Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Rakus


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Milly hanya diam sambil memperhatikan pemandangan di kiri jalan. Entah mengapa, gadis yang biasanya banyak bicara itu kini diam seribu bahasa. Bahkan wajah yang biasanya menunjukkan keceriaan itu kini tampak muram.


Billy yang fokus dengan kemudinya itu sesekali menggerakkan leher untuk menoleh ke arah Milly. Batinnya bertanya-tanya dengan perubahan sikap istri sirinya yang tiba-tiba itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Billy memecah keheningan. Milly yang sedang melamun pun seketika menggeser pandangannya menatap ke arah Billy. Untuk beberapa saat keduanya saling menatap sebelum kemudian Milly mengembalikan pandangannya ke arah semula.


"Tidak ada." Jawab Milly dingin.


"Masih marah?" Tanya Billy lagi. "Kok aneh ya. Kau yang mencoba berhianat, tapi kenapa kau juga yang marah. Uring-uringan tidak jelas. Bukankah seharusnya aku yang marah?"


Milly menautkan alisnya, menatap Billy sekilas sebelum kemudian mengalihkan pandangannya menatap jendela namun dengn pikiran yang melanglang buana.


Yang dia katakan katakan tadi ada benarnya juga. Aku yang mencoba berhianat, tapi kenapa aku yang uring-uringan? Ah ,,, tapi kemarahanku bermula karena dia juga! Kenapa juga dia tinggalkan aku sendirian. Kalau dia tidak pergi begitu saja aku tidak mungkin kebingungan mencarinya dan bertemu dengan security itu. Maka tidak ada yang meragukan status pernikahanku.


Milly mendesah pelan. Mengingat kejadian itu lagi-lagi membuatnya kesal. Belum apa-apa dia sudah pusing memikirkan masa depannya. Terlebih lagi lelaki di sampingnya itu masih tak mengerti juga. Apakah salah jika ia menginginkan kepastian tentang status pernikahan mereka?


Tapi aku hanya seorang wanita. Aku bisa apa. Tapi aku butuh kepastian. Hah, kenapa Tuhan mempertemukan diriku dengan Boy pada saat aku sudah menikah. Meskipun cuma nikah siri kan judulnya tetap nikah! Huh menyebalkan. Batin Milly kesal.


Sedang sibuk memikirkan diri sendiri tiba-tiba perut Milly yang terasa perih itu mengeluarkan suara dan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya. Perut itu memang sejak pagi tidak di isi, jadi wajar jika dia menuntut untuk diberi makan.


Meraba perutnya yang rata, Milly lantas menoleh pada lelaki di sampingnya. Ditatapnya Billy yang tampak fokus menyetir dengan wajah kesal. Bukannya berusaha membujuk agar istrinya yang sedang uring-uringan ini kembali senang, malah acuh dan terkesan tak peduli.


Aku begini kan karena dia juga! Sudah menikah tapi seperti masih lajang. Wajar aja kalau aku sampai lupa udah nikah. Lagi pula si Boy emang keren, wajar kan kalau aku suka! Eh iya, aku sampai lupa. Si Bapak kok tau kalau aku ada di sana ya?" Milly menatap Billy penuh curiga.


"Iya, iya ,,, aku tahu aku ini keren." ucap Billy tanpa menoleh. Rupanya dia menyadari jika Milly saat ini tengah memperhatikannya diam-diam.


Sontak saja hal itu membuat Milly membeliak, gusar dan salah tingkah. Gadis itu segera membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak merona. "Ge-er." Gumamnya kemudian.


Billy melebarkan senyum lantas menoleh ke arah istrinya. "Nggak ge-er kok. Hanya menyampaikan fakta kalau aku memang aku keren dari lahir." ucapnya kemudian dengan bangga.


"Hadeeeh ...." Milly memutar bola matanya malas. "Bapak tadi nggak salah minum obat kan? Kenapa mendadak narsis begini?" ujarnya sambil menatap aneh pada Billy.


"Iya kok. Kau saja terpesona kepadaku."


"A-apa?!" Milly membeliak menatap Billy tajam. Wajahnya yang putih pun mendadak kemerahan. Gadis bermata bulat itu lantas menoleh dengan wajah gusar. Apa dia tau aku tadi mengira dia akan menciumiku?


