Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Gaun yang tertiup angin


__ADS_3

Benarkah kau bisa melukis ku?" Brian bertanya ragu, seolah tak yakin dengan keahlian melukis sang istri.


"Aku bilang, kan cuma belajar melukis, bukannya beneran melukis. Jadi jangan mengharap hasil bagus ya, Sayang." Mayang berucap sembari tersenyum. Tangannya pun mulai bergerak menyapukan kuasnya.


Sementara Brian tetap diam pada posisinya, mematung seperti yang istrinya minta. Namun ia melakukannya dengan suka cita, sambil sesekali melempar senyum pada saat pandangan mereka bertemu.


Tak pernah bosan, pandangan Brian selalu berbinar penuh puja terhadap sang istri. Meski telah beberapa lama mereka mengarungi bahtera rumah tangga, namun rasa cintanya kian bertambah seiring berjalannya waktu.


Kecantikan alami yang dimiliki Mayang memang telah mengalihkan dunianya. Bahkan raut wajah ayu itu telah terpatri di hatinya sejak sepuluh tahun lalu. Memiliki ruang tersendiri yang tak bisa tergantikan oleh siapapun.


Memandang objek dan kanvas secara bergantian, Mayang benar-benar terlihat seperti pelukis profesional. Rambutnya yang tegerai begitu bebas menari-nari saat embusan angin dari jendela menyapanya lembut dalam kesejukan.


Bulu mata lentik itu terlihat begitu indah saat bergerak-gerak seiring dengan gerakan mata indah yang tengah turun naik saat si pemilik bergantian mengamati objek dan kanvas. Wajahnya yang tirus begitu sempurna berpadu dengan hidung bangir dan bibirnya yang mungil. Senyum manisnya selalu terkembang hingga lesung di kedua pipinya terlihat semakin dalam.


Secara tak sadar, lengkung merah itu menipis dengan sendirinya. Brian begitu terpesona dengan keindahan yang terpampang nyata, yang kini telah ia miliki seutuhnya. Namun senyum bahagia itu seketika berubah getir, manakala perkataan Billy kembali terngiang dan begitu mengusik ketenangannya.


Brian meneguk slavinanya berat, saat sang istri lagi-lagi harus berhadapan dengan bahaya yang selalu mengintainya. Membuatnya kembali di dera rasa takut yang begitu luar biasa.


Kehilangan orang yang dia sayang. Ia tak ingin hal itu terjadi lagi pada dirinya. Terlebih sang istri kini tengah mengandung buah cinta mereka. Sebuah benih yang akan menentukan kelangsungan garis keturunan keluarga Abdullah. Dan juga merupakan cucu pertama dari dua keluarga. Tentu saja bayi yang di kandung Mayang begitu sangat dinantikan oleh seluruh keluarga mereka.


Brian terperanjat saat sentuhan sang istri membuyarkan lamunannya. Menoleh seketika, dipandangnya sang istri yang sudah duduk di sisinya dengan tangan yang sudah melingkar pada lengannya.


Entah sejak kapan sang istri telah berada di sana, karena begitu larut dalam pikirannya Brian bahkan tak menyadari kehadiran Mayang. Dibalasnya senyuman sang istri dengan tak kalah manis sambil mengusap puncak kepala dengan penuh cinta.


"Melamun ya?" Tanya Mayang sambil mengerucutkan bibir dengan tatapan penuh seludik. "Aku panggil-panggil kok nggak respon. Pasti bosan, kan??"


Brian menggeleng samar seraya menebarkan senyuman. "Tidak Sayang, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."


"Apa?" Mayang menyambar cepat, sudah mirip seperti detektif.


