
Baru saja selangkah Milly melewati ambang pintu berniat Menyusul Billy yang telah melangkah lebih dulu, tanpa sadari Milly menginjak kerikil hingga membuat tubuhnya oleng.
Terkejut dan tak ingin terjatuh, tanpa sengaja tangan Milly dengan cekatan meraih apapun di dekatnya. Dan tanpa ia duga, ternyata tangan kokoh milik Billy lah yang ia dekap untuk menahan tubuhnya agar ia tidak terjatuh.
Memutar dua bola matanya dengan sempurna, Milly yang terkejut seketika melepaskan tangannya dari lengan kokoh itu lantas memperbaiki posisi berdirinya dengan gugup.
"Maafkan saya, Pak, saya benar-benar tidak sengaja." ucap Milly penuh penyesalan pada Billy yang tengah menatapnya tajam sambil menundukkan kepalanya berulang-ulang.
Tak menjawab, Billy justru mengarahkan pandangannya pada kaki Milly yang terlihat tak nyaman dengan high heels yang sedikit kebesaran. "Apa sepatu itu milikmu sendiri?" tanyanya dingin, merujuk pada high hells yang dikenakan Milly.
Terkesiap, Milly mendongak menatap Billy sejenak sebelum akhirnya menurunkan pandangannya ke arah kakinya. Kok dia nanyanya gitu? Jangan-jangan dia tau kalau memang ini bukan milikku. Apa memang dia bisa menerawang apapun tentangku? Huh, kalau sudah begini berbohong pun percuma. Tetapi mengaku juga akan membuatku malu saja. batin Milly dalam hati.
"I-ya, ini bukan milik saya ,,, Pak." jawab Milly sembari tersenyum kecut.
"Ganti sepatu itu dengan milikmu sendiri." titah Billy dingin, namun tak ingin mendengar bantahan.
Tertunduk dengan wajah setengah cemberut, Milly akhirnya mengangguk pelan menuruti keinginan suaminya. Ia lantas melangkah kembali memasuki rumah dan mengganti sepatunya dengan setengah hati. Diambilnya sepatu wedges miliknya sendiri yang tersimpan rapi di lemari.
Sambil mengenakan sepatu berwarna hitam dengan tinggi lima senti meter itu ia pun menggumam, "Hidup gue memang nggak semanis drama korea ya. Pas gue keseleo tadi sempet berharap si dia bakal kasih lengan ke gue buat pegangan, eh tau nya apa?! Boro-boro ngasih lengan buat pegangan ampe tempat tujuan, di suruh ganti sepatu iya! Nasip gua emang. Sabar Mill." ucapnya menyemangati diri sendiri.
Berdiri usai mengenakan sepatu lucunya, gadis mungil itu lagi-lagi menggumam. "Emang ya, sesuatu milik sendiri itu udah paling nyaman."
Merapikan dirinya, memastikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki yang terlihat unyu dari pantulan cermin. Sambil tersenyum Milly pun berucap, "Sempurna." Lalu memutar tumit, berbalik badan dan melangkah keluar dengan penuh percaya diri.
Sampai di ambang pintu langkah Milly pun terhenti. Menatap sang suami yang sedang menyandarkan tubuh tingginya pada body mobil, tanpa sadar ia pun menggigit jari.
Entah mengapa rasa percaya diri yang susah payah ia bangun beberapa detik lalu itu runtuh seketika, saat wajah sang suami kembali nampak di hadapannya. Lelaki sempurna itu benar-benar seperti rembulan yang berpijar indah namun mustahil dapat menggapainya.
Padahal cuma sedekap doang, tapi kerennya udah nggak ketulungan. Masya'Allah masa depanku. Kegantenganmu sungguh terlalu. Udah gitu sering ngingetin aku buat istighfar melulu. Nggak tau deh aku harus sedih atau seneng.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana."
Suara berat Billy mengejutkan Milly yang masih berdiri sambil asik melamun di ambang pintu. Gelagapan, ia segera membuang muka, mengalihkan pandanganya dari sang suami.