"Kau bahkan berharap aku akan menciumimu."


Tuh kan!


"Ya kan ya kan." Billy meledek senang.


"Bapak!" Milly berseru malu. Ia yakin kini wajahnya pasti semakin memerah. "Bisa nggak kalau ngomong itu di saring dulu! Bisa kan nggak terlalu blak-blakan!" Setengah berteriak, Milly menggerutu kesal. Lantas tanpa aba-aba ia pun memukul lengan Billy dengan keras.

__ADS_1


"Hey!" Billy beriak sambil mengangkat tangan, berusaha menghindari serangan bertubi dari istrinya. "Hentikan! Aku sedang menyetir sekarang. Kau tidak ingin kita berdua kecelakaan, kan?"


"Biar! Siapa suruh ngeledek aku sembarangan!"


"Yang ngeledek juga siapa? Asal kau tahu ya, aku ini memang orang jujur. Aku mana bisa berbohong ...!" Billy berucap santai tanpa rasa bersalah. Sementara pandangan serta tangan tetap fokus pada kemudinya, seolah tak mempedulikan sang istri yang tengah menatapnya sebal.


"Bapak nyebelin tau nggak!"


"Kok nyebelin?!" Billy langsung menatap Milly tak terima.


"Iya! Emang nyebelin! Bapak seperti balon hijau!"


"Astaga. Orang ganteng gini dibilang balon! Apanya yang mirip coba!" ucap Billy yang seketika membayangkan dirinya dan balon besar yang sama sekali tidak ada kemiripan. "Nggak ada mirip-miripnya!"


"Ada lah! Sama-sama bikin hati aku kacau."


Menipiskan bibir, Billy tak bisa menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba nampak di pipi putihnya. Lelaki dingin itu tersenyum sambil menatap Milly yang tengah menggigit bibirnya malu-malu.


"Kau pandai melawak rupanya. Kenapa tidak ikut ajang pencarian bakat saja?" Ucap Billy kemudian dengan nada menggoda.


Milly menautkan alisnya bingung. "Ajang pencarian bakat melawak?"


"Bukan. Tapi ajang kompetisi burung berkicau." Jawab Billy meledek sebelum kemudian mengatupkan bibir menahan tawa.


"Tuh kan ngeledek lagi ...!" Milly mencebik menatap Billy. "Sekarang mending diam deh. Jangan ngomong lagi!"


Akhirnya Billy memilih diam. Ia pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Memilih mengalah dan tak lagi membuka mulutnya untuk bicara.


Meski kini keduanya sama-sama terdiam, namun setidaknya obrolan tadi secara langsung telah menjalin kedekatan keduanya. Billy yang sebelumnya selalu terlihat kaku, hari ini dia bahkan secara terang-terangan melontarkan godaan dengan kalimat bernada gurauannya.


Entah berapa lama mereka sama-sama diam dan terjebak dalam kebisuan. Hingga akhirnya bel alarm perut Milly kembali berbunyi memberikan isyarat.


"Bapak ....!"' Milly memanggil suaminya setengah menggumam


"Hemmm?" Billy pun menoleh seketika.


"Lapar." Jawab Milly sambil memegangi perutnya. "Di depan sana ada warung ayam geprek enak. Aku ingin makan di sana."


"Di mana?" Billy mengarahkan pandangannya ke depan, berusaha mencari-cari warung makan yang istrinya tadi katakan.


"Di depan situ, dikit lagi." ujar Milly seraya mengacungkan jari telunjuknya.


Tak lama kemudian, Billy pun membawa mobilnya memasuki halaman warung makan itu.

__ADS_1


"Hore ... akhirnya sampai. Makan ... makan ...." Milly berseru sambil bersenandung, lantas menggerakkan tangannya untuk membuka seatbelt yang membelenggu tubuhnya.


"Yakin ingin Makan di sini?" Tanya Billy ragu sembari mengamati warung makan sederhana itu.


"Yakin lah, aku kan udah biasa makan di sini." gadis mungil bersurai panjang itu menjawab yakin. Lantas dengan segera ia keluar dari mobil terlebih dulu meninggalkan suaminya.


***


Billy membiarkan dan sama sekali tak menyentuh hidangan yang tersaji di depannya. Ia justru lebih memilih memperhatikan sang istri yang tengah menyantap makanannya dengan begitu lahap.