"Emmm?" Brian mengangkat kedua alisnya. Lalu mengerjap sambil memutar otak berusaha mencari jawaban yang tepat. Ia tak ingin membohongi istrinya lagi, namun di sisi lain ia juga tak ingin membuat sang istri merasa ketakutan dan berimbas pada janun yang di kandungnya pula. "Apa kau sudah selesai dengan lukisan mu?" Brian tidak menjawab. Ia justru memilih bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah." Jawab Mayang singkat seraya menunjukkan dua lesung pipinya.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Brian bangkit dari tempatnya dan melangkah menuju kanvas, di ikuti sang istri di belakangnya.


Raut wajah Brian yang semula tampak tersenyum begitu manis saat hendak melihat hasil lukisan Mayang kini berubah masam setelah melihat hasilnya. Dahinya bahkan berkerut hingga membentuk beberapa lapisan.


"Sayang," Brian menoleh pada istrinya. "Aku nya, mana?" tanyanya bingung.


"Ini." Menjawab singkat, Mayang menekan dada Brian dengan telunjuknya seraya tersenyuman penuh percaya diri.


"Lukisan ku, Sayang. Gambar aku?!" Brian memperjelas pertanyaannya saat ia tak menemukan gambarnya di kanvas. Justru bunga yang terletak di belakangnya lah yang istrinya lukis.


"Ha-ha-ha ...!" Mayang terkekeh tanpa merasa berdosa. "Maafkan aku Sayang ,,, kau terlalu tampan hingga aku tak bisa memvisualisasikan dirimu ke dalam lukisan."


"Lalu kenapa tadi menyuruhku jadi patung jika sama sekali tidak kau lihat?!" Brian merengut kesal. "Ku pikir aku yang kau lukis saat kau memandangi ku terus-menerus tadi! Ternyata aku saja yang terlalu besar kepala. Rupanya yang kau lukis hanyalah bunga yang terletak di belakang ku saja," Brian mendengkus. Lelaki yang tengah berkacak pinggang itu memalingkan wajahnya.


"Sayang ,,, maafkan aku. Aku sengaja tidak membuat visualmu terlihat jelek karena keahlian ku yang buruk dalam hal melukis. Kau terlalu tampan Sayang, dan wajahmu telah terpatri di hatiku sejak sepuluh tahun lalu," Mayang menggerakkan tangannya meraih jemari Brian. "Sayang ,,, maaf,,,," Mayang menggigit bibirnya bagian bawah. Dengan wajah memelas di tatapnya sang suami yang kini mulai menebar senyumannya.


* * *


pagi itu, Billy sengaja membeli rujak buah di tempat lain dan bukan pada Milly seperti permintaan Brian sebelumnya. Dengan rasa dan kemasan yang sama, Billy berharap Brian percaya jika dirinya benar-benar membelinya dari Milly.


Entah mengapa Billy benar-benar tidak ingin mengulangi pertemuan lagi dengan gadis menyebalkan itu. Jika pertemuan pertama mereka Billy rela memberikan uangnya secara cuma-cuma untuk gadis itu sebab tak tega dengan tangis pilu seorang gadis yang tengah tertipu. Sedangkan di pertemuan kedua mereka, bukannya berterima kasih, Milly justru berani membuatnya malu di tempat umum.


Maka dari itu Billy menghindari pertemuan ketiga dengan gadis yang telah membuatnya bermimpi dikejar-kejar sandal jepit tanpa kaki, hingga membuatnya terbangun di tengah malam dan mengganggu tidurnya yang nyaman.


Hal itu tentu saja berimbas pada rutinitas paginya. Sebab, karena Billy yang terlambat bangun membuatnya terlambat pula untuk pergi ke kantor. Brian bahkan telah lebih dulu berangkat ke kantor sebab terlalu lama menunggu sang sekretaris yang tak kunjung tiba.


"Kenapa lama sekali?!" Sungut Brian saat Billy muncul dengan kantong plastik berisi rujak buah di tangannya.

__ADS_1


"Aku terlambat bangun." Jawab Billy santai seraya meletakkan kantong itu di hadapan Brian. Tatapan kesal sang bos ke arahnya seolah tak berpengaruh padanya. Dengan santai ia melenggang begitu saja menuju meja kerjanya yang berada di sisi lain ruangan berukuran luas itu.


