berteriak penuh antispasi. Ia bahkan menarik paksa Mayang mundur ke belakang. Namun karena perasaan Bianca merasa tertekan, ia begitu mudah untuk dikuasai, dan, bruggh!
Mayang berhasil menjatuhkan tubuh Bianca dengan cara memegang erat tangannya sebelum memutarnya dengan kuat. Mayang menarik tangan Bianca dengan kuat sambil membungkukkan badannya, lantas membanting tubuh Bianca ke lantai.
Bianca memekik saat tubuhnya menggelepar. Ia sangat kesakitan akibat benturan itu sangat keras. Hal itu tak disia-siakan oleh Brian dan Alex. Dua lelaki itu bergerak bersamaan. Brian meraih tubuh Mayang dan merengkuh ke dalam dekapannya, sementara Alex langsung memerangkap tubuh Bianca agar tak bertindak jauh terhadap Mayang. Brian lantas menarik tubuh Mayang untuk menjauhkan dari jangkauan Bianca.
"Kurang ajar kau, Alex! Kenapa kau melepaskannya melakukan ini kepadaku!" Bianca berteriak sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari Alex. Namun tenaga lelaki itu sangat kuat dan tak sebanding dengannya.
"Diam kau! Aku tak akan biarkan kau melukai siapapun, terlebih Mayang!"
Bianca benar-benar terluka mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Alex. Tenaganya mendadak melemah dan kemudian menangis tergugu.
Entah mengapa melihat Bianca yang berurai air mata membuat Alex merasa iba. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah ada sesuatu tak kasat mata yang meremas paru-parunya di dalam rongga dada.
Ekspresi Alex seketika melemah dan menatap Bianca penuh rasa iba. Tangan kirinya melepas cengkeramannya pada pergelangan Bianca dan kemudian menyentuh wajah gadis itu dengan gerakan seringan kapas.
Hal itu justru tak dilewatkan oleh Bianca. Gadis itu menyeringai licik sebelum kemudian menghantam kepala Alex dengan sebongkah batu yang tergeletak di sisinya.
Alex yang terkejut dan kesakitan secara bersamaan mengerang seketika. Darah segar mengucur dari balik helaian rambutnya.
Bianca tersenyum, lalu mendorong tubuh Alex hingga terjungkang ke belakang dan kemudian bangun. Tangan rampingnya bergerak cepat meraih pistol yang tergeletak tak jauh darinya sebelum kemudian mengarahkannya tepat ke arah Mayang yang sedang berpelukan dengan Brian.
Dor!!! Suara tembakan pun terdengar memekakkan telinga.
__ADS_1
Bersambung