"Bapak nggak makan?" tanya Milly penasaran, pada lelaki yang sedang bertopang dagu di hadapannya.


"Sudah berapa hari kau tidak makan?" Billy menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Dari kemarin." jawab Milly dengan mulut yang penuh makanan. Lantas meraih gelas jus di sampingnya dan menenggaknya dengan tak sabaran saat terasa tenggorokannya kesulitan menelan.


Billy hanya menggelengkan kepalanya keheranan menatap sang istri yang cara makannya berantakan. Jika wanita lain selalu jaim di hadapannya, namun hal berbeda yang justru ditunjukkan oleh istrinya kali ini.


Menaruh lagi gelas itu pada tempatnya semula, Milly lantas mengusap sekitar mulutnya yang basah dengan menggunakan tisu. "Aku emang lagi kelaparan, makanya ngajak Bapak mampir ke sini. Ngomong-ngomong itu punya Bapak nggak dimakan?" tanyanya kemudian sambil melirik ke arah piring Billy yang isinya masih utuh.


"Tidak. Melihatmu makan dengan lahap begitu saja sudah membuatku merasa kenyang."


"Kalau gitu buat saya lagi, ya." tanpa menunggu jawaban dari Billy, Milly menarik begitu saja piring itu dari hadapan Billy.


Billy sontak membulatkan bola matanya. "Astaga, kau belum kenyang juga?!" tanyanya dengan wajah keheranan.


Milly yang sudah akan menggigit ayam goreng itu seketika menghentikan kegiatannya dan meringis. "He-he, belum." jawabnya kemudian dengan sikap terus terang. Gadis berbaju merah itu lantas membalas tatapan Billy seolah tidak suka. "Kenapa? Jijik ya lihat aku makan? Aku rakus ya? Kan aku sudah bilang, aku sedang kelaparan ...!" ujarnya kemudian dengan nada mengingatkan. "Lagian yang dosa itu orang yang suka buang-buang makanan seenaknya! Tanpa peduli dengan orang sekitar yang tengah kelaparan. Banyak loh, orang yang bahkan untuk makan sehari sekali aja mereka kesulitan. Mereka harus bekerja keras hanya untuk sesuap nasi. Tapi orang-orang kaya justru dengan mudah membuang makanan begitu juga. Tanpa me--"


"Mau makan atau mau ceramah?!" Potong Billy sebelum Milly menyelesaikan kata-katanya.


"Makan."


"Ya sudah! Cepat habiskan!" Bentak Billy kesal karena mendengar perkataan Milly yang sepertinya sengaja menyindir dirinya.


Sedangkan Milly hanya nyengir menanggapi bentakan suaminya. Gadis itu lantas kembali menikmati santapan di depannya tanpa beban. Kita lihat ya, nikah sama cewek rakus gini apa pendapatnya nanti? Cepat atau lambat juga pasti dia bakal memberi keputusan hubungan ini kemana bakal bermuara. Kalau emang mau ilfil, ya ilfil aja. Gimanapun juga aku butuh kepastian. Kalau memang dianya nggak sayang, cepat atau lambat juga pasti aku akan dibuang. Jadi dengan membuatnya tidak suka, aku pasti akan tahu seperti apa perasaannya.


"Pak, ini aku ditraktir kan?" tanya Milly kemudian di sela makanan dengan suara berbisik dan tubuh yang condong ke depan.


"Iya." Jawab Billy singkat. Lantas menautkan alisnya dan menatap sang istri dengan wajah penasaran. "Memangnya kenapa?"


"Aku mau nambah empat porsi lagi." dengan mata yang menyipit, Milly pun berucap. Bahkan ia mengacungkan empat jarinya untuk meyakinkan jika ia benar-benar meminta lagi empat porsi.


"Hah?! Perutmu masih muat??!" Billy membelalakkan matanya seolah tak percaya. Ia bahkan menggelengkan kepala saking herannya.

__ADS_1


"He-he." Milly meringis menunjukkan deretan gigi putihnya. Gadis bermata bulat itu lantas memutar tubuhnya dan menoleh ke arah pemilik warung. "Bu, bungkuskan empat porsi ya!" teriaknya saat memesan.


Bersambung


__ADS_2