"Heran, memang apa yang kau lakukan semalam hingga bangun saja kesiangan seperti itu?" Gerutu Brian sambil membuka rujak buah di hadapannya. "Sudah ku bilang kan, sudah waktunya kau memiliki istri! Jadi ada orang yang mengurus dan membangunkan mu!" Omelnya pula seperti omelan ibu-ibu pada putra bujang lapuknya.


Tak merespon, Billy memilih fokus pada pekerjaannya. Ketika sedang asik membaca sebuah kertas berisi laporan keungan perusahaan, Billy pun seketika terperanjat kaget saat sebuah benda yang melayang mendarat tepat di pelipisnya sebelum terpental jauh dan terjatuh di lantai. Di tatapnya sebuah pulpen mahal yang ia yakini itu adalah milik Brian.


Seketika itu pula tatapan sengitnya terarah pada sang bos yang ternyata juga tengah menatapnya tak kalah sengit.


"Kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali melemparkan benda ke arahku, hah?!" Sungut Billy terlihat sangat kesal. Ia bahkan tak lagi memperlihatkan kesopanannya di hadapan sang bos di saat mereka hanya sedang berdua.


"Beraninya kau menipu ku!" Tuduh Brian dengan sorot matanya yang tajam dan berhasil membuat Billy tergagap seketika.


"M-maksud mu apa?!" Billy bertanya seolah tak mengerti.


Brian berdecih. "Kau pikir aku ini bodoh, hah!" Brian mendorong mika berisi rujakan itu dengan lengannya. "Aku tahu rujak ini berbeda dengan yang kemarin!"


"Berbeda bagaimana? Yang penting sama-sama rujak, kan?!"


"Aku ingin rujak yang kemarin." Putus Brian sambil membuang muka, seolah tak ingin mendengar bantahan dari sekretarisnya. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat terjeda untuk beberapa saat tadi.


Menghela napas kasar, Billy pun terpaksa bangkit dari tempatnya. Usai melirik sebal pada sang bos yang seolah tak mau tahu, ia pun melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


"Bill!" Panggilan Brian pun seketika menghentikan langkahnya yang sudah mencapai pintu.


Lelaki yang sudah memegang gagang pintu itu pun segera menoleh. "Apa lagi?!" Tanyanya dengan nada malas.


"Suruh asisten mu mengantarkan beberapa pulpen baru untukku. Entah mengapa stok pulpen ku akhir-akhir ini semakin menipis. Atau kau suruh saja dia membawakan yang lebih banyak untuk ku sekalian untuk persediaan." Brian terekeh saat mengucapkan kata terakhirnya yang terdengar seperti ancaman.


Sedangkan lelaki bertubuh tegap yang masih berdiri di depan pintu itu hanya memutar bola matanya malas, sebelum akhirnya membuka pintu dan sosoknya menghilang di balik pintu yang tertutup.


* * *


Beruntung Milly memiliki tetangga yang baik hati. Karena tadinya ia bisa meminjam sepeda itu secara gratis. Namun karena terlalu seringnya meminjam dan lelah untuk mengembalikan, pada akhirnya sang tetangga pun menawarkan Milly untuk membelinya secara kredit. Tentu saja karena ia sudah bosan mendengar ucapan terima kasih yang terlontar dari bibir wanita berkulit putih itu.


Selesai dengan urusan dagangan, kini saatnya bagi Milly untuk memperhatikan penampilannya. Meskipun hanya penjual rujak, penampilan juga harus oke kan, terlebih lagi ia menjajakan dagangannya di sekitaran kampus dengan ribuan mahasiswa dan mahasiswi yang menimba ilmu di sana.


Di raihnya paperbag yang kemarin ia taruh di atas meja di kamarnya. Sebuah dres mini hadiah dari Indra, anak kampus yang juga pelanggan setia rujak buahnya.


