
Sepeninggalnya Ibra dari sana, Milly langsung bangkit dan pergi meninggalkan Billy tanpa pamit. Billy yang kebingungan sontak saja berinisiatif pergi menyusul istrinya. Setelah mencari-cari, akhirnya langkah Billy berhenti di ambang pintu yang menghubungkan langsung ruang santai dengan taman belakang.
Billy menghela napas lega melihat istrinya di sana. Wanita bersurai panjang itu tengah berdiri dengan posisi membelakangi, sementara tangannya bertumpu pada pagar pembatas setinggi pinggang di depannya. Badannya setengah membungkuk, kepalanya menunduk, dan sama sekali tak bersuara hingga beberapa lama. Hanya bahunya yang berguncang ketika nampak dari belakang.
Karena penasaran sekaligus khawatir, Billy akhirnya memutuskan untuk mendekati istrinya jika Milly sadar jika ada seseorang di belakangnya. Wanita cantik itu bergegas mengubah posisi menjadi berdiri tegak. Menoleh ke arah belakang karena penasaran, ia kemudian membuang pandangan sambil mengusap wajah begitu melihat sosok suaminya datang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Billy dengan tatapan penuh selidik. Ia berdiri tepat di sebelah kanan Milly. Menatap wanita itu dengan seksama, kemudian bersedekap dada.
"Tidak ada." Milly menjawab singkat.
__ADS_1
"Bohong." Sorot tak percaya, tergambar jelas di kedua netra. Melihat Milly hanya bergeming, Billy kemudian mendengkus. "Kau menangisi pria itu," tuduhnya tanpa memandang muka.
Mendengar tuduhan tidak benar dilayangkan, Milly sontak menatap Billy dan menyuarakan pembelaan. "Itu tidak benar. Anda salah paham."
"Lalu?"
"Perlu teman?" tanya Billy dengan kesungguhan. Melihat reaksi Milly yang hanya mengerjap tak percaya, ia lantas meralat ucapannya. "Jika ternyata kedatanganku hanya menggangu, lebih baik aku pergi seperti keinginanmu."
"Pak!" panggil Milly ketika Billy berbalik badan. Pria itu sontak berhenti dan menoleh menatapnya. "Kenapa Bapak melakukan semua ini?" tanyanya sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Maksudmu?"
Milly menghela napas. Melihat sikap pura-pura tak tahu Billy terang saja ia menggemertak jengkel sambil mengepalkan tangan. Sejurus kemudian, ia pun melangkah dan berhenti tepat di depan suaminya.
"Setelah mengusir saya tanpa perasaan, kenapa Bapak datang lagi dan melakukan semua ini? Apa Bapak sengaja ingin menunjukkan kekuasaan Bapak? Ya, saya akui Bapak memang memiliki pengaruh besar di kota ini. Anda bukan orang biasa. Anda bisa mendapatkan apapun yang Anda mau dengan gampang. Sebagai gadis lemah, saya sangat berterima kasih atas pertolongan Bapak. Ya, saya nggak bisa bayangkan apa yang terjadi dengan saya andai waktu itu Bapak datang terlambat sedikit saja. Tapi tahukah Anda, kedatangan Bapak telah melukai perasaan saya!" Milly mulai terisak. Sambil mengusap air mata, ia kembali melanjutkan kata.
"Anda tidak tahu seperti apa saya berusaha bangkit dari keterpurukan. Menyambung kembali hati yang patah. Berusaha tegar meski hati remuk redam. Saya berusaha menata hati yang sebelumnya berantakan. Berusaha berdamai dengan keadaan. Namun, ketika saya mulai merasa tenang dan nyaman dengan kehidupan yang saya jalani sekarang, kenapa Anda kembali datang dan mengusik ketenangan saya!" Milly menjeda ucapannya sambil mengusap pipi dengan kasar.
"Tolong, jangan membangkitkan harapan saya yang sebelumnya telah mati. Jangan buat saya menjadi gadis bodoh untuk yang kedua kali. Kedatangan Bapak secara langsung membuat saya kembali memupuk harapan semu. Karena saya tau, gadis seperti saya sangat mustahil mendapatkan cinta dari Anda. Saya mohon ...." Tergugu, Milly menangkubkan kedua tangannya di depan dada dengan berurai air mata.
__ADS_1