Mati aku, ketahuan nggak ya kalau aku tadi lagi ngeliatin dia. Pura-pura lagi ngelap pintu aja, ah. Batin Milly dalam hati. Tangannya lantas buru-buru bergerak mengusap daun pintu.
__ADS_1
Billy yang masih berada di tempatnya hanya menghela nafas pelan sambil menggeleng keheranan. Dia capek-capek nunggu malah ditunggu asik ngelap pintu. "Nggak ada akhlak memang." Gumamnya dengan nada sindiran yang menusuk.
Milly yang mendengar makian Billy pun segera menghentikan aksi pura-puranya. Melirik sinis pada lelaki yang tengah bersedekap dada itu, ia pun berucap. "Salah saya apa Pak? Kok Bapak bilang saya nggak ada akhlak?"
Billy membuka lipatan tangan dan
menegakkan posisi berdirinya, mengahadap kearah Milly dengan pandangan menyorot tajam. "Apa kau tidak bisa menghargai waktu?!" tanyanya dengan wajah penuh kemarahan.
"Saya cuma mau kunci pintu sebentar Pak, Bapak saja yang tidak sabaran." Untuk meyakinkan ucapnya, Milly pun bergerak cepat mengunci pintu.
Dasar keras kepala, sudah jekas tertangkap basah sedang main-main sama pintu, masih juga tidak mau mengaku. Billy mengumpat dalam hati sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dengan raut wajah kesal.
Tertegun bingung, Milly yang masih berdiri di depan pintu lantas menggeleng samar seolah tak habis pikir. Uluh-uluh, ngajakin istri keluar bukannya diperlakukan dengan lembut dan dibukain pintunya, ini malah diomelin dan ditinggal masuk mobil duluan. Nasip .... Batinnya dalam hati.
Suara nyaring yang berasal dari klakson mobil Billy yang ditekan berulang-ulang pun tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Milly yang saat itu sedang asik terbuai dalam pikirannya sendiri pun seketika terlonjak karena saking kagetnya.
"Iya Woiii, bentar!" teriaknya kesal setengah tak sadar. Gadis bersurai lurus itu seketika membungkam mulutnya sendiri dengan jemarinya saat menyadari tanpa sadar telah berteriak dengan nada bahasa kasar. Ini mulut kenapa suka keceplosan sih?! Enggak ada akhlak memang! Untung aja kagak kelepasan sampai ngabsenin nama-nama hewan di ragunan.
Tak ingin lagi memancing kemarahan suami sirinya, Milly pun segera melangkah cepat ke arah mobil. Dengan raut wajah masih kusut ia lantas masuk dan duduk diam mengunci mulut.
***
Ekor mata Milly pun bergerak cepat melirik pada suami sirinya dengan tanda tanya besar. Rasa penasaran pun menggelitik hatinya semakin dalam. Sebenarnya siapa lelaki yang telah menikahinya itu? Lelaki dingin, pelit senyum dan irit bicara ini benar-benar membuatnya semakin penasaran.
Menggeser pandangannya lagi kearah kaca, Milly lagi-lagi di buat ternganga oleh suguhan yang menyegarkan mata kaum wanita. Sebuah taman bunga dengan gemerlapan lampu yang menerangi setiap sudut halaman luas itu benar-benar sangat indah memanjakan mata.
Meskipun di malam hari, Milly bisa merasakan bermacam-macam aroma wangi bunga yang menguar menusuk rongga penciumannya saat tanpa sadar ia menurunkan kaca mobil dan menyembulkan kepalanya keluar.
Deheman lelaki di sampingnya membuat ia tersadar, dan seketika menarik tubuh lantas menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Membalas tatapan sang suami dengan cengiran karena saking malunya. Ini badan suka banget kelepasan, heran deh. Udiknya jadi ketahuan kan! Gara-gara kembang setaman. Rutuknya kesal.