Selain baik, Indra juga memiliki wajah tampan serta kecerdasan yang lumayan. Ia juga selalu terlihat keren dengan pakain mahal serta mobil mewah yang ia gunakan. Jadi tidak apa jika itu membuat Milly sedikit berharap kan???


Dengan perasaan senang, Milly mengenakan mini dres berwarna maroon itu. Dengan hiasan bunga yang bertahta di bagian sisi kiri pundaknya membuat gaun itu terlihat semakin indah.


Tersenyum penuh percaya, Milly begitu mengagumi wajahnya cantiknya yang terpantul dari cermin besar lemari pakaiannya.


"Ah Milly ,,, kecantikan mu memang benar-benar hakiki,,,." Pujinya pada diri sendiri sambil memutar tubuh dan mengibaskan rambut panjangnya. Eits, tapi Milly terlupa melepas segel pada dres barunya. Astaga....


Dengan mengenakan sepatu kets berwarna putihnya, Milly mulai mengayuh sepeda mininya yang belum lunas menuju lampus tempatnya menjajakan rujakan. Namun meski begitu, ia merasa bangga karena membeli sepeda itu dengan keringatnya sendiri. Ya-walaupun belum lunas....


Entah mengapa Milly mulai merasa tidak nyaman mengenakan dres model payung itu. Selain ia harus mengayuh sepeda itu sekuat tenaga, semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat dres yang ia kenakan menyibak ke atas andai tangan kirinya tidak turut andil untuk menahan.


Terlebih sorot mata para lelaki yang membelalak menatapnya saat mereka tak sengaja berpapasan. Bahkan di antara dari mereka dengan sengaja bersiul-siul menggoda.


Milly menghentikan sepedanya dengan kaki kiri yang berpijak di tanah untuk menahan sepeda agar tidak roboh. Ditatapnya sengit lelaki yang tengah menatapnya penuh nafsu sembari berlalu itu.


"Hey cantik, itu nya kegerahan ya?!" Ledeknya setelah mereka berjarak jauh seraya berlari, saat mengetahui Milly berusaha menarik sepatu dari kaki kanannya yang ia pikir akan ia gunakan untuk melempar. Namun karena ikatannya terlalu kencang membuat Milly mengurungkan niatnya.


"Sialan! Awas ya lo!" umpat Milly kesal sambil mengacungkan kepalan tangannya dengan nada mengancam. Mendengkus kesal, gadis itu mencengkeram kuat stang sepedanya.


"Hemmm ,,, aku tahu ,,, jadi untuk ini Indra memberikan dres ini untukku?! Kurang ajar dia." Desisnya penuh ancaman.


Ia lantas menunduk dan melirik sepatunya. "Untung saja aku tidak jadi melemparmu ke sana, kalau ku lempar aku juga yang akan kerepotan mengambilmu ke sana." Gumamnya pada sepatu, saksi bisu tragedi semilir angin di pagi menjelang siang ini.

__ADS_1


Pada akhirnya Milly pun terpaksa menuju kampus dengan mendorong sepedanya. Beruntung jarak yang harus ia tempuh tidak begitu jauh, karena tinggal beberapa meter saja dari gerbangnya.


"Mill, rujak dong ,,,!" Beberapa orang pelanggan rujak tampak bahagia melihat makanan favoritnya telah tiba.


"Siap ,,,!" Dengan cepat Milly menghampiri, mendorong sepedanya setengah berlari.


"Ciee-ciee yang lagi jatuh cinta," canda seorang gadis sambil terkekeh kecil.


"Siapa?" Tanya Milly sambil membuka tutup box nya.


"Ya elo lah!"


"Aku??" Telunjuk Milly menunjuk dirinya sendiri seolah tak percaya.


"Ya iya lah, Mill. Perubahan lo itu kentara banget kalau lo lagi jatuh cinta! Tapi lo bener-bener cantik kok. Suer." Gadis itu menunjukkan dua jarinya untuk meyakinkan.


