Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Halalin Kamu


__ADS_3

"Hey, sudah kukatakan aku ini tidak apa-apa!" Billy berusaha menjelaskan keadaan lengannya pada Milly. Namun, percuma saja, sebab wanita itu tetap menariknya ke dalam rumah.


"Tidak apa-apa bagaimana? Tangan Anda berdarah lagi, dan ini pasti sakit. Luka Bapak bisa infeksi kalau tidak segera diobati," terang Milly.


Billy hanya mendesah pelan pasrah mengikuti tarikan istrinya. Tak menolak, tak juga berniat menjawab setiap omelannya. Ia tahu, reaksi Milly yang berlebihan adalah bagian dari perhatian serta kasih sayang. Memang tak secara langsung diungkapkan, tetapi cukup membuatnya tahu jika sang istri begitu mencintainya.


Berhenti di ruang tengah, Milly celingukan mencari kotak obat yang digunakannya tadi. Karena tak tampak oleh pandangan, gadis itu berinisiatif mencarinya di beberapa sudut ruangan. Di bawah meja, di samping sofa dan di beberapa meja kecil tempat vas bunga.


Tak mendapatkan yang diinginkan, gadis itu pun menghentikan pencarian. Berdiri dengan wajah masam, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berkacak pinggang. Heran.


"Kok nggak ada, ya," gumamnya.


Sesaat kemudian ia berbalik badan. Menatap Billy yang berdiri santai di belakangnya sambil tersenyum masam. Rupanya pria itu memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi. Billy juga terlihat biasa saja dengan lukanya, sama sekali tak terlihat kesakitan. Pria itu justru tetap cool di matanya. Tapi tetap saja Milly merasa perlu mengkhawatirkannya.


"Hehe, kotak obatnya nggak ada," cengirnya malu-malu dengan telunjuk menggaruk kepalanya sebentar.


Billy mengedikkan bahunya. "Ya udah, kalau nggak ada ya nggak papa. Mending ke penghulu aja, entar-entar keburu kemalaman," ujarnya dengan senyuman nakal.

__ADS_1


Mendengar Billy bicara, Milly sontak mengurut keningnya. Sikap bodoh Billy benar-benar membuatnya pening kepala. Nikah maunya dadakan. Apa dia pikir nikah itu segampang beli gorengan?


Tiba-tiba Milly teringat akan kotak obat yang selalu tersedia di kamarnya. Rasa lega seketika menghampiri hingga senyumnya pun mengembang samar.


Billy yang secara langsung melihat perubahan ekspresi istrinya, tergelitik untuk bertanya dengan nada menggoda.


"Kenapa senyum-senyum? Kau pasti sudah tak sabaran untuk segera dinikahi secara hukum, bukan?"


"Ish, bukan!" bantah Milly cepat-cepat.


Billy sontak mengernyit. "Lalu?" tanyanya tak mengerti.


"Tenang ya Pak. Jangan panik. Saya ada kotak obat lagi yang tersimpan di dalam kamar, kok. Atau kalau perlu saya bisa panggilkan dokter untuk menjahit luka Anda."


"Hey, siapa yang panik? Dan siapa juga yang butuh dokter? Ini cuma luka kecil!"


Tak menghiraukan perkataan Billy, Milly malah menarik lengan Billy menuju tangga. Ia membimbing pria itu naik ke lantai dua dan berjalan menuju kamarnya. Untuk sementara ia merasa aman karena berhasil meredam keinginan Billy untuk pergi ke penghulu. Namun, bisakah ia mengendalikan sesuatu yang tak diinginkan mungkin saja terjadi di dalam kamar nanti?

__ADS_1


"Duduk sini ya, Pak," titahnya sambil menunjuk tepi ranjang.


Billy tersenyum samar, lalu bersikap patuh dengan duduk di tempat yang Milly tunjuk. Ia memperhatikan setiap pergerakan Milly selagi wanita itu sibuk mengambil kotak obat dan menyiapkan peralatan pembalut luka.


Ada rasa hangat yang menjalar di sanubarinya. Ada rasa bahagia di setiap debaran jantungnya. Meski gadis itu terkesan membangun benteng pembatas, tetapi perasaan cinta yang susah payah disembunyikannya itu justru terlihat kentara melalui perhatian yang ia tunjukkan.


Billy memasang ekspresi datar ketika Milly datang. Gadis itu duduk di tepi ranjang, tepat di sisinya. Menghadap pada suaminya, Milly kemudian meraih lengan Billy dan melepas perban berdarah itu dengan hati-hati.


"Apa ini terasa sakit?" tanya Milly untuk memastikan. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Billy menunggu jawaban.


Sebenarnya bagi Billy itu hanyalah luka kecil saja, mengingat sedari dulu ia telah mengalami luka yang lebih parah. Dan semua luka itu lah yang justru menjadi tempaan, melatihnya hingga ia menjadi sosok tangguh seperti sekarang. Namun, demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang sang istri, seperti pura-pura sakit itu juga perlu.


"Auw, perih." Billy memekik tertahan, dan hal itu sukses membuat Milly makin dihinggapi kekhawatiran.


"Tuh, kan, sakit. Sudah tau sakit masih mau nekat ke KUA, maksudnya apa?"


"Buat halalin kamu," celetuk Billy dengan nada nakal.

__ADS_1


Milly memutar bola mata malas. "Kita udah halal kali, Pak," ucapnya setengah sadar sambil melanjutkan membuka perban. Namun, ketika melihat Billy menunjukkan seringai nakal, barulah ia menyadari sesuatu hal. "Eh," ujarnya sambil membungkam mulut sendiri dengan telapak tangan.


__ADS_2