Mematikan mesin mobilnya, Billy lantas keluar dari sana. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tak menemukan mobil Brian terparkir di halaman. Rupanya ia datang lebih dulu dari bosnya itu.
Milly yang kebingungan melihat tingkah suami sirinya pun ikut melihat ke sekeliling, Mencari tahu apa yang sedang suaminya cari meskipun ia sendiri masih juga tak mengerti. Karena kesal tak diajak bicara, ia pun berniat menggodanya.
"Saya di sini lo Pak, ngapain nyarinya kesana-sana." tuturnya dengan senyuman menggoda.
__ADS_1
Billy yang setengah terkejutpun seketika menoleh pada istrinya. Menyadari jika sang istri tengah menggodanya, ia justru memutar bola mata malas. "Dasar besar kepala." Umpatnya kesal lantas berlalu meninggalkan Milly menuju arah rumah besar itu.
"Loh Pak, mau kabur kemana? Ini ngomong-ngomong saya disuruh jagain mobil Bapak di sini?!" tanya Milly setengah berteriak pada Billy yang sudah jauh meninggalkannya.
Tak mendapat sahutan, gadis yang berdiri di sisi mobil itu lantas mengerucutkan bibirnya kesal. "Dasar kalsibut." Gumamnya kesal. "Nggak punya perasaan. Masa iya bawa-bawa orang main ditinggal gitu aja! Terserah lah ya, what ever!
***
"Billy! Kamu sudah datang?" Ratih langsung datang menyambut saat Billy muncul di dari pintu. Wanita paruh baya itu langsung mengulurkan tangannya saat Billy hendak mencium tangannya, lantas mengecup kening lelaki yang sudah ia anggap putra sendiri itu.
"Sehat kamu Bill?" tanyanya sambil tersenyum dan membelai pipi Billy.
Tersenyum semanis gula, Billy pun menjawab. "Sehat, Nyonya."
"Baguslah." Ratih terlihat begitu bahagia. "Oh ya, kau dan Brian tidak janjian datang bersama?"
Billy menggelengkan kepala. "Tidak Nyonya."
"Kalau begitu kau yang datang lebih dulu. Oh iya, istrimu mana?" tanya Ratih sambil celingukan mencari-cari sesuatu.
Baru tersadar, Billy lantas menoleh cepat ke belakangnya. Astaga kemana dia? Terkejut saat tak menemukan sosok mungil itu di belakangnya, Billy terlihat kebingungan.
Ratih yang menangkap perubahan wajah Billy seketika mengernyit heran. "Bill, istrimu mana? Kamu ajak dia kan?"
"Iya tadi kami bersama, tapi--"
"Tapi apa?!" Potong Ratih dengan nada curiga. "Kamu tinggalin dia dimana?"
Ratih terlihat khawatir, namun Billy pun tak kalah khawatirnya. Terdiam dengan wajah penuh kepanikan, Billy mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
"Loh, istrimu kececer di mana, Billy?!" desak Ratih yang sudah mulai tak sabaran sambil mengguncang lengan Billy seolah ingin menyadarkan. "Cepat cari sana! Keburu nanti istrimu ilang!"
Memutar tumit dan berbalik badan, Billy pun lantas melangkah lebar menuju keluar. "Sial, kemana dia? Kupikir tadi dia mengikutiku di belakang, tapi kenapa tiba-tiba hilang?! Astaga, kenapa suka sekali dia menyusahkan orang. Apa itu hobinya sejak lama! Aku benar-benar telah menikahi gadis gila." Billy mengumpat saat dirinya tengah melangkah keluar. Wajah putihnya terlihat memerah akiibat rasa marah, panik kesal serta khawatir yang bercampur aduk menjadi satu.
"Astaga." Ucap Billy dengan gigi menggemertak jengkel saat melihat sosok mungil itu masih berada di posisinya semula sebelum ia tinggalkan tadi. "Bisa-bisanya dia berdiri dengan santuy di sana sementara orang lain sedang kebingungan mencarinya! Dasar Manekin!"
__ADS_1