"Ha-ha-ha." Milly hanya tertawa canggung dan tak tau harus menjawab apa. Lalu tangannya bergerak menyodorkan mika berisi rujakan itu pada tiga gadis yang berdiri di hadapannya itu.


"Nih, kembaliannya ambil buat lo aja." Sambil tersenyum, gadis itu memberikan uang lebih pada Milly.


"Ya elah, jangan gitu dong, aku kan jadi keenakan." Milly tersipu malu sembari mengulum senyum.


"Ya ampum Mill," tiga gadis itu tergelak bersamaan. "Ya udah, kita tinggal dulu ya, dadah." Sambil berlalu ketiganya melambaikan tangan.


"Terima kasih ,,, sering-sering ya ...!" Bengak Milly dengan senyuman yang terkembang. Lantas di disimpannya uang itu pada tas kecil yang terselempang di pundaknya. "Alhamdulillah dapat penglaris." Ucapnya penuh syukur.


Ia sudah akan beranjak, namun rasa berat pada sepeda saat ia akan mendorongnya memaksanya untuk menoleh ke arah belakang.


"Hai," sapaan suara lembut yang berasal dari gadis di belakangnya membuat Milly seketika memutar bola matanya malas. Ia tahu dua gadis di belakangnya itu memang tak.pernah bosan mengejeknya.


"Kenapa? Mau beli?" Milly bertanya dengan nada ketus.


"Cih, ogah. Makanan murahan kaya gini. Nggak ada gizi." Tutur gadis seksi berambut pirang itu meremehkan.


"Ya udah, ngapain masih pegang-pegang." Sindir Milly sembari melirik tangan si gadis yang masih menahan boncengan sepeda ontelnya. "Entar alergi gatalnya kumat loh, ih cantik-cantik kok kudisan."


"Heh, ngeledek gue lo ya?!" sentak gadis itu dengan sengit dan bola mata berwarna biru karena kontak lensa itu mendelik tajam ke arah Milly.


Milly yang sudah kebal hanya menyebik, lalu mendorong sepedanya hendak meninggalkan dua gadis itu.


"Hey gue belum selesai ngomong!"


"Entar kalau selesai tinggal di taruh di meja guru, gampang kan?!" Ucap Milly sambil cekikikan dalam hati. Namun langkahnya tehenti saat rambut panjangnya yang tergerai terasa di tarik dari belakang.


"Lo ngeledek gue?! Lo pikir gue ngomongin soal ulangan, hah?!" Gadis yang bernama Lala itu mencegat Milly dengan tubuh jangkungnya. Memang tidak seimbang jika di bandingkan dengan Milly yang bertubuh mungil.


"Gue mau nanya." Lala berucap dingin.


"Boleh, tapi jangan yang susah." Milly menjawab asal.


Lala menggeram sebal melihat tingkah gadis yang menyebalkan di hadapannya itu. Namun ia berusaha untuk mengendalikan diri untuk tidak terpancing emosi.


"Punya baju bagus begitu di beliin siapa lo? Gue tau lo itu miquin, jadi elo mana ada duit untuk beli baju semahal ini?"


"Baju ini?" Milly menunjuk pakaian yang ua kenakan. "Ya elah, baju murahan gini lo kata mahal?"


"Hey lo pikir gue nggak ngerti fashion apa?! Gue tahu ini baju mahal!" Lala yang tampak geram lantas meremas lengan Milly dengan kasar. Lengan baju Milly yang ikut tertarik terbuka dan memperlihatkan bahu putihnya. Sekuat tenaga Milly mempertahankan pakaiannya namun cengkeraman lala nampaknya terlalu kuat dan gadis itu masih enggan untuk melepaskan.


"Lepaskan dia!" sebuah sentakan suara dari arah belakang Milly mengejutkan tiga gadis itu dan seketika mereka menoleh secara bersamaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2